Merindukan Kuil Shaolin di Gunung Shongsan

Gading Aurizki
Karya Gading Aurizki Kategori Budaya
dipublikasikan 18 Agustus 2016
Merindukan Kuil Shaolin di Gunung Shongsan

 

Kuil Shaolin memiliki posisi penting dalam penyebaran agama Buddha di Tiongkok. Keberadaannya mempengaruhi budaya masyarakat Tiongkok hingga saat ini. Salah satu kuil yang terbesar adalah Kuil Shaolin yang terletak di Gunung Shongshan, 13 kilometer Barat Laut Kota Dengfeng atau sekitar dua jam perjalanan naik bus dari Zhengzhou, ibukota Provinsi Henan.

Kuil Shaolin Shongsan memiliki sejarah yang sangat panjang. Berdiri tahun 495 Masehi, kuil ini mengalami beragam peristiwa, dibangun atau dirusak, tergantung pemerintah yang berkuasa. Terakhir kali dirusak adalah pada tahun 1928. Saat itu anggota Milisi Sho Yousan membakar Kuil Shaolin yang merubuhkan beberapa bangunan dan menghanguskan 1000 salinan literatur Buddha klasik. Setelah Republik Rakyat Tiongkok berdiri pada tahun 1949, pemerintah membangun kembali Kuil Shaolin dan memasukkannya sebagai acuan Kuil Buddha nasional di Tiongkok.

Sekarang Kuil Shaolin tidak hanya menjadi tempat peribadatan umat Buddha, namun menjadi tujuan wisata yang ramai dikunjungi turis bersama lokasi lain di Gunung Shongsan. Bahkan berdasarkan Biro Wisata Negara Republik Rakyat Tiongkok kawasan wisata ini merupakan lima lokasi berpemandangan Kelas A (Five-A Class Scenic Spot), dan termasuk ke dalam UNESCO World Geopark. Sehingga tidak heran jika pada akhir pekan banyak sekali wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang berkunjung.

Agar dapat masuk pengunjung harus membeli tiket seharga 100 Yuan (sekitar 200 ribu Rupiah). Dengan tiket itu pengunjung sudah dapat menyaksikan secara langsung beberapa destinasi wisata seperti kuil Shaolin yang memiliki sejarah hampir seribu tahun, pertunjukan seni beladiri Kungfu Shaolin, Hutan Pagoda, Gua Damo, dan biara biksu pertama Shaolin. Jika ingin melihat indahnya pemandangan Gunung Shongsan menggunakan minibus pengunjung perlu membeli tiket tambahan sebesar 10 Yuan.

Pertunjukan Kungfu Shaolin

Kita perlu berjalan sekitar 15 menit dari pintu masuk untuk sampai di destinasi wisata pertama, yaitu Wushu Training Center yang didalamnya tempat pertunjukan Kungfu Shaolin. Sepanjang perjalanan ke sana kita dapat melihat para siswa sekolah kungfu yang berjumlah ratusan sedang latihan dalam beberapa kelompok barisan yang terpisah.

Dalam sehari ada tujuh sesi pertunjukan Kungfu Shaolin. Setiap sesinya berlangsung selama 30 menit. Agar mendapat tempat duduk disarankan mengantre 30 menit sebelum pertunjukan dimulai. Namun kalau tidak dapat tempat duduk, kita masih bisa menonton dengan berdiri. Memang, antrean sangat panjang karena pengunjung tidak dipungut biaya dan tidak ada batas jumlah penonton. Tapi perjuangan mengantri akan terbayar setelah menyaksikan dari dekat parade jurus dan kemampuan para pendekar Shaolin yang selama ini hanya bisa kita lihat di layar kaca.

Kuil Shaolin

Selesai menonton pertunjukan Kungfu kita bisa langsung menuju Kuil Shaolin. Kompleks utama Kuil Shaolin memiliki lebar 160 meter dan panjang 360 meter dengan sebuah gerbang berbentuk rumah kecil sebagai akses utama masuk ke dalam. Di balik gerbang kita akan disambut rindangnya hutan prasasti (Forest of Steles). Dinamakan seperti itu karena di tempat tersebut banyak berjajar prasasti-prasasti di samping deretan pohon Ginko biloba (Maidenhair Trees) yang usianya mencapai seribu tahun. Uniknya, di batang pohon tersebut terdapat banyak lubang yang konon dibuat dengan menggunakan jari oleh pendekar Shaolin di masa lalu.

Setelah melintasi hutan prasasti kita akan bertemu Aula Devajara. Aula ini merupakan gerbang asli Kuil Shaolin sebelum gerbang yang sekarang dibangun. Di dalamnya terdapat dua patung pengawal Buddha berukuran besar dan patung Empat Raja Langit di belakang aula. Keberadaan patung-patung pengawal tersebut merupakan simbol perlindungan terhadap tempat peribadatan umat Buddha yang terdapat di kompleks bagian dalam Kuil Shaolin.

