Raka (Part 3)

Gelar Riksa
Karya Gelar Riksa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 Agustus 2016
Raka (Part 3)

Setelah itu, Raka pun kini resmi menjadi seorang pegawai Bank. Ia resmi menjadi salah satu staff janitor di kantornya itu. Tercapailah cita-cita Raka untuk bekerja di Bank, walau ternyata bukan di posisi yang diinginkannya. Kini ia tidak berbohong lagi kepada ibunya bahwa ia memang bekerja di bank.

                Raka pun memulai rutinitasnya sebagai pekerja ‘kantoran’. Ia datang jam tujuh pagi sebelum kebanyakan karyawan lain datang, untuk beres-beres, mengepel, memeriksa toilet mengecek setiap sudut ruangan. Kemudian sekitar jam sepuluh pagi, ia melakukan cek ulang, siapa tahu ada kuman yang bertebaran, mengeceknya lagi, menangani beberapa kasus jika pegawai lain menumpahkan minuman atau makanan. Menerima complain dari yang jabatannya lebih tinggi darinya, semacam sabun di toilet habis lah, atau ada debu di ruang belakang lah dan komplen-komplen kecil lainnya, hingga ia pulang ke kamar kosan jam lima sore untuk nonton tv dan tidur.

                Awalnya ia merasa jengkel, namun lama kelamaan, seolah itu menjadi suatu perasaan yang biasa saja, seolah semua itu adalah sebuah kewajaran. Suatu hari Raka bercermin dan mendapati dirinya dengan rambut yang lupa disisir, sepatu yang lupa disemir dan janggut serta kumis yang seringkali lupa dicukur. Hilang sudah semua setelan perlente yang ditampilkannya di awal masuk ke kota. Sekarang sudah tidak ada lagi Raka yang bermimpi untuk membeli kapal pesiar dan helikopter. Raka yang sekarang adalah Raka yang bermimpi untuk bisa makan setiap pagi dan malam juga mengirim uang kepada ibunya. Raka bukan mengirim uang karena ia ingat orangtuanya, tapi karena takut ketahuan kalau dirinya tidak menjadi seorang teller bank.

                Tidak ada kehidupan mewah itu, tidak ada akhir pekan untuk hang out bersama teman-teman itu, karena semua teman-temannya rata-rata bapak beranak dua yang menghabiskan waktu di rumah dengan nonton TV, itu pula yang Raka lakukan. Karena rasanya menjadi tidak elok kalau Raka harus ikut bersama para pria berdasi menghabiskan waktu malam minggu bersama-sama. Pak Narto, salah seorang janitor juga pernah mengatakan, “Kamu kalau punya uang pun lebih baik tidak dipakai yang begitu.”

                “Jadi harusnya dipakai apa?”

                “Ya ditabung, anak istri kamu nanti mau makan apa?”

                “Ya saya kan belum menikah pak.”

                “Kamu ini, kalau sudah sepuluh tahun bekerja kayak saya gini, kamu pasti sadar, tidak ada gunanya kelakuan macam itu. Uang itu jangan dihamburkan, yang penting bisa ngehidupi anak istri.”

                Raka tidak menjawab lagi, memangnya siapa yang mau menghabiskan waktu selama sepuluh tahun di tempat begitu. Ia ingin segera keluar untuk mendapat pekerjaan baru, tapi ketika ia bertanya pada dirinya mau kerja di mana, ia pun bingung sendiri. Begitulah Raka terus mengulang hidupnya di kota setiap hari, sama seperti tukang es kelapa yang tempo dulu ia beli, seperti tukang jaga toko yang dilihatnya setiap hari, juga seperti para pekerja lain yang berseliweran di kota tanpa sempat untuk saling tanya. Hingga tak terasa tiga tahun telah berlalu, ia belum naik pangkat juga, masih tetap begitu saja. Ia tidak pernah pulang setiap tahunnya, ketika ibunya meminta ia selalu berkelit dengan alas an terlalu sibuk dan kantor tidak bisa memberikan izin untuk dirinya. Sehingga ibunya pun selalu berkata, “Kamu memang orang yang bisa diandalkan, semoga tetap betah di sana yah nak.”

                Begitulah selalu mengibuli ibunya sendiri. Ia sudah sangat jengah dan tidak bisa mencari alasan lain. Ia berharap ibunya bisa lupa punya anak, tapi itu jelas tidak mungkin. Cepat atau lambat, Raka harus mengaku dan membuat ibunya malu oleh orang sekampung. Tahun ini, ia berniat untuk tidak pulang lagi dan memilih untuk diam saja di kosan di waktu libur. Suatu Sabtu ketika semalam sebelumnya ibunya menelepon dengan kerinduan yang sangat Raka mendapatkan pesan singkat, itu dari Ibunya. Alangkah terkejutnya Raka melihat isi sms itu.

