Mohammad Hatta: Penerima Beasiswa, Penulis, dan Penasihat

Gading Aurizki
Karya Gading Aurizki Kategori Tokoh
dipublikasikan 10 Agustus 2016
Mohammad Hatta: Penerima Beasiswa, Penulis, dan Penasihat

Sebagai seorang sarjana ekonomi bergelar doktorandus lulusan Handelshogeschool di Rotterdam, wajar jika sepulang dari menimba ilmu di Belanda Hatta muda langsung mendapat tawaran pekerjaan yang sangat menjanjikan. Tak lama setelah tiba di tanah air, paman-pamannya—Etek Ayub, Etek Djohan, dan Etek Djohor—menawarinya menjadi seorang sekretaris direksi Firma Djohan Djohor di Jakarta, jabatan yang saat ini mungkin terlampau tinggi untuk seorang fresh graduate. Sangat wajar andai pun Hatta menerima tawaran pekerjaan bergengsi tersebut. Namun, ternyata ia memiliki pertimbangan lain.

Dalam buku otobiografinya yang berjudul Untuk Negeriku, pada jilid 2 halaman 23 Hatta bercerita, “Mula-mula aku diminta Etek yang tiga itu menjadi sekretaris direksi. Akan tetapi, karena aku orang pergerakan dan bagian terbesar waktuku ditumpahkan kepada pergerakan kemerdekaan, aku hanya menyetujui menjadi advisur saja.” Ya, karena fokus mengurus pergerakan, Hatta menolak jabatan tinggi tersebut dan lebih memilih menjadi advisur.

Pertanyaannnya, seperti apa pekerjaan seorang advisur? Lalu, bagaimana cara Hatta menghidupi dirinya setelah menolak tawaran menjadi sekretaris direksi? Serta, bagaimana pula Hatta membiayai hidupnya semasa kecil hingga kuliah di Belanda? Tulisan ini akan berusaha menjawabnya.

Dari Lahir sampai Kuliah

Sebelum membahas lebih jauh tentang pertanyaan di atas, ada baiknya kita mengetahui latar belakang kehidupan Hatta mulai kecil hingga dewasa secara ringkas.

Mohammad Hatta lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada tanggal 12 Agustus 1902. Saat lahir ia diberi nama Mohammad Athar, dan kemudian biasa dipanggil Atta. Ayahnya yang bernama H. Mohammad Djamil merupakan cucu dari seorang ulama Batuhampar, Syekh Abdul Rahman. Kakeknya, Haji Arsjad, yang merupakan anak dari Syekh Abdul Rahman dan ayah dari H. Mohammad Djamil, menjadi Syekh Batuhampar menggantikan ayahnya yang meninggal. Sehingga bisa dikatakan, meskipun yatim sejak kecil, hidup di lingkungan keluarga ulama membuat Hatta kecil tidak pernah kekurangan pendidikan.

Saudara sekandung Hatta berjumlah enam orang termasuk dirinya. Namun, ia hanya memiliki satu saudara seayah, yakni kakak perempuannya yang bernama Rafi’ah. Sedangkan empat adiknya adalah saudara tirinya, karena ibunya menikah lagi dengan seorang saudagar dari Palembang, Mas Agus Haji Ning. Adapun ia adalah satu-satunya anak laki-laki di antara enam bersaudara tadi. Mereka semua tinggal bersama di Aur Tajangkang, Bukittinggi.

Hatta kecil sudah mengenal Islam dengan baik. Ia berguru ke Syekh Muhammad Djamil Djambek, seorang ulama yang cukup mahsyur kala itu di Bukittinggi. Hatta diajar mengaji Al-Qur’an sampai tamat oleh murid-murid Syekh, sedangkan Syekh sendiri mengajar tentang pengertian agama Islam. Setelah berumur tujuh tahun, Hatta sering berkunjung ke rumah H. Arsjad di Batuhampar sekurangnya dua kali setahun. Saat itulah kakeknya itu menamkan ilmu tauhid dan keislaman kepadanya.

Selain mengaji ilmu agama, ia juga masuk sekolah umum. Untuk sekolah dasar, Hatta sering berpindah-pindah, mulai dari sekolah swasta milik orang Belanda, sekolah rakyat, hingga ke Europeesche Lagere School (ELS) di Bukittinggi, lalu pindah ke Padang. Lulus sekolah dasar Hatta melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs (MULO) di Padang yang setara SMP. Menjelang tahun 1916 Hatta lulus ujian masuk HBS (Hogere Burger School) di Jakarta, namun tidak jadi berangkat karena ibunya tidak mengizinkan.

