Raka (Part 2)

Gelar Riksa
Karya Gelar Riksa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Agustus 2016
Raka (Part 2)

.......

Esok paginya Raka sudah berdandan sangat rapi, mematut dirinya sedemikian rupa, tak lupa mengoleskan minyak rambut yang membuat rambutnya berkilau dan tebal. Setelan kemeja biru lengan panjang dipadukan dengan dasi hitam polos membuatnya terlihat sangat perlente dan pantas. “keren.” Dia berkata kepada cermin. Sepatunya telah disemir mengkilap, membuat seolah debu pun tidak rela untuk bisa hinggap. Sekali lagi ia mengecek cermin, kumis dan jenggotnya sudah tercukur rapi, sekarang ia kelimis dan berkilat. Ia telah sepenuhnya siap untuk memasukkan lamaran. Raka berpikir bahwa mungkin saja ia akan langsung diwawancara, maka dari itu ia harus menampilkan kesan seorang yang sukses, atau setidaknya siap sukses. Dengan penuh impian layaknya orang kota, ia pun berangkat.

                Bank yang hendak ia masukan lamaran itu adalah salah satu bank nasional yang cukup terkenal, seorang satpam yang belum terlalu tua menyapanya di pintu masuk dan tersenyum kepadanya.

                “Selamat siang ada yang bisa saya bantu?” Tanya satpam itu ramah, keramahan yang selalu membuat Raka kagum, karena ia satpam itu bisa melakukannya sepanjang hari.

                “Siang, saya mau masukan lamaran ke sini pak.”

                Satpam itu sejenak diam dan menelisik Raka dari ujung rambut sampai ujung sepatu yang mengkilap itu. “Oh, mau ngelamar untuk posisi apa?”

                “Teller pak.” Jawab Raka.

                “Oh kalau posisi teller tidak ada lowongan, sedang penuh.” Jawab satpam itu.

                “Oh..” Raka bengong, seluruh rasa percaya diri yang dibawanya dari desa meletup bagai gelembung bola sabun. Seluruh mimpinya, seluruh angannya, tentang kesuksesan, mobil, kapal pesiar dan helicopter kini sirna.

                “Barangkali mau dititip dulu lamarannya di saya?” kata Satpam itu, sepertinya kasihan karena melihat Raka.

                “Eh…oh…tidak usah pak.” Jawab Raka yang kembali ditarik ke alam sadarnya.

                “Oh, kalau begitu, ada lagi yang bisa saya bantu?” Tanya pa satpam dengan senyum yang sama seperti tadi.

                “Tidak pak, makasih banyak.”

                Raka melangkah gontai ke luar dari area bank itu. Bahkan lamarannya tidak sempat menyentuh meja HRD, dia sudah ditolak di pintu masuk. Ilusi macam apa ini, ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Dirinya, seorang sarjana, yang punya nilai yang bagus, badan yang tinggi dan wajah yang lumayan tampan, ternyata tidak bisa di terima di bank yang sudah diimpikannya sejak sebelum lulus kuliah.

                Syaraf-syaraf di otak Raka masih berusaha untuk membangkitkan lagi pusat listriknya, ia masih belum bisa sepenuhnya sadar, bahwa ternyata dirinya baru saja ditolak sebuah perusahaan. Ia gagal melamar kerja. Dalam imajinya, hari ini Raka akan diterima oleh satpam, dan diantar ke meja HRD, untuk kemudian memperlihatkan berkasnya kepada petugas personalia. Kemudian tidak lama kemudian ia akan mendapatkan kesempatan untuk menjalani interview, dia lalu bisa menjawab semua pertanyaan dan kemudian dinyatakan diterima. Setelah itu ia akan memulai masa percobaan dan kemudian diangkat menjadi pegawai tetap, dan seterusnya dan seterusnya hingga akhirnya ia bisa beli helikopter sendiri.

                Oh semuanya harus bubar oleh senyuman pa Satpam. Raka berjalan kembali menuju kosannya, di perjalanan ia melihat beberapa gedung lain yang tidak terlalu besar, rata-rata adalah rumah toko, atau jongko yang disewa. Orang-orang di sana banyak berdagang aneka ragam barang, tak satupun menarik perhatiannya. Dilihatnya juga beberapa pedagang yang membawa gerobak atau menanggung bawaan, kulit para pedagang ini legam terbakar matahari, mereka setia melayani pelanggan dan menunggui mereka untuk menghabiskan dagangannya.

