20

Gendhis Arimbi
Karya Gendhis Arimbi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 20 Juli 2016
20

Aku melirik jam yang melingkar di pergelangan kiriku. Dasar anak muda, seolah kalau datang tepat waktu itu nggak keren. Bayangkan, aku sudah menunggu mereka di sini selama hampir satu jam. Kemarin saja bilang akan kumpul di kafe ini pukul 7 malam, tapi ini sudah hampir pukul 8 dan tak satupun dari mereka yang menampakkan diri. Ah, dasar memang selalu begini, ya masa muda. Biar mereka suka terlambat datang dan membiarkanku menunggu berjam-jam, aku tetap sayang dengan mereka. Terkadang, keterlambatan mereka memberikan kejutan tersendiri buatku. Dan mungkin sekarang mereka tengah mempersiapkan kejutan lain buatku? Entahlah.
 
Malam kemarin aku dan teman-temanku yang berjumlah lima orang itu ceritanya saling curhat. Sudah beberapa minggu ini kami tidak saling ketemu padahal kami satu kampus, satu jurusan, satu angkatan. Tapi kesibukan kami beda-beda, apalagi di waktu sekarang ini kami sibuk dengan diri masing-masing sehingga sangat susah untuk berjumpa. Pada awal-awal masa kuliah kami sering menghabiskan waktu bersama, memasuki tahun ke dua intensitas pertemuan kami semakin berkurang dan hal itu berlangsung hingga kini. Semakin langka waktu kami kumpul lagi. Hari inilah hari yang tepat karena kami semua punya waktu luang dan sepertinya mereka sudah tak tahan memendam rindu. Aku, sih biasa saja. Bercanda.
 
Aku mencoba memendam rasa kesal ini sembari merancang cerita yang akan aku sampaikan nanti. Pasti kami akan menghabiskan waktu semalam, tidak, semalam sepertinya juga tak cukup untuk menyelesaikan cerita kami masing-masing. Tapi sekarang tega sekali mereka terlambat satu jam, atau mungkin lebih untuk datang kemari.
 
Tiba-tiba semuanya terasa sunyi dan gelap. Listrik kafe ini mati. Suara-suara musik yang dari tadi mengiringi kehampaanku hilang, aku jadi semakin hampa. Ada apa ini? Sedikit tampak olehku dalam remang-remang, orang-orang di sini sedikit panik, tapi mereka tetap berada di kursi mereka. Aku yang sendirian ini segera berdiri dan mencoba berjalan menuju tempat para pelayan kafe. Belum sempat aku berjalan dua langkah, suasana kembali terang dan riuh!
 
"HAPPY BIRTHDAY TO YOU! HAPPY BIRTHDAY TO YOU! HAPPY BIRTHDAY HAPPY BIRTHDAY! HAPPY BIRTHDAY TO YOOOOUUUU!!! WOOOHHHOOO!!!!" Lagu ulang tahun itu berdenging di telingaku. Setumpuk kue donat dengan dua batang lilin kecil di puncaknya kini berada di atas tangan mereka. Kafe ini lantas menyetel musik bertemakan ulang tahun. Riuh sekali sampai aku salah tingkah. Aku duduk kembali ke tempat dudukku memandangi mereka yang tengah membawakan setumpuk kue donat itu. Mereka mengenakan topi kerucut ala topi ulang tahun yang warna-warni itu, beberapa juga membawakan balon berwarna biru dan putih. Ah, dua warna kesukaanku.
 
"Yeaaayy!! Happy birthday Nyinyuuu!! Happy twenty! Selamet dua puluh tahun, ciee kepala duaa! Hahahaaaa," berisik sekali mereka. Tapi aku tersenyum melihat tingkah mereka.
 
"Eh, keburu leleh, nih! Lilinnya kecil woy. Buruan tiup nih, Nyu. Make a wish.. make a wish.." ucap seorang teman yang memegang dua balon biru di tangan kanannya. Suasana hening sejenak, sepuluh detik kemudian lilin di atas setumpuk donat itu padam. Mereka bertepuk tangan lagi, diriuhkan pula oleh para pelayan kafe. Ah, seru sekali ulang tahun itu! Aku tersenyum lagi.
 
"Na!" dua orang laki-laki datang ke mejaku. 
 