Satu fase yang menjadi langkah awal Hatta dalam dunia pergerakan adalah keterlibatannya dalam Jong Sumatranen Bond (JSB) cabang Padang pada saat usianya masih belum genap 16 tahun. Saat itu ia langsung diberi amanah sebagai bendahara. Di JSB lah kesadarannya untuk berjuang terbangun karena bertemu dengan sesama orang pergerakan semacam H. Agus Salim dan Abdul Muis.

Lulus dari MULO pada bulan Mei 1919, Hatta melanjutkan ke PHS (Prins Hendrik School), sebuah sekolah dagang di Batavia. Di Batavia, Hatta hidup bersama pamannya Mak Etek Ayub yang sekaligus menanggung biaya hidupnya. Mak Etek Ayub lah yang mengenalkan Hatta dengan buku-buku. Selama di PHS Hatta masih aktif mengurus JSB sampai lulus PHS bulan Mei tahun 1921.

Begitu lulus dari PHS, ternyata Hatta pun juga sempat mengalami masa galau antara dua pilihan: melanjutkan kuliah atau bekerja. Saat itu, Hatta telah diterima sebagai mahasiswa di Handelshogeschool di Rotterdam. Jika bekerja, pada periode tersebut lulusan dari HBS atau PHS bisa mendapatkan gaji besar. Untuk gaji permulaan saja mencapai f 350 sebulan (f 1 = Rp 80.000–perhitungan terlampir) atau sekitar Rp 28.000.000! Tetapi bukan Hatta namanya kalau tidak berpikir lebih visioner. Ia pun meminta saran dari beberapa orang gurunya. Salah satu yang menguatkannya memilih kuliah adalah nasihat Dr. de Kock, guru pelajaran Kimia dan Pengetahuan Barang, sebagaimana ditulisnya dalam otobiografi:

“Engkau masih muda. Tuntutlah ilmu lebih dahulu supaya engkau kelak mempunyai pengetahuan ilmiah sebesar dasar pengetahuanmu dalam praktik nanti. Jangan engkau terburu-buru masuk praktik karena keadaan luar biasa dan gaji besar sementara. Semua itu tidak kekal. Sesudah beberapa tahun bisa terbalik dengan segala akibatnya. Tetapi, dasar ilmu yang kokoh itu kekal. Sebab itu tuntutlah ilmu lebih dahulu.”

Awalnya Hatta akan kuliah dengan biaya sendiri, dan tidak merasa memerlukan beasiswa. Namun, menjelang keberangkatan, masalah keuangan yang menimpa Mak Etek Ayub, membuatnya terpaksa meminta beasiswa juga. Karena pendaftaran beasiswa sudah ditutup ia harus melobi ke salah seorang di Departemen Pengajaran dan Agama, Tuan Duyvetter. Dari sana Hatta diminta menemui Inspektur Perguruan Menengah, Tuan Z. Stokvis. Tuan Z. Stokvis pun tidak langsung bisa memutuskan, karena harus mendapatkan jawaban dari pengurus Van Deventer-Stichting di Den Haag sebagai pemberi beasiswa. Akhirnya, Hatta diminta menanggung biaya awal keberangkatan dengan uang sendiri dulu sembari menunggu beasiswa cair.

Jika dihitung, uang yang dibawa berangkat Hatta ke Rotterdam sekitar f 4.100. Sebanyak f 3.600 adalah hasil uang simpanannya. Sedangkan f 500 adalah pemberian Engku Taher Marah Sultan dari sumbangan beberapa orang saudagar di Pasar Gedang. Dari jumlah itu, sebanyak f 1.100 digunakan untuk membeli tiket kapal kelas II dari Batavia ke Rotterdam. Jadi, Hatta ke Belanda berbekal uang sekitar f 3.000, jumlah yang menurutnya cukup untuk hidup selama satu tahun di Rotterdam.

