Aku Bukan Seorang Traveler

Gading Aurizki
Karya Gading Aurizki Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 11 Juni 2017
Aku Bukan Seorang Traveler

Aku tidak pernah menganggap diriku sebagai seorang traveler, kendati sudah beberapa negara telah kusinggahi. Belanda, Perancis, Belgia (hanya lewat), Uni Emirat Arab (hanya transit), Jepang, Malaysia (hanya transit), China, dan tentu saja tanah airku sendiri, Indonesia. Semua itu takkan mengubah statusku sebagai "anak rumahan" yang secara sadar rela menjalani hidup sebagai "tahanan kota". Ketika banyak anak-anak yang begitu antusias mengikuti pendakian ke gunung A, menyeberang ke pulau B, atau touring ke kota C, aku lebih nyaman tinggal di kamarku yang sempit (tapi nyaman). Bahkan aku bisa merinci kota-kota mana saja di Indonesia yang kukunjungi on purpose, saking minimnya daftar kunjungan tersebut. Mungkin kejadian paling konyol adalah saat aku mengikuti wisata akhir kepengurusan BEM UNAIR 2014 ke Pulau Gili Labak pada awal tahun 2015. Jauh-jauh ke Gili Labak, di saat semuanya asyik bermain air di laut dan berwisata, aku malah dengan santainya tidur di mushola warga! Ada yang bilang aku tidak bisa menikmati hidup, tapi bagiku, itulah cara menikmati hidup. Hahahaha....

Barangkali satu-satunya skill petualang yang bisa kubanggakan adalah kemampuan membaca peta dan memahami petunjuk. Mungkin itu karena dulu saya sempat aktif di Pramuka (begini-begini pernah jadi delegasi di Raimuna Nasional 2008). Itulah sebabnya dalam tiga kali keberangkatan ke luar negeri, aku selalu didaulat sebagai "navigator" (kalau perjalanan di dalam negeri hal ini tidak berlaku karena pasti ada orang yang lebih paham jalan daripada diriku). Dari situ aku jadi hobi mengoleksi peta. Peta Paris, Beijing, Tokyo masih tersimpan rapi di folder, sedangkan peta Breda hilang entah ke mana. Sungguh, membaca lembaran peta lebih menantang ketimbang menggunakan google maps yang membuat nuansa petualangan kurang terasa. Hehehehe....

Seorang kawan pernah berkata bahwa perilaku seseorang dalam perjalanan itu tergantung niatnya. Ia lalu memberi contoh, jika seseorang naik gunung hanya untuk sampai ke puncak, maka ia akan kecewa jika ternyata begitu menjelang puncak cuaca tidak mendukung, atau jika ada kawan serombongannya terpaksa tidak bisa melanjutkan perjalanan, si fulan yang berambisi mencapai puncak ini akan tega meninggalkannya. Sekali lagi, perjalanan itu tergantung niatnya. Barangkali niat terkuatku untuk melakukan sebuah perjalanan adalah sebagai bahan untuk menulis. Itulah mengapa, selepas pulang dari Belanda, Jepang, atau China, banyak tulisanku tentang perjalanan tersebut yang tersebar di media massa, baik lokal maupun nasional, mulai dari Koran Surya sampai majalah Suara Hidayatullah. Termasuk antologi kisah perjalanan Jejak-Jejak Mengangkasa. Jadi, meskipun aku tak begitu mencintai perjalanan, aku cinta menulis, dan perjalanan-perjalanan itu adalah bahan yang bagus untuk menulis. Bagiku, perjalanan tanpa tulisan akan berakhir hampa, tanpa kenangan, tanpa jejak.

Mungkin kalian bingung, sebenarnya ke mana arah tulisan ini? Sejujurnya, aku sendiri juga bingung. Hahahaha.... Pasalnya sudah lama aku tidak menulis seperti ini, dan ini adalah tulisan populer pertamaku setelah sekian lama vakum (coba cek kapan terakhir kali aku mengupdate tulisan di inspirasi.co, mungkin sekitar 10 bulan yang lalu). Nah, aku sudah menegaskan bahwa aku bukanlah seorang traveler dengan berbagai alasannya. Namun, aku juga tidak berani mengatakan jika aku adalah seorang penulis, karena sudah lama tidak menulis. Lalu bagaimana dong? Agar tulisan ini happy ending, mungkin enaknya begini: okelah, aku bukan seorang traveler plus sedang seret menulis, tapi gimana kalau aku mulai merencanakan perjalanan-perjalanan baru yang bisa kujadikan bahan tulisan? Sepertinya itu ide bagus! []

Surabaya, 11 Juni 2017 pukul 00.06 WIB

  • view 119