                Raka melangkah loyo membuka pintu kosannya. Dunia seakan bertambat sempit, tentu saja semua ini tidak ada di dalam kalkulasinya. Raka rebah di kasur busa yang memang sudah sepaket dengan kosannya. Ia menatap langit-langit, hari bahkan belum sore namun ia merasa sudah sangat lama sekali meninggalkan kosannya. Perutnya mulai keroncongan, pikirannya kini terbang ke Cireundeu, ibunya pasti sekarang tengah memasak nasi singkong dan beberapa lauk seperti ikan asin, tahu dan sambal. Terbayang wajah ibunya yang mungkin sekarang mengira anaknya sudah memulai kerjanya, jika ibunya tahu, Raka pasti akan menjadi teramat malu. Lalu abah, jika ia tahu hal ini mungkin dia akan mendengus dan melotot lalu bilang, “Tuh, dibilangin juga apa!?”

                Raka menggeleng-geleng kepalanya, dan tengkurap untuk membenamkan wajahnya ke atas bantal. Tidak, dia tidak bisa pulang sekarang, ia berusaha menepis semua ragu dan kegagalan. Tidak bisa, tidak boleh pulang sekarang, Raka membatin. Dia adalah sarjana, calon orang sukses, dia harus bisa diterima kerja. Raka memutuskan untuk mencari bank lain yang mungkin akan mau menerimanya. Ya, tentunya bank serupa itu tidaklah sedikit, hanya karena satu bank menolak tidak berarti semuanya sama. Raka berusaha meyakinkan dirinya sendiri, walau terbersit sedikit keraguan ia berusaha menangkisnya. Besok pagi ia menekadkan diri untuk menembus beberapa bank untuk dimasuki lamarannya. Sisa hari itu ia gunakan untuk memperbanyak lamarannya di tukang photocopy, besok pasti berhasil, lihat saja. Gumam Raka.

                Esok paginya ketika Raka terbangun ia melakukan hal yang sama dengan pagi sebelumnya. Ia mematut diri di cermin, mengoleskan minyak rambut dan menyemir sepatunya lagi. Bergegas melengang mencari bank yang mau menerima lamarannya. Bank yang ia cari kali ini tidak harus bank nasional, ia mencari bank yang punya reputasi cukup tinggi di negeri ini. Namun, entah dewa kesialan macam apa yang tengah menaunginya, langkah Raka kembali terhenti di senyum pak satpam. Tiga bank yang berusaha ia datangi, ketiganya menolaknya sebelum sampai ke meja HRD. Hal ini tentu saja membuat Raka patah hati bukan kepalang, ditambah lagi kenyataan ia ditolak sebelum sempat membuktikan kemampuannya.

                Bahkan salah satu satpam mengatakan, “Kalau mau ngelamar lihat dulu di internet lowongannya ada atau engga.”

                Raka berjalan lemas, di tengah kota yang selalu sibuk sepanjang waktu, semua orang bekerja dengan kemampuannya masing-masing, tidak akan ada yang peduli dengan kesengsaraannya. Hari sudah siang dan matahari terik sekali, rasanya benar-benar kusut, punggungnya sudah basah karena keringat. Belum lagi sakit hatinya karena ditolak semua lamarannya. Raka bukannya tidak mau melakukan riset lewat internet perusahaan apa yang membutuhkan jasanya. Dia menganggap sarjana seperti dirinya akan selalu dibutuhkan di manapun, ia selayaknya primadona yang diingini oleh banyak perusahaan. Sayang, seketika itu  juga Raka menyadari bahwa ternyata sarjana seperti dirinya itu sangatlah banyak.

