Aku Menunggu SMSmu

Gading Aurizki
Karya Gading Aurizki Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 Agustus 2016
Aku Menunggu SMSmu

Tidakkah engkau merasa, bahwa saat ini…

“Aku menunggu SMSmu.” Ketikku tanpa berani mengirimkannya.

Di sebuah sudut perpustakaan yang sepi, di depan laptop yang tiba-tiba sering mati sendiri, di antara buku-buku yang berjajar rapi, aku duduk terpekur berteman sepi.

Sudah dua jam sejak SMS terakhir, engkau belum memberi kabar kepadaku kondisi perjalananmu ke luar kota. Amankah? Sentosakah? Berkesankah? Bagaimanapun kondisimu, kuharap engkau segera membalasnya.

“Hati-hati kalau mau berangkat.” Bunyi pesan terakhirku, yang entah sudah kaubaca atau belum.

Pesan itu menunjukkan bahwa aku rela jika engkau pergi ke sana, meskipun tiada hak juga bagiku untuk tidak merelakan. Hanya saja aku merasa pesan balasanmu terlalu lama datangnya. Padahal aku sedang menanti komentar lanjutanmu terhadap cerita pendek terbaruku.

“Nanti kubantuin edit.” Katamu beberapa pesan sebelumnya.

Setelah itu engkau juga menambahkan beberapa masukan yang sangat membangun detail ceritaku. Aku pun memberi umpan balik atas masukanmu. Engkau kembali membalasnya, menanyakan beberapa hal. Kujawab dengan sebuah klarifikasi. Saat itu aku sangat antusias karena merasa diskusinya sangat seru. Tetapi, usai jawaban terakhir itu, tak ada pesan masuk lagi hingga sekarang.

“Aku menunggu SMSmu.” Batinku sambil sesekali mengecek layar ponsel.

Tidak ada SMS masuk. Langsung kualihkan perhatianku ke laptop.

Kuperiksa paragraf demi paragraf cerita pendekku. Ketika ada bagian yang kurang pas, aku menggantinya dengan kalimat yang lebih tepat. Beberapa dialog kurombak, narasi kuperinci, karakter kupertajam. Beberapa masukanmu ingin kuakomodasi, namun ada sedikit masalah.

Engkau tahu sendiri kalau aku menulis cerita pendek untuk memperoleh anugerah seni dan sastra yang diadakan salah satu kampus ternama di Belanda, dan tulisannya memiliki persyaratan tertentu. Jika aku mengikuti saranmu, cerita pendekku akan menjadi sangat panjang. Bisa-bisa melewati batas halaman yang telah ditentukan panitia.

Tapi sejujurnya, saranmu itu sangat bagus, dan aku suka. Aku saja yang kurang mahir memberi gambaran latar yang detail dalam rentang cerita yang teramat pendek, sehingga membuatku dilema di antara dua pilihan: menerima saranmu tanpa mengirim ceritanya karena tidak memenuhi persyaratan, atau tetap mengirimnya dengan konsekuensi mengabaikan saranmu.

Aku ingin sekali meminta pertimbanganmu soal itu. Karenanya...

“Aku menunggu SMSmu.” Kataku lagi dalam hati.

Sampai lelah aku membuka pola kunci pengaman Androidku, menanti sebuah pesan masuk yang kuharap darimu. Karena belum jua ada balasan, terpaksa aku harus memikirkan sendiri nasib dari cerita pendekku.

Kubolak-balik salah satu cerpen terkenal yang kudapatkan dari rak sebelah. Sebuah buku kumpulan cerpen dan prosa yang terkenal, berjudul ‘Ibu’ dalam bahasa Spanyol. Ceritanya sederhana, karakternya kuat, tidak bertele-tele, dan memiliki makna yang mendalam. Aku mendapatkan inspirasi dari gaya penulisannya.

Ide langsung mengalir deras di kepalaku. Namun, saat hendak mewujudkan ide tersebut menjadi bentuk tulisan, laptop yang sejenak kubiarkan menganggur tiba-tiba mati. Pet!

