Raka (Part 1)

Gelar Riksa
Karya Gelar Riksa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 Agustus 2016
Raka (Part 1)

RAKA

 “Kalau tinggal di desa tapi tidak bisa mencangkul, mau apa!?” begitu kata abah kepada Raka. Hari itu adalah hari libur, Raka tidak sedang kuliah. Namun bagi Raka hari libur menjadi sangat menjengkelkan. Karena ia akan diberondong pertanyaan senada oleh abahnya. Saat itu Raka sedang bermalas-malasan di dipan depan televisi yang menyiarkan siaran pertandingan tinju yang membosankan. Ia langsung duduk tegak, dan mendapati Abahnya itu baru pulang dari kebun, nampaknya baru selesai menggali singkong.

                “Bawa singkongnya ke Ambu di belakang!” kata abahnya itu yang sekarang sedang berusaha membersihkan sisa tanah di kakinya yang telanjang. Raka tanpa banyak bicara langsung membawa beberapa buah singkong itu ke dapur tempat ibunya sedang memasak. Setelah itu ia kembali lagi ke ruang tengah.

                “Kamu harus mulai belajar mengurus kebun.” Kata ayahnya lagi.

                “Nanti saja.” Timpal Raka.

                “Kamu itu, disuruh orang tua, selalu bilangnya nanti…nanti…” Abah memasuki rumah dan duduk di kursi. Tidak lama ambu datang membawakan segelas teh hangat. Bagi Raka obrolan yang sudah melibatkan hierarki orangtua dan anak adalah obrolan yang tidak lagi bersifat dialog, melainkan monolog.

                “Lihat si Karsa, dia rajin membantu ayahnya mengurus kebun, dia bisa bikin pupuk sendiri dan tau harus jual singkong seharga berapa ke tengkulak.” Semprot abah.

                Raka memutar mata, cerita tentang Karsa teman masa kecilnya itu sudah ia dengar ribuan kali, dan kemampuan Karsa selalu berubah-ubah setiap kali abah bercerita, sekarang dia bisa bikin pupuk dan jual singkong. Sebelumnya, Karsa sudah bisa membuat anyaman bambu, sebelumnya lagi Karsa sudah bisa meraut kayu, sebelumnya lagi Karsa entah bisa apa, Raka sudah lupa. “Bah, Karsa itu punya waktu sebanyak itu karena dia tidak kuliah setelah selesai SMA.” Timpal Raka yang sudah bosan menjawab pertanyaan itu.

                “Kan kamu juga bisa setelah pulang kuliah.”

                “Tugasnya banyak dan…”

                “Jangan banyak alasan!” Sela ayahnya.

                Percakapan ini akan berubah menjadi ceramah sekarang. Raka harus mencari akal agar tidka kena ‘kuliah’ di hari libur.

                “Bah, kenapa kita sekampung ini harus semua menanam singkong?” Tanya Raka, yang sekarang duduk tegak di kursi, siaran tinju itu kini sepenuhnya terabaikan.

                “Yeuh, kamu teh harus tahu. Desa Cireundeu kita ini adalah kampung adat. Khas kita adalah kita tidak makan nasi sebagai makanan pokok. Sebagai pengganti nasi itu, kita makan singkong yang diolah khusus. Coba kamu ingat-ingat, kapan terakhir kamu makan nasi?”

                Raka menggeleng. Ia memang tidak makan nasi sejak kecil, di desa Cireundeu ini hampir tidak ada yang makan nasi. Semuanya makan singkong. Karena lidahnya sudah terlanjur beradaptasi, nasi menjadi sangat asing di mulut Raka.

                “Iya, tapi kenapa kita makan singkong abah? Jadinya kan saya gabisa ke warteg kalau di kampus, harus terus aja beli singkong keju.”

