Beijing-Zhengzhou: Cerita tentang Perjalanan di Kereta

Gading Aurizki
Karya Gading Aurizki Kategori Project
dipublikasikan 11 Juni 2017
Re-Post Perjalanan ke China

Re-Post Perjalanan ke China


Pada tahun 2014, ketika saya pergi ke China pada bulan Ramadhan 1435 H, saya sempat menulis cerita dan saya bagi di grup-grup WhatsApp setiap hari. Saya akan mencoba mengunggah kembali cerita-cerita tersebut dengan versi yang lebih rapi.

Kategori Cerita Pendek

103 (CC) Atribusi-TanpaTurunan
Beijing-Zhengzhou: Cerita tentang Perjalanan di Kereta

Hari ini adalah jadwalku dan Ayuk berangkat ke Zhengzhou. Kami memilih menggunakan moda transportasi kereta. Karena aku memiliki pengalaman bagus saat bepergian menggunakan kereta di Jepang, aku berpikir di China akan sama mulusnya. Ternyata, pada kenyataannya tak semudah yang dibayangkan. Namun, justru itu yang membuat perjalanan ini begitu layak untuk dikenang.

Tantangan pertama adalah ketika aku harus memesan tiket kereta sehari sebelumnya di Beijing Railway Station. Aku berpikir akan ada mesin penjual otomatis atau konter tiket yang melayani pembelian kereta jarak jauh semacam Shinkansen kalau di Jepang. Ternyata setelah aku masuk stasiun, hal semacam itu tidak ada (atau aku tidak tahu tempatnya). Mau tak mau aku pun harus antre di antrean "reguler" yang panjangnya melebihi panjang kereta (mungkin ini agak lebay, tapi antreannya memang benar-benar panjaaaaang!).

Samar-samar aku masih ingat, saat itu aku antre di konter nomor 13, karena konter itu melayani penumpang berbahasa Inggris, meskipun penduduk lokal pun juga banyak yang antre di konter tersebut. Untuk mengusir rasa bosan, aku sempat ngobrol panjang lebar dengan seorang turis berkebangsaan Italia bernama Ana yang tak sengaja aku temui saat mengantre. Setelah berkenalan singkat, aku bercerita tentang tujuanku ke China dan ia mengungkapkan niatnya untuk memperdalam bahasa Mandarin. Ia tinggal di pinggiran kota Beijing selama empat pekan. Ia bercerita kalau tahun depan akan ke Shanghai. Aku pun bertanya, mengapa ia tidak ke Shanghai langsung saja, mumpung masih berada di China? Ia menjawab kalau tidak memiliki banyak waktu. Selain itu, ia juga memiliki anak, sehingga ia harus pulang ke negaranya secara rutin. Setelah mulai merasa akrab, kami membicarakan banyak hal mulai dari perjalanannya ke Afrika yang membuatnya sakit, antrean di China yang membuatnya jengkel (maklum China adalah negara dengan populasi terbesar di dunia), tentang Indonesia, tentang perlakuan "berbeda" yang ia terima, dan banyak hal lainnya.

Tanpa terasa satu jam berlalu. Akhirnya kami sampai juga di depan konter. Ana terlebih dulu memesan. Namun, hal tak terduga terjadi. Saat ia mengatakan akan memesan tiket ke Badaling (ini salah satu lokasi the Great Wall), si petugas konternya bilang dengan bahasa Inggris yang terpatah-patah kalau tiket menuju ke sana tidak tersedia di Beijing Railway Station. Ana harus pergi ke North Railway Station. Aku langsung bisa menangkap gurat kekecewaan di wajah Ana. Setelah berjam-jam mengantre, ia pulang dengan tangan hampa. Bahkan karena rasa kecewanya itu, ia tak sempat mengucapkan kata perpisahan kepadaku.