“Aduh!” gerutuku sambil menepuk dahi.

Aku ingat kalau tadi banyak progres yang belum kusimpan. Buru-buru kunyalakan kembali laptop yang sudah layak masuk gudang itu.

Laptopku berhasil menyala sampai muncul wallpaper bergambar tiga kover editan sendiri novel trilogi yang menjadi impianku. Tapi belum sampai semenit, laptopnya mati lagi. Pet!

“Arrgghh!” pekikku sebal.

Kunyalakan lagi, mati lagi. Kunyalakan lagi, mati lagi. Sampai tiga kali berturut-turut dan akupun pasrah. Biarlah laptop itu beristirahat sejenak. Mungkin ia terlalu keras berpikir, seperti pemiliknya.

Kejadian yang sangat tidak menyenangkan. Ingin rasanya kuceritakan kepada seseorang. Tapi, ia yang menjadi tempatku bercerita belum juga membalas pesan terakhir. Jangan pernah bertanya siapa ia. Sudah berulangkali kukatakan…

“Aku menunggu SMSmu.” Ucapku kepada diri sendiri. Jelas engkau tak dapat mendengarnya.

Saat laptop mati, suasana semakin terasa sepi. Bahkan buku-buku yang kuanggap teman sendiri tak sanggup meramaikannya. Aku pun lebih sering membuka ponsel untuk melihat ada pesan masuk atau tidak. Dalam tempo semenit, tak kurang dua kali aku mengeceknya. Jika tidak ada pemberitahuan apapun, aku kembali membuka lembaran buku kumpulan cerpen dan prosa tanpa berminat mendalaminya.

Saat aku membuka untuk kesekian kali, sebuah tanda kotak putih muncul di sudut layar ponselku. Ada pesan masuk! Langsung kubuka kunci berpolaku dan melihat siapa gerangan yang mengirim pesan.

“Terima kasih telah menjadi pelanggan...”

Aarrggh! Ternyata layanan operator. Langsung kututup layar pesan itu. SMS dari operator dalam kondisi biasa saja sangat menyebalkan, apalagi dalam kondisi tengah menanti SMS dari seseorang. Benar-benar PHP. Pemberi Harapan Palsu!

Eh, bukan dirimu lho, operatornya.

Ya, beginilah kondisiku kalau engkau ingin tahu. Tapi jika engkau bertanya, “Masih tahan nggak pakai internet?”, aku dengan mantap menjawab, “Masih!”

Kita memang telah bersepakat untuk menggunakan metode komunikasi jarak jauh yang cukup konvensional: Short Messaging Service alias SMS. Istilah yang terasa sangat tua sekali.

SMS memang bukan metode komunikasi hiperaktif yang menjadi tren era sekarang, di mana seseorang bisa berinteraksi dengan banyak orang dalam waktu bersamaan, menerima ratusan pesan dalam hitungan menit, terpaksa membacanya meskipun tak perlu, lalu terpacu untuk membalasnya satu persatu. Ya, itulah yang menjadi kegandrungan kawan-kawan kita.

Tapi bagiku, itu tidak ada sisi menariknya. Aku lebih suka menerima satu pesan dalam beberapa menit. Lalu saat kita sibuk dengan aktivitas masing-masing, tidak ada pesan masuk berjam-jam lamanya. Dunia begitu damai tanpa gaduh, tetapi tetap terisi tanpa terasa sepi.

Itulah mengapa sudah sebulan ini kusingkirkan internet dari ponsel, dan aku bersyukur engkau memakluminya. Jadilah kita terjebak pada drama saling menanti tanpa tahu apakah pesan yang kita kirim sudah terbaca. Belum lagi soal pesan yang tertunda karena permasalahan sinyal. Lalu kita yang terbiasa menulis pendek dengan frekuensi banyak di chat, harus menyesuaikan dengan menulis panjang dengan frekuensi yang terbatas lewat SMS. Seru bukan?