                Hari kemarin baru saja ia berusaha untuk meyakinkan dirinya bahwa kegagalan di hari pertama hanyalah sebuah ujian belaka, sekarang seharusnya ia berhasil, namun nyatanya tidak juga. Ia beristirahat sejenak di tukang es kelapa, menghilangkan dahaga dan sekaligus menemukan semangat baru. Ketika meneguk minuman segar itu ia mulai berpikir lagi untuk kembali, saat ketika itu juga ponselnya berbunyi. Ada sms dari ibunya, “Bagaimana kerjanya? Betah?” sebuah pesan yang membuat dirinya tercekat, dan es kelapa itu di tenggorokannya seolah mendadak macet. Hatinya benar-benar gusar, sisa es kelapa di gelas ia simpan dan segera membalas pesan pendek itu. “Betah ambu, enak di sini, segar karena ada AC.” Setelah beberapa saat terdiam, Raka segera bergegas ke kosan, sekarang ia benar-benar tidak bisa pulang.

               Pagi berikutnya Raka kembali melakukan ritual paginya dari mengoles minyak rambut sampai menyemir sepatu. Ia harus mendapatkan posisi di bank, kali ini tidak usah bank terkenal, bank apa saja, yang penting bank! Ia pun bergegas dari pagi sampai sore untuk mencari bank yang ia bisa masuki lamarannya. Selama seminggu itu ia terus saja melakukan itu, lagi dan lagi. Berjalan dari bank ke bank membawa map lamaran untuk bisa memasukkannya. Ia juga menuruti saran satpam itu untuk mencari peluan dari internet tentang bank mana yang bisa ia masuki lamaran. Raka menemukan beberapa alamat, dan setelah yakin ia bergegas ke tempat tersebut. Penolakan demi penolakan ia terima, ia sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Seolah penolakan itu telah menjadi bagian dari rutinitasnya.

                Minggu berikutnya akhirnya secercah harapan muncul, salah satu bank swasta yang tidak begitu terkenal mau menerima lamarannya, dan memintanya untuk menunggu panggilan interview. Raka belum tentu diterima, bahkan ia juga belum tentu mendapatkan panggilan untuk wawancara. Namun itu saja sudah membuatnya sangat senang, dan merasa kini nasib mulai berpihak padanya, akhirnya setelah sekian lama melakukan kerja keras yang ia rasa mencoreng harga dirinya. Raka berhasil memasukan satu lamaran ke sebuah bank, mungkin sebentar lagi ia akan mendapat panggilan dan segera diterima, kemudian naik pangkat dengan cepat, mengingat itu bukanlah bank besar, pikir Raka.

                Kenyataannya, sudah seminggu berlalu dan Raka tidak juga mendapatkan panggilan, ia membusuk di kamar kosannya bersama uang sakunya yang semakin menipis. Setelah uang itu habis resmilah Raka akan benar-benar menjadi tuna harta. Uang yang ia bawa hanya cukup untuk satu bulan, karena di bulan berikutnya dia akan punya gaji niatnya. Raka tak ubahnya menjadi seperti orang baru mulai pacaran, berkali-kali ia tengok ponselnya berharap ada telepon atau pesan dari HRd bank yang ia lamar. Telepon itu tak kunjung bordering, hanya sesekali masuk pesan dari ibunya yang menanyakan bagaiman kabarnya. Semakin hari semakin ia tidak ingin membalasnya, jika ibunya menelepon cukup ia bilang habis pulsa sehingga tidak bisa membalas. Entah sudah berapa bungkus mie instan yang ia habiskan demi berhemat, karena makan ke warteg tentunya membutuhkan lebih banyak uang.

                Minggu setelahnya juga begitu, barulah di awal minggu ketiga, Raka mendapatkan telepon dari personel HRD, hatinya melonjak gembira, ia nyaris berteriak ketika petugas HRD itu menyebutkan namanya dari seberang telepon sana. Setelah satu minggu membusuk di kamar kosan, ia tentu saja menjadi begitu bersemangat untuk pergi, dan siap ia mengatakan tidak akan  terlambat datang ke tempat interview. Besok paginya ia akhirnya bisa tersenyum lebih lebar, menyapa mentari pagi yang bangun seperti mimpinya yang kembali bangun setelah lama tidur belakangan ini. Ia melengang dengan langkah yang ringan menuju tempat wawancara, ketika satpam bertanya kepadanya ada perlu apa, dengan bangga ia menjawab, “mau wawancara pak.” Sehingga si satpam kali ini membiarkannya masuk. Semacam perasaan menang menggembung di dadanya, untuk kemudian ciut lagi ketika melihat kursi di depan pintu wawancara.