                “Nak, pulang hari ini juga, minta izin sama bos-mu dengan resiko seluruh gajimu juga tidak apa-apa. Abah meninggal.”

                Raka kaget bukan kepalang, ia tidak tahu harus merasa apa. Ini terlalu mendadak dan lagi tidak ada tanda-tanda bahwa abahnya sakit atau apa. Selama tiga tahun ini tidak pernah sekalipun ia berkomunikasi dengan abahnya. Raka juga memang tidak terlalu ingin berurusan lagi dengan ayahnya itu semenjak meninggalkan desa. Berita ini tentunya sebuah tusukan keras bagi Raka, karena seingatnya, kata-kata terakhir yang dikatakan Raka pada ayahnya hanya kalimat pamit yang bukan pamit, bahkan tidak dramatis sama sekali.       

                Sekonyong-konyong ibunya langsung mengabarkan kematian ayahnya. Ibunya mengirim sms dengan tipikal orangtua, tanpa basa-basi dan langsung kepada inti. Ibunya juga tidak pernah menceritakan ayahnya sakit atau semacamnya. Tanpa sadar, mata Raka terasa panas, air mata rembes di pipinya. Tiga tahun ia telah menjadi anak yang melupakan ayahnya, tiga tahun tanpa berhasil menjadi apa pun, apa pun yang bisa dibanggakannya kepada ayahnya itu. Tapi kini ayahnya sudah mati, mau apalagi dia. Sudah terlanjur meninggalkan desa karena tidak sepakat dengan abah.

                Bagaimanapun juga, itu adalah ayahnya. Ia segera bergegas, tanpa lama saat itu juga langsung menaiki bis menuju rumahnya di desa Cireundeu. Ketika turun dari bis ia langsung berlari menuju rumahnya. Tidak salah lagi, ibunya tidak tengah bercanda, begitu melihat Raka ibunya langsung memeluknya sambil menangis, Raka tidak bisa berkata apa-apa. Ia melihat rumahnya dikerumuni orang-orang yang tengah melihat ke arahnya, “Oh ini anak mereka yang sukses di kota itu.” Begitu mungkin pikir mereka. Di tengah rumah ia melihat sesosok yang terbaring ditutupi kain batik. Bau bunga-bunga menguar darinya, nampaknya sudah selesai dimandikan. Di sana ada Bah Atang yang tengah memimpin jampi-jampi pengantar kematian.

                Raka sebagai anak yang meskipun membangkang masih tahu adat, ia menemani jenazah, ikut menanggungnya sampai menguburkannya. Semoga arwahnya diterima oleh para leluhur sana. Abah Atang, tetua di Cireundeu memberikan beberapa wejangan kepada Raka, untuk tanggung jawab kepada keluarga utamanya. Usai semua prosesi dan ritual beliau pun pulang. Tinggal ibunya di sana, duduk di tengah rumah menyeduh teh hangat. Raka kemudian mengambil kursi di sebelahnya.

                “Ambu kenapa tidak bilang kalau abah sakit?”

                “Dia tidak mau ganggu kamu, nanti takutnya kamu jadi kepikiran.”

                “oh..”

                Ada jeda cukup lama.

                “Ambu…”

                “Hm.,.”

                “Bagaimana kabar orang desa?” tanya Raka.

                “Seperti biasa saja. Mereka mencangkul singkong, makan singkong tiga kali sehari, sorenya para pemuda bermain dan mengajari anak-anak. Perempuannya ya biasa, membantu di dapur dan menjahit.”

                “Ambu, apa hidup seperti itu sulit?”

                “Kamu kenapa?” ambu bertanya balik.

                “Tidak apa-apa, jawab saja bu.”

                “Hidup itu mudah, kesulitan kita datangkan sendiri,” ibunya menyeruput teh nya lagi, lalu melanjutkan, “Kita tanam singkong dan cangkul jika sudah masak, kita memakan apa yang kita usahakan, kita menjahit baju kita sendiri, kita membuat rumah kita sendiri tanpa harus ada makelar tanah. Alam sudah menyediakan semua, kita tinggal hidup menjadi manusia setiap hari dan tambahkan sedikit makna.”

                “Oh begitu bu.” Kini tatapan Raka kosong, ia teringat kepada kamar kosnya yang sudah lama tidak dibereskan, ia mulai sadar bahwa ia sedang mengurung dirinya sendiri di penjara kecil di tengah besarnya dunia. Ia sadar ia telah terlambat.

                “Oiya, bagaimana pekerjaan kamu? Kalau ada yang meninggal baru bisa dapat izin. Kamu bakal pulang lagi sampai ibu meninggal?” Ibunya cemberut.

                “Baik-baik saja bu, besok harus balik kerja lagi.” Raka bangkit dari duduk sambil tertunduk, ia beranjak ke kasur bermaksud untuk tidur, namun matanya tidak mau terpejam juga.

TAMAT

  • view 186