Takdir Lain

Gugum Gunawan Algifari
Karya Gugum Gunawan Algifari Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 23 Februari 2016
Takdir Lain

?

?Cintai Produk Indonesia!?
Seketika aku mendengus membaca banner besar yang aku lihat di sepanjang perjalananku menuju sekolah. Entah kenapa itu kedengarannya munafik. Aku sendiri tak merasa mencintai Indonesia sebesar itu, dan benakku dengan keras mendukung bahwa pasti tak semua pejabat pemerintah pun sama konsistennya dengan apa yang mereka suarakan. Aku tak tahu bagaimana nada bicaraku ini, apa tampak seperti pengkhianat bangsa?
Kenangan masa lalu membekas dengan jelas di ingatanku. Bisa dibilang, aku ini saksi dan juga korban kekerasan bermotif agama dan keyakinan sejak aku masih kecil. Sebagai seorang Ahmadi keturunan, aku tahu benar setiap cerita penyerangan di daerah tempat aku tinggal semasa kecil. Karena dulu rumah almarhumah nenekku tepat di depan masjid tempat kami beraktivitas dan beribadah.
Mulai dari cerita yang aku dengar, sampai ke cerita yang aku rasakan, dan kulihat sendiri runtut kejadiannya. Aku rasa aku masih bisa mengingatnya dengan jelas.
Termasuk, ketika aku masih duduk di bangku SD kelas 6, aku melihat sendiri dengan kedua mataku bagaimana beberapa puluh orang bersorban putih sambil berteriak-teriak tak karuan melempari masjid kami dengan batu dan berusaha menghancurkannya, seolah itu adalah tempat yang hina. Bagaimana bisa mereka berbuat seperti itu?
Aku juga melihat?meski hanya lewat siaran televisi?bagaimana saudara-saudaraku yang sedang mengikuti pertemuan tahunan atau Jalsa Salana di Parung, Bogor, diperlakukan begitu kejam seperti mereka adalah orang-orang jahat yang patut dihukum.
?Padahal apa yang mereka lakukan??
Mereka hanya mempertahankan tempat mereka, hak mereka dan melindungi saudara mereka yang lain di sana. Perlahan tanpa aku sadari, aku memupuk kebencian halus kepada negeri tempat aku bernaung selama ini.
Yang paling pahit yang pernah aku rasakan adalah ketika aku masih duduk di bangku SMP kelas 9. Aku baru saja pulang dari SMAN 1, sehabis mengikuti perlombaan bahasa Inggris bersama teman-teman. Aku ingat, hari itu ketika pulang sekolah aku masih menggunakan baju seragam olah raga?bercelana biru pendek dan kaos berwarna sama juga dengan lengan pendek?dan salim kepada papah sambil menunjukkan senyuman beseri karena dapat meraih juara III.
Namun seketika itu senyumku sirna, hilang begitu saja, kala menengok televisi yang ditonton papah sedang menayangkan berita kasus penyerangan Cikeusik. Aku terhenyak. Aku sebenarnya tak terlalu paham, namun yang segera muncul di batinku adalah, ?Ada apa lagi sih??
Aku terduduk di samping papah dengan mata masih tertuju ke televisi. Mendadak dadaku begitu perih.
Berhari-hari berita penyerangan itu menjadi hot news di mana-mana. Setiap jam, setiap waktu, dan hampir di setiap tempat, semuanya membicarakan itu. Tak luput juga pembicaraan serupa pernah aku dengar di sekolah.
Ketika aku masuk ke ruang guru hendak menyampaikan tugas kepada guru Biologi. Aku dengan jelas melihat wajah serius mereka yang turut mendengarkan pendapat (Almh.) Bu Hj. Yetty, selaku salah satu guru senior?yang muslim?di sekolah Katholik ini.
?Wuihh! Sadis banget itu yang di Cikeusik??