Mendapatkan Beasiswa

Saat pertama kali masuk kuliah pada Bulan September 1921, Hatta harus membayar uang kuliah sendiri. Untuk satu tahun, biaya kuliah tahun ajaran 1921-1922 sebesar f 200 atau sekitar Rp 16.000.000 untuk kurs saat ini. Baru sekitar Bulan Januari 1922 Hatta mendapatkan kepastian beasiswa. Ia mendapatkan sebanyak f 800 dan dibayarkan f 400 untuk enam bulan pertama. Jadilah ia menerima sekitar f 66,66 per-bulan.

Hatta bukanlah tipe orang yang boros. Ia sempat ditawari menjadi anggota Corps, sebuah perkumpulan mahasiswa terbesar saat awal-awal masuk kuliah, namun ditolaknya karena uang iuran per-bulannya mencapai f 50. Namun ia rela jika uang itu untuk mencicil buku perkuliahan, sebesar f 10 per-bulan. Selain itu, uang sewa kamarnya mencapai sebulan f 130 dengan tiga kali makan. Itu belum keperluan lain-lain, yang jika ditotal semua biaya hidup satu bulan menghabiskan sekitar f 150 atau Rp 12.000.000. Karena uang beasiswa tidak mencukupi, ia harus menutupi kekurangan biaya hidup dengan uangnya sendiri.

Pada bulan Mei tahun 1923, Hatta mengikuti diploma handelseconomie (DH). Kala itu, untuk mencapai gelar doktorandus di Belanda membutuhkan waktu lima tahun dan dibagi menjadi dua tingkat: dua tahun diploma dan tiga tahun doktoral. DH merupakan ujian akhir tingkat diploma, yang jika lulus baru kemudian bisa melanjutkan ke tingkat doktoral. Hatta lulus ujian pertama, namun gagal di ujian kedua. Hatta gagal di mata kuliah Ekonomi Perusahaan yang diuji oleh Prof. N. J. Polak. Ia gugup ketika ditanya seputar aktivitas dagang di Batavia. Karena tidak lulus ujian kedua, ia harus mengulang ujian tiga bulan lagi.

Hatta sangat terpukul dengan kegagalan itu. “Perasaanku tidak senang karena kegagalan itu. Gagal yang pertama kali sejak aku bersekolah. Seminggu lamanya aku tidak berbuat apa-apa.” terang Hatta tetang kegalauannya. Masalahnya tidak berhenti sampai di situ. Karena gagal ujian DH, ia tidak berani meminta beasiswa lanjut studi ke pendidikan doktoral kepada pemberi beasiswa Van Deventer-Stichting. Usahanya memperoleh gelar doktorandus pun terancam gagal.

Tidak lama setelah itu, Hatta mendapatkan kabar bahwa kenalannya semasa aktif di JSB, Ir. Fournier dan Ir. Van Leeuwen datang ke Belanda. Hatta pun menemui mereka. Ternyata mereka berdua sudah mendengar kegagalan Hatta di ujian DH dari Lektor Gonggrijp, salah satu penguji DH. Hatta menceritakan keinginannya lanjut ke jenjang doktoral tapi terbentur di beasiswa. Ir. Van Leeuwen pun mencoba menghubungi salah seorang temanya di Rotterdam, Ir. M.J. Römer. Ir. M.J. Römer ini adalah yang menjemput Hatta di pelabuhan sampai menginap semalam di rumahnya.

Ir. M.J. Römer berusaha mencarikannya beasiswa dari sebuah organisasi sosial yang bertujuan membantu mahasiswa yang tidak memiliki uang untuk melanjutkan pendidikannya. Mereka pun bersama-sama menghitung berapa biaya hidup selama tiga tahun sisa selama menempuh jenjang doktoral. Akhirnya ketemu sekitar f 6.000 dengan rincian sebulan f 150, jika dikalikan 36 bulan menjadi f 5.400, ditambah pengeluaran lain-lain f 600.

Seminggu kemudian Ir. Van Leeuwen memberitahukan Hatta mendapatkan beasiswa selama tiga tahun tersebut, namun dianggap sebagai pinjaman. Jika Hatta telah kembali ke Hindia Belanda, ia diminta mengangsurnya. Namun karena sibuk di pergerakan, Hatta baru bisa membayar utang f 6.000 tersebut sekitar tahun 1950 atau setelah Indonesia merdeka dan ia menjadi Wakil Presiden. Karena utang itu sudah sangat lama, sekitar 18 tahun, Hatta yang ingin membayarnya dalam  Rupiah harus menghitungnya dengan bermacam-macam rumus seperti bunga dan segala macamnya hingga ketemu angka Rp 12.000.

