Kasus Mirna Mirip Kasus Pembunuhan Munir; Akankah Jessica Di-Pollicarpus-kan?

Gatot Swandito
Karya Gatot Swandito Kategori Politik
dipublikasikan 06 Februari 2016
Kasus Mirna Mirip Kasus Pembunuhan Munir; Akankah Jessica Di-Pollicarpus-kan?

Banyak yang bilang kasus pembunuhan Wayan Mirna mirip-mirip dengan pembunuhan Munir. Kalau ditanya, ?Di mana kemiripannya??, pasti jawabannya seragam, ?Karena sama-sama diracun.? Pertanyaannya, seberapa mirip sih dua kasus pembunuhan tersebut?

?

Mirna, Jessica, dan Kepingan Peristiwa yang Hilang

Mirna tewas pada 6 Januari 2016. Dari hasil otopsi ditemukan racun sianida di dalam tubuh Mirna. Sebelum tewas, Mirna diketahui menyruput es kopi vietnam bersama Jessica Kumolo Wongso dan Hani di cafe Olivier yang berlokasi di Mal Grand Indonesia. Sampai tulisan ini ditayangkan, polisi sudah menetapkan Jessica sebagai tersangka setelah 3 minggu pasca kematian Mirna. Benarkah Jessica pembunuhnya? Di cafe Olivier-kah TKP-nya? Benarkah sianida ditemukan di kopi yang diminum Mirna?

Jika benar TKP pembunuhan Mirna berlokasi di cafe yang berada di mal seharusnya polisi dengan mudah menentukan Jessica sebagai pelakunya. Bukan berlarut-larut. Apalagi sampai 3 minggu berselang. Karena seluruh aktivitas pengunjung mal terekam oleh CCTV. Setiap pengunjung mal sudah terekam CCTV sejak turun dari angkutan umum atau keluar dari mobil di area parkir.

Dari CCTV polisi bisa memastikan jika Mirna datang terlebih dulu di cafe yang kemudian disusul Mirna yang datang bersama Hani. Lewat CCTV juga diketahui jika Jessica dua kali memindahkan gelas kopi Mirna dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Tetapi, dari rekaman CCTV pula tidak terlihat Jessica menaburkan sesuatu ke dalam gelas kopi yang akan dimunim Mirna. Masih dari CCTV, polisi bisa menyaksikan detik-detik saat Mirna mengalami kejang-kejang.

Persoalannya, selain Jessica tidak terekam membubuhkan sesuatu ke dalam gelas kopi Mirna, Dokter Joshua, tenaga medis yang pertama kali menangani Mirna di kliniknya yang berada di Mal Grand Indonesia, pun mengatakan tidak menemukan tanda-tanda keracunan pada Mirna. Pada fakta dan kesaksian ini disimpulkan jika kejang-kejang yang dialami Mirna bukan disebabkan kerena keracuanan sianida. Lantas, di mana dan kapan sianida masuk ke tubuh Mirna/

Sementara itu, sampai saat ini diopinikan jika Jessica membunuh Mirna karena didorong oleh motif asmara. Konon Jessica merupakan lesbian yang mencintai Mirna. Dugaan adanya motif ini diperkuat oleh komunikasi antara Mirna dengan Jessica. Dari komunikasi WA yang dikirim Jessica kepada Mirna diketahui jika Jessica kangen ciuman Mirna. Selain terungkapnya hubungan asmara antara Jessica dan Mirna, dari komunikasi WA diketahui juga jika Jessica sempat menanyakan keberadaan klinik di Mal Grand Indonesia.? ?

?

Kasus Munir: Korbannya Ada, Yang Dipidanakan Sudah Bebas Bersyarat, Tapi Siapa Dalangnya?

Pada November 2014 Komite Aksi Solidaritas Untuk Munir (KASUM) mengirim surat somasi kepada Presiden Jokowi dan Menkumham Yasonna H Laoly. Somasi itu terkait pemberian pembebasan bersyarat untuk Pollycarpus Budihari Priyanto, terpidana pembunuhan aktivis HAM Munir. Ada 3 poin yang akan disampaikan dalam somasi, salah satunya karena belum terungkapnya dalang/aktor intelektual.

