Sudirman Said: Teruji dan Rendah Hati

Gamawan Adiputra
Karya Gamawan Adiputra Kategori Politik
dipublikasikan 16 Juli 2017
Sudirman Said: Teruji dan Rendah Hati

Seorang pemimpin haruslah ia yang teruji berdasarkan pengalaman dan track record yang telah dijalani. Berbagai posisi dan jabatan yang sebelumnya dipegang, bisa dijadikan sebagai acuan untuk menilai seberapa besar “keterujian” seseorang untuk menduduki posisi sebagai pemimpin. Teruji menjadi penting, jauh melampaui kepopuleran, karena fakta di lapangan, justru banyak pemimpin yang populer tapi kemudian “tersandung” sebuah kasus atau terseok-seok untuk memenuhi amanahnya ketika menjabat hanya karena bermodal “tampang” dan “populer”.

Teruji memang penting. Namun tak kalah pentingnya adalah rendah hati, sebab dengannya, seorang pemimpin tak hanya berbicara rasionalitas kebijakan semata, tapi juga kemampuan diri untuk meregulasi emosi. Bahkan ketika dalam keadaan benar sekalipun, seorang pemimpin yang rendah hati akan menyampaikannya dengan cara yang elegan. Rendah hati tidak akan membuat pemimpin dungu karena tidak bisa mendengarkan, tunjuk sana-tunjuk sini seenak diri, lalu berbicara seakan tidak pernah salah.

Sebagai seorang profesional, pengalaman dan integritas Sudirman Said sudah teruji. Ia telah merasakan berbagai macam pengalaman hidup, dan telah teruji dalam berbagai posisi; mulai dari profesional “kelas kuli” hingga jabatan prestisius sekelas menteri. Dalam berbagai posisi itu pulalah, ia secara konsisten tetap menjadi sosok yang tangguh, jujur, dan kompeten sehingga kerja kepemimpinannya adalah kerja yang penuh dengan terobosan, solusi, dan inovasi. Karena baginya, setiap jabatan adalah amanah sekaligus ladang amal dan pengabdian.

Selain sebagai mantan Menteri ESDM, Sudirman Said dikenal sebagai tokoh antikorupsi, pekerja rehabilitasi kawasan bencana, eksekutif di industri minyak dan gas, serta pernah menjabat sebagai Dirut di perusahaan senjata nasional dan Pjs Rektor sebuah Universitas.

Integritasnya sebagai tokoh anti-korupsi tak bisa dinafikan. Sudirman Said kerap kali berdiri lantang untuk menyuarakan transparansi, meski harus berhadapan dengan pihak-pihak yang tidak menyukai. Ketika masih di Deputi Badan Pelaksana Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh-Nias, Sudirman Said mendorong BRR untuk transparan dalam hal dana sekaligus membentuk Satgas Anti Korupsi (SAK).

Salah satu keberaniannya dalam memberantas KKN, dan mendapatkan banyak perhatian rakyat Indonesia, adalah ketika menguak kasus #PapaMintaSaham, kongkalikong para pemburu rente yang lihai dan licik bukan kepalang. Sayangnya, justru dirinyalah yang tragis karena dipecat dari menteri, sementara terlapor tetap melenggang sebagai manusia terhormat karena diangkat lagi menjadi Ketua DPR yang terhormat.

Kemampuannya dalam memimpin sudah teruji karena pengalaman yang telah menempanya dalam banyak situasi dan posisi. Selain itu, Sudirman Said selalu berhasil melakukan kerja-kerja produktif untuk menunjang keberhasilan dan pencapaian sebuah institusi. Ketika di Pindad, ia berhasil melakukan kerjasama dengan pebisnis senjata Internasional, termasuk MoU dengan Rheinmetall Denel Munition (RDM) Pretoria, Afrika Selatan, dan menyiapkan pabrik turret (persenjataan di atas tank) di Bandung bekerjasama dengan Belgia.

Tak hanya teruji melalui pengalaman dan kerja, Sudirman Said juga memiliki sikap yang rendah hati. Tutur kata yang lembut dan santun, dan serta mau mendengar suara-suara tokoh yang berasal dari segala kelompok dan warna. Ia juga rela untuk belajar dari siapa pun, dengan tetap mempertahankan idealisme yang diyakininya.

Kunjungannya ke Solo dan Sragen beberapa hari terakhir, selain untuk meminta doa dan restu, juga sebagai upaya untuk belajar dan menampung masukan dari berbagai tokoh dan kalangan dari berbagai warna. Apa yang didapatkannya sebagai pengalaman dan teruji dalam berbagai posisi tidak lantas membuatnya jumawa, tetapi justru menjadi jembatan untuk membangun silaturrahmi dan diskusi sehingga semakin bermanfaat untuk pembelajaran diri.

Artinya, jika teruji dan rendah hati adalah syarat penting untuk menjadi pemimpin, maka Sudirman Said sudah memilikinya; sejak lama.

  • view 118