Sebuah Langkah Awal

Gading Aurizki
Karya Gading Aurizki Kategori Project
dipublikasikan 29 Juni 2017
Menj[el]ajah Belanda

Menj[el]ajah Belanda


Tulisan nostalgia pertukaran belajar Avans Hogeschool, Breda, Belanda. September 2013.

Kategori Petualangan

417 Hak Cipta Terlindungi
Sebuah Langkah Awal

Momen Ramadhan 1434 Hijriyah takkan pernah kulupakan. Itu adalah salah satu momen terbaik dalam hidupku. Pada momen yang bertepatan dengan bulan Juli 2013 tersebut, aku mengikuti dua macam seleksi: seleksi mahasiswa berprestasi Fakultas Keperawatan dan seleksi pertukaran pelajar ke Belanda. Selain itu, aku bersama dua orang kawan mencoba mendaftar sebuah konferensi di Jepang.

Aku masih ingat, sambil menanti pengumuman kedua seleksi tersebut, ada berita yang mengguncang dunia internasional, khususnya Timur Tengah: kudeta militer terhadap presiden Mesir yang terpilih secara demokratis, Mohammad Mursi. Tindakan tersebut menggerakkan jutaan warga Mesir untuk melakukan aksi protes di lapangan Rabia Al-Adawiya, Kairo. Aku pun mendengarkan syair-syair yang ditujukan bagi warga Mesir yang sedang berjuang. Yang paling kuingat adalah syair Sawfa Nabqa Huna yang menjadi musik pengiring sebuah video dokumenter. Yang paling menggetarkan tentu saja video qunut nazilah oleh para demonstran yang memadati jalan-jalan di Kairo pada saat melakukan qiyamul lail .

Sungguh, meski tak memiliki kaitan dengan penantianku, peristiwa berdarah yang terkenal dengan nama R4BIA tersebut memiliki arti tersendiri dalam kisah awal perjalananku ke Belanda. Tak lama setelah peristiwa itu, aku menerima pengumuman bahwa aku terpilih sebagai mahasiswa berprestasi Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga 2013 dan menjadi delegasi fakultas untuk mengikuti pertukaran pelajar ke Avans Hogeschool, Belanda. Entah mengapa, kedua hal tersebut membuat libur lebaranku tahun itu menjadi libur lebaran paling memorable yang belum tergantikan sampai sekarang.

Setelah melewati masa persiapan dan penantian sekitar dua bulan yang menyenangkan, pada hari Jum'at tanggal 13 September 2013, kami berangkat menuju Belanda. Ini adalah penerbangan pertamaku. Pesawat Lion Air yang berangkat dari Surabaya menuju Jakarta take off dengan lancar dari Bandara Djuanda. Rute perjalanan kami adalah Surabaya-Jakarta naik Lion Air, lalu Jakarta-Dubai dengan Emirates, dilanjutkan Dubai-Amsterdam menggunakan maskapai yang sama.

Ketika pesawat lepas landas yang kurasakan pertama adalah adanya dengungan di telingaku. Hal ini terjadi karena perbedaan tekanan antara di darat dan udara. Bahkan aku sempat mual, karena aku belum makan siang. Aku juga tidak bisa berbicara dengan Gris yang duduk di sebelahku karena tuba eustachiku tersumbat udara. Namun, sedikit gangguan itu terbayar setelah pesawat benar-benar terbang dan seatbelt boleh dibuka. Di sisi kananku terlihat hamparan pulau garam dan Jembatan Suramadu yang berdiri kokoh memanjang dari Surabaya ke Bangkalan. Semakin terbang ke atas daratan semakin tidak terlihat. Yang ada hanya awan dan langit biru.

Saat pesawat berada di atas awan, aku merenung. Bagaimana benda yang beratnya berton-ton itu bisa "mengambang" di udara. Jika bukan karena ilmu pengetahuan, hal ini tidak akan bisa terjadi? Aku jadi penasaran bagaimana perasaan Wright bersaudara ketika pesawat buatan mereka bisa terbang pertama kalinya. Namun, terlepas dari jasa ilmu pengetahuan dan manusia yang telah menemukan teknologi pesawat terbang, tentu saja yang paling luar biasa adalah Dzat yang menciptakan ini semua. Dari atas pesawat aku dapat menyaksikan hamparan bumi Allah yang begitu luas. Semakin terbang ke atas, semakin terlihat kecil benda-benda yang berada d Bumi. Padahal kapal ini terbang tidak seberapa tinggi jika dibandingkan tingginya jagad raya ini. Ini menunjukkan begitu kecil manusia dihadapan Tuhan-Nya.

