Welkom in Breda Nassaustad

Gading Aurizki
Karya Gading Aurizki Kategori Project
dipublikasikan 01 Juli 2017
Menj[el]ajah Belanda

Menj[el]ajah Belanda


Tulisan nostalgia pertukaran belajar Avans Hogeschool, Breda, Belanda. September 2013.

Kategori Petualangan

469 Hak Cipta Terlindungi
Welkom in Breda Nassaustad

Kegiatan utama kami pada Hari Minggu memang jalan-jalan berkeliling Breda, tapi ada satu hal yang harus kami lakukan terlebih dulu, yakni membeli tiket kereta ke Amsterdam untuk hari Rabu dan Kamis. Kami memang ada rencana pergi ke ibukota Belanda tersebut untuk mengikuti beberapa agenda. Jadilah kami berjalan kaki rame-rame dari hotel menuju stasiun Breda Centraal yang jaraknya sekitar 1,5 kilometer. Bagiku, jalan kaki ke stasiun ini sudah termasuk jalan-jalan, karena kami bisa melihat-lihat suasana Breda yang asri, taman yang rindang, sungai yang jernih, gedung berarsitektur menarik, dan jalanan yang sepi.

Ngomong soal jalan, ada hal yang mengejutkanku, yakni adanya "prioritas" pengguna jalan. Di Breda, dan Belanda pada umumnya, pejalan kaki selalu diutamakan. Ketika kami hendak menyebrang di Oude Vest, salah satu jalan besar di kota, ada mobil sedan hitam yang melaju kencang dari arah kanan. Karena kami masih terpaku pada kebiasaan di Indonesia, kami pun berhenti di pinggir jalan sambil menunggu mobil itu lewat. Namun, apa yang terjadi? Ternyata mobil itu tiba-tiba berhenti di belakang zebra-cross. Karena belum ngeh dengan situasinya, kami sempat terpaku sejenak, hingga sedetik kemudian kami sadar kalau pengendara mobil sedan tersebut mempersilakan kami menyeberang terlebih dulu.

"Thank you, Sir!" kataku kepada pengendara tersebut.

Ia hanya mengangguk dan tersenyum.

Aku merasa perlu mengganjarnya dengan ucapan terima kasih, karena bagiku, membiarkan orang lain menyeberang dulu di saat kamu punya kesempatan untuk terus melaju adalah sebuah kebaikan. Kebiasaan mengutamakan orang lain seperti ini patut diacungi jempol. Jika hal itu diterapkan secara konsisten, tentu tidak akan ada kebiasaan saling serobot dan melanggar lalu lintas di jalan. Jalanan pun akan menjadi aman dan nyaman bagi siapapun yang menggunakan.

Setelah sekitar setengah jam berjalan kaki, kami sampai di Breda Centraal. Kami pun langsung pergi ke konter untuk membeli tiket Fyra. Fyra adalah ...a comfortable train that runs on the high-speed track and is therefore by far the fastest connection between Amsterdam, Schipol, Rotterdam and Breda. Begitu kata buku Explore Holland by train yang kuambil di salah satu pojok informasi stasiun. Karena ini kereta cepat, harganya juga lumayan. Kalau nggak salah sekitar 15 Euro.

Di stasiun inilah akhirnya aku tahu bahwa spoor yang oleh orang Indonesia digunakan untuk menyebut kereta ternyata makna aslinya adalah jalur kereta. Memang, saking lamanya Belanda berada di Indonesia, ada banyak kata yang diserap menjadi bahasa Indonesia, seperti gratis, korting, spoor, stang, dan lain-lain, meskipun tidak semua maknanya akurat seperti pada bahasa asalnya.

Setelah mengantongi tiket Fyra, kami berjalan kaki menuju Stadspark Valkenberg, sebuah taman kota yang cukup besar dengan danau di tengahnya. Jaraknya hanya selemparan batu dari stasiun. Sebelum masuk, kami terlebih dulu berfoto di depan Nassau-Baronie Monument yang terletak di Sophiastraat, tepat di depan pintu masuk taman. Monumen ini berbentuk seperti tugu kastil dengan patung singa kecil di puncak. Di bagian tengah, terdapat emblem-emblem dari daerah di bawah kekuasaan Breda serta pahatan tulisan yang tak kupahami maknanya. Lambang Kota Breda sendiri juga terdapat pada monumen tersebut, yakni perisai berwarna merah dengan tiga tanda X yang membentuk formasi segitiga.

Monumen yang termasuk national monument Belanda ini dibangun pada tahun 1905 oleh seniman Belanda, Pierre Cuypers, untuk memeringati 500 tahun hubungan Breda dengan Keluarga Kerajaan Belanda, Oranje-Nassau (1404-1904). Itulah mengapa orang Breda selalu bangga menyebut kota mereka Breda Nassaustad, karena keluarga van Nassau adalah leluhur dari keluarga kerajaan yang hingga saat ini bertakhta.


