BERSEMBUNYI DI BALIK KERUDUNG HITAM

Gugum Gunawan Algifari
Karya Gugum Gunawan Algifari Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 23 Februari 2016
BERSEMBUNYI DI BALIK KERUDUNG HITAM

BERSEMBUNYI DI BALIK KERUDUNG HITAM

Oleh Asih Nurasiyanti (Peserta Pelatihan Menulis dan Bedah Buku "Melangkai Luka)

"Dunia hanyalah panggung sandiwara"

Pernah mendengar istilah itu? Ya, kita yang hidup di dalamnya bak yang memainkan peran dalam sebuah film yang diatur sutradara. Kita tak dapat semena-mena melakukan hal yang kita inginkan selain yang telah dinaskahkan oleh sutradara. Semua telah diaturnya.

Jadi setiap manusia memiliki jalan hidupnya sendiri. Tentu hal itu telah diatur oleh Sang Pencipta yakni Tuhan yang Maha Esa, dan kita tak perlu repot-repot mengurusi naskah orang, yang pada kenyataannya belum tentu naskah hidup kita lebih baik dari mereka yang kita ragukan kebagusannya. Di sinilah letak toleransi berperan penting terhadap sesuatu yang kita jumpai dinyana bertolak belakang dengan apa yang kita pikirkan.

Dunia itu hanya sebagai tempat senda gurau dan juga permainan. Lantas apa yang dapat kita lakukan untuk membuat hidup menjadi bermakna? Jawabannya adalah hanya dengan ibadah kepada Tuhan baru hidup menjadi bermakna. Tetap teguhkan hati jangan sampai terbawa oleh sesuatu yang dapat menjatuhkan kita kepada jurang kenistaan, dan selalu berwasiat dalam kebaikan. Seandainya sebagian dari mereka menolak ajakan kita, toleransi merupakan modal emas dalam hidup mencapai damai bersama orang yang heterogen. Karena hidup dengan toleransi sangatlah indah...

Untuk itu aku akan menceritakan satu pengalaman lintas agama, di mana toleransi merupakan sesuatu yang harus dikobarkan, disemarakkan, dan dihidupkan.

Kejadian ini sekitar satu tahun lalu, ketika aku duduk di bangku semester tiga sebuah universitas swasta di Sukabumi. Suasana sumpek membuatku ingin keluar dari rutinitas keseharianku dengan belajar dan membaca. Akhirnya kuputuskan mengujungi kawan lama.

Suatu pagi di bulan Agustus, kala matahari mulai menggeliat untuk terbangun, aku bergegas pergi ke suatu tempat untuk menjumpai kawan lama. Kami saling mengenal sejak kami duduk di bangku sekolah dasar, namanya adalah Mimin.

Tempatnya memang cukup jauh, sekitar dua jam dengan kendaraaan umum aku baru sampai ke rumahnya. Kampung X, di Kecamatan X, Sukabumi, itulah nama kampungnya. Aku memang jarang sekali menjumpainya untuk bersilaturahmi, karena dia kerja di luar daerah.

Ketika aku sampai di depan rumah nya, ternyata Mimin sudah menunggu di depan pintu-sebagai tanda dia sudah membaca pesanku yang akan menjumpainya dalam waktu sepagi itu. Maklum waktu itu aku sangat sibuk dan hanya memiliki waktu di pagi hari saja.

Mimin pun mempersilakan aku masuk, tapi aku lebih memilih teras rumahnya untuk duduk karena pemandangan di luar rumah sangat indah dan rapi. Di luar rumah itu ada pohon-pohon rindang dan tanaman hias yang membuat mata menjadi hijau dan sangat menyejukkan sekali.

"Kamu makin cantik saja!" aku mengawali pembicaraan kami.

"Kamu makin gendut!" balas Mimin sambil tertawa kecil tanda bergurau.

Kami pun berbincang-bincang panjang lebar. Sampai di tengah perbincangan kami, aku bertanya sesuatu tentang apa yang kulihat, dan dia menunduk tanda bingung untuk menjawab.

Pada waktu itu aku melihat sekelompok wanita yang memakai jilbab hitam panjang menutupi pantat, bercadar, dan juga pakaian gamis hitam, melewati rumah Mimin.

"Wah, itu siapa, Min, kok dandanannya aneh kayak di Arab saja?" ujarku.