Aku sempat terdiam sesaat setelah mendengarnya. Batinku kembali bergejolak, dan entah kenapa ada rasa sakit yang bersarang di dadaku setiap mengingatnya lagi. Sambil berjalan keluar aku masih terus memikirkannya dan berusaha menenangkan diriku sebaik mungkin.
Di suatu istirahat, aku terduduk diam di bangkuku dan terpaku merasakan sakit di dadaku yang juga belum kunjung sirna. Beberapa kali aku coba menarik napas dan menenangkan diri, namun rasanya sangat sulit kala itu.
?Hey!? sapa Nita yang duduk di sampingku sejak tadi.
Tampak mata sipitnya mengamatiku yang diam saja tanpa suara seolah kehilangan nyawa. Dengan nada penasaran dan khawatir, dia terus membujukku untuk bicara.
?Eh, ada apaan sih? Tumbenan lo diem begitu??
Aku masih diam dan berusaha menyangkal sambil tersenyum kaku.
"Ah, nggak kok, nggak ada apa-apa."
?Halah! Ada apaan sih? Lo mah bikin gue penasaran! Kalau ada apa-apa, lo bilang aja sama gue. Ayo dong! Ini mah kagak kayak lo banget!?
Adhitia yang duduk di depanku turut membujuk karena ikut khawatir melihat tingkahku yang tak biasa, ?Iya Da, cerita aja ngga apa-apa, kok! Dari pada dipendem terus, ntar sakit lagi??
Kami sudah mengenal cukup lama dan dekat. Mereka dapat merasakan ada yang berbeda dengan sikapku belakangan ini. Tak lama, Ferry?teman kami dari kelas lain, sama seperti Adhit?datang menyambangi kami di kelasku. Dia ikut heran ketika melihat aku yang diam dan tak bersemangat, bahkan nampak begitu sedih. Dia menatap ketiga anak perempuan di sekelilingnya dan mengamati ekspresiku dengan hati-hati.
?Ada apaan??
Aku masih diam dan menimbang-nimbang, apakah aku benar-benar harus mengatakannya dan membuat mereka berhenti bertanya-tanya? Lalu, apakah mereka juga akan bisa tetap menerimaku ketika tahu aku siapa? Batinku bergejolak. Air mata tak lagi sanggup ku tahan, dan pecah begitu saja, saat ingin aku ucapkan kata pertama kepada mereka.
?Jadi? sebenarnya?,? kata-kataku terpotong isak tangis ?aku lagi mikirin yang insiden penyerangan? Cikeusik??
Air mataku tumpah ruah membasahi pipi dan rambut panjangku yang kala itu masih aku biarkan terurai begitu saja, ikut basah di beberapa bagiannya. Nita spontan bergerak lebih dekat kepadaku dan meraih bahuku, menenangkan. Mereka tampak bersimpati ketika aku menceritakan perasaanku sebagai seorang Ahmadi atas kabar penyerangan itu. Aku tak bisa berhenti menangis di hadapan mereka.
Di luar dugaanku, mereka sangat respect dan turut menyatakan kesedihan serta kekecewaan mereka atas kejadian mengerikan itu. Mereka sangat menunjukkan simpatinya kepadaku. Aku merasa bagaikan dipeluk semua orang orang di dunia ketika itu.
Aku sadar, mereka tak akan memperlakukanku dengan buruk atau bertanya ini-itu yang membuatku risih setelahnya. Bahkan mereka sangat menyayangkan kejadian menyedihkan semacam itu, dan upaya pemerintah juga dianggap sangat kecil untuk menghindarkan tindakan tidak manusiawi kepada warga negara di negaranya sendiri.
Meskipun kami masih SMP kala itu dan tergolong masih labil, namun aku bisa merasakan kehangatan pertemanan kami yang lintas agama dan lintas iman ini. Kami memang sama-sama sering mendapat tatapan sinis orang lain ketika tahu apa agama atau iman kami. Aku merasa serasa dan sepenanggungan dengan mereka. Kala itu, ada sesuatu yang mulai kembali berubah.
