Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Puisi 23 Januari 2016   08:18 WIB
Episode 2: (Belum) Jatuh Cinta

Suatu hari di tahun 2011.


Pada pandangan kita selanjutnya, kehadiranmu belum juga membuatku jatuh cinta, menaklukkan hatiku, atau membuatku bermimpi sesuatu tentangmu. Biasa saja. Seperti kataku, aku tidak jatuh cinta pada pandangan pertama.
Sesekali kita saling menyapa, kenyataan selanjutnya bahwa kita tak pernah benar-benar bicara tentang sesuatu. Apalagi berharap kau menjadi bagian dari hidupku. Masih jauh sekali rasanya. Kita menjalani kehidupan sendiri-sendiri tanpa pernah saling mencampuri urusan satu sama lain. Tak pernah sedikitpun aku berpikir untuk mencari perhatianmu, bicara tentang perasaan, atau rahasia hati yang membuat kita semalaman terjaga.


Barangkali fakta yang kutahu saat itu hanyalah kamu memiliki paras yang menarik, itu saja. Fakta yang kutemukan setelah mengetahui namamu yang tak kalah indahnya. Tapi, sekali lagi, semua itu belum membuatku jatuh cinta.
Selain itu, semuanya masih rahasia. Apa yang menggantung di langit-langit hatimu. Aku tak tahu.


Bisa jadi aku tak terlalu peduli karena saat itu mungkin aku sedang jatuh di tempat yang lain. Yang kusadari selanjutnya, bahwa jatuh cinta adalah proses yang terjadi berkali-kali. Tak peduli di mana kau jatuh, hatimu akan selalu utuh. Sekaligus membuatku tersadar, bahwa hati tak pernah bisa dijatuhkan berkali-kali. Hati bukan tempat untuk jatuh cinta, tapi ruang untuk belajar mencintai.


Dan saat itu, aku tak pernah terpikir sedikitpun untuk mencintai. Aku hanya jatuh hati. Tapi tidak padamu. Lebih tepatnya, belum. Saat itu aku belum tahu apa yang akan terjadi tentang kita. Barangkali kamu juga.
Pada suatu waktu, jujur saja, aku pernah memperhatikanmu. Dalam suatu kegiatan yang mengakrabkan. Di suatu tempat yang mungkin baru kita injak pertama kali. Bersama teman-teman saat itu. Aku menjadi minoritas. Bersama salah satu temanku. Ah, tak perlu kau tahu itu.

Yang perlu kau tahu hanyalah: saat itu aku selalu memperhatikanmu. Kamu sibuk dengan handphone-mu. Aku mengambil kesimpulan kecil bahwa mungkin sama halnya denganku, kamu sedang jatuh di tempat lain.
Kadang aku memandangmu dengan ekor mataku, kadang pula aku mencuri tatapanmu yang sedang berpaling dari handphone-mu, lalu kita sama-sama membuang muka. Tak ada alasan untuk bertatapan lama-lama.


Atau mungkin belum.


Sama seperti aku belum jatuh cinta padamu. Dan waktu, seolah berpihak pada kita. Ia berlalu begitu saja. Sejak tahun-tahun itu, aku mengalami jatuh hati beberapa kali yang tak terlalu berarti. Tak ada perlawanan. Tak ada kebangkitan.


Lantas kini, kamu kembali datang. Membawa sejuta perubahan. Membuatku berdiri tegap dan mencoba melawan. Bersamamu, aku mulai belajar mencintai. Dengan mempersiapkan diri.

Like<form class="_k3t69" data-reactid=".1.1.0.0.2.2.1"><input class="_7uiwk" type="text" value="" placeholder="Add a comment?" data-reactid=".1.1.0.0.2.2.1.0" /></form>

Karya : Galih Satrio Nugroho