"Ah, datang jugaa kunyuk dua ini! Gue dah nungguin, nih hampir sejam. Pada kemana, sih? Tega banget nyuruh cewe nunggu, huh!" Ucapku kesal pada mereka berdua, teman-temanku yang kini cuma nyengir menanggapi kekesalanku.
 
"Sori, kita tadi ngurusin bisnis dulu, biasalah. Eh, itu apaan? Ulang tahun?" Kimi menunjuk ke meja seberang yang tampak paling ramai dan riuh dibandingkan meja lainnya di kafe ini. Aku mengangguk.
 
"Yoi. Tadi mereka kasih kejutan buat itu, tuh anak cewe yang di tengah yang ultah. Sempet mati tadi juga listriknya. Gue kira kalian yang mau kasih kejutan walopun ultah gue udah lewat, hahahaa.." ucapku pada mereka.
 
"Heleehh mau banget dikasih kejutan kaya gitu. Umur berapa itu paling baru lapan belas, kan?" protes Tama.
 
"Dua puluh," jawabku.
 
"Hah, baru masuk kepala dua, masih bahagialah. Biar merasakan akhir dari kepala satu dan memasuki kepala dua. Oh, my.. tapi dulu kita umur dua puluh ngga pake gituan, kan? Gue inget dulu pas gue ultah dua puluh tahun kalian nggak ngasih apa-apa, bahkan nggak ngasih ucapan apa kek gitu. Jahat kalian," Kimi yang kami kenal sebagai cowok cool yang tidak suka dengan hal-hal manis berbau kejutan semacam kejutan ulang tahun itu memasang muka memelas ke hadapanku dan Tama. Kami berdua melemparnya dengan tisu.
 
"Haeeh, itu elu yang kaga mau kali boi!" Ucap Tama. Kami tertawa bersama lalu hening sejenak.
 
Kami sudah berusia lebih dari dua puluh tahun, lebih tepatnya mungkin dua puluh dua. Tadi ketika menyaksikan kejutan ulang tahun ke dua puluh buat Si Nyinyu itu, aku merasakan kebahagiaan yang mungkin juga dirasakan oleh Nyinyu saat ini. Ya, usia dua puluh tahun menjadi penanda kedewasaan dan kebebasan masa muda kita, bukan di usia delapan belas menurutku. Di usia ini kita sudah bisa dan boleh menentukan jalan hidup sendiri, tak perlu lagi bergantung pada orang tua. Kita bisa merasakan kebebasan di masa muda, bebas berekspresi, bebas berkarya, bebas berbahagia. Di usia seperti ini menurutku adalah masa yang sangat membahagiakan sekaligus menyedihkan.
 
Dulu ketika kepala satu kami tak sabar menginjakkan diri pada usia dua puluhan karena menurut kami yang masih bocah waktu itu, umur dua puluhan adalah masa-masanya bebas. Bebas dalam arti tak terbelenggu dalam aturan yang ditetapkan orang tua, kita sendiri yang kini menetapkannya meski masih dalam pengawasan mereka. Dulu kami berpikir, usia dua puluhan adalah masa di mana kami bisa melakukan apapun yang kami mau dan kami suka. Dan tentunya yang kami pikirkan adalah betapa asiknya hidup sendirian.
 
Tapi itu hanya berlangsung ketika kami berusia sembilan belas. Memasuki usia dua puluh, kami jadi goyah, terutama aku. Ketika aku dan teman-teman memasuki usia dua puluh waktu itu, kami merasakan perubahan hidup yang signifikan. Meninggalkan kepala satu dan memasuki kepala dua bagi kami adalah beban karena di saat ini kami dituntut untuk menentukan jalan hidup sendiri. Mau jadi apa nanti di masa depan? Sepuluh tahun lagi kamu sudah jadi apa? Tinggal di mana? Bukan masanya bersenang-senang ala anak SMA lagi, kami harus bertindak lebih dewasa sekarang.
 
Masalah-masalah yang datang kepadaku bukan lagi masalah yang sederhana. Masalahnya sudah bawa-bawa hati. Tak cuma urusan cinta, usia dua puluhan juga akan banyak mengalami masalah soal pertemanan, pekerjaan, dan tentunya masa depan.
 
