Matinya Si Penjual Mimpi

Dewi Apriani
Karya Dewi Apriani Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 30 Maret 2016
Matinya Si Penjual Mimpi

Sebetulnya, saya sudah mengikrarkan janji untuk tidak lagi menulis. Berhenti menulis, dan mulai serius memikirkan hidup saya yang mbolak mbalik begini-begini saja. Namun, saya kemudian tersadarkan, secara paksa bahwa tabungan saya dari hasil menulis semakin menipis. Sangat tipis, bahkan lebih tipis dari televisi di rumah saya yang baru saja (kemarin) tutup usia. Berkenaan dengan ini juga saya harusnya membuat sebuah perayaan, atau minimal ucapan suka cita yang mungkin nantinya saya pajang di kamar saya sendiri. Dalam bayangan saya, melakukan itu semua tidaklah sulit, tentu saja, sampai kelak saya ketahui ada yang menderita (sangat) dengan berpulangnya tivi modern kami ke muasalnya. Buat saya, ia tak lebih dari benda mati yang fungsinya tak lebih dari sekadar penjual mimpi. Tapi, apa lacur, sudah sejak kemarin ibu tak henti mengeluhkan matinya tivi kami karena diserang petir dini hari dua hari yang lalu. Yang oleh karenanya rumah menjadi tambah semarak karena sebelum insiden ini saja rumah kami sudah disemarakkan oleh berbagai macam hal, atau topik saya kira yang keluar dari bibir ibu.?

Ah, rupanya segitu besar dampak matinya pertelevisian yang melanda rumah tangga kami karena keadaan rumah menjadi lebih mencekam dari yang biasa. Ibu sebagai ratu di rumah kini menjadi lebih sering uring-uringan dan bete (ucapnya) karena tak lagi bisa mendengar dan melihat sinetron-sinetron india kesukaannya, menyimak gosip artis dengan tekun, atau acara-acara musik yang isinya kebanyakkan canda yang berpotensi membuat hati menjadi keras.

Kalau sudah begini, apa saya masih harus tetap membuat perayaan? atau minimal ucapan suka cita karena si penjual mimpi telah mati membawa barang dagangannya yang telah membius kami hingga ke titik nadi?

?

?

?

  • view 87