                Abah terlihat mulai habis kesabaran. Melihat anak pemberontaknya ini tumbuh jadi seperti ini. “Pan kamu teh apal, kita ini teh orang Sunda. Kita percaya kepada karuhun, menurut wangsit dan penerawangan mereka, suatu hari kita bakal kehabisan beras walau tanah kita subur. Lihat sekarang, kita beras saja harus ngimpor. Makanya kita mulai menanam singkong dan makan singkong sampai hari ini.

                “Selain itu, bagus juga untuk kesehatan kita. Jauh dari diabetes. Semua warga kita di sini tidak ada yang gemuk, karena makanannya sehat dan mereka berolahraga di kebun setiap hari. Kita hidup tanpa minta apa-apa. Karena kita bisa tanam sendiri, beras mahal, singkong jauh lebih murah. Dibilangin teh susah aja, dasar bedegong!” Abah pun pergi ke belakang rumah seusai menyeruput teh yang diberikan ambu tadi. Mungkin mau merokok sambil mengeluh lagi kepada ambu seperti yang sudah-sudah.

                Raka malas mendengarkan segala omong kosong tentang wangsit dan ramalan ini. Tetap saja semua ini tidak masuk akal baginya. Hal ini membuat dirinya berbeda dari teman-temannya di kampus. Mulai dari makanan, cara hidup sampai kepercayaan, semuanya berbeda. Ketika teman-temannya ke masjid waktu shalat tiba, Raka harus mencari berbagai alasan untuk menolak, dan itu sangat merepotkan baginya. Dia tidak bisa bilang dengan mudah bahwa agamanya berbeda, karena agamanya tidak termasuk dalam daftar agama yang diakui Negara. Identitas dirinya sebagai penghuni kampung adat benar-benar merepotkan dirinya.

                Cireundeu sendiri terletak di tengah kota, bukan murni pedesaan. Tepatnya di sekitaran kota Cimahi, yang bertetanggaan dengan Bandung, tempat Raka kuliah. Letaknya di perbukitan tidak jauh dari kota Cimahi. Pemerintah setempat telah meresmikan desa Raka ini sebagai kampung adat. Orang-orangnya adalah masyarakat sunda yang masih teguh adatnya, jadi bisa dibilang Raka sendiri adalah pewaris kebudayaan Sunda yang telah lama turun temurun itu.

                Ayah Raka sudah menjadi petani singkong sejak muda, sama seperti kebanyakan warga Cireundeu lainnya. Meskipun desa Cireundeu tidak sama dengan desa Baduy dalam di Banten, yang menolak segala macam teknologi dan pengaruh dari dunia luar, tetap saja orang-orang Cireundeu lebih memilih bekerja seperti layaknya orang desa. Tidak ada di antara mereka yang menjadi insinyur, atau dokter, atau mungkin tentara sepanjang pengetahuan Raka tinggal di sana. Semuanya tetap saja hidup alakadarnya, meskipun tidak ada warga yang miskin, semuanya terpelihara sandang dan pangannya dengan baik. Mereka hanya membangga-banggakan kebiasaan makan singkongnya. Huh, apa yang bagus dari itu, malah aneh! Itu yang selalu dipikirkan Raka soal tempat tinggalnya.

                Baginya, tidak ada yang lebih monoton dari hidup seperti ini, oleh karena itu ia ingin segera lulus kuliah dan pergi meninggalkan rumah. Ia ingin segera lulus dan melamar kerja di bank, rasanya akan menjadi keren jika ia mengenakan dasi dan jas, pergi kerja setiap pagi minum kopi ketika waktu istirahat, makan siang bersama teman-temannya dan mengobrolkan soal perempuan sambil sibuk dengan gadget di tangan, lalu kembali memandangi layar computer sampai sore hari tiba. Di akhir minggu ia akan pergi bersantai dan main ke bioskop bersama beberapa teman. Hingga di akhir bulan ia akan menerima gaji yang banyak. Impian itu terus mewarnai kepalanya, dan ia benar-benar menetapkan hati untuk keluar dari Cireundeu.