                Ternyata, bukan hanya dirinya yang mendapatkan panggilan wawancara, ada sekitar lima orang yang juga berdandan mirip dengan Raka yang sudah duduk di kursi panjang itu. Semuanya membawa map yang sama seperti Raka, mereka mengobrol dengan sedikit berbisik, ada juga yang tetap diam berusaha untuk tenang, mungkin sambil menerka pertanyaan apa yang akan ditanyakan oleh pewawancara. Raka melangkah pelan untuk ikut duduk di sana, ia kembali merasakan perasaan tidak dispesialkan, seolah ia sedang menyukai seorang perempuan, dan perempuan membalas berbuat baik padanya tapi kemudian dia tahu bahwa perempuan itu tidak hanya baik kepadanya. Sekarang yang jelas, mereka semua yang ada di sana memiliki tujuan yang sama dengan Raka, dan mereka datang lebih pagi dari dirinya

                Raka memilih diam, dan berkonsentrasi untuk bisa menjawab semua pertanyaan yang akan diberikan oleh pewawancara. Ia harus tenang, anggap saja ini semua seperti ujian sidang, saat ujian sidang dulu ia bisa menjawab semua pertanyaannya, sekarang juga tidak akan begitu sulit. Satu persatu nama mereka dipanggil, sampai hanya tinggal Raka seorang yang duduk di kursi panjang itu. Detik demi detik seolah terasa lama sekali. Padahal belum sampai sepuluh menit sejak orang terakhir dipanggil. Semua yang sudah dipanggil tidak berkomentar apa-apa dan langsung meninggalkan tempat wawancara, sementara Raka sendiri terlalu sibuk dengan ketegangannya daripada membaca roman muka yang tampak dari mereka yang baru saja keluar dari ruangan.

                Setelah cukup lama, nama Raka pun dipanggil, ia harus yakin dengan dirinya. Ia mempersiapkan segala macam pengetahuan tentang bank, bagaimana bank itu bergulir, sejarah bank dan bagaimana system keuangannya. Raka telah mempelajari itu semua, jadi ia meyakinkan dirinya bahwa tidak ada yang perlu ia takutkan, karena ia pasti akan bisa menjawab semua pertanyaan. Seorang pewawancara itu adalah perempuan, usianya mungkin baru diawal tiga puluhan, cantik sekali, rambutnya hitam lurus dan dikuncir kuda, bibirnya dipoles gincu merah tipis, sebuah kacamata bertengger di hidungnya yang mancung, menambah kesan elegan dan berkelas dalam pandangan Raka. Kelas ini lah yang ingin diraih Raka. Ia pun duduk dan berjabat tangan dengan pewawancara tersebut, yang disambut dengan senyum manis dan mempersilakannya untuk duduk. Ia merapikan berkas Raka dan menelitinya. Oke, semua pertanyaan siap dijawab.

                “Baik, selamat siang, nama anda Raka yah. Waktu kuliah dulu ikut organisasi apa?”

                “Eh?”

                “Ikut organisasi apa waktu kuliah? Ikut organisasi ga?” ulang pewawancara cantik itu.

                “Eh, organisasi kampus yah….” Mampus! Tak pernah Raka sekalipun ikut organisasi di kampus, ia adalah aktivis kantin yang  kerjanya merokok sambil ngbrol ngalor ngidul bersama kawan-kawan yang sejenis dengannya. Ia tidak suka kepada himpunan mahasiswa jurusan, dan paling anti dengan mereka. Itu karena ia tidak pernah suka untuk berorganisasi, melaksanakan tugas dan jadi orang yang harus bertanggung jawab terhadap sesuatu.

                Sepertinya roman mukanya yang tidak yakin itu terbaca dengan sangat jelas oleh nona cantik yang ada di hadapannya. Ia kemudian segera menuliskan sesuatu  di dalam catatannya. Sambil membetulkan letak kacamatanya ia melanjutkan pertanyaan berikutnya, “Punya pengalaman kerja ga dulu, atau pernah magang apa waktu kuliah?”

                “Errr…” belum satu pertanyaan pertama ia berhasil menjawab, kini ia harus menghadapi pertanyaan berikutnya yang tak kalah membingungkan. Dua pertanyaan ini sudah cukup untuk membuat tegang dan keringat dingin muncul. Ia ingin sekali menjawab ini, namun kenyataannya memang ia tidak pernah ikut kerja apapun ketika kuliah.