Di SMP, aku sangat akrab dengan dua orang teman dekat yang masih sering saling menghubungi hingga sekarang: Nita dan Adhit. Aku selalu tersenyum berseri ketika mengenang kebersamaan dengan mereka. Kami pertama kali dekat ketika sama-sama ada di kelas yang sama, 8A
Kedekatan itu terasa begitu special dan luar biasa ketika aku sadar kami bertiga berbeda agama dan hampir setiap hari makan siang bersama sambil menceritakan banyak hal menarik. Yang paling unik adalah tema obrolan mengenai kegiatan keagamaan kami setiap minggu.
Aku masih ingat saat kami saling melempar senyum karena keluhan masing-masing dalam kegiatan keagamaanku di masjid, Adhit di gereja, dan Nita di vihara. Itu momen yang luar biasa menurutku. Meski tak jarang orang melirik aneh ketika melihat kebersamaan kami saat ini. Aku berhijab, jalan dengan Adhit dengan dandanan cuek khasnya, ataupun dengan Nita yang sipit, putih, plus gaya bicaranya yang jelas menujukkan etnisnya.
Kenapa harus ada orang yang masih kebingungan dengan perbedaan, coba?
***
Ketika itu aku sudah duduk di bangku kelas 12 SMA. Aku sudah lelah berada di negeri penuh kemunafikan ini. Hatiku membara dalam kekesalan ketika mengingat semua perjalanan hidupku yang kira-kira sudah hampir 18 tahun aku lewati separuhnya lebih dengan merasa begitu asing dan diabaikan.
?Aku ingin pergi dari sini!?
Seolah aku tengah berteriak kencang di dalam kepalaku sendiri. Huh! Aku sudah merencanakan hidupku ke depannya. Meski aku mungkin hanya akan menjadi lulusan dari sekolah ranking 4 di Kota Sukabumi, tapi tekadku kuat dan bulat akan pergi mencari ilmu di tempat yang lebih baik dari tempatku bernapas hari ini. Rasanya semua itu sudah sampai ke ubun-ubun dan menjalar ke seluruh inti sel di tubuhku.
?Aku benar-benar bersemangat!?
Satu hal yang mungkin belum banyak diketahui teman-teman sekolahku. Aku ini berafiliasi keagamaan apa? Akan aku jawab mungkin dengan agak bertele-tele, kecuali yang menanyakannya adalah teman sekolah yang berbeda agama, aku pasti akan menjawab pertanyaan itu dengan tenang dan lantang.
Sayangnya, teman berbeda agama di sekolah hanya bisa dihitung jari dan mereka pun tak tertarik dengan tema obrolan seperti itu. Tentu saja! Tema itu adalah obrolan sensitif juga bagi mereka, sama halnya denganku. Banyak dari mereka?Muslim?yang aku kenal di sini cenderung kurang menerima perbedaan, termasuk guru-gurunya. Tak jarang seolah ada sikap meremehkan bahkan merendahkan terhadap mereka yang tak sepaham agama atau aliran. Aku jadi heran sendiri, ?Kenapa sih??
Lama kelamaan, aku jadi semakin terlalu malas membahas hal-hal keagamaan dengan teman-teman di sekolah?kecuali ketika pelajaran agama. Di kepalaku, semua orang yang terlalu relijius itu sama saja seperti mereka yang sering ?mengganggu kami?.
Aku selalu saja merasa risih ketika masuk Pelajaran Agama Islam, bisa disebut aku bahkan pernah masuk periode Islamophobia?padahal aku juga Muslim. Bukan karena terorisme seperti yang diisukan di negara lain, tapi karena aku tidak suka dengan mereka yang berbaju sorban, berpeci sok alim, dan bicara begitu fasih mengenai Islam, namun di sisi lain mereka menghakimi saudara seagama dan saudara sebangsanya.
