Shubuh Pertama, Sarapan Pertama

Gading Aurizki
Karya Gading Aurizki Kategori Project
dipublikasikan 30 Juni 2017
Menj[el]ajah Belanda

Menj[el]ajah Belanda


Tulisan nostalgia pertukaran belajar Avans Hogeschool, Breda, Belanda. September 2013.

Kategori Petualangan

420 Hak Cipta Terlindungi
Shubuh Pertama, Sarapan Pertama

Pada hari pertama di Belanda, kami masih mengalami jetlag. Waktu Breda lima jam lebih lambat daripada Surabaya, sehingga ketika di Breda pukul 19.00 (pada musim gugur masih masuk waktu Ashar), sejatinya jam tubuh kami sudah menganggapnya tengah malam. Hal itu membuat kami tidur dan bangun lebih awal. Sore hari kemarin, kami hanya berbelanja kebutuhan beberapa hari di Albert Heijn (AH) Oude Vest, meminta akun dan password Wi-Fi hotel, dan membagi kamar. Aku sekamar dengan Aby, Gris dengan Hamzah, sedangkan mbak Rista, mbak Riza, dan Lely jadi satu kamar yang cukup besar. Setelah tidak ada urusan lagi, sebelum jam 9 kami semua sudah tertidur lelap.

Beberapa hari pertama, aku rutin bangun jam 1 dini hari karena di Indonesia saat itu sudah jam 6, waktunya orang siap-siap bekerja. Aku pun menyempatkan waktu untuk membuat catatan atau menyapa kawan-kawan di Indonesia. Sedangkan Aby, masih tertidur lelap karena kelelahan. Biasanya aku terjaga tak begitu lama dan segera mengantuk. Aku pun tidur sebentar dan bangun sekitar pukul 4 pagi.

Menurut aplikasi jadwal shalat yang kuunduh di Play Store, Shubuh di Breda adalah pukul 4.19 dan syuruknya jam 6.14. Aku pun membangunkan Aby agar ikut shalat shubuh di kamar denganku. Usai shalat, Aby sibuk dengan laptopnya sementara aku kembali asyik dengan tabletku. Menjelang pukul 7, aku merasa ada yang aneh. Jika syuruk pukul 6.14, harusnya matahari sudah muncul. Namun, saat itu hari masih sangat gelap, seperti waktu shubuh. Karena ragu, aku pun langsung mengeceknya di sebuah situs penuntun waktu shalat. Ternyata aplikasiku kurang valid! Seharusnya shubuh pukul 5.19, sejam lebih lambat dari aplikasiku.

Aku pun bertanya kepada Aby, "Lho, By, ternyata Shubuhnya jam 5.19! Tadi kita shalat jam berapa?"

"Lhah, gimana sih?! Paling ya jam 4-an," jawab Aby heran.

"Wah, berarti kita harus ngulang shalat ini," usulku,

"Masak harus ngulang?" Aby masih tak percaya.

"Ya iya dong. Kalo shalatnya gak tepat waktu, ya nggak sah," aku berusaha meyakinkan.

Dengan perasaan enggan, aku dan Aby mengulang shalat.

Bagi seorang Muslim yang bepergian ke luar negeri, perkara shalat ini tak boleh disepelekan. Kita harus merencanakannya dengan baik, karena waktu shalat di negara tujuan biasanya berbeda dengan waktu shalat di negara kita. Di Belanda, pada musim gugur semua shalat lebih lambat daripada di Indonesia. Bahkan, waktu isya' baru tiba sekitar pukul 9-10 malam. Oleh karena itu, kita harus siap dengan jadwal shalat lokal, karena di negara berpenduduk mayoritas non-Muslim seperti Belanda tidak ada adzan yang menjadi penanda jadwal shalat. Jadwal semacam itu bisa kita cari di internet atau aplikasi Android. Tapi jangan lupa untuk melakukan validasi agar pengalamanku di atas tidak terulang.

Yang tak kalah penting adalah kiblat. Jangan lupa bahwa patokan kiblat bukanlah arah mata angin, melainkan posisi ka'bah dari tempat kita. Ini adalah pengetahuan umum, tapi banyak orang yang lupa. Seperti temanku waktu shalat Ashar kemarin. Dia shalat menghadap Barat Daya, padahal di Belanda kiblatnya adalah arah Tenggara. Aku yakin kita semua tahu hal itu. Tetapi mungkin karena sudah terbiasa dengan arah di negara asal jadinya terlupa. Jika belum bisa menentukan arah mata angin, jangan sungkan untuk bertanya kepada orang. Kita bisa bertanya misalnya, "di mana arah Barat?". Setelah mendapat satu arah, kita bisa langsung menentukan arah lainnya. Baru setelah itu bisa ditentukan kiblatnya.

Setelah selesai shalat shubuh (ulang), aku dan Aby langsung bergantian mandi. Meskipun hari masih pagi, kami harus segera bersiap. Pagi ini kami serombongan sepakat untuk jalan-jalan di berkeliling Kota Breda.

Pukul setengah 8 pagi kami semua berkumpul di restoran hotel. Paket penginapan kami memang jadi satu dengan sarapan, sehingga kami bisa merasakan sarapan a la Barat yang tidak pakai nasi. Awalnya sih sedikit aneh. Maklum, kami ini orang Indonesia sejati yang kalau belum makan nasi belum bisa disebut makan. Tapi karena memang tidak ada, ya mau bagaimana lagi. Menu yang umum ada di restoran hotel saat sarapan antara lain: scrambled egg, telur rebus segar, salmon, keju berbagai jenis, telur mata sapi, daging asap, sereal, berbagai macam pastry, buah-buahan, susu dan yogurt, jus, salad, dan lain-lain. Pokoknya makanan bergizi lengkap dan seimbang, empat sehat lima sempurna!

Namun, soal makanan ini komitmenku sebagai seorang Muslim kembali diuji. Aku segera sadar ini bukan Indonesia, sehingga tidak ada jaminan bahwa makanan yang kumakan semuanya halal. Oleh karena itu, saat sarapan aku menghindari makan daging dalam bentuk apapun. Bukannya apa, aku hanya khawatir di dalam daging tersebut ada campuran babinya. Aku pun selalu memilih scrambled egg, telur rebus yang sangat segar, keju, dan salmon. Semua kumasukkan dalam satu piring dan kutaburi blackpepper. Awalnya telur mata sapi juga menu favoritku, tetapi setelah tahu di dalamnya ada dagingnya, aku tidak pernah lagi menyentuhnya. Untuk minumannya, aku memilih susu atau jus jeruk. Menu tersebut kadang kubuat variasi dengan tambahan sereal, roti, atau salad buah yang sangat lezat. Meskipun tidak banyak makan nasi, ternyata berat badanku sepulang dari Belanda bertambah 5 kg! Hahahaha....

Usai sarapan, kami tidak langsung keluar melainkan foto-foto dulu di dalam hotel yang memiliki interior menarik. Syal "Airlangga Bonek" yang kupinjam dari Akief pun jadi properti wajib bagi siapapun yang ingin berfoto. Kami juga tak ketinggalan berfoto bersama kendaraan nomor satu di Belanda: sepeda! Jika ingin jalan-jalan menggunakan sepeda, hotel menyediakan dengan biaya 5 Euro per-hari. Namun, demi menghemat uang jajan, kami lebih memilih jalan kaki sembari menikmati suasana kota yang menyenangkan. Saatnya menjelajah Breda!!!


Original: Breda, 15 September 2013
Revisi: Kereta ke Surabaya, 30 Juni 2017

  • view 50