Di Stasiun Kota

Gendhis Arimbi
Karya Gendhis Arimbi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 September 2016
Di Stasiun Kota

Aku masih terlelap ketika bapak dan ibu tengah dalam perjalanan menuju tempat kerja mereka. Aku dalam gendongan bapak sedang bermimpi mengenakan jaket berwarna biru seperti yang kemarin dikenakan seorang kakak tampan di warung nasi Padang. Sayup aku mendengar langkah kaki bapak dan ibu yang tegap dan penuh semangat. Ah, aku masih terlalu malas untuk membuka mata. Jadilah aku mengeratkan tubuhku dalam dekapan bapak.
 
Seharusnya hari ini ibu senang karena pagi ini aku tidak rewel seperti biasanya. Bapak dan ibu selalu berangkat kerja sebelum fajar menyingsing dan aku selalu dibawa serta. Tempat kerja bapak dan ibu sangat jauh dari rumah sementara kami harus naik bus umum untuk bisa pulang dan pergi. Terkadang bahkan jalan kaki. Sebagai seorang bocah, tentu saja aku selalu mengeluh kelelahan, apalagi berangkat di pagi buta di mana seharusnya aku masih terlelap dalam mimpi. Tapi bapak selalu memaksaku untuk bangun, jadilah aku meraung-raung sepanjang jalan dari rumah sampai ke tempat kerja bapak dan ibu. Itupun biasanya kulanjutkan saat siang menjelang.
 
Kadang kalau ibu sudah jengkel, aku dicubitnya di bagian pipi atau tangan. Kalau bapak paling-paling cuma memukul pantatku satu kali lalu menatapku tajam sampai aku ketakutan dan diam. Tatapan bapak memang menyeramkan buatku dan sekalinya menatap bapak seperti itu aku bertekad tidak ingin rewel lagi. Sayangnya, aku terus mengulang kebiasaanku itu. Bagaimana lagi? Aku lelah, tapi bapak dan ibu terus bekerja.
 
Bapak dan ibu bekerja di kota, yang banyak mobilnya. Aku sejujurnya senang sekali kalau diajak bapak dan ibu bekerja karena bisa melihat mobil-mobil keren, bangunan yang gagah, motor yang menyerukan klakson. Dan yang paling aku suka adalah menanti kereta api lewat sembari aku dan bapak dan ibu menunggu di belakang palang rel. Bapak selalu menggendongku di atas punggungnya kalau kereta api hampir tiba. Ketika kereta api melintas di depanku, aku akan bersorak sorai menyambutnya. Pernah suatu hari aku hampir tidak dibawa oleh bapak dan ibu bekerja karena sakit demam. Aku mulanya akan dititipkan dengan Kakek Hardi, tetangga sebelah rumah, namun karena aku terus merajuk ingin ikut, jadi selama bapak dan ibu bekerja aku terus digendong oleh kedua orang tuaku bergantian.
 
Setiap hari bapak dan ibu bekerja, keliling dari satu tempat ke tempat lain dengan berjalan kaki. Ibu selalu membawa bungkus ciki di tangan kanannya sembari tangan kirinya menggendongku lantas menyodorkan bungkusan itu kepada setiap orang yang melalui ibu. Kalau bapak, kadang aku lihat ia meminjam gitar atau biola temannya lalu menyanyi di dalam angkot satu ke angkot lainnya. Kadang-kadang juga bapak membawa karung besar di punggungnya dan mencari botol-botol kosong di setiap tempat sampah. Kadang-kadang aku ikut bapak, sesekali aku ikut ibu. Meski pekerjaannya berbeda, tapi setiap hampir gelap bapak dan ibu akan selalu bertemu di pintu belakang stasiun kota. Dari sana kami kembali ke kampung naik bus umum yang selalu sumpek dalamnya.
 
Kalau hari sudah siang, ibu atau bapak akan berusaha mencari makanan untuk makan siang kami. Pernah suatu kali kami makan enak, tapi seringnya kami mendapat makanan yang tidak dapat dikecap lidah rasanya. Meski begitu, bapak dan ibu tetap berusaha memberiku makanan yang layak. Makanan bapak dan ibu biasanya kalau aku lihat nasinya berwarna kecoklatan, lauknya hanya satu atau dua dengan sayuran yang hanya sedikit. Besar porsinya pun untuk badan sebesar bapak kupikir tidak akan mencukupi kebutuhan perutnya. Namun, bapak dan ibu tetap menikmatinya. 
 
