Episode 8: Diam dan Perasaan

Galih Satrio Nugroho
Karya Galih Satrio Nugroho Kategori Puisi
dipublikasikan 30 Mei 2016
Episode 8: Diam dan Perasaan



Aku tak sanggup lagi untuk sekadar menyapa 'Hai' atau bertanya 'Apa kabar?' padamu.

Memang beberapa kata dicipta tidak untuk dikatakan; barangkali hanya untuk dipendam. Beberapa kata dituliskan untuk menunjukkan ketidakmampuan manusia. Bahwa manusia selalu memiliki kebodohan yang tak bisa dipungkiri.

Dan aku tak mampu untuk menatapmu dalam waktu yang lama. Atau mendengar suaramu. Atau mengetahui cerita tentangmu.

Aku tak selalu tahu bagaimana cara jatuh cinta. Aku juga tak pernah tahu bagaimana jatuh cinta hadir sepaket dengan luka.

Luka yang kita cipta sendiri.

Atau lebih tepatnya luka yang kucipta sendiri.

Tak berdarah bukan berarti tidak terluka. Juga tak berairmata bukan berarti tak tenggelam dalam jurang kesedihan yang menganga.

Kini keterdiaman dan perasaan adalah luka yang kucipta sendiri. Luka yang kurawat sehari-hari dan berharap sembuh dengan sendirinya.

Telah kukirim, semacam kode untukmu.

Dan hingga detik ini kamu belum menyadarinya.

Di detik selanjutnya, aku bertanya pada diri sendiri, 'Untuk apa memberi ketidakpastian?'. Lalu aku tenggelam dalam keterdiaman.

Seperti biasanya.

  • view 120