Ini adalah penerbangan pertama yang luar biasa, karena pada perjalanan kali ini tujuan akhirku adalah Belanda. Aku beruntung karena pertama kali naik pesawat langsung ke luar negeri, meskipun harus pergi ke Jakarta terlebih dulu, itu tak jadi masalah. Dan tentu saja bagian paling pentingnya adalah pada perjalanan ini aku tidak merogoh kocek sama sekali karena fully funded dari fakultas dan universitas. Selain itu, patut disyukuri karena pada pengalaman pertama, aku tak terbang sendiri. Ada enam mahasiswa lain dan dua dosen yang membersamai perjalananku ke Negeri Kincir Angin. Mereka adalah  Gris, sahabatku yang menjabat sebagai ketua BEM; lalu Aby dan Leli, dua sejoli yang merupakan teman seangkatanku; Hamzah, adik tingkat yang ngomong Inggrisnya cas cis cus dengan aksen British; mbak Rista, mahasiswa S2 yang saat ini menjadi dosen di fakultas; dan mbak Riza, mahasiswa profesi yang kini menjadi ners di RSUA. Sementara itu, dua dosen yang mendampingi kami adalah: Ibu Purwaningsih, dekan kami yang akan membicarakan kelanjutan kerja sama dengan Avans Hogeschool, dan Bu Esti, dosen sekaligus kepala Departemen Maternitas dan Anak.

Pertama kali aku menginjak tanah "asing" adalah ketika kami transit di Dubai International Airport (DXB), Dubai, Uni Emirat Arab. Aku langsung merasakan nuansa internasional dengan banyaknya orang dari berbagai latar belakang. Ada orang Asia Timur bermata sipit, pemuda Timur Tengah berhidung mancung, lelaki Negro dari Afrika, wanita berambut pirang dari Eropa, dan sepasang backpacker bertubuh jangkung dari Amerika. Semua berlalu lalang di sekitarku. Aku pun langsung mengecek HP Samsung C3322 jadulku yang ternyata sudah tidak ada sinyal. Padahal aku sangat ingin memberi kabar kepada kedua orangtuaku kalau anaknya sudah menginjakkan kaki di negeri orang, meski belum sampai negara tujuan. Hehehe....

Satu hal yang membuatku tertarik pada bandara ini adalah mottonya: Connecting the World. DXB memang salah satu bandara tersibuk di dunia dan menjadi yang nomor dua di Asia. Memang, jika dilihat dari segi geografisnya Dubai yang terletak di Timur Tengah ini menjadi jembatan antara benua Timur dengan benua Barat. Sehingga tak heran kalau hampir semua orang dari berbagai benua berkumpul di sini. Selain itu, areanya sangat luas. Di sepanjang jalan dari dan menuju gerbang keberangkatan, banyak toko-toko yang menjual barang bermerek untuk kalangan high-end.  Namun ada juga toko yang menjual suvenir dengan harga terjangkau, meskipun menurutku tetap saja mahal. Maklum, karena berkantong mahasiswa, mau beli apapun selalu dihitung kurs rupiahnya dulu. Hahaha...

Karena kami baru berangkat ke Amsterdam pagi hari, kami sempat menunaikan shalat Shubuh di mushala bandara. Kami berjamaah dengan petugas bandara yang wajahnya sangat khas Arab. Ada perasaan aneh ketika akhirnya aku bisa bertemu dan bahkan shalat berjamaah dengan saudara seiman dari bangsa lain. Perasaan itu merupakan campuran antara rasa bangga, haru, dan juga senang. Ingin rasanya aku menyapa dan sedikit mengobrol dengannya. Namun aku segera sadar bahwa ini baru permulaan dan perjalanan masih panjang. Aku berharap ada kesempatan lain untuk bertemu saudara seiman di negeri orang.

Satu hal yang patut kusesali adalah di Dubai kami tidak bisa ke mana-mana. Kami mendarat di sini memang hanya untuk transit dan tidak mengantongi visa kunjungan. Hal itu membuat kami hanya bisa melihat dunia luar dari ruang tunggu dengan jendela kaca yang sangat besar. Aku terus memandang papan reklame besar sebuah merk minuman bersoda yang ada di depan bandara sambil berharap suatu saat aku bisa mengunjungi bandara ini lagi dan pergi ke luar sana. Sedang asyik melihat-lihat, tak terasa waktu boarding sudah tiba. Kami pun siap untuk berangkat menuju destinasi berikutnya: Amsterdam!

 

Original: Jakarta-Dubai, 13-14 September 2013
Revisi: Madiun, 29 Juni 2017

  • view 101