                “Mmm, belum pernah.” Jawab Raka malu. Nona cantik itu tidak banyak bicara dan kemudian kembali menuliskan sesuatu di catatannya.

                “Kalau bahasa Inggris kamu, gimana? Lancar ga?”

                “Lumayan, saya kalau baca, bisa lancar. Kalau bicara agak susah.” Raka berusaha memasang wajah yang harapannya bisa dianggap bercanda. Namun nampaknya nona cantik ini sudah sangat terbiasa mewawancarai dan wajahnya terus saja tenang.

                “Oke, apa yang membuat kamu berpikir kamu layak untuk bekerja di sini?”

                “Ah, saya akan berusaha bekerja keras untuk bank ini, berkontribusi maksimal dengan menjadi teller yang baik. Lalu saya juga akan bisa jadi pemimpin dan membawa bank ini menjadi sebuah bank ternama di Indonesia.”

                Nona cantik itu kini tidak mencatatkan apa-apa, ia malah menahan senyumnya. Kalau bukan dalam posisi Raka yang sekarang, ia pasti akan sangat menikmati senyum itu. Ia kemudian merapikan semua berkas Raka dan bertanya lagi.

                “Ini pertanyaan terakhir, apa yang kamu harapkan dari tempat ini?”

                “Hmm..gaji dan….posisi.” kata Raka tanpa banyak basa-basi.

                Nona cantik itu kali ini tidak menahan senyumnya, ia langsung berdiri, membuat Raka ikut berdiri juga. “Terimakasih atas waktunya, wawancara kali ini selesai sampai di sini.” Ia pun menjabat tangan Raka dan mempersilahkannya keluar.

                Raka kini bingung, apakah ini semua sudah selesai? Hanya begitu? Ia tidak merasa sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan benar. Sekejap saja, merebak segumpal penyesalan di dadanya. Ia kira semuanya akan berlangsung lancar seperti ketika menjawab pertanyaan saat sidang skirpsi.             Tapi ternyata, semua pertanyaan itu terengar seperti bukan sesuatu yang menguji pengetahuannya. Dengan seluruh kebingungan di kepalanya itu Raka bertanya, “Apa sudah selesai, lalu saya harus bagaimana?”

                Nona cantik itu justru tampak kebingungan, sepertinya ia baru sadar bahwa Raka belum meninggalkan ruangan itu, “Oh, tunggu saja, kalau anda diterima nanti kami telepon. Sekarang anda boleh pulang, atau kalau punya urusan lain juga, silakan.” Tanpa basa-basi lain dia langsung merapikan sseluruh berkasnya dan berjalan ke luar ruangan, “Selamat siang,” katanya sambil menganggguk.

                Raka membalas dengan anggukan yang amat lemah. Setelah ia berpikir telah melihat titik terang, sekarang ia bisa melihat awan mendung kembali datang kepada dirinya. Sebulan lebih sudah ia habiskan di kota, dan ijazah serta nilai yang ia kumpulkan selama kuliah itu sama sekali tidak membantunya untuk mendapatkan pekerjaan yang dia impikan. Meskipun belum ada kepastian bahwa ia ditolak oleh bank ini, tapi siapa saja bisa tahu bahwa lamarannya sudah pastilah gagal, walau setitik harapan di hatinya masih berharap agar keajaiban bisa terjadi. Namun Raka adalah orang yang tidak bisa percaya pada sebuah keajaiban.

                Kembali ia melangkah gontai keluar dari area bank itu. Entah sudah berapa kali ia pulang dalam keadaan loyo seperti itu, lalu ia akan telentang lagi di kamar kosannya yang sudah bau apak, karena tidak pernah ia bersihkan sejak pertama kali ia datang. Ibunya pastilah telah mengabarkan ke seluruh orang desa bahwa anaknya telah kaya di kota orang. Usaha Raka untuk melakukan pembuktian kepada ayahnya nyaris hilang sudah, ia tidak merasa telah menjadi orang yang lebih baik dari seorang yang setiap hari mencangkul singkong di kebun.