Supaya tidak bosan, aku biasanya dibawakan sedikit mainan oleh bapak dan ibu. Kalau sedang menunggu bapak di pintu belakang stasiun, aku selalu bermain-main dengan mainanku sementara ibu duduk melihatku dan tersenyum amat bahagia. Sesekali aku melihat wajah ibu yang lelah, aku pun berusaha menghiburnya dengan bertingkah lucu atau menggoda ibu agar ibu tertawa. Begitu pula kalau sedang bersama bapak, aku senang sekali menaiki pundaknya dan mengajaknya melihat kereta api. Dan sebelum pulang, kami bermain permainan terakhir agar aku terlelap dalam perjalanan pulang.
 
Hari ini, seperti biasa bapak dan ibu bekerja, berkeliling mengumpulkan uang. Aku yang tadi masih terlelap dalam dekapan bapak, sudah bangun dan memilih untuk ikut ibu berkeliling. Hari ini ibu berjanji akan membelikanku es krim seperti yang digambar pada badan bus yang kami naiki tadi pagi. Tapi, ibu punya syarat, ibu akan membelikanku es krim jika hari ini aku tidak rewel dan menurut kepada bapak dan ibu. Dalam gandengan ibu, aku menatap ibu dengan mantap dan mengucapkan janjiku. Sesampainya di stasiun kota, aku dan ibu berpisah dengan bapak dan berjanji akan kembali ke pintu belakang stasiun pada siang hari. Bapak akan membawakan kami bakso untuk makan nanti siang.
 
Biasanya, bungkusan ciki yang selalu dibawa ibu terisi dengan banyak uang, baik itu uang kertas maupun receh. Namun, hari ini sampai hari hampir siang, ibu belum mendapatkan banyak uang. Begitu pula kemarin yang seingatku akhirnya memaksa bapak dan ibu untuk tidak makan sampai tadi pagi, sementara aku masih diberikan jatah makan sebungkus biskuit yang dibeli di toko kelontong sebelum kembali pulang kemarin. Sesekali aku memandangi wajah ibu, ia tampak kecewa dan sedih dengan sedikitnya pendapatan hari ini. Tapi kulihat wajah ibu berbinar ketika memandangku dan kubalas dengan senyuman. Kami melangkah lagi, berhenti dari satu warung ke warung lain. 
 
Tangan ibu yang biasanya menggenggam tanganku erat hari ini kurasakan berbeda. Beberapa kali jemari ibu gemetaran dan ibu mendoba berhenti untuk beristirahat. Aku menungguinya dengan sabar. Ketika sudah cukup istirahat, kami melanjutkan perjalanan lagi hingga siang tiba.
 
Sesampainya di pintu belakang stasiun kota siang hari, kulihat ayah sudah duduk bersandar di tembok di sebelah pojok tempat kosong. Aku pun berlari dan memeluk bapak yang tengah terpejam. Bapak terbangun lalu tersenyum ke arahku yang kini dalam pangkuannya.
 
"Nggak dapat banyak, Pak," ucap ibu sembari meletakkan tubuhnya di atas karpet lapuk tempat biasa kami duduk.
 
"Maafin bapak. Hari ini belum bisa belikan makan lagi," jawab bapak, lalu meletakkanku agar aku duduk sendiri. Aku lantas berlari meraih tas mainan yang ada di samping bapak. Aku tidak sabar memainkan mobil-mobilan baru yang kemarin ditemukan bapak di tumpukan kardus yang dikumpulkan bapak. Aku senang sekali memainkannya. Sementara itu, kulihat ibu sudah tertidur di samping bapak yang masih duduk bersandar di tembok. Sesekali aku menunjukkan pada bapak bagaimana mobil baru ini bisa terbaing, lalu bapak tersenyum kepadaku. Mungkin bapak juga mengantuk, jadi bapak membetulkan posisinya lalu berbaring tengkurap di samping ibu. Aku melanjutkan permainan mobilku. Bapak dan ibu pasti lelah seharian sudah berjalan kaki sehingga amat terlelap siang ini.
 
Hari sudah sangat sore, aku masih asyik bermain mobil-mobilan baruku. Sementara itu, di sekitar kami yang tadinya tidak banyak dilalui orang jadi ramai lalu lalang orang-orang. Sesekali mereka melihat ke arah kami, tapi lantas berlalu begitu saja.
 
Suatu ketika, seorang bapak yang mengenakan kemeja putih mendekati bapak dan ibu. Aku cuma melihat apa yang dilakukan bapak itu terhadap bapak dan ibu. Bapak berbaju putih itu menyentuh dahi dan tangan bapak, kemudian tangannya menyentuh pergelangan tangan ibu. Bapak itu melakukannya berkali-kali, sementara itu aku masih melihatnya dengan bingung. Bapak itu menatapku sebentar dengan senyuman yang manis, ia lalu menoleh kesana dan kemari.
 