Aku goyah waktu itu karena merasa belum siap memasuki usia dua puluh, bahkan ingin rasanya berhenti saja usiaku di angka sembilan belas. Akhirnya aku melakukan pendewasaan diri dengan mengikuti beragam kegiatan di komunitas dan organisasi. Aku pun mencoba lebih serius menjalani passionku agar kelak aku tahu jalan hidupku. Aku juga mulai tidak mengharapkan kejutan dan kado ulang tahun karena buatku sekarang ulang tahun bukan sebuah momen yang harus dirayakan dengan kemewahan. Ulang tahun di usia sekarang semestinya dirayakan dengan renungan.
 
"Umur dua puluh emang umur yang menyenangkan selama hidup. Setahun coba, sebelum memasuki usia dua puluh satu, gue ngalamin banyak hal dan sadar kalau hidup nggak sesederhana yang gue pikirin. Gue banyak ngelakuin kesalahan waktu itu, eh enggak, sampe sekarang juga, sih. Tapi dari situ gue jadi tau diri gue itu kayak apa," ujar Kimi yang tiba-tiba serius.
 
"Iya, kepribadian diri kita emang terbentuk sampai usia dua puluh tahun. Makanya, gue juga habis lewat umur dua puluh jadi banyak mikirin untuk semakin mengenal diri dan memantaskan diri. Sekarang udah mau lulus kuliah, gue harus mikir rencana hidup sampe umur 30 nanti. Berat euy rasanya, hahahaa..." tanggap Tama.
 
Kami bertiga memandangi geng Si Nyinyu dengan penuh rasa penasaran tapi juga turut bahagia. Kami seakan juga ingin mengucapkan "Welcome to TWENTY girl!" padanya dan menceritakan hal-hal yang harus dilakukannya seketika memasuki usia dua puluh ini, tapi kan kami nggak kenal Si Nyinyu. 
 
Sekarang usia kami dua puluh dua. Kami memang sudah meninggalkan usia dua puluh, tapi bukan berarti kami harus berhenti bebas. Justru kami harus melanjutkan kebebasan kami di usia dua puluhan ini sebelum saatnya nanti kami menjalani hidup yang lain.
 
"Masa muda, bro! Nikmatin, jalanin, pelajarin. Kita di usia segini emang sering ngelakuin kesalahan bahkan sampai yang fatal sekalipun, tapi jangan terlalu disesali karena itu bakalan jadi pengalaman berharga buat kita. Termasuk soal cinta, eeaaaa!!" Hmm, mulai nih Tama membuka perbincangan soal cinta.
 
"Apa, sih, Tam? Lo mau curhat soal itu ya, dari kemarin? Coba coba sini cerita.. cerita..." sanggahku. Tama terdiam sebentar.
 
"Ya, gitulah. Kami berdua sudah tak bersama, hahahahaaa!" Orang gila! Baru putus malah ketawa, tapi aku ikut tersenyum.
 
"Kenapa, Tam? Gapapalah cerita sekarang sembari nunggu yang laen, biar nggak bosen hahahaa.." ujar Kimi.
 
"Kita nggak bisa lanjut karena beda prinsip. Gue umur segini, kan mikirnya udah ke yang jauh-jauh, ya, maksudnya gue pengen serius gitu. Nah, kemarin kita ngobrolin soal masa depan. Dia bilang sebenernya kita berdua nggak bisa lanjut untuk sampai ke masa depan karena di keluarganya udah punya aturan adat lah istilahnya, ya intinya dia kudu nikahnya sama yang sesuku. Dan berhubung sekarang gue lagi skripsian dan pengen fokus, akhirnya kita putuskan untuk berteman seperti sedia kala aja. Begitu, teman-teman."
 
"Wah, sayang banget, ya, Tam. Padahal lo berdua, kan udah hampir tiga tahun," tanggapku. Tama mengangguk tipis.
 
"Ya, gimana lagi. Tapi sebenernya dia masih pengen lanjut, semacam sebagai pelipur lara. Tapi sekarang gue mikirnya nggak bisa kaya gitu, entah kenapa. Gue pokoknya mikirnya sekarang hubungan yang serius walaupun secara materi gue belum siap, seenggaknya gue mempersiapkan mental dulu," jelas Tama. Kimi menepuk bahu Tama, memberikan semangat. Sementara itu aku bertepuk tangan untuk Tama. Bangga rasanya punya teman cowok seperti ini yang sudah mulai mencoba memantaskan diri. Aku baru tahu dengan konsep pemikiran lelaki soal ini. Ternyata di usia dua puluhan lelaki sudah berpikir panjang untuk masa depan keluarganya kelak.
 