Di dalam kompleks berukuran 57.600 m2 tersebut terdapat berbagai macam bangunan. Terdapat tujuh aula utama tempat ibadah Buddha, tempat meditasi, menara, perpustakaan, tempat tinggal kepala biara dan para biksu, dan lain sebagainya. Uniknya letak gedung-gedung tersebut hampir simetris antara bagian kanan dan kiri. Gedung di bagian tengah, mulai gerbang masuk dan enam gedung utama di belakangnya, terletak di satu garis lurus.

Meskipun berstatus kawasan wisata, namun Kuil Shaolin tidak kehilangan fungsinya sebagai tempat ibadah umat Buddha. Beberapa gedung dapat digunakan untuk berdoa oleh pengunjung, seperti: Aula Mahaviro, Pavilion Lixue, dan Aula Seribu Buddha. Dengan memberikan beberapa Yuan kepada biksu yang berjaga pengunjung akan mendapatkan tiga potong dupa untuk berdoa. Sepintas mereka terlihat seperti membayar untuk mendapat dupa. Namun kawan yang pernah berdoa di sana mengatakan bahwa dia tidak merasa membayar untuk berdoa. Uang itu adalah uang penghormatan untuk kuil, begitu katanya.

Hutan Pagoda

Tempat yang tak kalah eksotis di kawasan wisata Gunung Shongsan adalah Hutan Pagoda (Pagoda Forest). Untuk mencapai tempat ini kita hanya perlu berjalan kaki sejauh 280 meter dari Kuil Shaolin. Lokasinya cukup dekat kuil karena sejatinya pagoda adalah makam. Sedangkan pemberian nama “hutan” mengacu pada jumlah pagoda yang sangat banyak di antara pepohonan. Jadi Hutan Pagoda merupakan komplek pemakaman bagi para Biksu Shaolin sejak berabad-abad lalu.

Ada legenda menarik tentang nama Hutan Pagoda ini. Pada era Dinasti Qing, Kaisar Qianlong pernah memerintahkan 500 prajurit kerajaan untuk menghitung jumlah pagoda yang ada. Setelah berhari-hari dihabiskan mereka gagal mendapatkan jumlah pasti pagoda di kawasan tersebut. Sang Kaisar pun berkata dengan penuh emosi, “Tempat ini benar-benar Hutan Pagoda!”.

Perkataan Kaisar Qianlong tersebut memang benar. Pagoda di kawasan seluas 20.000 m2 tersebut memang sangat banyak sampai menyaingi jumlah pohon yang ada. Usia dan bentuk pagoda pun beragam. Ada yang berusia ratusan tahun sejak masa awal berdirinya Kuil Shaolin ada juga yang masih baru berusia puluhan tahun. Pagoda muda ini terlihat berbeda karena materialnya terbuat dari semen, sedangkan pagoda tua terbuat dari batu bata. Selain itu pagoda tersebut memiliki ukiran bergambar mobil, sepeda, mesin ketik, dan benda modern lainnya yang menunjukkan bahwa ia belum lama dibuat.

Merindukan Tiongkok

Tulisan di atas sebenarnya sudah saya tulis jauh-jauh hari, pada tahun 2014 silam selepas saya pulang dari negeri Panda. Saat itu saya mengirimkannya ke rubrik wisata salah satu media cetak nasional. Namun karena tidak kunjung dimuat, artikel tersebut nganggur sampai sekarang. Beberapa hari yang lalu, saya kembali membuka-buka file lama dan menemukan artikel ini. Sungguh, ketika membacanya saya rindu kembali ke sana.

Saya sangat beruntung, menjadi salah seorang yang dapat melihat langsung kuil dan kungfu Shaolin yang terkenal itu. Oleh karenanya, saya ingin berbagi kenangan kepada rekan-rekan di sini tentang tempat wisata yang sungguh eksotis tersebut. Semoga Anda semua terhibur :) []

 Galeri

Gambar 1: Wushu Training Center

Gambar 2: Siswa Sekolah Kung Fu

Gambar 3: Pendekar Shaolin beraksi

Gambar 4: Pintu gerbang kuil Shaolin

Gambar 5: Halaman tengah (lupa namanya apa)

Gambar 6: Pohon Ginko biloba yang berlubang

Gambar 7: Thousand Buddha Hall

Gambar 8: Pagoda Forest

Gambar 9: Bersama Nabil, teman dari India, di depan gerbang masuk kompleks

Gambar 10: The Indonesian Muslim Gank
(sampai sekarang saya menyesal kenapa saat itu berpakaian amat norak)

Diabesen dulu deh (ki-ka):
Herwin (single), Ayuk (married), Zuh (single), Irawan (sepertinya masih single), Zain (single), Satria (barusan married), Gading (....)

Gambar 11: Tiket masuk seharga 100 RMB/Yuan (sekitar Rp 200.000, NB: yang keluar duit bukan saya)

Gambar 12: Di depan orang bikin kaligrafi China, hasil kaligrafinya dijual ke penonton

Gambar 13: Kuil lupa namanya...

Gambar 14: Jalan samping Hutan Prasasti (Forest of Steles)

Gambar 15: Berpose dengan latar pegunungan Shongsan (abaikan mbak2 di sebelah)

SEMOGA TERHIBUR
-SEKIAN-

 

 

  • view 336