Bagi Sudirman Said, Hidup dan Syukur!

Gamawan Adiputra
Karya Gamawan Adiputra Kategori Inspiratif
dipublikasikan 07 Agustus 2017
Bagi Sudirman Said, Hidup dan Syukur!

Sederhana sekali, bahwa sebagai makhluk berTuhan, sebuah keniscayaan bagi semua orang untuk selalu memanjatkan puji dan syukur atas segala hal yang hinga kini telah diberikan; atas segala sesuatu yang terus menerus dialirkan; dan atas hidup yang masih dihembuskan. Bersyukur adalah keniscayaan ketika manusia tak punya daya dan upaya untuk memastikan, apalagi menentukan kehidupan.

Itulah yang menjadi nilai hidup Sudirman Said, sehingga dalam segala proses hidup yang dijalaninya, ia tak lupa berucap syukur. Merundukkan diri dalam tafakkur tentang kehidupan yang sepenuhnya sudah diatur. Lisan dan hati yang terpekur. Bahagia atas segala hal yang diterima.

Sejak dulu, ketika masih hidup dalam penderitaan hingga kini dengan segala macam ilmu dan pengalaman, Sudirman Said menjadikan syukur sebagai senjata ampuh agar tidak terlalu berharap lebih dari apa yang sudah diberikan, tentu dengan tanpa menafikan usaha dan kerja keras. Kehidupannya mungkin berbeda, tapi satu hal yang selalu sama; rasa syukur. Sehingga dalam kondisi apapun, Sudirman Said tak pernah lupa untuk bersyukur.

Alhamdulillah.

Selain itu, bagi Sudirman Said, ada beberapa hal yang akan didapatkan seseorang ketika membiasakan diri untuk bersyukur:

Pertama, hidup berkah dan tak takabbur. Tak ada yang diharapkan seseorang kecuali hidup yang berkah dan terhindar dari sikap takabbur. Berkah bukan soal harta dan jabatan, tapi ia soal kebahagiaan dalam kebaikan. Berkah bukan soal sedikit dan banyak, tapi soal nilai. Karena hidup berkah, maka ketika bersyukur nikmat ditambah sebagaimana Tuhan telah menjanjikannya. Itu terbukti dengan perubahan nasib yang dialami Sudirman Said secara nyata.

Kedua, sederhana adalah pilihan. Bersyukur menjadikan seseorang akan berpihak pada kesederhanaan sebab ia tahu tak ada yang bisa dibanggakan ketika hidup dengan cara berlebihan. Sehingga, sederhana kemudian menjadi pilihan, dan berlebihan itu perilaku setan. Bersyukur akan membuat orang sadar, bahwa semuanya adalah titipan yang harus dipertanggung jawabkan. Kesederhanaan inilah yang kemudian ditunjukkan oleh Sudirman Said dalam perilaku sehari-hari.

Ketiga, tak berhenti berjuang. Bersyukur bukan berarti diam. Betul ia menerima atas segala hal yang didapatkan dengan tanpa menyalahkan hidup, tapi bukan berarti melahirkan sikap pesimisme. Justru sebaliknya, bersyukur akan membuat seseorang menerima “yang sekarang” dan akan berjuang untuk masa depan. Bahkan, bagi Sudirman Said, cara bersyukur yang baik selain dengan kata adalah dengan menjaga dan sebisa mungkin mengembangkan segala hal yang telah “diberikan”.

Ini pulalah yang kemudian membuat Sudirman Said konsisten dalam perjuangan. Sekali terhenti di satu tempat, ia harus mencari tempat lain untuk dijadikan ladang amal; untuk bisa memberikan manfaat kepada sebanyak mungkin orang; serta untuk melakukan pengabdian dan perjuangan.

Begitulah cara Sudirman Said memaknai hidup: bersyukur!

  • view 67