"Mudah-mudahan masih ada waktu untuk cari jodoh, ya, Tam. Hahahaa... Gue juga sekarang mikirnya ke arah sana. Kaya yang lo bilang tadi, Tam. Habis umur dua puluh, gue baru mulai ngerancang hidup gue sampai berkeluarga. Hal yang gue takutin setelah lulus nanti adalah kerjaan karena gue nggak mau lanjut sekolah dulu, capek bro, hahaa. Gue pingin lihat dunia nyata, jadi gue milih kerja habis lulus, tapi gue takut lama menganggur. Makanya, dari sekarang pun gue udah merintis usaha editing naskah, buat jaga-jaga supaya waktu gue nggak kosong teuing habis wisuda. Yah, kita kan cowok, jadi harus mulai kerja keras dari sekarang. Kalo Yuna mungkin agak santai, sapa tau lo habis wisuda dilamar pengusaha tajir trus lo nikah, tinggal mikirin gimana jadi istri dan ibu aja. Walopun gue udah bikin usaha gue tetep pengen kerja di perusahaan, ya di manapun itu selama itu sesuai dengan hobi gue. Mungkin orang mikir ngapain nyari kerja lagi kalo udah punya usaha? Karena gue pengen belajar lagi langsung di lapangan. Gue belum merasa cukup ilmu untuk menjalankan usaha sendiri, jadinya gue milih kerja juga. Untuk sementara usaha itu buat sampingan, tapi suatu saat kelak usaha itu akan jadi prioritas gue. Hidup itu nggak ada berhenti belajarnya,"Kimi ikut membuka ceramah hidupnya. Kami berdua menyimak dengan seksama.
 
"Nah! Karena kita punya impian-impian itu, kita jadi punya semangat yang luar biasa, nama kerennya mah semangat muda. Itulah kenapa kita di usia seperti ini sering diberi kesan 'masih bersemangat'. Walaupun terasa melelahkan, tapi sepertinya kita nggak pernah lupa yang namanya bahagia karena di usia sekarang seperti ini kita menjalani hal berbeda-beda tapi bareng-bareng teman-teman kita. Walaupun melelahkan, tapi kehidupan di usia dua puluhan itu menyenangkan, semenyenangkan usia kepala satu," ucapku penuh semangat.
 
"Kenapa kita jadi ngomongin ini, sih? Mana, nih, yang lain?" Tama mencoba mengalihkan pembicaraan.
 
"Hahaa.. ya, biasalah obrolan anak dua puluhan. Nanti juga kita pasti ngobrolnya ke arah sana. Pesen aja dululah, lama yang laen. Si Ria sama Dian udah mau nyampe katanya, kalo Ara nggak tahu, deh," kata Kimi. Aku tersenyum bangga memandang mereka lantas memanggil pelayan kafe. Kami segera memesan minuman dan makanan pilihan kami lalu melanjutkan obrolan.
 
Seberat apapun hidup, di usia inilah kita mempelajarinya dan akan merindukannya. Kita belajar tentang persahabatan, karir, dan cinta. Obrolan kita di usia ini juga berubah, dari yang galau-galau masalah pacar, mengeluh soal PR matematika dan fisika, kini mulai membicarakan masa depan, cita-cita, dan jodoh. Begitulah fase hidup ini.
 
"Oi, Nyinyu di meja sana! Selamat ulang tahun, ya! Have fun in your twenties! Salam muda!" Tama tiba-tiba berseru sembari mengangkat gelasnya kepada Si Nyinyu yang masih diliputi kebahagiaan dan keseruan bersama teman-temannya. Dan mereka yang terduduk di pojok sana terheran-heran dengan Tama, wajahnya penuh tanya, Siapa dia?
 
Sementara itu kami bertiga hanya tertawa kecil bahagia untuk Nyinyu di meja seberang sana.
Selamat ulang tahun, Nyinyu!
 
 
Jatinangor, 20 September 2015

  • view 134