Menurut KASUM belum terungkapnya dalam kasus pembunuhan Munir ini membahayakan proses penegakan hukum berikutnya, dikhawatirkan Pollycarpus bisa merusak, menghilangkan dan atau mengaburkan bukti-bukti yang masih ada dan belum didapatkan oleh penyidik.

Pertanyaannya, seberapa yakinkah KASUM kalau Polly adalah pelaku pembunuhan Munir? Bagaimana kalau Polly bukan pembunuh Munir? Mungkinkah ada teori-teori lain dalam kasus Munir?

Sayangnya KASUM dan rekan-rekannya seolah menutup dengan adanya teori lain dalam kasus Munir. Dan kepada siapa pun yang berlainan pendapat dengan mereka, langsung distempel ?Pendongeng Hitam?. Hebatnya lagi, ketika pertama kali Muchdi PR hadir dalam persidangan, mereka yang mengaku aktivis HAM itu meneriakinya dengan pembunuh. ?Pembunuh ...pembunuh ..,? itu teriak para pejuang HAM sebagaimana yang disiarkan oleh sejumlah stasiun televisi..

7 Sept 2004??Munir? meninggal?di?atas pesawat?Garuda?dengan?nomor?GA-974?ketika?sedang?menuju?Amsterdam?untuk melanjutkan?kuliah?pasca-sarjana.?Sesuai dengan hukum?nasionalnya,?pemerintah Belanda melakukan otopsi atas jenazah almarhum. Hasil otopsi oleh?Institut Forensik Belanda (NFI) membuktikan bahwa Munir meninggal akibat racun arsenik dengan jumlah dosis yang fatal.

Menghabisi seseorang dalam penerbangannya pastilah bukan pekerjaan yang mudah. Ada keterbatasan jika pembunuhan dilakukan dalam penerbangan. Pertama adalah keterbatasan waktu. Waktu yang tersedia hanya ketika target berada di bandara dan di pesawat. Kedua, lokasi yang terbatas, yaitu ketika target berada di bandara dan pesawat. Ketiga, kemudahan mendapatkan saksi mata. Saksi mata mudah didapat dari daftar penumpang dan juga rekaman CCTV.

Mengeksekusi target dalam penerbangan seperti yang terjadi pada Munir tidak mungkin dilakukan oleh sembarang orang. Eksekutor Munir pastilah orang terlatih. Dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, terutama lokasi dan waktu, tidak mugkin pelaku bekerja sendiri. Ada orang atau kelompok lain yang bekerja membantunya, dengan atau tanpa sepengetahuan si eksekutor. Karenanya pembunuhan Munir dilakukan dengan cara yang terorganisir.

Karena logikanya pembunuh Munir adalah seorang atau kelompok profesional. Karakteristik pelaku yang tepat untuk menjawab logika itu adalah BIN atau oknum BIN. Selain itu, BIN pun diposisikan sebagai tersangka utama karena memiliki aset dan akses ke Garuda dan institusi-institusi lainnya. Tersangka kemudian lebih mengerucut lagi kepada Muchdi yang saat itu menjabat sebagai deputi kepala BIN sekaligus sempat bermasalah dengan Munir. Dugaan keterlibatan BIN semakin menguat setelah diketahui adanya komunikasi telepon selular antara Polycarpus dengan Deputi Kepala BIN Muchdi PR sebelum tewasnya Munir.

?

Sejumlah Pertanyaan yang Tidak Mungkin Terjawab

Pertanyaannya, kalau BIN atau Muchdi sebagai oknum BIN berencana membunuh Munir, apakah hanya bisa dilakukan saat Munir dalam penerbangan ke Belanda? Bukannya membunuh dengan tingkat kesulitan tersebut sama halnya dengan pencuri yang menaruh KTP-nya di rumah korban.

