MOLAS KOPI PA'IT

George Dmaroz
Karya George Dmaroz Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 Mei 2018
MOLAS KOPI PA'IT

MOLAS KOPI PAI’IT

“Sua tau” ATA COLOL

Sore itu langit serasa ganas, gumpalan gas hitam bergumul menjadi satu di atas awan, seperti ingin menjadi kawan untuk kepenatanku hari ini. Pekerjaan menumpuk dan tak ada habisnya, belum lagi tuntutan dosen dan tugas yang menumpuk yang menginginkan semua harus terselesaikan sesegera mungkin. Ah, aku ingin segera pulang dan istirahat melepas lelah cape sekali rasanya. Tapi situasi sangat tidak mendukung.

Sial, motorku mogok tak bisa berjalan. Sepertinya aku telah dikerjai oleh keadaan. Menambah hawa panas dalam diriku. Rasanya ingin marah saja kalau sudah begini.

Akhirnya, motor kutinggalkan di jalan  dan mau tak mau aku harus berjalan ke pangkalan ojek yang jaraknya 100 m dari Kampusku. Tidak ada cara lain kecuali harus naik ojek. Sedangkan teman-teman kampus  tak ada yang kosannya searah denganku. Jadi tak ada nebengan.

Angin berhembus kencang, mengiringi perjalananku. Dingin rasanya menyentuh tulang. Sesekali aku mengeluh mengungkapkan kekesalanku. Kaleng kaleng sampah yang tak bersalah pun jadi sasaran kemarahanku. Aku tendang dan terbang ke mana-mana. Kasihan ya?

Entah sudah berapa menit aku berjalan, hingga hanya butuh beberapa langkah lagi untuk sampai ke pangkalan ojek  itu. Senang rasanya.

Setetes  air dari langit jatuh di dahiku. Kuusap dahiku dengan kasar. Aku pun melihat ke atas demi menyaksikan, ‘benarkah hujan sudah mulai turun?. Tetes demi tetes air mulai jatuh membasahi wajahku, dengan cepat aku berlari menuju pangkalan ojek yang tinggal beberapa langkah lagi. Ku-lap bagian tubuhku  yang sedikit basah dengan tangan.

Aku duduk sendiri di pangkalan ojek ini, tak ada satu orang pun. Hanya kendaraan lalu lalang dan gemericik hujan yang membuat suasana rame. Aku terpekur menunggu ojek yang tak kunjung lewat.

Hawa hangat tiba-tiba menyelimuti tubuhku. Sementara hujan masih turun dengan derasnya. Aku merasa kaget karena merasa ada sesuatu di atas kepalaku. Sebuah payung berwarna pink, dengan hiasan renda-renda di pinggirannya, sedang menaungiku. Terlihat tangan seorang gadis, putih, bersih, dengan jari-jarinya yang kata orang Kupang “Harim “. Tangan yang indah.

Aku melihat di sisi kiriku, berdiri seorang gadis yang cantik, tersenyum manis bagai kopi pahit yang diminum ketika pagi hari yang memberikan semangat untuk mulai berkarya, ‘ohh manis sekali’. Gadis ini yang memegang payung pink itu. ‘Lalu untuk apa aku dipayungi?

“Hai…”, sapanya lembut.
“Ohh, hai…”, jawabku gugup.
Aku seperti salah tingkah memandang gadis secantik itu. Lalu aku sedikit menggeser posisiku untuk memberinya tempat. Sebenarnya masih banyak tempat, hanya saja itu adalah isyarat bahwa aku mempersilahkannya duduk. Dia pun duduk di sampingku, masih dengan payung pinknya di tangan kanan.

Kami duduk bersama memandangi rintik hujan yang semakin deras. Kami hanya diam. Sesekali aku meliriknya, ingin mencari curi wajahnya yang ayu itu. Untuk memandang nya pun aku tak berani, apalagi bicara. Lidahku terasa kaku. Aku memang lelaki cemen.