Foto 1:  Berfoto di depan Nassau-Baronie Monument

Puas berfoto-foto dengan monumen, kami masuk ke dalam taman. Dulunya, taman ini adalah halaman dari Kastil Breda. Hampir seluruh bagiannya ditumbuhi pepohonan berdaun hijau yang mulai memerah karena musim gugur (autumn). Saat kami berkunjung, suasananya cukup sepi. Kami pun hanya istirahat sejenak di sana. Agar tidak bosan, anak-anak bermain jungkat-jungkit dan melakukan ritual wajib foto-foto. Aku sendiri lebih memilih duduk dan menikmati suasana alam sembari menggoreskan catatan di buku perjalananku. Sebenarnya, ada banyak bagian yang bisa dijelajahi di taman ini. Namun, karena kami pikir ini "hanya" taman, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Breda Centrum alias pusat kota.

Begitu masuk kawasan centrum, kami langsung terpana. Memoriku langsung terbang ke film-film Disney yang kutonton semasa kecil. Gedung-gedung tuanya, jalan berbalok batu yang ditata begitu rapi, dan gang-gang kecil yang terhubung satu sama lain membuat kami betah berlama-lama di sini. Aku sangat terkesan dengan arsitektur di centrum. Jalannya tidak begitu lebar tapi sangat artistik. Tidak menggunakan aspal tetapi memakai balok batu yang mungkin sudah ada sejak kota Breda berdiri. Arsitekturnya pun sangat kuno dan masih asli. Benar, orang Eropa kalau membangun sesuatu seolah-olah mereka akan hidup selamanya, sehingga benar-benar tahan lama hingga ratusan tahun. Meskipun bangunannya kuno, namun jangan tanya isinya. Toko-toko di sana sudah sangat modern. Perpaduan antara klasik dan modern sangat terasa di sini.

Kami pun langsung menyusuri jalan menuju Grote Markt atau alun-alun kota. Inilah bagian paling iconic dari kota-kota di Belanda dan beberapa kota di Eropa. Alun-alun di sini tidak seperti di Indonesia yang berbentuk lapangan besar, melainkan sebuah area lapang yang dikelilingi gedung-gedung tua dengan beragam kafe yang kursinya tumpah ruah di luar. Orang-orang biasanya berkumpul bersama keluarga atau teman-teman mereka di tempat ini. Memang secara struktur lebih mirip pasar, karena grote markt sendiri berarti "pasar besar". Aku menyebutnya alun-alun lebih karena fungsinya sebagai tempat berkumpul orang banyak. Selain itu, kantor walikota juga ada di kawasan ini. Jadi, cocok kalau disebut alun-alun, kan?


Foto 2: Suasana Grote Markt yang masih sepi

Hal yang paling menarik di centrum ini tentu saja Grote Kerk Breda alias gereja besar. Lokasinya ada di ujung grote markt. Gereja yang memiliki nama lain Onze-Lieve-Vrouwekerk (Church of Our Lady) ini dibangun pertama kali pada tahun 1269 dan memiliki arsitektur gotik khas kawasan Brabant, provinsi di mana Breda berada. Yang paling menonjol dari gereja ini adalah menaranya yang sangat tinggi, yakni sekitar 97 meter, sehingga bisa dilihat dari berbagai penjuru. Menara ini sangat menarik untuk dijadikan spot berfoto. Sayangnya, kami tidak punya teknik fotografi yang bagus untuk mengambil seluruh bagian dari menara tersebut.

Selepas dari grote markt, kami berkeliling di jalanan di centrum sambil window shopping. Saat itu jam masih menunjukkan pukul 10 pagi dan banyak toko yang memasang tulisan gesloten alias tutup. Suasana centrum pun masih sepi. Maklum, di musim gugur, jam segitu masih sangat pagi. Umumnya, toko-toko ini buka dan orang-orang berdatangan setelah jam 12 siang. Dan setelah itu, kawasan ini akan menjadi yang teramai di seantero kota. Banyak yang memilih berbelanja, nongkrong di kafe, atau menonton lomba balap sepeda anak di pinggiran centrum yang kebetulan sedang berlangsung.


Foto 3: Grote Kerk Breda dari sudut foto yang sulit

Meskipun pada akhirnya kami tak membeli apa-apa, karena harga barangnya lumayan, kami sangat puas dengan jalan-jalan kami pagi ini. Ini baru hari kedua. Kami yakin, masih banyak hal menarik lain yang akan kami temukan di sini. Terakhir sebelum pulang, kami memilih berfoto di salah satu sudut centrum yang memasang spanduk: Welkom in Breda Nassaustad!

 

Original: Breda, 15 September 2013
Revisi: Surabaya, 1 Juli 2017

  • view 127