Kenapa pembunuh Munir tidak mengeksekusinya di rumah korban atau di jalan. Di kedua lokasi itu pastimnya lebih leluasa ketimbang dalam sebuah penerbangan. Di kedua lokasi itu juga pembunuhan bisa dilakukan kapan pun dan dengan cara apa pun. Yang terpenting pelakunya bisa siapa saja. Dan, saksi mata pastinya sulit didapat. Salah satu modus yang paling mungkin digunakan adalah dengan merampok Munir di jalan. Apalagi pada saat itu tengah ramai diberitakan perampokan yang dilakukan kelompok Kapak Merah. Kenapa dalang pembunuhan Munir tidak menggunakan cara-cara yang lebih gampang? Itulah kejanggalan terbesar dalam kasus pembunuhan Munir. Pastinya, sekalipun belum ada anggotanya yang divonis bersalah, BIN telah menjadi pesakitan dalam kasus ini.

?

Dari ?The X? Mun?im Idries

Beberapa kejanggalan dalam kasus kematian Munir telah diungkap oleh berbagai pihak. Salah seorang di antaranya adalah ahli forensik Abdul Mun'im Idries. Dalam bukunya Indonesia X-File, Mun?im memaparkan kejanggalan kasus pembunuhan Munir itu sudah tercium ketika korban masih berada di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Sebab, dari sekian banyak CCTV, hanya 2 yang aktif. Selain faktor CCTV, kejanggalan lain yang ditemukan oleh Mun?im adalah surat perintah Garuda kepada Pollycarpus dan penundaan penerbangan yang beberapa kali terjadi.

?Dalam percakapan telepon ini, si polisi menyebutkan bahwa Munir tewas karena keracunan arsenik. Sontak saya bilang bahwa pelakunya sangat pintar. Sebab, kasus keracunan semacam itu terjadi tidak sampai 10%. Biasanya bunuh diri. Untuk kasus pembunuhan sangat jarang. Saya jelaskan bahwa si pelaku pintar mencari racun yang termasuk ideal untuk membunuh (ideal poisioning), yaitu arsenik karena tidak ada rasa, bau, dan warna,? papar Mun?im Idris dalam bukunya ?Indonesia X-Files?.

Ada bagian paling menarik dari pengakuan Mun?im yang tertulis dalam bukunya. Mun?im menceritakan, ?Saya pernah ditelepon Kabareskrim Mabes Polri yang saat itu dijabat Bambang Hendarso Danuri (BHD). Saya dipanggil ke Mabes Polri. BHD bicara singkat. Kata dia, ?Dokter, ini untuk Merah Putih (Indonesia)?. Saya tanya, ?Lho, kenapa Pak?? Lalu dia menjelaskan, ?Kalau kita tidak bisa masukkan seseorang ke dalam tahanan sebagai pelaku, dana dari luar negeri tidak cair. Karena dia tokoh HAM. Kemudian obligasi (surat-surat berharga) kita tidak laku, Dok?.

Harus ada yang dipidanakan, begitulah kesimpulannya. Apapah kebenaran terungkap atau tidak, itu soal kedua. Selanjutnya, ?untuk merah putih?, artinya harus ada ?patriot? yang rela dikorban demi bangsa dan negaranya.

Jika berdasarkan pada waktu ketika Munir mulai mengalami gejala sakit perut dan jumlah arsenik yang ditemukan dari otopsi, diduga TKP berada di Singapura. Di Bandara Changi, Singapura, Munir terlihat meminum jus. Masalahnya, Mun?im sendiri tidak yakin jika arsenik masuk ke tubuh munir lewat jus jeruk yang diminum Munir di Cafe Bean. Alasannya, arsenik akan mengendap dalam minuman dingin. Itulah kejanggalan lainnya.

Menariknya, otopsi terhadap jenazah Munir hanya dilakukan sekali di Belanda. Polri menolak optopsi ulang karena menganggap otopsi di Belanda sudah valid. Jadi Tim Pencari Fakta terpaksa melahap mentah-mentah hasil otopsi NFI. Jika hasil otopsi ulang di Indonesia berbeda dengan hasil otopsi NFI, maka akan menjadi masalah baru bagi Polri. Dan Polri paham benar akan hal itu. ?Semisal. Polri dan Pemerintah akan dituding menyembunyikan sesuatu. Terlebih ketika itu logika publik saat itu sudah tergiring untuk menempatkan BIN sebagai otak pembunuhnya. Sementara, di sisi lain dunia internasional sudah menyoroti kasus ini.

