Tegar

Gendhis Arimbi
Karya Gendhis Arimbi Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 24 Juli 2016
Tegar

Kita terbelenggu dalam waktu saat ini. Ruang juga. Kau di sana dan aku di sini, terpaut sekian ratus kilometer jauhnya. Masing-masing dari kita sedang berseteru dengan jalan masa depan, masa depan kita sendiri-sendiri bukan kita berdua. Konsentrasi dengan impian-impian kita demi mewujudkannya dan membanggakan orang tua kita masing-masing.

Tegar. Aku berusaha tegar di sini dalam meniti langkahku mewujudkan impianku. Lalu ketegaranku menjadi kegalauan yang kelabu lantaran orang-orang di sekitarku selalu membicarakan soal pasangan hidup.
Teringat kau yang di sana. Anganku selalu menggambarkan wajahmu ataupun tingkahmu ketika sahabat-sahabatku di sini membicarakannya. Padahal kita berdua sama-sama tahu kalau kita ini hanya teman dekat, saling bersahabat. Itu saja.
 
Tegar aku ketika kala itu kau ungkapkan pernyataan itu, tepat beberapa hari sebelum aku pergi. Padahal kita sama-sama tahu, selama tiga tahun lamanya kita hanya berteman dekat, bersahabat dengan kawan-kawan yang lain. Tak pernah terpikir olehku pernyataanmu itu, yang menyuruhku menunggu enam tahun sejak saat itu. Tegar aku mengetahuinya.
 
Usaha tegarku adalah menjaga hati.
Hampir dua tahun kita berpisah. Jumpa hanya ketika aku pulang, itu pun bersama kawan lainnya. Sejak itu kita tak lagi sapa, tak lagi saling bicara. Kita berdua sama-sama bungkam, tak saling mengabari kondisi masing-masing. Sibuk tenggelam dengan urusan sendiri, agak lupa dengan ucapan-ucapan itu. Aku pun sama. Sering aku lupa akan hal itu, namun ketika semua orang membicarakannya, aku teringat lagi.
 
Tak saling sapa, tak saling bicara. Bagiku biasa saja, tak ada hal yang menyakitkan hati maupun menyinggung perasaan. Justru aku semakin ingin menjauh darimu demi menjaga ketegaran ini. Meski sedikit ruang di lubuk hatiku mengiyakan bahwa masa depanku adalah kau, tapi aku tak ingin terlalu memikirkannya. Mungkin kau pun begitu.
 
Tegar. Kita berdua sama-sama tegar menjalani semuanya. Sabar hingga waktunya tiba, toh bila memang benar maka itu akan terjadi. Bila tidak benar kita tetap bisa menjalani hidup kita sendiri-sendiri, karena kita tegar. Ketika semua orang saling sapa dan berbincang lewat telepon atau pesan singkat dengan orang terkasih mereka, kita saling diam.
 
Tegar kita berdua.
Sampai jumpa di masa depan.
 
Demi ketegaranku

  • view 197