“Kenapa kakak diam?”, katanya kemudian.
Aku tersentak dari lamunan memandang hujan. “Eh, emm,.. e. Hehe”, aku hanya mengoceh tak jelas. Gugup rasanya.
“Namaku Maya kak, kakak siapa?”
“Eh, a..aku  Yoan kak.” jawabku sambil mengulurkan tangan.
Dia pun memegang tanganku,  aku seperti tersengat aliran cinta yang  muatan rendah. Dadahku berdesir deras, jantung berdetak kencang serasa ada jenset di dalam tubuhku.Tangannya dingin, sedingin Wae Alo Leko  yang ada di kampungku. Sekilas bulu kudukku merinding, namun aku tepiskan perasaan itu. Mungkin hawanya yang dingin membuat tangannya seperti itu.

“Kakak sedang tunggu  ojek, ya?” tanyanya manis seraya memandangku lekat, aku semakin grogi.
“ iya…” jawabku. “Kamu hujan-hujan begini buat apa di sini, dek?” Akhirnya aku berani bertanya, suasana masih terasa kaku buatku.
“Karna aku lihat kakak sendirian di sini?” Aku terperanjat, benarkah?

Lama-kelamaan kita mulai mengobrol asyik, hingga akupun tak sadar kalau 2 ojek sudah lewat dan berlalu. Obrolan sore ini dengannya membuatku lupa segalanya. Semua kepenatanku hari ini di tutup dengan perasaan bahagia. Hatiku mulai bergetar ketika kupandangi matanya yang sayu. Aku telah terhipnotis cinta hanya dengan waktu 45 menit.

Walau berat, obrolan sore ini harus aku cukupkan. Waktu sudah menunjukkan pukul 06.25,

“Kak, bawa payung ini, ya? Siapa tau kakak membutuhkannya nanti.” Begitu ucapnya sambil menyodorkon payung pinknya.
“Ehh, ini kan payung kesayanganmu, kenapa kamu berikan padaku?”
“Anggap aja sebagai kenang-kenangan dariku kak, setelah ini kita nggak akan ketemu lagi. Terima kasih atas waktunya sore ini. Walaupun hanya 45 menit, tapi bahagia rasanya.” Ucap gadis ini terasa aneh bagiku. Kenapa harus pertemuan yang terakhir? Besok-besok kan aku bisa datang ke tempat ini lagi untuk menemuinya kataku dalam hati.

 

Aku hanya diam meraih payung itu dari tangannya. Aku tak mampu berkata-kata lagi. Selang beberapa menit ojek datang, dan berhenti tepat di hadapanku. Dengan banyak pertimbangan dalam otakku, akhirnya aku naik ke atas motor ojek yang telah menungguku ini. Namun ketika aku di atas motor perasaanku merasa tidak enak karna meninggalkan dia sendirian di panggalan ojek itu, akupun turun kembali dan bertanya kepada gadis itu

 “kamu tinggal dimana ? akupun bertanya demikian walaupun hatiku merasa gugup,

“Aku tinggal di Jln Bajawa kak” sambil tersenyum manis denganku

“ohh.. begitu yaa.. kebetulan aku juga tinggal di sekitar situ jadi bisa ko sonde katong jalan sama-sama”

“oo iia kak” jawabnya

Mendengar jawabanya akupun langsung memutuskan untuk berjalan kaki bersamanya, di sepanjang jalan begitu banyak hal yang kami bicarakan termasuk aku menanyakan dia berasal dari mana hatiku sangat senang ketika dia mengatakan “saya orang Manggarai kakak

Lalu akupun lanjut bertanya “Enu Manggarai nia ge, dia pun kaget ketika aku bertanya kepadanya menggunakan Bahasa Manggarai,

“Kaka orang Manggarai juga ka, katanya sambil tersenyum

“Iya ee Nu, saya orang Manggarai, Enu Manggarai mana age” tanyaku sambil aku tersenyum bahagia,

“Saya Manggarai Timur kakak, orang Colol”

Ketika dia mengatakan dia orang Colol tanpa sadar akaupun langsung berkata de “Molas Kopi Pa’it” dia langsung tertawa ketika aku mengatakan dia Molas Kopi Pa’it.

“Nu, saya melihat ite punya senyum senikmat kopi pahit Colol”

“Hehehe” kaka biasa saja ee jangan buat saya malu.

Ada banyak hal yang kami bicarakan sepanjang perjalan salah satunya aku minta No WhatsAppnya dan  tanpa kami sadari kami sudah sampai di depan kossannya gadis kopi Pa’it.

Dan inilah kisahku menemukan si MOLAS KOPI PA’IT.

  • view 46