Sekarang giliranku memesan. Kukatakan kalau aku memesan dua tiket kereta ekonomi ke Zhengzhou. Ternyata ada kendala bahasa di antara kami. Ia tak paham bahasa Inggrisku dan aku tak paham kalimatnya. Kesulitan itu ditambah ruangan yang begitu bising sehingga memecah suara kami. Terpaksa aku harus memberi penekanan pada beberapa kata dan menulis di secarik kertas tulisan "Zhengzhou". Ternyata di China, kata "Zhengzhou" dibaca "Chengchou", makanya dia tak mengerti ketika aku bilang "Zhengzhou" menggunakan Z. Setelah peristiwa roaming singkat tersebut, akhirnya aku mendapatkan tiket seharga 93 RMB per-orang atau sekitar Rp 186.000 (1 RMB = Rp 2.000). Sebelum meninggalkan konter, aku sempat bertanya pada petugasnya di tengah kebisingan ruangan. "How long the journey to Zhengzhou?" tanyaku. Ia pun menjawab dengan tak acuh, "Five!".

Hari keberangkatan ke Zhengzhou pun tiba. Kami datang lebih awal agar tidak ketinggalan kereta, mengantisipasi berbagai macam hal. Selain itu, kami juga harus mengapling tempat, karena kami memang mendapat tiket tanpa tempat duduk. Begitu sampai, ternyata keretanya persis seperti kereta ekonomi di Indonesia sebelum masa reformasi (reformasi KAI maksud saya): gerbong penuh, ada yang mendapat tempat duduk, ada yang harus berdiri, ada yang selonjoran di pintu, dan berbagai macam rupa manusia ada di sana. Kami memilih tempat di dekat pintu dan menggunakan koper sebagai kursi. Dan, perjalanan "lima jam" ke Zhengzhou pun dimulai.

Berangkat dengan kereta ekonomi membuat kami, mau tak mau, berinteraksi dengan penduduk lokal. Mereka sama sekali tak bisa berbahasa Inggris dan ketika mereka mengajakku berbicara dengan bahasa Mandarin, aku ganti sama sekali tak paham. Karena menjadi orang paling "beda", mereka tertawa-tawa melihat kami. Apalagi Ayuk menggunakan penutup kepala (jilbab) yang mungkin tidak umum di mata orang China. Mereka terlihat seperti membicarakan kami berdua. Namun, karena tak paham apa yang mereka bicarakan, aku pun pasrah saja menjadi bahan perbincangan mereka. Namun aku sadar, bahwa aku tak bisa terus menerus diam. Aku orang baru di sini, yang tak tahu arah, tak tahu turun di mana dan Zhengzhou itu stasiun yang mana, ditambah informasi berbahasa Inggris yang sangat terbatas. Oleh karenanya, aku tetap mencoba berkomunikasi dengan mereka.

Sebutlah namanya Tuan Yang (bukan nama sebenarnya, karena aku tak tahu nama aslinya). Ia yang duduk di sebelahku dan berusaha berkomunikasi denganku. Orangnya lucu dan wajahnya menyenangkan, meskipun terkadang menyebalkan. Ia turun di stasiun Changsa, jauh setelah stasiun Zhengzhou. Aku tahu itu setelah menunjukkan peta China yang sudah kusiapkan dari Surabaya. Lewat peta itu juga aku menjelaskan kalau aku akan turun di Zhengzhou dan minta tolong memberitahuku kalau sudah sampai. Selain itu, aku juga mencoba mengajak Tuan Yang berkomunikasi lewat buku percakapan bahasa Mandarin-Indonesia milik Ayuk. Caranya, aku menunjukkan sebuah kalimat berbahasa Indonesia yang kumaksud, lalu ia membaca terjemahan Mandarin di bawahnya. Ternyata cara tersebut cukup efektif. Dengan cara itu ia bisa tahu kalau aku dari Indonesia dan Ayuk bukanlah istri/pacarku (soalnya dia menunjuk kata-kata istri dan pacar, lalu memberi isyarat ke arah Ayuk). Tapi ternyata tidak semua bisa diungkapkan lewat buku itu karena perbendaharaan kata-katanya terbatas. Salah satu contohnya adalah ketika mereka menawariku makan dan minum. Tentu saja aku menolak karena saat itu sedang puasa Ramadhan. Namun, karena tidak ada kata-kata di buku yang berarti "puasa", aku tak bisa mengkomunikasikan itu ke mereka. Mereka pun heran dengan kami yang berjam-jam tidak makan atau minum.

