Episode 5: Lagu Rindu

Galih Satrio Nugroho
Karya Galih Satrio Nugroho Kategori Puisi
dipublikasikan 29 Januari 2016
Episode 5: Lagu Rindu


Semua ketakberdayaanku terangkum dalam surat-surat yang kutulis. Meski tanpa air mata, kesedihan tak melulu ditunjukkan dengan basahnya pipi kan? Aku membenci diriku ketika menulis surat-surat cinta yang tak pernah sampai untukmu. Bahkan aku membenci diriku yang menulis deretan kata-kata ini.

Kita menjalani kisah keterpisahan tanpa perpisahan yang manis. Tanpa senyum, ataupun salam. Terpisah begitu saja membuat sebagian diriku merasa ada kehampaan yang menahun tersimpan. Kehampaan yang membuatku rapuh dan meluluhlantakkan seluruh kenangan yang ada. Sebab kenangan tak akan mengantar kita kemana-mana.

Yang menyedihkan, atas nama kenangan ---aku kerap menulis surat-surat tanpa nama. Surat cinta yang tak pernah sampai lebih tepatnya. Aku mencipta prasasti kenanganku sendiri, berharap kelak aku membukanya kembali dengan senyum. Kenyataannya, aku dibuali perasaanku sendiri. Aku dibohongi persepsi yang bergemuruh di dalam hatiku. Tentang kisah kita yang tak hanya menjadi kenangan atau mitos.

Sesekali aku membaca surat-suratku yang lalu, dan selama itu pula hatiku pilu. Terlebih ketika aku mendengarkan lagu-lagu yang membuatku menjadi manusia paling bodoh sedunia.

But I'm a creep.
I'm a weirdo.

Kata Radiohead.
Betapa aku mendalami lagu penuh distorsi ini. Seolah mewakili apa yang menggantung di langit-langit hati. Berharap kau raih namun tak mungkin.

You're just like an angel.
Your skin makes me cry.

Masih kata Radiohead.

Kau tak tersentuh. Aku mencoba mengartikan dua baris lirik itu.

Tak ada salahnya kau mencoba mendengarkan lagu ini. Dengan atau tanpa headphone. Dengan atau tanpa perasaan.

Bisa saja kau temukan aku di sana.

  • view 146