Padahal, ada dua hal yang bisa dipertegas dalam otopsi ulang. Pertama, apakah jumlah arsenik yang ditemukan di tubuh Munir masuk dalam satu waktu, atau akumulasi penumpukan, atau kombinasi keduanya (diracun dan akumulasi). Kepastian ?tentang jumlah kandungan arsenik dan bagaimana racun ini masuk ke dalam tubuh Munir sangat dbutuhkan untuk mengetahui proses kematian Munir. Dan, jika Munir dibunuh, dari data kandungan arsenik bisa ditentukan waktu peracunan Munir. Dan dari waktu peracunan akan menunjukkan di mana Munir ?mengkonsumsi? arsenik.

Jika dilakukan optopsi ulang dan kemudian didapat data yang beda, maka waktu peracunan Munir pun berubah. Bukan lagi ketika Munir minum jus di Changi (Ingat, arsenik akan mengendap dalam minuman dingin), tetapi bisa dalam penerbangan Jakarta-Singapura. Bisa di bandara Soeta. Bisa juga sebelum Munir tiba di Soeta. Bisa juga di rumah kediamannya sendiri. Atau bahkan lebih ekstrim lagi, Munir tidak dibunuh sama sekali. Jika demikian, maka semua skenario berantakan. Padahal seperti menurut Kapolri BHD seperti yang diungkapkan Mun?im, ?harus ada yang dipidanakan.

Keterlibatan BIN dalam kasus Munir sebenarnya bisa dikondisikan setelah kematian Munir. Misalnya,? surat menyurat antara BIN dan Garuda. Pollycarpus yang seolah agen BIN lengkap dengan kepemilikan pistolnya. Kesaksian yang melihat Polly pernah berada di markas BIN. Demikian juga dengan komunikasi seluler antara Muchdi dan Polly.

?

CDR yang Tidak Diungkap

Tetapi, sekalipun semuanya serba sempurna, tetap ada satu bagian penting yang tidak bisa dikondisikan sebelum waktu kematian Munir, yaitu Call Data Record (CDR) percakapan Polycarpus dan Muchdi. Bukti percakapan yang terekam dalam Call Data Record (CDR) ini sudah pasti tidak bisa dikondisikan atau dimanipulasi sebagaimana surat yang bisa dibuat setelah peristiwa atau rekaman CCTV Bandara Soeta yang bisa dihilangkan..Mungkin inilah penyebab kenapa CDR tidak pernah disodorkan sebagai bukti dalam persidangan. Dengan tidak adanya CDR seharusnya skenario yang mengaitkan Muchdi dengan Polly dalam kematian Munir secara otomatis runtuh. Sebagai catatan CDR yang ditunjukan adalah dalam bentuk printout yang mudah dimanipulasi.

Dari CDR bisa diungkap apakah benar nomor ponsel milik Pollycarpus berkomunikasi dengan nomor ponsel milik Muchdi. Bukan hanya nomor ponsel, IMEI pun dapat diketahui. Dari IMEI ini bisa diketahui apakah nomor ponsel yang berkomunikasi tersebut asli atau kloningan. Sebab ada kemungkinan satu nomor ponsel digunakan oleh dua ponsel yang berbeda. Demikian juga dengan lokasi pengguna. Dari CDR bisa diketahui lokasi BTS yang melayani nomor telepon pengguna. Sebab sangat tidak mungkin satu nomor ponsel dilayani oleh dua BTS yang letaknya berjauhan.

Kenapa CDR tidak pernah diajukan dalam sidang, dan kenapa hanya print out yang rawan dimanipulasi? Bukankah dengan diungkapnya CDR sebagai bukti, Muchdi dan Pollycarpus bisa lolos dari jerat hukum Mungkin ini jawabannya, ?Dokter, ini untuk Merah Putih (Indonesia)?. Saya (Mun?im) tanya, ?Lho, kenapa Pak?? Lalu dia menjelaskan, ?Kalau kita tidak bisa masukkan seseorang ke dalam tahanan sebagai pelaku, dana dari luar negeri tidak cair. Karena dia tokoh HAM. Kemudian obligasi (surat-surat berharga) kita tidak laku, Dok?.

Nah, bagaimana dengan Jessica? Apakah benar Jessica adalah pembunuh Mirna? Atau, apakah Jessica akan di-Pollycarpus-kan?