Hidup dari Menulis

Telah diterangkan di awal bahwa mengandalkan uang beasiswa saja tidak cukup untuk hidup di Belanda. Lantas bagaimana Hatta bertahan hidup?

Sebelum berangkat ke Belanda, pada tahun 1921, Hatta berpamitan ke Percetakan Evolutie dan bertemu Kasuma St. Pamuntjak. Saat itulah Hatta ditawari untuk menulis di Harian Neratja. Hatta pun menerima tetapi dengan syarat honorariumnya ditingkatkan dari yang biasanya f 2,50 menjadi f 5 per-kolom, yang jika dikurskan menurut perhitungan sekarang sekitar Rp 400.000. Hatta akan langsung mengirimkan karangannya dari negeri Belanda. St. Pamuntjak pun sepakat. Jadi bisa dikatakan bahwa Hatta mulai menghidupi diri dari honorarium menulis sejak usia 19 tahun.

Pada Januari 1922, beberapa hari setelah menerima beasiswa pertama kali, Hatta mendapat kiriman wesel pos f 50 dari surat kabar Neratja untuk tiga karangan yang dikirimnya. Memang ia mendapat f 5 per-kolom, tetapi karena satu karangan tidak mesti muat 1 kolom, bisa lebih, ia mendapatkan sampai f 50. Perolehannya itu semakin memacu Hatta menulis.

Pada Bulan Agustus 1922, terjadi peristiwa menggemparkan dunia politik Eropa. Turki yang dipandang sebagai kerajaan yang hampir runtuh mampu memukul mundur tentara Yunani yang disokong penuh oleh Inggris. Tak pelak Perdana Menteri Inggris, Lloyd George dari Partai Liberal terpaksa mundur dan digantikan Bonar Law dari Partai Konservatif. Selagi Jerman dan Austria yang menjadi sekutu Turki menderita kekalahan dari Sekutu, Turki justru memperoleh kembali sebagian tanah airnya. Peristiwa ini oleh Hatta dijadikan bahan tulisan untuk surat kabar Neratja dan mendapatkan honorarium sebesar f 150.

Pada tahun 1923, pada saat aktif di Indische Vereeninging yang kemudian berganti menjadi Indonesische Vereeninging, organisasi tersebut mencetak majalah bernama Hindia Poetra. Hatta aktif menulis di koran tersebut. Ia membuat tulisan ilmiah pertamanya tentang praktik ordinansi sewa tanah di Indonesia yang menurutnya merugikan petani, yang karena cukup panjang harus dimuat di dua edisi  Hindia Poetra. Hal itu bertentangan dengan pendapat salah seorang pakar, Dr. Van Harreveld, yang berpendapat ordinansi menguntungkan petani.

Setelah itu, produktivitas Hatta dalam menulis seolah tak terbendung. Bahkan, setelah gagal ujian, ia masih menyempatkan diri untuk menyuplai karangan untuk Hindia Poetra dan Gedenkboek Indonesische Vereeniging, sembari tetap menulis untuk Neratja.

Kebiasaan menulis Hatta tidak hanya menolong saat menjadi mahasiswa saja. Saat tiba di tanah air, sekitar Oktober 1932, Hatta ditawari menjadi kepala redaktur Utusan Indonesia, sebuah surat kabar harian yang berkedudukan di Yogyakarta. Hatta tidak perlu sering datang ke Yogya, cukup memberi petunjuk kepada redaktur kedua, dan tidak perlu juga menulis karangan setiap hari. Meski begitu ia mendapatkan honorarium besar: f 100 setiap bulan.

Bisa dikatakan meski mendapatkan bayaran besar, posisinya di Utusan Indonesia hanyalah sampingan. Ia memiliki aktivitas utama di Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru), dengan majalah yang terbit tanggal 10, 20, dan 30 setiap bulannya bernama Daulat Ra’jat. Hatta rutin menulis di kolom majalah tersebut untuk mepropagandakan pemikiran-pemikiran dan sikap gerakannya.