Mimin pun menghela nafas dan menjawab sambil menunduk.

"Hanya ibu-ibu pengajian saja kok!" timpal Mimin yang sepertinya tak suka aku membahas tetangga nya.

Akhirnya aku pun mengalihkan pembicaraan supaya tetap hangat. Kami pun terus bercerita tentang pengalaman masing-masing ditemani dengan secangkir teh dan beberapa makanan. Sampai pada akhirnya aku harus berpamitan dengan Mimin.

Aku menjadi penasaran terhadap satu golongan itu. Yang membuat aku penasaran adalah kenapa Mimin harus gugup menjawab pertanyaanku. Pertanyaan itu menggelayut di pikiranku sampai aku bertanya kepada pamanku, tentang kampung X dengan para wanitanya yang bercadar. Paman pun spontan mendiskriminasi minoritas tersebut dengan cap aliran berbeda dengan ahlus sunnah waljama'ah.

Beberapa hari yang lalu, aku datang ke rumah Mimin, dengan satu kotak moci Sukabumi yang sengaja kubeli di tempat oleh-oleh. Aku ingin mengetahui kebenarannya, apakah yang dilontarkan pamanku benar adanya, atau hanya isu tak penting dan sebagai kabar burung yang tak jelas. Sesampainya di tempat Mimin, ternyata usahaku nihil karena Mimin yang kucari tak ada di rumah. Dia sedang bekerja di luar kota. Hanya ada orang tua Mimin yang sedang menyapu halaman rumah.

"Eh kamu toh, Asih, ke sini ko nggak bilang-bilang. Gimana kabarnya sehat? Mimin sedang bekerja sejak tiga minggu lalu"

Dia menghampiriku ketika aku sampai di rumah nya. Awalnya aku ragu untuk menceritakan hal ini, tapi aku bersikeras untuk menanyakannya. Setelah membuka percakapan dengan beberapa menit intermezzo, akhirnya dengan bahasa yang hati-hati aku pun menanyakan hal yang menjadikan aku melangkahkan kaki datang ke sana. Ketika aku ceritakan ini kepada ibunya Mimin, spontan dia tertawa kecil.

"Ada apa toh? Sudah lama nggak datang ke sini, sekali ke sini kamu nanya nggak penting. Masalah itu nggak ada hubungannya sama kamu. Biarkan mereka hidup, karena setiap manusia punya hak untuk itu."

Mendengar jawaban seperti itu rasanya aku menjadi malu, tapi aku menjadi lebih penasaran karena yang aku tangkap dari pembicaraannya seakan-akan ada yang pernah tersakiti.

Untuk mendapatkan beritanya, akhirnya aku ceritakan maksudku bahwa datang ke sana adalah karena sebuah tugas. Ya, aku menceritakan bahwa beberapa hari yang lalu aku mengikuti sebuah seminar. Di dalamnya ada beberapa unsur yang sangat penting sekali untuk dikaji, yaitu tentang toleransi dan perdamaian. Bahwasanya setiap manusia memiliki hak dalam keyakinannya masing-masing dan tak perlu kita melakukan primordialisme untuk memperkuat suku. Karena hak setiap suku adalah sama - yakni hidup nyaman, aman, dan tentram.

Akhirnya setelah mendengar pernyataanku, ibu Mimin langsung masuk ke dalam kamarnya dan tak lama dia pun keluar lagi. Dia menuntunku ke sebuah rumah tak jauh dari rumahnya. Suasana kampung itu cukup sepi, setiap rumah ditutup rapat-rapat.

Ibu Mimin mengetuk pintu rumah itu, dan keluar seorang lelaki paruh baya yang akhirnya mempersilahkan kami masuk. Rumahnya sedikit kotor dan tidak terurus. Kaca rumahnya penuh dengan debu dan ada beberapa sampah berserakan di dalam rumah.

"Sebenarnya siapa yang sedang aku kunjungi ini?" ucapku dalam hati. Tapi aku tak berkutik sedikitpun, hanya diam menanti sesuatu yang akan terjadi selanjutnya.

Setelah lelaki paruh baya pergi ke ruangan lain, tak lama aku menunggu datang lah sosok wanita yang sudah paruh baya juga. Yang membuat aku terkejut adalah dia sosok yang ingin kucari tahu informasinya. Seseorang berpakaian panjang bercadar dan berjilbab sampai menutupi seluruh tubuhnya ada di depan mataku saat ini!

