Episode 3: Metamorfosa Kupu-Kupu Kecil

Galih Satrio Nugroho
Karya Galih Satrio Nugroho Kategori Puisi
dipublikasikan 25 Januari 2016
Episode 3: Metamorfosa Kupu-Kupu Kecil


Di akhir 2014.


Biar saja aku membuat lompatan cerita sejauh tiga tahun. Sebab waktu kini bukan jadi ukuran yang tentu untuk menakar cinta. Meski harus kuakui, waktu tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar. Apalagi untuk membolak-balikkan isi hati seorang laki-laki 19 tahun.


Ada suatu momentum yang membuatku tersadar akan sesuatu yang tidak dimiliki oleh perempuan manapun yang ku tahu di muka bumi ini. Aku mulai berlebihan. Kamu memiliki sesuatu yang lebih indah dari paras serta nama lengkapmu sendiri, sesuatu yang spesial itu adalah: perubahan.


Kamu bermetamorfosa menjadi kupu-kupu kecil cantik yang terbit mendahului matahari pagi, menyapaku dengan senyum yang tak dibuat-buat. Meluluhlantakkan hatiku yang saat itu tak mampu berbuat apa-apa selain menikmati senyummu dari sudut yang tak kau sentuh. Kamu mengalami perubahan yang indah, memancarkan aura kebaikan-kebaikan, dan aku ?jujur saja tak kuasa untuk tidak mengagumimu.


Aku menyerah. Diam-diam aku mengagumimu. Meski kita jarang bertemu. Aku menyukai tentang bagaimana kamu memandang dunia. Memandang wanita. Memandangan permasalahan atau apapun yang membuatmu selalu berkata, ?Allah selalu dekat sama kita,? dan tahukah kamu: aku melihat kamu sebagai sosok yang lain. Bukan kamu di tahun 2011, bukan pula kamu yang lugu seperti dulu.


Lalu kamu datang seperti hujan yang tiba-tiba. Membasahiku yang terkesiap tak siap. Membuatku rela untuk kedinginan, menggigil, atau diterpa flu akut sekalipun untuk berjumpa denganmu. Tapi, seperti hujan yang selalu reda, aku sedikit khawatir jika kamu tak lagi datang, meninggalkanku dalam kemarau yang berkepanjangan. Menghujamku pada rindu yang semakin dalam. Setelah itu aku kehilanganmu. Jika itu terjadi maka aku rela menjadi sungai, awan, samudera, uap air, atau apapun yang membuat kita bisa bertemu. Asal aku tak menjadi pelangi, yang terlambat menemuimu, dan melewatkanmu begitu saja.

Bagaimana bisa aku melewatkan perempuan yang membuatku selalu ingin berbuat kebaikan? Sebab kamu adalah perempuan baik, jika aku tak mampu menjadi laki-laki baik, apa aku harus menunda cerita kita tanpa epilog bahagia? Bahkan saat kita belum memulai menulisnya berdua?


Kamu mungkin tak tahu keadaan imanku yang kacau balau saat 2013. Aku seperti mayat hidup yang tak jelas, kuliah biasa saja, organisasi membuatku merasakan gemerlap dunia. Ah, sudahlah.


Pertanyaan selanjutnya: apakah kita bisa hidup berdampingan? Menjalin satu kisah dengan tujuan abadi di mana sungai mengalir dan taman bunga menjadi pemandangan kita saat bergandeng tangan di pagi hari? Pertanyaan itu hanya kusimpan rapat-rapat dalam hati. Berharap aku dan kamu menjawabnya bersama-sama. Jadi selama ini, biarlah aku sendiri. Mempersiapkan semuanya. Kamu, hanya perlu menunggu. Aku akan menemuimu.


Dan sebelum waktu itu tiba, aku hanya akan berteman keterdiaman. Pada sudut sepi manapun yang membuatku nyaman. Pada ruang-ruang rindu yang meski kerap digoda teman-temanku sebab aku lekat dengan status kesendirian. Memandangi senyummu dalam layar berpixel, atau membuka kembali percakapan singkat kita, atau menulis berbait-bait aksara membentuk puisi di mana aku bebas membuatmu hidup dalam jemariku. Meski hanya sekejap. Lalu membacanya ulang dengan perasaan kesal sekaligus tak berdaya. Perasaan yang membuatku tersadar, kamu harus menjadi sebuah kenyataan.

  • view 319