Kami berangkat dari Beijing jam 09.00. Jika waktu perjalanan lima jam, seharusnya jam 14.00 sudah sampai. Namun, hingga menjelang pukul 15.00 belum ada tanda-tanda kalau kereta akan merapat ke Zhengzhou. Aku mulai khawatir karena sudah kadung beranggapan bahwa perjalanan akan berlangsung lima jam. Dengan kondisi dehidrasi dan lapar (maklum, kami hanya sahur dengan Indomie goreng hasil pinjam kompor di penginapan), kami mulai kelelahan. Ayuk beruntung karena mendapatkan kursi setelah sekitar tiga jam perjalanan, sedangkan aku masih setia duduk di atas koperku. Yang paling menggoda iman adalah aku duduk di sebelah keran air minum, di mana para penumpang lokal berkali-kali mengisi botol minum atau menyeduh mie instan kemasan mangkuk. Melihatku begitu merana, Tuan Yang kembali menawariku minum, tapi aku masih tetap menolak. Ia pun heran dan kembali membicarakanku di depan teman-temannya yang lain. Agar tak canggung, aku mencoba berbaur dengan mereka. Saat ada penjual alat aneh yang bisa membuat bagian tubuh tertentu kita bergetar, aku diminta mencobanya. Aku pun merelakan diri sebagai bahan percobaan, dan ternyata sukses. Mereka semua menertawakan tanganku yang bergetar involunteer. Dari situ aku mulai tak canggung untuk berbaur dengan mereka meskipun aku sama sekali tak paham apa yang mereka bicarakan.

Sekitar pukul 17.30 kami baru sampai Zhengzhou. Dari sini akhirnya aku paham apa yang dimaksud penjaga konter dengan kata "Five!", bukan lima jam tetapi jam lima! Duh, dasar....!! Tapi tak masalah, yang penting sekarang sudah sampai. Namun, masalah baru muncul. Aku dan Ayuk sama sekali buta Zhengzhou. Apalagi Zhengzhou bukanlah pemberhentian terakhir kami. Tujuan kami adalah Xinzheng. Untunglah ada orang yang bersedia memandu kami, namanya Tuan Wu. Tuan Yang yang memberitahunya kalau aku butuh bantuan. Kami pun langsung mengikuti Tuan Wu keluar stasiun. Ia bersama anak laki-lakinya yang masih remaja. Kusampaikan padanya kalau kami perlu koneksi internet untuk mengecek tujuan kami. Saat itu SIM Card kami tidak berfungsi dan tidak ada Wi-Fi hotspot. Tuan Wu pun menemani kami membeli SIM Card di toko di dekat stasiun. Tak hanya itu, ia juga menemani kami sampai menemukan transportasi ke Xinzheng. Ia bahkan sempat bertanya kepada beberapa orang yang lewat tentang catatan alamat yang kubawa. Setelah SIM Card-ku aktif, aku bisa menelpon panitia di Sias International University. Ternyata mereka sangat mengkhawatirkan kami. Aku pun bertanya di mana lokasi Sias dan meminta Tuan Wu untuk berbicara langsung dengan mereka, barangkali ia yang berbahasa Mandarin lebih paham petunjuknya.

Setelah sekitar satu jam menunggu, akhirnya ada kejelasan kami harus ke mana. Tuan Wu pun menyarankan agar kami naik taksi. Kami sepakat. Lalu ia menulis di secarik kertas harga yang harus kubayarkan untuk ongkos taksinya. Saat itu jam menunjukkan pukul 18.20-an. Kami pun berpisah, dan aku mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepadanya yang telah rela menolong orang asing yang nyaris tersesat di negeri orang. Di taksi, aku pun merenung, kita mungkin tidak bisa saling berkomunikasi secara verbal dengan orang-orang di sekitar kita, tapi tindakan mereka mencerminkan sikap mereka terhadap kita. Sama seperti Tuan Yang atau Tuan Wu, mereka tak mengenalku dan tak bisa memahami bahasaku, begitu pun sebaliknya, tetapi kami bisa saling terhubung dengan bahasa yang lebih universal: bahasa kebaikan.

Salam persaudaraan seluruh umat manusia.

Original: Zhengzhou, 7 Juli 2014
Revisi: Surabaya, 11 Juni 2017

Foto: saat aku dan Tuan Wu berdiskusi tentang ke mana kami harus pergi.

Dilihat 79