Aku pun berkenalan dengan perempuan paruh baya itu. Dengan nada yang sangat kecil dan lembut, dia menjabat tanganku lalu menyebutkan namanya,

"Saya ibu Sani, ada maksud apa kalian datang ke mari?"

Setelah pertanyaan yang dilontarkan kepada ibu Sani, ibunya Mimin membawa wanita itu ke luar rumahnya. Sepertinya dia akan menceritakan maksud kedatangan kami ke rumah ini. Cukup lama mereka berbicara sampai akhirnya mereka pun masuk kembali. Ibu mimin pun berbicara.

"Ibu Sani merupakan salah satu pengikut aliran yang ingin kamu tahu. Mereka menyebutnya Ahmadiyyah. Kalau kamu ingin tahu sesuatu bertanyalah pada bu Sani, karena selama ini di antara golongannya dia yang paling terbuka di sini. Kamu tenang saja dia akan menjelaskan kenapa dia ada di sini, dan menutup diri dari khalayak," ibu Mimin menegaskan, lalu melirik ibu Sani yang waktu itu memandangku sangat dalam.

"Di kampung ini kami merasa aman, tak ada yang mencoba menghujat karena kami menjadi minoritas, tak ada yang mencoba menghina kami, dan membuat kami terisolir di sini."

"Apa salahnya kami menyakini apa yang kami yakini ? Di tempat kami dulu, di kampung X, setiap pergi ke pasar dengan pakaian seperti ini, orang-orang selalu membicarakan. Ada yang bilang ninja nyasar, ada juga yang bilang mantan TKI Arab yang nggak digaji."

Di tengah-tengah ceritanya dia pun menangis mengenang memori pahit yang pernah dia rasakan dengan keluarganya yang menjadi pusat hujatan orang karena memiliki perbedaan keyakinan dan peribadatan dengan khalayak.

"Kami juga pernah dilempari batu, kami yang menjadi minoritas merasa tersiksa dan merasakan tekanan batin yang sangat kuat, atas cercaan yang kami dapatkan setiap hari."

Dia bercerita bahwa sampai akhir hayatnya dia akan tinggal di sini, kampung X, yang menurutnya dapat memberikan kedamaian hidup.

Setelah datangnya ibu Sani ke daerah itu, banyak orang yang mengikuti jejaknya untuk pindah ke daerah itu. Ada yang dari daerah asalnya ibu Sani yaitu kampung x, ada juga yang dari daerah lain yang mengetahui beritanya dari teman-teman mereka yang lain.

Aku yang mendengar menjadi sedih dan sangat iba.

Setelah dirasa cukup, aku pun pamit pulang dari rumah bu Sani. Aku memberikan spirit untuk tetap semangat, dia pun tersenyum dan mengucapkan terimakasih.

Di lain tempat, ibu Mimin pun mengatakan, meski pun dari luar golongan itu disebut minoritas, tapi di kampungnya jumlah pemeluk Ahmadiyah sudah menyeimbangi penduduk aslinya.

Aku pun berpamitan pada ibu Mimin, tak lupa dia berterimakasih atas moci yang aku bawa.

Untung saja, ternyata masih ada orang masih peduli dengan orang lain. Yakni dengan memberikan rasa toleransi yang tinggi terhadap bu Sani dengan memberikan rasa aman dan nyaman untuk tetap tinggal. Seperti yang dilakukan ibu Mimin dan beberapa tetangganya yang memiliki pemahaman agama yang sama dengannya.

Sangat miris sekali, di tengah-tengah kemerdekaan Indonesia yang paling dikenal dengan toleransinya, ternyata masih menyimpan segudang kisah memilukan. Tentang kejinya perlakuan yang dilakukan satu kepada yang lainnya. Contohnya ibu Sani dan golongannya yang menjadi bahan diskriminasi khalayak karena memiliki pemahaman yang berbeda terhadap agama yang dianutnya.

Mereka bersembunyi di balik kerudung hitam dari orang-orang intoleran, agar tidak menjadi cercaan dan hujatan orang, sebagai langkah untuk mencapai kedamaian hidup.

  • view 181