                Cita-citanya menjadi bankir ini belum diketahui ayah dan ibunya, ia tidak bermaksud menjadi anak durhaka, hanya saja, semua yang ada di desanya adalah kuno, dan ia tidak bisa tahan dengan semua itu. Semua orang mengenakan baju hitam dan ikat kepala, semuanya mencangkul isngkong di pagi hari, kemudian mereka istirahat di siang hari, dan sore hari anak-anak belajar membaca huruf sunda, bermusik, bersajak dan berlatih pencak silat. Ia tidak tahan, teman-temannya di kampus menonton film terkini, tau musik terkini, dan menggunakan pakaian seperti orang normal pada umumnya. Wifi adalah kebutuhan pokok, bukan singkong.

                Sepanjang sisa sore itu Raka terus mengeluhkan nasibnya karena Tuhan terlalu jahat untuk membuatnya terlahir dari keluarganya ini.

                Setelah itu, selama sisa masa kuliah Raka, seminggu sekali ayahnya selalu menanyakannya pertanyaan yang sama, membosankan, seolah menjadi sebuah ritual keagamaan yang dilakukan seminggu sekali. Raka sudah menganggapnya sebagai sesuatu yang asal menjadi gugur kewajiban. Terkadang ia sengaja menyibukkan diri dengan sengaja menginap di kos-kosan temannya. Hanya sekedar untuk bermain PS atau begadang saja. Itu semua ia lakukan agar ia tidak sering pulang ke rumah dan bertemu ayahnya.

                Kemudian akhirnya Raka pun lulus kuliah, ayah ibunya bahagia akhirnya ia lulus jadi sarjana. Kedua orangtuanya melihat Raka lulus, dikalungkan medali dan dipindahkan tali toganya. Berfoto di latar foto keliling yang disewakan secara murah, alih-alih pergi ke studio foto. Menjadi satu dari sedikit orang Cireundeu yang lulus dari bangku kuliah tentunya menjadi suatu kebanggaan bagi mereka, dan bagi Raka sendiri, tentunya ini menjadi sebuah gerbang baru. Sebuah kebebasan, akhirnya ia bisa segera menjadi bankir, bisa menjadi seorang yang berdasi dan berjas. Ia benar-benar sudah tidak sabar untuk segera menyongsong masa depannya yang begitu cerah itu tampaknya.

                “Kamu betulan mau pergi sekarang?” Tanya ambu Raka. Itu sekitar seminggu setelah hura-hura wisuda Raka. Sekarang tekadnya sudah bulat, ia tengah mengepak pakaian dan beberapa perlengkapan yang ia perlukan ke dlaam sebuah tas ransel besar. Ia tidak akan pergi jauh, hanya pergi ke daerah kota, namum karena ia sudah tidak ingin tinggal di desanya, Raka berniat untuk hidup mandiri, atau lebih tepatnya hidup sesuka hati.

                “Iya ambu, nanti cari kosan saja di sekitar tempat kerja.” Jawab Raka, terhadap ibunya itu ia bisa lebih sopan dan memperhatikan.

                “Kalau mau makan gimana?”

                “Ya tinggal ke warteg sajalah.”

                “Ini kamu teh udah diterima kerjanya?”

                “Belum sih, tapi kan tinggal kirim lamaran saja, gampanglah itu.” Kata Raka.

                “Yaudah bilang dulu ke abah sana.” Kata ambu sambil menunjuk kearah kamar mereka.

                Raka menengokkan lehernya sedikit untuk mengintip ke arah kamar, ayahnya sepertinya sedang mendengarkan radio tuanya. Kemudian Raka menjadi ragu. “Ambu sajalah yang bilang ke abah.” Raut wajah Raka mengeras. Terlalu naïf kiranya jika Raka berpikir untuk kabur dari ayahnya tanpa ketahuan. Bagai gelombang yang semakin mendekat ke tepi pantai, kepergian Raka memang sebuah kepastian. Ayahnya pasti tahu, pikir Raka, dan ia sendiri tahu bahwa ayahnya tidak akan menyukai idenya.