                Raka tidak kepikiran untuk memiliki pekerjaan selain menjadi teller bank. Menurutnya pekerjaan lain terlihat tidak elegan, seperti beberapa tukang dagang atau penjaga toko yang ia lihat di jalan ke tempat kosnya. Semuanya terlihat penuh peluh dan keringat, bukan cara yang keren untuk bisa mendapat uang pikirnya. Haruskah ia mencari bank lainnya, yang kemungkinan mau menerimanya. Raka harus segera bertindak untuk bisa menyambung hidup, uang sakunya akan habis sebentar lagi, kalau tidak mau malu pulang. Ia harus segera mencari lagi, tapi kemana? Ia sudah benar-benar habis akal. Ia sedang benar-benar kacau, sehingga tidak ada pilihan yang lebih baik selain menunggu keputusan dari bank yang tadi ia datangi sambil juga menunggu keajaiban.

                Satu minggu kembali ia habiskan dengan tiduran dan begadang, kuota internetnya masih tersisa, sehingga ia tidak mati karena bosan. Sepanjang yang diingat, Raka tidak pernah memiliki kegiatan yang menyenangkan yang bisa ia lakukan sendiri. Ia tidak punya hobi yang spesifik,saat kuliah pun ketika libur yang dilakukannya hanya menonton televisi atau tidur siang.

                Suatu sore ketika Raka tengah tiduran di kamarnya, telepon bordering. Ketika ia melihat nomor kontaknya, itu adalah nomor yang seingatnya sama dengan nomor ketika ia mendapatkan panggilan wawancara. Raka langsung terduduk tegak dan mengucek matanya. Nyaris tidak mempercayai yang ia lihat, mungkinkah keajaiban itu datang sekarang. Raka memencet tombol angkat.

                “Ha..halo..”

                “Halo, dengan saudara Raka?”

                “Iya betul.”

               “Ah iya, kemarin sudah ikut wawancara yah?” Tanya seorang di ujung telepon itu. Hati Raka mulai mengembang, keajaiban itu datang.

                “Iya, betul…betul pak.” Nada bicara Raka menjadi lebih girang.

                “Nah, oke, begini, kami sudah baca kualifikasi anda dan anda melamar sebagai teller, betul?”

                “Iya, betul sekali pak…” Kini Raka sudah tidak bisa menahan senyum di wajahnya lagi.

                “Nah sayang sekali, posisi itu sudah diisi oleh orang lain, tapi….ada satu posisi kosong yang kami butuhkan, yaitu cleaning service. Bagaimana? Anda kira-kira berminat atau tidak?”

                Butuh beberapa detik bagi Raka untuk mencerna kalimat terakhir tadi. Sepertinya dia salah dengar. Senyum di wajahnya masih sedikit tertinggal menggantung.

                “Halo…halo… sodara Raka?”

                Raka mengeredipkan mata dan tersadar kembali. “Ah, iya pak?”

                “Gimana? Mau tidak jadi cleaning service di tempat kami?”

                “Cleaning service? Maksudnya yang bersih-bersih itu pak?”

                “Ya iyalah, apa lagi memang? Masa kamu yang begitu tidak tahu?”

                Raka bukan tidak tahu, ia tahu, tahu sekali.

                “Mmm, cleaning service yah pak?” Tanya Raka, sebetulnya itu bukan sebuah pertanyaan.

                “Iya, mengingat kamu juga tidak punya pengalaman apa-apa dan tidak ada pengalaman organisasi, sehingga kami juga meragukan kepemimpinan dan kemampuan kamu menata diri dan tum, jadi ya barangkali kamu mau memulai karir. Gaji mungkin belum besar, tapi pengalamannya lumayan lho.”

                “Oh begitu ya pak.”

                “Iya, ini kamu mau ambil tidak? Kalau tidak saya mau coba hubungi yang lain.” Jawab si bapak di ujung telepon itu sambil lalu.

                “Hemm….” Harga diri Raka mau dibanting ke mana lagi, ini sudah lebih daripada dihina-hina baginya. Ia telah menilai bahwa pekerjaan seperti cleaning service adalah rendahan, karena tidak berdasi dan berjas. Namun ketika ia hendak menolak, ia melihat tumpukan bungkus mie instan di tempat sampah. Kemudian ia ingat bahwa ia sudah tidak bisa pulang ke Cireundeu lagi. Ia pun menghela nafas panjang.

                “Iya pak, saya ambil. Kapan saya harus ke sana?”

Bersambung...

  • view 217