Penghabisan tahun 1934, Hatta dan Sjahrir diasingkan ke Boven Digoel. Begitu kapal yang membawa mereka sampai di dermaga Surabaya, kepala redaktur surat kabar Pemandangan menawarkan Hatta menulis di surat kabarnya dengan honorarium f 5 per-kolom. Hatta sangat bersyukur dengan tawaran itu yang berarti ada sumber pencaharian selama di pembuangan. Untuk tulisan pertamanya tentang Socrates, Hatta menerima sekitar f 15. Ia masih terus menulis untuk surat kabar Pemandangan hingga ketika dipindah ke Banda Neira sampai tahun 1942.

Betapa uraian di atas menunjukkan bahwa menulis tidak bisa dilepaskan dari kehidupan Hatta. Bahkan dengan tulisan jua lah ia meminang istrinya. Setelah bersumpah hanya akan menikah setelah Indonesia merdeka, akhirnya pada November 1945 Hatta menikahi Rahmi Rahim yang saat itu masih berusia 19 tahun dengan mas kawin yang tidak diduga-duga: buku Alam Pikiran Yunani yang ditulisnya sendiri selama di masa pembuangan. Hal ini menunjukkan kalau menulis tidak hanya membuatnya mendapatkan gaji, tapi juga istri.

Menjadi Advisur

Banyak orang tidak menyadari bahwa Hatta pernah bekerja sebagai advisur. Padahal seorang advisur, atau istilahnya penasihat,  merupakan pekerjaan yang terhormat. Raja-raja zaman dulu memiliki penasihat, begitu pula dengan pedagang dan orang-orang penting. Jika ditarik ke masa sekarang, mungkin bisa disamakan dengan pekerjaan seorang konsultan.

Hatta mengawali pekerjaannya sebagai advisur setelah menolak jabatan sekretaris direksi. Saat itu ia baru saja pulang dari Belanda. Yang menarik, meskipun jabatannya adalah advisur, Hatta mengaku justru ia yang mendapatkan banyak pengetahuan dari pekerjaan tersebut. Dalam otobiografinya ia menulis:

“Kalau diperhatikan benar-benar, kedudukanku sebagai advisur itu lebih banyak memberi pengetahuan kepadaku daripada memberi advis, pengetahuan tentang praktik perniagaan. Goyang konjungtur (istilah untuk pasang surutnya perekonomian –pen) pun dapat kuikuti dari pembicaraanku dengan direksi Djohan Djohor.”

Pengakuan Hatta tersebut menunjukkan, betapa ia telah kuliah jauh sampai ke negeri Belanda, sebagai fresh graduate ia tetap harus belajar tentang kondisi lapangan dengan cara menyerap pengalaman orang-orang yang telah lama terjun di dunia perdagangan.

Pada akhir Februari 1933, atas kapasitasnya sebagai advisur, Etek Ayub Rais yang bekerja di Firma Djohan Djohor sebagai kepala urusan ekspor-impor, meminta Hatta menemaninya ke Jepang untuk urusan dagang dengan saudagar-saudagar di sana. Ia sempat bimbang, karena jika ia menerima tawaran tersebut berarti harus meninggalkan Indonesia selama dua bulan. Padahal saat itu perselisihan antara organisasinya, PNI Baru, dengan Partindo yang dipimpin Sukarno sedang panas-panasnya. Justru kawan-kawannya lah yang menghapus kebimbangan itu. Mereka menilai hal itu bagus untuk melihat dari dekat pergerakan fasisme yang baru muncul di negeri matahari terbit. Hatta pun akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran Etek Ayub Rais.

Setelah mengalami tahun-tahun perjuangan, hampir sepuluh tahun berselang Hatta kembali menjalankan tugasnya sebagai seorang advisur. Setelah mengambil alih wilayah Indonesia dari tangan Belanda, Pemerintah Militer Jepang (Gunseikan) membebaskan Hatta dan mengajaknya bekerja sama. Saat itu Perang Dunia II memang sedang meletus. Hatta pun menerima untuk bekerja sama dengan syarat ia tidak mau menjadi pegawai pemerintah. Dalam hal itu Hatta menulis:

“Lebih baik aku menjadi adviser saja, yang dengan bebas memberikan nasihat kepada Pemerintah Militer. Dalam hal ini aku tidak diperintah oleh salah seorang pembesar Jepang. Jadi, nasihatku itu berdasar pada tanggung jawabku sendiri.”

Gunseikan sepakat dengan tawaran Hatta. Tentang gaji, memang tidak disebutkan berapanya, namun ia mendapatkan beberapa hak dari pekerjaannya tersebut. Hatta berhak menempati sebuah kantor dan merekrut orang-orang untuk membantunya sebagai staf.

