Episode 1: Perkenalan

Galih Satrio Nugroho
Karya Galih Satrio Nugroho Kategori Puisi
dipublikasikan 22 Januari 2016
Episode 1: Perkenalan

?

Semuanya berjalan begitu saja, apa adanya, tanpa ada emosi yang diikatkan, apalagi perasaan yang menunggu jawab dari sebuah pertanyaan. Perkenalan kita singkat. Bahkan sangat singkat. Atau lebih tepatnya aku tidak lagi ingat dengan jelas detail yang terjadi saat itu. Perkenalan kita terjadi dalam ruang kelas sebuah barisan bernada, dengan sumber melodi di kanan, kiri, depan dan belakang. Detik itu tak pernah terpikirkan sedikitpun bahwa kamu akan menjadi melodi yang selalu kudengar dalam kepalaku. Berganti ritmik hingga memadukan antara nada dan perasaan yang melankolik.

Tiba saatnya aku berkenalan setelah prosesi perkenalan anggota di sebelahku selesai, aku tak ingat siapa. Mungkin saat itu tak banyak yang mengenalku karena aku termasuk anggota baru di sana. Belum ada satu semester, mungkin. Karena aku hanya menyanggupi tawaran dari teman yang kuanggap menarik. Dan saat itu, aku sedang suka musik pula. Jadi, tak ada alasan yang masuk akal untuk menolak.

Lalu kamu, juga sebagian yang baru. Jujur saja, aku tak benar-benar ingat apa yang terjadi. Yang kutahu hanyalah nama panggilanmu saat itu. Entah belum kusadari nama panjangmu yang indah setelahnya. Sama indahnya dengan tatapanmu saat ini. Jika semesta memperbolehkan, aku ingin mengulang prosesi perkenalanmu, aku ingin menatap wajahmu saat itu, aku ingin kembali mendengar suaramu yang merdu; aku ingin kembali mengenalmu dengan lugu. (dilanjutkan di comment)

Seperti yang pernah kamu katakan, jangan sampai menjadi orang yang merugi. Aku membayangkan betapa meruginya jika saat itu aku tak bertemu denganmu. Dengan tidak berlebihan, mungkin aku tak lebih baik dari diriku sekarang. Karena percaya atau tidak, kamu adalah matahari. Dan sesekali aku menjadi sayur-sayuran, jagung, bunga, atau apapun yang tumbuh karenamu. Meski kamu berada di kejauhan dan bahkan tak menyadarinya.

Dan karena momen itu, aku tak percaya jatuh cinta pada pandangan pertama. Karena aku tak pernah mengalaminya setelah perkenalan singkat itu. Tak ada kata-kata romantis yang kutulis di antara buku catatan fisika, tak ada puisi-puisi a la anak SMA di meja kelas, tak ada pula pemaksaan kepada adik kelas atau siapapun yang mengenalmu untuk mendekatkan kita barang se-inchi pun. Tak ada. Semuanya berjalan begitu saja. Seperti anak-anak air di celah gunung yang turun menuju samudera, semua hal pasti bermuara. Saat itu aku tak pernah tahu bahwa kita sedang mengalami pilinan arus yang berdampingan, sibuk dengan diri sendiri; sekarang aku berharap kita dipertemukan pada samudera.
?
Sebab hati tak pernah muat untuk menampung segala rasa.
?
__________________________________________________________________________________________________
Perjalanan Hati adalah sebuah memoar kenangan. Muncul dalam bingkai-bingkai sederhana yang akan di-upload setiap hari, dua hari, tiga hari, seminggu, sebulan, atau kapanpun ketika mereka siap. 'Perkenalan' adalah Episode pertamanya. Semoga berkenan, membuka sedikit rahasia. :)

  • view 135