Keluarga Boscha dan Buah Zaitun

Gading Aurizki
Karya Gading Aurizki Kategori Project
dipublikasikan 30 Juni 2017
Menj[el]ajah Belanda

Menj[el]ajah Belanda


Tulisan nostalgia pertukaran belajar Avans Hogeschool, Breda, Belanda. September 2013.

Kategori Petualangan

332 Hak Cipta Terlindungi
Keluarga Boscha dan Buah Zaitun

Langit terlihat sangat cerah ketika aku terbang dari Dubai menuju Amsterdam. Pada perjalanan kedua kali ini, aku harus duduk terpisah dari rombongan. Aku duduk di bangku nomor 83C, di sebelah dua orang tua berambut putih dan berwajah Eropa. Sedangkan yang lain duduk di bangku deretan depan. Ketika bertemu orang baru, aku memang selalu canggung. Lebih baik duduk dekat orang yang sudah kenal. Namun, jika memang nasib mempertemukanku dengan dua orang tua itu, aku harus mencari cara untuk memecahkan "es" di antara kami bertiga.

Perjalanan dari Dubai ke Amsterdam ini jauh lebih menyenangkan daripada waktu berangkat dari Jakarta menuju Dubai. Ada beberapa alasan. Pertama, karena perjalanannya siang hari. Pemandangan di atas langit jauh lebih jelas dibandingkan malam hari sehingga aku betah berlama-lama untuk terjaga. Tidak seperti waktu dari Jakarta menuju Dubai yang banyak kuhabiskan untuk tidur. Kedua, aku sudah mulai terbiasa dengan kondisi di pesawat. Bahkan aku sempat menonton film terbaru, Monster University, sampai selesai. Padahal kemarin waktu nonton Fetih 1453, tidak sampai seperempat cerita sudah bosan, terutama karena percakapannya memakai bahasa Arab dan aku belum tahu cara memunculkan subtitlenya. Dan ketiga, aku berhasil mengajak berkenalan seorang bule dari Belanda, yakni dua orang tua yang duduk di sampingku tadi.

Interaksi pertamaku dengan kedua orang tua itu adalah ketika salah satu dari mereka, seorang laki-laki yang usianya 70-an, meminta izin untuk menempati tempat duduknya yang berada di sampingku. Setelah duduk, aku bertatap muka dengan istrinya yang duduk tepat di sebelahku. Aku pun menyapanya, "morning", dia menjawab "morning" sambil tersenyum. Setelah itu, tiga jam berikutnya tidak ada interaksi antara kami sampai aku membantu si wanita untuk membetulkan posisi bantalnya. Namun, tidak ada percakapan berarti antara kami.

Momentum itu terjadi setelah makan siang kami diantar oleh pramugari. Pertama kali, yang kumakan adalah appetizer. Di menu tertulis Tuna salad with sweet corn and vegetables. Saat menyantapnya aku menemukan satu buah yang rasanya aneh. Dari luar kukira anggur karena berwarna hitam, tetapi setelah dimakan rasanya sangat asam dan bijinya satu cukup besar seperti biji cerme. Saat itulah aku berinisiatif bertanya kepada wanita di sampingku, sekaligus sebagai pembuka perkenalan.

"Maam, may I ask you? What is this?" tanyaku sembari menunjukkan biji buah yang baru saja kusantap. "The taste is very strange. I'm not familiar with the taste."

Ia pun menjawab, "It's olive. The taste is very strong."

Aku pun langsung berkata, "Ooooh..."

Setelah itu, sikap wanita itu menjadi lebih terbuka. Strategi ice breaking-ku berhasil. Kami pun langsung akrab dan membicarakan banyak hal.

Wanita tua yang berusia sekitar 70 tahun tersebut bernama Mrs. Boscha. Ia baru saja mengunjungi Indonesia, tepatnya beberapa kota di Jawa Barat. 

Dia menyatakan sangat mencintai Indonesia dan telah mengunjunginya beberapa kali. Dia pernah berkunjung ke Sumatra, Kalimantan, Bali, dan Jawa. Ketika aku bilang kalau berasal dari Surabaya, dia berkata belum pernah kesana tetapi berencana berkunjung lain waktu, dua atau tiga tahun lagi. Semangat yang cukup tinggi untuk orang berusia 70 tahun. Sebagai anak muda, seharusnya aku tak boleh kalah!

