Membuka Batas

Gelar Riksa
Karya Gelar Riksa Kategori Renungan
dipublikasikan 17 Agustus 2016
Membuka Batas

Kita terlahir dari tiada, perlahan berjalan menuju kembali tiada. Kita terlahir dengan gelombang, pancaran, dan warna. Semuanya murni pada awalnya, hingga berubah saat indera kita mulai bergulir menangkap warna warni dunia.

Perlahan jiwa mengeruh, mengeras dengan segala yang kita ecap, kita tangkap, kita lahap. Kita terlahir bebas pada awalnya, namun kemudian kita tumbuh dengan belenggu yang telah dipas ukurannya, memasung segala yang tak pernah terikat mulanya. Kita menetapkan ukuran-ukuran, tentang cantik dan buruk rupa, yang sejatinya tidak pernah ada.

Kita lahir sebagai sebuah tempat yang luas, tak berbatas. Namun kemudian kita tumbuh menjadi berkotak-kotak sempit dengan batas-batas yang diciptakan entah siapa. Gelombang kita tak lagi peka memahami bahasa bukan manusia, pancaran kita menjadi redup dan nyaris tiada, warna kita menjadi seragam, bahkan seolah tak mungkin lagi berbeda.

Kita perlu tumbuh tanpa prasangka, kita perlu melihat apa yang kita lihat, bukan apa yang ingin kita lihat. Kita perlu menjadi utuh pada saat ini, karena kita terlahir untuk menikmati saat ini. Tidak ada waktu yang lain, tidak ada dunia bagi pengharap. Karena kita dilahirkan untuk bergerak dan berbuat, bukan berangan-angan.

Hidup adalah perjalanan untuk menyingkirkan batas-batas, untuk menemukan kembali warna yang murni itu. Jika hingga usai nafas tak jua kita sampai, biarlah, setidaknya tujuan kita telah tepat adanya.

  • view 210