Batinku muak, dan selalu saja muncul perasaan ingin pergi saja. Aku masih ingat pelajaran hadits yang pernah aku lewati di madrasah diniyah ketika masih SD, ?Khubul waton minal iman, artinya berbakti kepada negara sebagian dari iman.?
Kadang aku berpikir, kenapa aku harus berbakti dan mencintai negeri yang mengkhianatiku? Apa aku harus tetap membela negara yang bahkan ketika seorang korban yang tangannya hampir putus akibat kekerasan atas nama agama diperlakukan dengan tidak adil bahkan turut dipenjarakan pula? Apa itu negara? Rasanya, lebih baik menjadi apatis dan tak ingin terlalu banyak berharap kepada negara ini.
***
Akhirnya aku sampai di sebuah hari? hari ketika aku merasa harus melangkah keluar dan membuka diriku pada sebuah tempat lain di dunia kecil ini. Aku mulai bertemu lagi dengan beberapa orang baru yang sempat aku pikir sama dengan mereka?yang sering risih dengan perbedaan.
Aku melihat lagi, ada ketakutan semacam sebuah rasa keterasingan dan kekhawatiran tak akan diterima. Aku sangat lambat bereaksi dan menanggapi. Aku tahu beberapa orang di sini, sayangnya setiap sel tubuhku berkata, ?Siapapun itu, ketika mereka terlalu ?Islam?, berhati-hatilah!? Namun, apa yang aku temui di sini?
Lambat-laun aku mulai bisa tertawa dan menunjukkan diriku apa adanya bersama mereka. LENSA, FOPULIS dan keluarga READY. Entahlah, ini seperti takdir lain dalam hidupku yang rumit. Meski kecanggunggan masih sering menyerangku, aku merasa lebih nyaman bersama mereka karena aku bisa mengatakan siapa aku, bagaimana diriku, tanpa takut akan diskriminasi.
Mereka perlahan membuat aku percaya tak semua orang bersorban, berpeci, dan mereka yang fasih beragama itu ?sama?. Ada juga lho, mereka yang mau memahami bahwa kita memang berbeda, dan tak ada hak bagi manusia mengatakan siapapun kafir. Itu jelas bukan hal yang bisa manusia lakukan, itu hanya hak prerogatif milik Allah semata.
Semua rekan di sini juga membuatku kian sadar bahwa aku tak harus jauh-jauh pergi ke luar negeri untuk mencari tempat yang nyaman dan mau menerimaku. Indonesia sesungguhnya adalah tempat itu, hanya saja memang kita perlu bekerja lebih keras serta lebih lapang dada dalam mewujudkannya.
?Astaghfirullah? rupanya ini??
Ibarat aku mencari orang lain, yang tak lain adalah diriku sendiri. Selama ini aku terjebak dalam stigma negatif yang diakibatkan mereka yang intoleran terhadap perbedaan di negeri kita.
Ketika aku merasa menjadi lebih Indonesia. Ketika aku merasa aku memang Indonesia. Di sini, bersama mereka, aku melihat bagaimana kami semua dapat sama-sama tersenyum, tertawa, berbaur, bahkan bercanda satu sama lain meski aku tak sepaham aliran dengan mereka. Itu yang selama ini hilang dari pandangan mataku.
Ketika kamu tak hanya mendekati sebab kepentingan, melainkan tulus karena kamu memiliki hati yang sama mencintai negeri ini serta semua yang ada di dalamnya. Ketika yang lain menjunjung sisi liberalis, kapitalis, sosialis, dan komunis, aku merasa kita harus lebih bangga karena kita memiliki Pancasila.
Berbeda dan luar biasa! Kita?Indonesia?memang keren! Subhanallah? Allah memang sang Kuasa. Dia yang telah menyatukan kita sebagai Indonesia. Thanks God, I feel so grateful!

  • view 132