Bahkan, Tempat Berdiri Pun Dihargai

Gading Aurizki
Karya Gading Aurizki Kategori Project
dipublikasikan 12 Oktober 2017
Negeri Paman Sam

Negeri Paman Sam


Catatan perjalanan di Amerika saat mengikuti YSEALI Academic Fellow, 2 September-8 Oktober 2017

Kategori Petualangan

102 Hak Cipta Terlindungi
Bahkan, Tempat Berdiri Pun Dihargai

Siang itu, matahari di Washington DC cukup menyengat. Meski sebenarnya sudah masuk musim gugur, sisa-sisa musim panas belum sepenuhnya hilang. Beruntung kelembapan udara di sana cukup rendah, sehingga saya tidak banyak berkeringat walaupun berjalan jauh sehari penuh. Saya berjalan-jalan sendirian menikmati suasana kota. Salah satu destinasi saya adalah Lincoln Memorial yang terletak di ujung Barat National Mall. Bangunan berarsitektur mirip kuil kuno Yunani ini berada tepat segaris lurus dengan gedung Capitol dan Washington Monument, persis seperti yang digambarkan buku-buku berlatar District of Columbia yang saya baca.

Saya berangkat ke Lincoln Memorial dengan tenaga tersisa separuh. Maklum, saya sarapan dan makan siang hanya dengan dua buah bagel, bekal yang saya beli di kedai “Bagels...Etc” depan hotel. Namun, karena saya penasaran dengan tugu untuk memeringati Presiden Abraham Lincoln tersebut, saya membulatkan tekad untuk berangkat. Abraham Lincoln bisa dibilang adalah salah satu presiden terbesar yang dimiliki Negeri Paman Sam. Ia berperan menghapus perbudakan dan mengakhiri perang saudara di Amerika pada pertengahan abad ke-19.

Untuk sampai di Lincoln Memorial, saya harus menyusuri kolam refleksi (reflecting pool) yang panjang. Bagi yang pernah menonton film Forrest Gump, kolam ini adalah tempat pertemuan Forrest dan Jenny setelah Forrest pulang dari Perang Vietnam. Saya menaiki puluhan anak tangga dengan nafas tersengal-sengal. Begitu sampai di atas, semuanya terbayar. Patung Lincoln raksasa ditengah ruangan menjadi pusat perhatian para turis. Dengan pose duduk di atas kursi dengan pandangan lurus ke depan, Lincoln seolah sedang mengawasi Capitol yang jauh tepat di hadapannya.

Fokus utama di Lincoln Memorial memang patung Lincoln duduk. Namun, ada satu hal lagi yang harus dilihat, yakni pahatan pidato Lincoln. Di sebelah Selatan adalah pidato Lincoln saat pemakanan para tentara yang gugur di perang saudara. Pidato ini memuat kalimat terkenal Lincoln, “...that government of the people by the people for the people...”. Sementara itu, di sebelah Utara terdapat pidato Lincoln saat dilantik sebagai presiden Amerika Serikat untuk yang kedua kalinya. Mike Hannahan memberi komentar singkat tentang pidato Lincoln, “pidatonya singkat, namun memiliki kekuatan.”

Mengunjungi Lincoln Memorial membuat saya percaya bahwa Amerika benar-benar bangsa yang besar. Bukankah bangsa yang besar takkan pernah melupakan jasa para pahlawannya? Dan, Lincoln Memorial hanyalah satu di puluhan (atau ratusan) ribu patung pahlawan yang tersebar di seantero Amerika. Bahkan, saya yakin, di DC saja jumlahnya lebih dari seribu. Tak seperti New York yang banyak pusat perbelanjaan, DC adalah tempatnya tugu-tugu peringatan. Hampir di setiap sudut kota kita dengan mudah menemukannya.

Yang unik di Amerika, untuk memeringati jasa para pahlawan tak hanya dengan membuat tugu. Mereka sampai menandai tempat berdiri yang bersejarah, seperti misalnya yang saya tampilkan pada gambar di atas. Foto itu saya ambil tepat di luar Lincoln Memorial, tepat di anak tangga teratas, di mana pada tanggal 28 Agustus 1963, Martin Luther King, Jr. memberikan pidato yang sangat fenomenal berjudul “I Have A Dream”.

Hal yang sama juga saya temukan di gedung Capitol, terutama di ruangan sebelah Rotunda. Selain patung-patung para senator pada masa awal Amerika berdiri, terdapat juga penanda di lantai tempat meja kerja para senator tersebut berada. Jika mau diteropong lebih jauh, tugu peringatan tersebut tidak hanya ditujukan bagi orang-orang pemerintahan saja. Di Amerika, setiap jasa bisa diperingati. Misal, di Hollywood ada hall of fame terkenal yang memuat nama para selebriti yang berjasa memajukan dunia hiburan. Di New York, ada jalan yang memasang penanda di lantai untuk merek-merek fesyen ternama. Gedung-gedung di universitas menyandang nama profesor yang berjasa sesuai bidang ilmu yang menempati gedung tersebut. Dan masih banyak lagi.

Saya menyimpulkan, keberadaan peringatan-peringatan tersebut tidak lepas dari budaya yang telah mengakar kuat di Amerika, yakni budaya apresiasi. Mereka tidak terlalu peduli dengan latar belakang seseorang, sejauh orang tersebut memiliki kontribusi positif untuk negara dan komunitas, mereka akan mengapresiasinya. Tak sedikit saya temukan tugu-tugu peringatan itu ditujukan untuk orang non-Amerika. Karena, menghargai jasa seseorang, sekecil apapun itu, adalah tanda kebesaran jiwa sebuah bangsa. []

Gading E. Aurizki
Peserta YSEALI Academic Fellow Program, Fall 2017
University of Massachusetts, Amherst

  • view 101