Apakah Menjadi Orang yang Tidak 'Speak Up' adalah Sebuah Kekeliruan?

Gendhis Arimbi
Karya Gendhis Arimbi Kategori Renungan
dipublikasikan 27 April 2017
Apakah Menjadi Orang yang Tidak 'Speak Up' adalah Sebuah Kekeliruan?

Apa aku salah kalau tidak menceritakan masalahku kepada orang-orang?

Apa aku salah kalau aku tidak blak-blakan menyuarakan pemikiran-pemikiran brilianku di hadapan orang-orang?

Apa aku keliru memilih untuk diam dan tenang dalam menyelesaikan masalah?

Aku merasa diriku ini begitu menyedihkan sekarang. Bekerja di tengah orang-orang ekstrovert dan ambisius ternyata sangat mengganggu. Di saat aku merasa ada sesuatu yang salah, aku tidak bisa menyuarakannya dengan jelas. Tepatnya, terbata-bata. Lalu ketika semuanya justru tidak ada yang berdiri di sampingku dan bersuara lebih lantang, aku memilih untuk diam dan mengalah. Sayangnya, di sisi lain aku malah jadi repot sendiri membenahi retak-retak yang ada untuk dimuluskan kembali. Pada akhirnya aku malah menyiksa diri.

Apakah aku salah jika aku tidak bisa menyuarakan hal yang sebenarnya terjadi?

Aku bukan tipikal manusia yang bisa selalu blak-blakan membuka semua masalahku kepada orang-orang yang kutemui. Aku hanya bisa bicara dengan jelas kepada orang yang sudah kupercaya, yang sudah kukenal dekat dan ia mengenalku baik-baik. Sementara kepada mereka yang seharusnya kuutarakan masalah-masalah itu, aku tak bisa mengungkapkannya. Aku hanya bisa mengungkapkannya melalui tulisan, namun mereka yang justru tidak bisa memahami masalahnya lewat tulisan.

Lalu aku harus bagaimana?

Sebagian besar rekan kerjaku adalah orang-orang yang mampu speak up.  Kadang aku iri dengan mereka. Bagaimana mereka bisa mengutarakan segala yang ada dalam pikiran mereka sebegitu lancarnya? Sementara aku harus terbata-bata menjelaskan segalanya yang hal ini membuat mereka malah jadi berpikir aku ini anaknya tidak bisa bicara, pemalu, dan tidak percaya diri. Akhirnya, aku menjadi sosok yang dipojokkan dan kadang dibohongi untuk suatu hal yang semestinya tidak aku lakukan atau kalau ideku ditolak. Kebohongan itu semata-mata untuk menjaga perasaanku agar tidak tersinggung. Tapi sebenarnya aku lebih tersinggung bila dibohongi seperti itu. Maaf, aku tidak sebodoh itu untuk dibohongi.

Kemudian ada satu rekan kerja yang mengkritikku bahwa aku terlalu defensif, pendiam, dan tidak speak up sehingga membuatku jadi kalah di mata orang-orang. Bukannya apa-apa, kalimat itu sebenarnya terlalu judgemental. Apakah menjadi introvert adalah sebuah kekeliruan? Ini menjadi pertanyaan dalam benakku.

Ya, kalau dalam psikologi kita mengenal dua jenis sifat manusia: introvert dan ekstrovert. Introvert adalah mereka yang lebih senang menyendiri ketika mengumpulkan energi untuk bekerja atau beraktivitas, sementara ekstrovert adalah mereka yang mampu mengekspresikan semua yang ada dalam pikiran mereka secara blak-blakan. Dua jenis sifat ini tidak semestinya membeda-bedakan kita. Kupikir bila kawan berjumpa dengan seseorang yang banyak diamnya dan tidak bisa bicara banyak, tidak adil rasanya bila kawan mengecapnya sebagai seseorang yang lemah. Pun bagi kita yang introvert, tidak semestinya terlalu ilfil dengan mereka yang ekstrovert. Intinya, saling memahami.

Namun diskriminasi itu tetap dan akan selalu ada. Dan sayangnya, introvert akan menjadi yang selalu dianggap lemah dan aneh. Sampai akhirnya apa yang tidak bisa dikatakan oleh introvert adalah sebuah kekeliruan. Setiap masalah, menurut sebagian besar manusia, haruslah dibicarakan dengan lantang. Kalau tidak bisa speak up, maka jangan heran kalau malah jadi gila sendiri. Sungguh, pemikiran ini terlalu egois.

Apakah menjadi pendiam adalah sebuah kekeliruan?

  • view 69