"Adik, tunggu di sini ya, jangan kemana-mana," ucap bapak itu lalu pergi meninggalkanku. Tentu saja aku akan tetap di sini, kalau aku pergi nanti bapak dan ibu pasti akan mencariku dan ibu pasti akan marah.
 
Tak lama kemudian, bapak itu datang bersama seorang wanita yang juga berbaju putih. Ibu cantik itu melakukan hal yang sama terhadap bapak dan ibuku. Aku semakin bingung, mengapa mereka menyentuh-nyentuh bapak dan ibu? Usai melakukannya, ibu itu langsung menutup mulutnya dan menangis. Aku jadi semakin bingung kenapa ibu itu malah jadi menangis. Aku kembali memainkan mobilku.
 
"Adik, adik rumahnya di mana?" tanya ibu cantik itu. Aku hanya diam. Ibu itu lalu menoleh kepada bapak yang tadi juga menyentuh bapak dan ibuku. Tak lama berselang, dua orang lelaki gagah berseragam biru datang menghampiri kami lalu keduanya melakukan hal yang sama dengan bapak dan ibu tadi.
 
"Innalillahi... Harus kita bawa ke rumah sakit segera ini. Tolong kasih tau pak komandan," ujar lelaki berseragam pertama, sementara kawannya yang juga berseragam bergegas masuk ke dalam stasiun.
 
"Adik sudah lama di sini?" tanya lelaki berseragam itu. Aku mengangguk.
 
"Bapak sama ibu tidur," kataku, untuk menjelaskan pada mereka mengapa aku bermain sendirian. Namun, ketika aku menjawab begitu, ketiga orang dewasa di hadapanku hanya terdiam bingung. Ibu cantik tadi bahkan terus mengucurkan air mata.
 
"Adik, ikut om ke dalam dulu, yuk. Kita main di kantor, lihat kereta api juga, yuk," ajak lelaki berseragam tadi. Aku menolak.
 
"Bapak sama ibu belum bangun, nanti dicariin," kataku sembari memainkan mobil-mobilan.
 
"Nanti om bilang ke bapak ibu kalau adik lagi di dalam lihat kereta. Bapak sama ibu biar sama om yang satunya lagi itu nanti. Yuk," lelaki berseragam itu menjulurkan tangannya kepadaku. Aku tetap menolak. Kemudian lelaki berseragam yang satunya tadi datang kembali bersama seorang bapak berkumis berbaju putih juga.
 
"Ini adiknya gimana, Pak?" tanya ibu cantik tadi yang masih sesenggukan menangis. Bapak berkumis tadi kemudian menghampiriku.
 
"Adik namanya siapa?" tanya bapak itu dengan lembut. Aku menjawab pelan "Tulus". Kemudian bapak itu membelai kepalaku dengan lembut.
 
"Saya tadi ajak ke dalam dulu, Pak. Lihat kereta, tapi ndak mau," ujar lelaki berseragam pertama.
 
"Dik Tulus mau masuk ke dalam kereta nggak? Di sana ada kursi, tempat makan, bisa juga main mobil-mobilan di sana," kata bapak berkumis. Aku menggeleng pelan, meski sebenarnya mau.
 
"Bapak sama ibu masih tidur," ucapku lirih. Bapak itu menunduk lesu. Tiba-tiba terdengar suara bel kereta yang akan tiba. Aku segera berdiri.
 
"Kereta!" ucapku sambil menunjuk ke arah rel di samping pintu belakang stasiun.
 
"Nah, iya itu keretanya datang. Yuk, kita lihat kereta, yuk," ajak lelaki berseragam pertama. Aku melonjak kegirangan lalu dengan penuh semangat menggaet tangan lelaki berseragam. Dibawanya aku ke dalam stasiun dan aku meninggalkan bapak dan ibu yang masih terlelap di sana. Kupikir bapak dan ibu tidak akan bingung karena bapak berkumis, lelaki berseragam, serta bapak dan ibu berbaju putih tadi akan menjelaskan pada mereka kalau aku sedang menyaksikan kereta api di dalam stasiun. Aku janji tidak akan rewel di dalam stasiun.
 
Tapi, sekembalinya aku dari dalam stasiun, hari sudah gelap dan aku sudah tidak menemukan bapak dan ibu di pintu belakang stasiun kota.
 
***

  • view 204