Terima kasih ibu

Geser Dikit
Karya Geser Dikit Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 17 Juni 2016
Terima kasih ibu

Tangis itu mulai berhenti, sama halnya seperti hujan reda saat langit mulai cerah, begitupun dengan tangisnku mulai reda oleh lega, setelah dia datang memberiku sedikit cerita tentang sosok ibu.

Aku mungkin tak ada apa-apanya dibandingkan dengan sosok ibu yang dia ceritakan,. Dia bercerita tentang seorang ibu yang tetap tegar menghadapi 2 anaknya yang lahir dengan keterbelakangan mental dan ia harus membesarkan anaknya sendirian. Karena sang ayah dari anak tersebut meninggalkannya karena alasan yang tak jelas.

Kau lanjutkan ceritamu, pernah ditengah sang ibu pulang dari ia selesai berjualan, saat itu dia sedang mendapatkan rezeki yang cukup untuk makan 3 hari kedepan bersama anak-anaknya. Karena panasnya hari itu, ia sengaja menaruh uang hasil dagangannya diatas lemari riasnya, dan ia pergi untuk mandi untuk sekedar mengihlangkan penat.

Seusai ia mandi, ia tersenyum melihat anaknya sedang asyik bermain berdua dikamarnya di depan meja riasnya, ia dekati kedua anaknya. Dan ia terkejut kedua anaknya memainkan uang dari hasil jerih payahnya tadi. Hampir setengah dari uang tersebut berhasil mereka coret-coret dengan spidol dan pensil, dan tak sedikit juga yang mereka robek menjadi bagian kecil-kecil.

Mungkin aku tak sekuat ibu tersebut, dengan besar hatinya ia membiarkan anaknya bermain dengan uang tersebut dan sisa uang yang masih utuh ia selamatkan.

Dan satu hal yang selalu dia ingat, sang ibu dengan lirih mengucap "Ya tuhan engkau tak pernah bercanda soal rezeki. RezekiMU tak pernah tertukar, mungkin uang itu adalah rezeki untuk bermain kedua anakku" ujar sang ibu dengan nada pasrah.

"Dik, kita tidak ada apa-apa dibanding ibu tersebut yang telah sampai tahap itu. Hari ini mungkin menyakitkan, banyak orang bilang kejadian ini antara hidup dan mati" Ucap dia mengakhiri cerita tersebut.

Dia memegang tanganku dan mengucapkan beberapa lantunan ayat suci, hingga hatiku tenang dan entah mengapa setelah 3 jam aku mencoba melepaskan, setelah cerita tadi aku merasa yakin, ini saat yang tepat untuk melepasnya.

Sebelum semua terjadi aku sempat berujar dalam hati "tTerima kasih selama ini telah menemaniku, aku ingat kau sering memukul saat aku sedang asyik makan, kau juga sering tiba-tiba membuatku harus saat itu juga menurutimu. Tapi sebentar lagi kau tak akan ada lagi"

Kupejamkan mata sedalam-dalamnya, dan aku menghirup nafas sangat dalam dan mengehembuskan untuk terakhir kalinya.

---

Begitu perjalanan ayahmu menemani ibu melahirkan kamu nak, ayahmu adalah kakak yang beruntung bisa sembuh dan hidup hingga hari ini, tidak seperti adiknya yang harus meninggalkan kita semua jauh sebelum kamu lahir.

Dari perkarangan rumah sang nenek berjalan mendekat bersebelahan dengan ibu, dan membelai kepalaku. Namun sang ibu berdiri dan memeluknya.

Nah ini nenek, sosok yang hebat membesarkan ayah dan adiknya tanpa sosok ayah hingga saat ini. "Terima kasih ibu".ibu menyium pipi nenek.

"Sudah cu, habiskan makanamu. Lalu kita bantu ayahmu menanam kembali" ucap nenek dengan diakhiri senyum yang tak akan pernah aku lupa.

  • view 133