Setelah ngobrol cukup lama, Mrs. Boscha pun tak canggung untuk menceritakan latar belakangnya. Ternyata ia berasal dari Kota Oss, tetapi sekarang tinggal di Kota Bergen op Zoom. Dia pun ganti bertanya, apakah aku ke Belanda untuk liburan? Kujawab bahwa aku ke Belanda untuk belajar keperawatan di Breda. Ketika aku menyebut Breda, ia menyahut kalau Breda adalah kota yang sangat menarik. Wah, kata-katanya itu membuatku tak sabar untuk segera sampai di Breda!

Ia juga bercerita kalau anak perempuannya bekerja di Breda sebagai perawat dan supir. Ada satu cerita yang membuatku tertarik, yakni tentang krisis yang terjadi di Eropa. Karena krisis itu kerja perawat menjadi berat. Dia mengatakan di rumah sakit semua hal dikerjakan oleh perawat, sampai-sampai jumlah perawat tidak cukup. Satu perawat bisa mengelola sepuluh pasien, begitu katanya. Hmmm, berat juga. Sebagai mahasiswa keperawatan, informasi tersebut membuatku merenung, bahwa profesi perawat pun juga bergantung pada kondisi politik dan ekonomi. Oleh karena itu, seorang perawat tidak boleh buta tentang kedua permasalahan tersebut.

Saat sudah tak ada lagi topik menarik yang dibicarakan, iseng aku menyampaikan rencana kami mengunjungi Jerman pada akhir pekan. Saat masih di Indonesia kami memang punya rencana keluar Belanda dengan visa Schengen kami. Masak sudah sampai Eropa nggak sekalian jalan-jalan, begitu pikir kami. Namun, reaksi Mrs. Boscha ternyata tidak baik. Ia berkata bahwa memilih Jerman untuk dikunjungi di akhir pekan adalah pilihan yang buruk. Alasannya, karena terbatasnya waktu, pasti kami hanya bisa mengunjungi Jerman Barat. Padahal mayoritas kota di Jerman Barat adalah kota industri, tidak ada tempat menarik untuk dikunjungi. Ia justru merekomendasikan Belgia. Aku pun memintanya untuk menulis di buku catatanku kota di Belgia yang bagus untuk dikunjungi di akhir pekan.

Mrs. Boscha sangat baik hati. Ia memberiku beberapa makanannya, seperti roti maupun biskuit. Katanya, biskuit itu enak dimanakan waktu malam sambil menunjuk sebuah biskuit serupa roti gabin dengan sambal berwarna oranye. Baru kali ini aku tahu biskuit dimakan pakai sambal, meskipun ternyata rasanya memang enak. Kemudian, Mrs. Boscha memberiku saran mengenai kehidupan di Belanda seperti seorang nenek memberi saran kepada cucunya. Memang, dari segi usia Mrs. Boscha seusia dengan nenekku. Namun, entah bagaimana ceritanya, dari segi kebugaran mereka berbeda sangat jauh. Pada pertukaran pelajar kali ini, aku harus mencari tahu bagaimana Belanda bisa membuat para lansia tetap sehat hingga usia senja.

Tak terasa Amsterdam sudah semakin dekat. Aku segera mematikan layar yang menampilkan beberapa menu dan mengembalikannya menjadi mode tinjauan perjalanan. Amsterdam memang tinggal beberapa kilometer lagi. Pramugari sudah mengingatkan kami untuk memasang seatbelt dan menegakkan sandara kursi. Semua makanan yang ada di meja harus kami kemasi karena meja pun tak boleh dibiarkan terbuka.

Begitu pesawat dari maskapai Emirates tersebut mendarat, aku segera beres-beres. Mrs. Boscha memberikut kartu nama. Ternyata ia bekerja di sebuah firma hukum. Aku terkejut bahwa orang setua itu masih sangat aktif. Ketika penumpang diperkenankan keluar, aku segera berdiri dan pamit ke mereka.

"Nice to meet you Mrs. and Mr. Boscha. Thanks for the biscuit and the buns," kataku.

Mereka tersenyum kepadaku sambil melambaikan tangan.

"See you again!"

Mereka serempak menjawab, "Good bye!"

Sapaan itu yang mengisyaratkan bahwa mereka yakin ini adalah pertemuan terakhir kami. Namun, aku tak perlu bersedih. Perpisahan ini adalah awal dari perjumpaan-perjumpaan baru yang lebih berkesan. Dan kini, aku sudah sampai di Tanah Kompeni: Belandaaaaa!!!!

 

Original: Amsterdam, 14 September 2013
Revisi: Magetan, 30 Juni 2017

  • view 72