Keberadaan Hatta sebagai penasihat pemerintah sangat membantu pergerakan. Bisa dikatakan ia menjadi perantara rakyat dengan pemerintah. Pernah suatu ketika Gunseikan bertanya kepada Hatta apa sikap Islam terhadap praktik seikere, yakni membungkuk ke arah Tokyo untuk menghormati kaisar Jepang, Tenno Heika. Hatta menjawab bahwa membungkuk kepada orang di depannya boleh sebagai penghormatan, tetapi jika membungkuk ke Tokyo yang jauh tidak diperbolehkan.

Beberapa nasihat yang diberikan Hatta ke pemerintah Jepang antara lain: anjuran kepada prajurit Jepang untuk memperhatikan perbedaan adat-istiadat antara di Jepang dengan di Indonesia. Hal itu dilatarbelakangi prajurit Jepang yang suka menempeleng kepala. Ia juga yang memberikan saran kepada Gunseikan untuk tidak lagi mengejar Amir Sjarifuddin. Mereka pun menuruti sarannya itu. Serta, masih ada beberapa nasihat-nasihat Hatta yang sangat panjang jika harus dijabarkan di sini.

Pihak Jepang sangat menghargai anjuran-anjuran Hatta. Itu karena Hatta menunjukkan perannya sebagai seorang intelektual yang professional. Bahkan, Pemerintah Militer Jepang memintanya pergi ke Tokyo secara khusus untuk meneliti ajaran Jepang, Niphon Sheishin, lalu menuliskannya ke dalam bahasa Indonesia untuk disebarkan. Meskipun akhirnya tidak diketahui apakah buku tersebut jadi ditulis atau tidak, karena Indonesia keburu merdeka pada tahun 1945.

Penghasilan Lain

Ada satu sumber penghasilan Hatta selama masa berjuang yang belum saya sebutkan di atas, yakni tunjangan yang diberikan oleh Pemerintah Kolonial Belanda kepadanya selama masa pembuangan. Di Boven Digoel ia tidak mendapat tunjangan berupa uang karena menolak untuk bekerja kepada pemerintah. Ia pun hanya mendapatkan ransum seperti beras dan keperluan sehari-hari. Sempat pemerintah menawarkannya uang f 7,50 tapi ia menolaknya. Di Banda Neira ia mendapatkan f 75 sebulan, sedangkan di Sukabumi f 100 sebulan. Hal ini tidak perlu saya bahas panjang lebar karena yang namanya tunjangan memang begitu adanya.

Penutup

Dari uraian yang cukup panjang di atas, kita bisa melihat bahwa seorang Mohammad Hatta pun juga manusia biasa yang membutuhkan gaji dan penghidupan. Selama berjuang ia tetap bekerja, bahkan saat diasingkan pun ia masih bisa menghasilkan uang dari tulisan. Namun, yang membedakannya dengan orang lain, ia memiliki prinsip dalam menerima pekerjaan. Contoh paling nyata adalah saat ditawari posisi sekretaris direksi. Ia menolak karena lebih mendahulukan pergerakan ketimbang karir yang cemerlang. Ketika dibuang di Boven Digoel pun ia juga tidak mau bekerja sama untuk sekedar mendapatkan penghasilan. Bahkan, ia menerima tawaran sebagai penasihat Pemerintah Militer Jepang dengan syarat mendapat posisi yang independen.

Riwayat kehidupan Bapak Proklamator tersebut dapat kita jadikan teladan, bahwa betapapun kita harus menghidupi diri, entah itu dengan menulis, membuka usaha, menjadi pengajar, atau pekerjaan-pekerjaan lainnya yang pantas, perjuangan harus terus dilanjutkan! []

* * *

Rujukan Utama:
Mohammad Hatta, 2011, Untuk Negeriku: Sebuah Biografi Jilid 1-3, Jakarta: Penerbit Buku Kompas

Rujukan Pendukung
Seri Buku Tempo: Bapak Bangsa, 2010, Hatta: Jejak Yang Melampaui Zaman, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia

Lampiran

Gambar 1: Kurs Gulden tahun 1920 ke Rupiah tahun 2016

Gambar 2: tabel tentang riwayat pekerjaan Hatta beserta keterangan gajinya.

  • view 1.8 K