                Seolah peramal, Raka sudah tahu betul bahwa ini akan berakhir seperti ini. Dia minggat dari rumah untuk mengejar passion dan meninggalkan ayahnya dalam kekecewaan. Raka menginginkan kejayaan, yang tidak mungkin didapatkannya di desa kecil seperti ini. Karena itu ia tidak juga mengerti mengapa ayahnya benar-benar sulit menerima keinginan anaknya ini. Dalam pikiran Raka, abah adalah komputer tua dengan RAM yang sudah sangat ketinggalan zaman, sehingga sangat kesulitan untuk dimasuki software masa kini. Manusia tidak mencangkul lagi, mereka mengetik sekarang abah! Lihatlah dunia lebih luas abah! Jangan tinggal terus di sini. Raka sudah benar-benar yakin sekarang. Dia harus pergi.

               Raka mengetuk pintu kamar itu, dan mendapati ayahnya yang tengah memunggunginya. Bagai upacara bendera, keduanya diam mematung tanpa ada yang bicara di antara keduanya. Ketika Raka berhasil menemukan keberaniannya dan hendak membuka mulit, ayahnya lebih dulu menyela. “Ongkosnya sudah punya?”

                “Eh?”

                “Kalau kamu sudah mau pergi, ongkosnya minta saja di ambu, uang abah di ambu semuanya.”

                “Oh, iya bah.” Kemudian keduanya diam, sunyi lagi.

                “Kemanapun kamu pergi, di sini tetap rumah kamu.” Kata Abah tiba-tiba, Raka diam saja. “Semoga kamu tahu apa artinya rumah.” Lanjut ayahnya. Setelah itu, ia kembali menyalakan radio bututnya. Raka mengerti bahwa itu adalah ucapan perpisahan. Ia mengangguk pelan, sambil menuju ke luar pintu, tentunya abah tidak akan melihat itu.

                Setelah pamit pada ambu, Raka kembali girang, ia akhirnya bisa menuju ke gerbang luar desa Cireundeu, selamanya, pikirnya. Ia akan bebas, meskipun harus mengorbankan kebersamaan bersama orangtuanya, namun ini adalah impiannya. Berkarir di kota! Kesuksesan sedang menunggu pikirnya. Ia menjadi sangat bersemangat, dan seolah memorinya mengingatkan bagaimana ia dulu ikut berbagai training motivasi, dan suara membahana si motivator itu terngiang di telinganya. Bahwa kita hidup haruslah sukses! Banyak uang dan terhormat. Iya, gumam Raka dalam hati, pasti sukses di kota sana.

                Kota bukanlah tempat yang sulit menurut Raka, beberapa tahun kuliahnya ini ia habiskan untuk mempelajari kehidupan kota, sepertinya tidaklah sulit seperti di Cireundeu, kita hanya perlu bangun lebih pagi, bersiap bekerja, mengejar bis di pagi hari, kalau punya motor tinggal pacu saja di jalanan pagi yang hangat. Sampai di tempat kerja, tinggal bekerja dan baca beberapa dokumen lalu pulang ke rumah untuk nonton TV atau main game. Gampang, selama ia terus mengikuti ritme ini, ia akan bisa menghasilkan banyak uang.

                Rumah kos yang Raka tempati letaknya tidak terlalu jauh dari pusat keramaian, agar lebih mudah jika ada keperluan dipikirnya. Itu adalah ruangan tiga kali tiga dengan kamar mandi di luar. Cuma butuh sedikit dekoran dan kamarnya akan ia sulap menjadi tempat yang nyaman baginya untuk beristirahat. Yah, kata motivator juga, awal kerja mungkin sulit, tapi dengan beberapa tips kita bisa melejit dan menjadi sukses sampai punya mobil, kapal pesiar dan helikopter.

                Oh tapi sebelum itu, Raka harus segera mengirimkan lamarannya ke Bank tempat ia ingin bekerja, ia berencana melakukannya setelah selesai membereskan kosannya. Besok ia akan pergi ke sana....

Bersambung....

  • view 340