Perjalanan Jalur Darat ke Breda

Gading Aurizki
Karya Gading Aurizki Kategori Project
dipublikasikan 30 Juni 2017
Menj[el]ajah Belanda

Menj[el]ajah Belanda


Tulisan nostalgia pertukaran belajar Avans Hogeschool, Breda, Belanda. September 2013.

Kategori Petualangan

429 Hak Cipta Terlindungi
Perjalanan Jalur Darat ke Breda

Hujan rintik-rintik mengiringi kedatangan kami di Bandara Schipol. Saat itu waktu menunjukkan pukul 15.00 waktu Amsterdam. Aku pun langsung membuka tablet bututku untuk mengecek email yang dikirim oleh Koen Westen, dosen Avans Hogeschool yang akan menjadi pemandu kami. Memang, sebelum kami bertolak ke Dubai, Koen mengirim itinerary atau jadwal perjalanan kami via email. Jadwal inilah yang akan menjadi acuan kegiatan kami selama dua pekan di Negeri Keju ini.

Sembari menunggu mobil jemputan, teman-teman sepakat membeli kartu Lebara, salah satu penyedia jaringan seluler di Belanda. Fitur yang ditawarkan lumayan, yakni internet dan telepon ke tanah air dengan harga murah. Lebara ini memang cukup populer bagi pelancong dari Indonesia seperti kami. Namun, karena HPku tidak bisa dipakai internetan (maklum HP jadul) dan tabletku juga tidak memakai kartu SIM (maklum tablet murah), aku memutuskan tidak membelinya. Terlebih, harganya cukup mahal, yakni 20 Euro atau sekitar 300 ribu rupiah! Itu sudah 10% dari total uang sakuku. Lagipula, kalau butuh telpon ke rumah, aku bisa pinjam ke yang lain. Hehehehe...

Sekitar lima belas menit menunggu, mobil penjemput kami datang. Sebenarnya kurang tepat kalau disebut mobil karena bentuknya mirip minibus atau elf. Di belakang minibus tersebut terdapat gerbong kecil yang terpisah dari badan mobil khusus untuk mengangkut barang-barang. Kami pun langsung mengangkut koper-koper kami dan memasukkannya ke gerbong belakang. Setelah itu, satu persatu dari kami masuk ke dalam minibus. Tak lupa kami menyapa sang sopir, seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluhan yang berpakaian formal dengan topi "masinis" di kepalanya. Ia terlihat sangat profesional dengan setelan tersebut, berbeda dengan sopir-sopir travel di Indonesia yang berpakaian kasual tanpa seragam tertentu.

Kami langsung heboh tak karuan begitu mobil berjalan, karena untuk pertama kalinya kami bisa melihat langsung jalan-jalan di Belanda. Schipol memang terletak di pinggiran, sehingga kami tidak melewati Kota Amsterdam untuk pergi ke Breda. Namun, hal itu tak mengurangi kekaguman kami pada pemandangan yang kami lihat selama perjalanan. Salah seorang temanku yang membawa kamera tak melewatkan momen untuk mengambil foto-foto. Ada bangunan unik, jepret! Ada sapi dan domba sedang makan rumput, jepret! Ada kapal di sungai, jepret! Ada jembatan, jepret! Ada kincir angin, jepret!

Satu hal yang tak kuduga sebelumnya, ternyata Belanda memiliki banyak kawasan pedesaan. Sepanjang perjalanan dari Amsterdam ke Breda, yang kulihat hanya ladang dan kebun. Bangunan memang ada, tetapi jika dibandingkan dengan luas ladang dan kebunnya tidak seberapa. Sungguh tenang. Tidak ada kemacetan, bahkan di atas kami ada sekelompok burung yang terbang membentuk formasi dengan tenangnya. Hal ini bertolak belakang dengan imajinasiku tentang negara maju yang banyak kawasan perkotaannya.

Melihat kondisi Belanda yang seperti itu, aku kemudian berpikir bahwa parameter majunya suatu negara bukan persoalan fisik seperti keberadaan bangunan megah yang banyak, melainkan kesejahteraan rakyatnya. Jika kita menemukan rumah petani di pinggir jalan di Belanda, jangan bayangkan nasibnya seperti petani di Indonesia. Di Belanda, petani memiliki lahan sendiri yang mereka kelola dengan cara modern menggunakan mesin. Mereka juga memelihara ternak yang berjumlah banyak. Dan yang terpenting, hasil-hasil pertanian dan peternakan tersebut bisa langsung mereka jual ke pasar tanpa melalui tengkulak. Itulah yang membuat petani di Belanda sejahtera.

Selain itu, negara maju seperti Belanda juga sangat menjaga lingkungan hidupnya. Hal itu terlihat dari burung-burung yang terbang bebas di langit yang sudah jarang terlihat di sekitar kita. Saya jadi teringat dengan prinsip orientasi bisnis 3P (Profit, People, Planet). Pelestarian "planet" atau lingkungan hidup sudah menjadi bahasan utama oleh berbagai pihak di negara maju, di saat orang-orang di negara berkembang masih berpikir tentang "profit" atau bagaimana mencetak untung.

Namun, kita juga tidak bisa sepenuhnya berkiblat ke negara-negara maju. Pasalnya, mereka bisa menjaga lingkungan hidup seperti itu karena memindahkan pabrik-pabrik mereka ke negara berkembang seperti Indonesia. Itulah yang membuat mereka bisa hidup tenang, sementara kita yang terkena dampak dari industrialisasi tersebut. Apalagi di negara kita upah buruh sangat murah, sehingga para konglomerat dari Negeri Barat berbondong-bondong menggunakan jasa mereka. Sehingga kita jangan keburu bangga ketika banyak perusahaan asing mendirikan pabrik di negara kita.

Tak terasa satu jam berlalu sejak kami meninggalkan Schipol. Kini kami sudah mulai memasuki kawasan Breda. Aku sedikit kecewa karena perjalanan darat yang menyenangkan itu harus segera berakhir, tapi aku juga senang akhirnya sampai di kota yang akan kami tinggali selama dua minggu ke depan.

Sopir pun membawa kami ke Hotel Golden Tulip Keyser Breda di Keizerstraat 5, 4811 HL. Di Hotel berbintang empat inilah kami akan menginap. Begitu sampai, ada seorang pria berbadan sedikit tambun dan berambut pirang. Ternyata itu adalah Koen Westen. Ia menyambut kami dan senang kami sampai tepat waktu. Setelah berkenalan dan membantu kami untuk check-in di hotel, ia mengingatkan kami untuk hadir di Avans hari Senin jam 09.00 tepat!

"Don't forget. We have a meeting in Avans, Monday at 9 o'clock!" kata Koen.

Kami pun menjawab serempak, "Ok! Thanks, Koen."

"See you, guys!"

"See you, Koen!!!"

Setelah itu, Koen meninggalkan hotel. Dan sekarang saatnya kami beristirahat!!

 

Original: Breda, 14 September 2013
Revisi: Kereta ke Surabaya, 30 Juni 2017

  • view 54