Inilah yang kusebut—dan engkau mengafirmasinya—dengan istilah 'menjaga ritme'. Istilah yang menurutku sangat cool, di tengah dunia yang sedang berlari ngos-ngosan dan kepanasan.

“Aku menunggu SMSmu.”

Sudah terlalu panjang aku bercerita, namun engkau belum juga membalasnya. Bahkan, diriku sampai dibuat senang tiga kali dan langsung kecewa tiga kali begitu ada pemberitahuan pesan masuk, yang ternyata semuanya adalah layanan operator.

“Aha, laptopnya sudah dingin.” Ujarku sambil mempalpasi bagian pinggir laptopku. Suhu badannya sudah menurun daripada saat pingsan berkali-kali tadi.

Aku langsung menyalakannya, sambil berharap-harap cemas jikalau ia tiba-tiba pingsan lagi. Ternyata tidak, ia bisa bertahan sampai muncul wallpaper trilogiku, lalu terdiam menunggu sang pemilik—yaitu aku—memberikan perintah.

Kutekan Ctrl+E, langsung muncul Windows Explorer. Kubuka file cerita pendekku. Kuharap kerjaanku tadi tersimpan secara otomatis.

“Emmm…” kuteliti satu persatu paragrafnya.

Aku pun sampai pada kesimpulan kalau, “Kerjaanku tadi hilang!!! Aarrggghh!!!”

Cerita yang sudah kuedit, kutambahkan detail-detail penting, dengan dialog yang lebih hidup, penokohan yang seimbang, dan segala tambahannya, menghilang tanpa bekas!

Aku langsung lemas. Mood menulisku jatuh. Rasanya aku tak sanggup lagi meneruskan cerita itu. Versi lamanya memang masih ada, tapi tentu rasanya berbeda. Aku masih memiliki keinginan untuk melanjutkannya, tapi tidak sekarang. Dan aku tidak akan mengirimkannya untuk mendapatkan anugerah seni dan sastra. Terlalu berantakan!

Aku ingin menulis sebuah cerita baru yang lebih ringan saja, daripada melanjutkan yang sudah jauh tapi ruwet. Lho, katanya mood menulisnya jatuh? Iya, tapi kalau menulis baru sih rasanya masih sanggup. Bukankah membangun dari awal lebih ringan daripada menambal kerusakan yang kita ketahui sudah cukup parah? Begitupun dengan menulis.

Tapi mau menulis apa? Aku sendiri juga tidak tahu.

Eh, aku kok jadi berdialog dengan diriku sendiri? Makanya kamu segera balas. Tidakkah engkau merasa kalau…

“Aku menunggu SMSmu.” Gumamku sendiri.

Hari semakin sore, dan waktuku semakin sempit. Para pengunjung perpustakaan juga sudah mulai mengemasi barang-barangnya. Rasanya aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Baterai ponselku juga mulai habis, dan engkau tahu sendiri, jika sedang mengisi baterai, ponselku akan mati dalam waktu yang sangat lama karena sambungan pengisiannya rusak. Saat itu aku tidak akan bisa membalas SMSmu dengan cepat, dan sepertinya kita tidak berjodoh hari ini.

Saat aku mulai berkemas, tiba-tiba terbersit di benakku satu ide cerita. Aku merasa ide itu mengalir begitu derasnya hingga memenuhi rongga imajiner di kepalaku. Untung laptopku belum kumatikan. Langsung kubuka halaman baru di Ms. Word untuk menuliskannya.

Aku tersenyum heran mengingatmu. Bahkan ketika tidak membalas SMSku pun masih ada inspirasi yang mengalir darimu. Sebenarnya ada apa denganmu? Atau justru ada sesuatu denganku? Ah, entahlah. Yang jelas Aku tak perlu berpikir lama untuk mendapatkan judul ceritaku yang baru. Langsung saja kuketik...

“Aku Menunggu SMSmu.” []

  • view 286