Episode 9: Jatuh Cinta pada Keterpisahan

Episode 9: Jatuh Cinta pada Keterpisahan

Galih Satrio Nugroho
Karya Galih Satrio Nugroho Kategori Puisi
dipublikasikan 31 Mei 2016
Episode 9: Jatuh Cinta pada Keterpisahan

 

Kita hanyalah manusia yang saling jatuh cinta --anggap saja begitu. Meski aku tak pernah bisa memastikan hatimu. Meski kita tahu rindu tak selalu berujung temu. Aku selalu jatuh cinta pada segala sesuatu tentangmu. Termasuk kisah keterpisahan kita.

Di balik itu semua. Aku mulai mengagumi prosesi pertemuan. Bagaimana milyaran manusia dapat dipertemukan dengan manusia lain yang hadir tiba-tiba. Seperti guyuran hujan di kemarau panjang yang membuat hati kita berdansa. Tapi bertemu denganmu, adalah debar yang tak terjelaskan. Di satu sisi aku menantikan peristiwa itu, peristiwa yang kuharap akan selalu manis apapun yang terjadi. Namun di sisi lain aku berpasrah bahwa pertemuan kita tak pernah berakhir pada kata 'bersama'. Memang beberapa hal diciptakan hanya untuk menyadarkan. Membuka setapak kecil yang bermuara pada keheningan. Di keheningan itu kita dapat bercengkerama dengan diri sendiri, angin, atau dedaunan --tentang apapun yang telah kita lalui, dan kenangan-kenangan yang membuat kita beranjak dari satu penantian ke penantian yang lain. Sejak kesadaran itulah aku mulai menikmati kisah keterpisahan ini. Keterpisahan di atas keyakinan bahwa kita memilih jalan yang kita tempuh pada pemikiran yang dewasa.

Keterpisahan ini membuatku bertengger pada titik tertinggi sebuah kepasrahan. Bukan untuk menyerah. Tetapi untuk menerima apapun yang digariskan oleh Allah. Sedang sisanya aku hanya perlu berusaha dan mempersiapkan diri. Sebab cinta adalah perasaan berbungkus komitmen, untuk merayakannya --membutuhkan kesiapan.

Dalam keheningan, aku mempersiapkan diri.

Kita berada dalam lembar-lembar kehidupan yang kita tulis setiap harinya. Dan aku tak mau lembaran itu hanya berisi goresan rindu tak berujung khas manusia sakit hati. Merasa sakit hati akan takdir berarti meragukan ketentuan yang telah tertulis. Tak perlu orang lain mengerti tentang apa-apa saja yang kulalui untuk kisah ini. Tak perlu orang lain membaca surat-surat yang kutulis selama ini. Tapi cinta, seberapapun dalamnya --butuh perjuangan dalam kesabaran. Sesungguhnya pemenang ialah mereka yang bersabar.

  • view 180