Teman Sebangku

Gendhis Arimbi
Karya Gendhis Arimbi Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 29 Juli 2016
Teman Sebangku

Sampai ketemu beberapa waktu lagi, kalau kita disempatkan.

Aku pikir pertemuan kita kali ini akan singkat karena aku tahu kau sangat sibuk orangnya. Berbeda denganku yang lebih banyak waktu longgarnya. Tapi, terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk kembali menjadi teman sebangkuku meski cuma beberapa jam dalam sehari ini. Jujur aku bahagia.

Teman sebangku buatku bukan sekadar teman duduk. Lebih dari itu, aku dapat banyak pelajaran dari teman sebangku. Kita menghabiskan banyak waktu bersama selama kegiatan belajar mengajar di kelas. Dari teman sebangku, aku dapat sahabat karib. Dari teman sebangku, aku dapat musuh bebuyutan pula. Dari teman sebangku, kita saling belajar tentang canda dan amarah. Dari teman sebangku, kita belajar tentang rasa bosan. Tak kukira kita telah berpisah lebih dari enam tahun dan kini berjumpa lagi.

Ya, pada kesempatan ini kita tidak menangisi atau memarahi masa lalu yang pernah kita lakukan waktu jadi teman sebangku. Ada saja hal yang membuat kita marah waktu itu, tidak sedikit pula kita melakukan hal-hal bodoh di tengah kegiatan belajar sampai-sampai ditegur oleh Pak Guru. Untungnya kita tidak dilempari penghapus papan tulis, seperti yang dialami rekan kita yang duduk di bangku paling belakang karena terlalu berisik mereka.

Kamu ingat tidak ketika kita bertengkar karena hal sepele? Waktu itu aku bosan duduk denganmu, jadi buat esok hari aku ingin duduk dengan yang lain. Tapi kamu menolak dan bersikukuh tetap ingin duduk denganku besok dan siang itu pulang sekolah kamu sudah menunjukkan wajah-wajah kesal dan benci. Aku bodo amat dengan itu dan sayangnya bersikukuh besok akan duduk dengan yang lain, tidak peduli kamu akan marah besoknya. Benar saja, besoknya ketika aku pilih duduk dengan kawan lain, kamu datang dan langsung melempar tasmu ke atas meja tempat kita biasa duduk. Hahaa... kita tertawakan hal itu sekarang.

Kita sedikit memperhatikan guru dan lebih banyak ngobrol tentang apa pun yang kita anggap penting untuk dibicarakan, bahkan soal cerita fan fiction kita tentang pemain-pemain sepak bola favorit. Kalau bosan, kita pilih memainkan sebuah permainan yang bisa dilakukan di bangku kita tanpa banyak pergerakan dan tidak ketara oleh Bu Guru, main S.O.S misalnya. Untungnya, dalam permainan itu, siapapun yang kalah tidak akan membuat kita bertengkar hebat.

Yah, jujur saja aku merindukan saat-saat kita sebangku dulu. Karenamu, aku bisa jadi gila, karenamu aku pun bisa jadi pintar karena nilai-nilai ulanganmu selalu lebih bagus sedikit dari aku, membuatku ingin melebihimu, tapi kenyataannya kamu tetap berada di atasmu. Buatku, teman sebangku sejenismu ini meski seringkali membuatku tersesat ke dalam kegilaan hakiki, tapi tetap berguna memberiku motivasi untuk belajar.

Dan teman sebangkuku kini berada di depan mata, di bangku yang sama denganku. Iya, sejak kemarin kita memang janjian untuk ketemu di cafe ini karena aku punya hutang buku padamu. Waktu adalah poin paling penting dalam pertemuan kita kali ini karena kesibukan kita yang berbeda membuat kita sulit untuk bertatap lagi. Setidaknya kesempatan langka ini harus kita manfaatkan baik-baik untuk mengobati rasa rindu kita waktu zaman masih sekolah dulu.

Siapa yang waktu sekolah dulu tidak punya teman sebangku? Kupikir semua orang punya teman sebangku dan punya cerita-cerita asyik untuk dinostalgiakan bersama. Teman sebangku adalah teman tidak biasa. Ia yang setiap hari duduk dengan kita di kelas, duduk bersebelahan, saling meminjam buku catatan atau sekadar alat tulis, dan bercengkrama ketika bosan melanda. Kupikir, tanpa teman sebangku ceritaku di sekolah maupun di kelas tidak akan berwarna. Aku dan teman sebangkuku sudah berpisah cukup lama, tapi ketika berjumpa lagi, ternyata kami masih bisa berbincang riuh seperti waktu sekolah dulu.

Aku menanti saat bertemu dengan sebangkuku lagi.

  • view 596