Menjaga Cita Impian

Gading Aurizki
Karya Gading Aurizki Kategori Inspiratif
dipublikasikan 01 Agustus 2016
Catatan Akhir Kuliah

Catatan Akhir Kuliah


Selama 6 tahun di kampus, telah banyak pengalaman yang saya dapatkan. Karena itu, saya akan membagikannya di sini setiap hari Senin dan Kamis pukul 18.00 WIB. Semoga menginspirasi!

Kategori Acak

1.6 K Hak Cipta Terlindungi
Menjaga Cita Impian

“Saat tertidur engkau dapat bermimpi, namun saat bangun engkau dapat mewujudkannya...”
(Gading Aurizki)

* * *

Dahulu saya termasuk orang yang tidak percaya mimpi. Saya merasa bahwa bermimpi itu tidak perlu. Yang saya pahami adalah, kita jalani saja hidup seperti air mengalir. Let it flow. Tidak ada perencanaan jangka panjang. Tidak ada target. Hadapi apa yang ada di depan. Putuskan apa yang perlu diputuskan. Tidak usah merisaukan apa yang belum datang. Dengan cara hidup seperti itu, toh saya tetap mendapatkan banyak hal.

Sejak sekolah dasar sampai SMA, meskipun tidak dapat dikatakan sangat cemerlang, tapi saya berhasil memperoleh beberapa prestasi. Mulai dari juara lomba tingkat sekolah, mendapatkan NEM terbaik di kelas, menjadi delegasi Raimuna Nasional Pramuka tahun 2008 di Cibubur, ketua OSIS, hingga juara beberapa lomba tingkat kota atau nasional.

Tapi begitu sampai titik ini saya menyesal. Andai dulu saya membuat perencanaan dan mengikrarkan mimpi-mimpi, tentu saya akan mendapatkan capaian yang lebih baik!

Begitu masuk kuliah, barulah saya tersadarkan bahwa hidup harus direncanakan. Kita harus memiliki impian. Hal ini telah saya bahas pada Catatan Akhir Kampus periode Senin pekan lalu. Nah, kali ini saya ingin membahas kelanjutannya, yakni bagaimana kita menjaga impian-impian kita sampai terwujud menjadi kenyataan.

* * *

Kalimat yang saya cantumkan di atas merupakan motto saya selama beberapa tahun di perkuliahan. “Saat tertidur engkau dapat bermimpi, namun saat bangun engkau dapat mewujudkannya...” Maksudnya, ketika kita tertidur—pasif—kita bisa memiliki impian-impian. Namun tidak cukup sampai di situ, untuk mewujudkannya kita harus bangun—aktif—yakni dengan terus menjaga impian tersebut dan berusaha mewujudkannya. Tidak sekedar menunggu durian jatuh dari pohonnya. Harus ada usaha, sekecil apapun itu.

Nah, kali ini saya ingin berbagi pengalaman bagaimana saya menjaga impian-impian saya agar tetap berada pada track-nya. Kita tentu menyadari bahwa—seperti kata pepatah: “Man purposes God disposes”—tidak semua impian kita terwujud persis seperti yang kita impikan, tetapi paling tidak kita sudah berusaha untuk menjaganya. Cara apa saja yang saya gunakan untuk menjaga impian-impian tersebut?

Pertama, Daftar Target dan Peta Hidup

Saya pertama kali mengenal metode ini dari video mas Danang Ambar Prabowo, seperti yang sudah saya ceritakan pada catatan sebelumnya. Namun, saya lebih bisa memaknainya setelah mengikuti pelatihan MHMMD (Mengelola Hidup Merencanakan Masa Depan).

Di MHMMD saya diajari untuk membuat Peta Hidup. Sebelum sampai pada tahapan membuat Peta Hidup, kita harus bisa memetakan potensi diri internal, potensi eksternal, sampai membuat rincian-rincian apa goal terbesar dalam hidup kita. Setelah membuat peta hidup yang sifatnya tahunan, kita diminta untuk memecahnya (breakdown) menjadi targetan bulanan, lalu mingguan, hingga harian.

Memang, kita tidak harus sampai mengikuti pelatihan MHMMD. Cukup dengan menguasai semangatnya, yakni bagaimana kita membuat perencanaan sedetail mungkin. Prinsipnya adalah: gagal membuat perencanaan, berarti merencanakan kegagalan. Manfaatnya cukup terasa, yakni hidup kita akan semakin terarah. Begitu satu impian tercapai, kita akan terpacu untuk mencapai impian yang lain.

Ini contoh Peta Hidup. Tapi ini bukan Peta Hidup saya, tetapi ambil di mbah google. Punya saya masih di rumah, nulisnya sekarang di kampus.

Kedua, Visualisasi Mimpi

Ingat visualisasi mimpi, ingat asrama PPSDMS. Ya, karena yang menugaskan saya dan kawan-kawan untuk membuat visualisasi mimpi adalah Bang Bachtiar yang sekarang menjawab direktur eksekutif Rumah Kepemimpinan (nama baru PPSDMS). Saat itu kami diminta membuat video selama kurang lebih 3 menit tentang impian-impian kita. Kenapa harus divideokan? Katanya sih kalau berbentuk visual akan lebih nancap di kepala ketimbang sekedar tulisan. Selain itu juga untuk mengasah kreativitas.

Ini adalah Visualisasi Mimpi yang saya buat saat di Asrama. Mohon jangan ditertawakan ya.

Visualisasi mimpi tidak harus berbentuk video. Saya juga menganggap editan photoshop—misal foto di sebelah Eiffel, tapi crop-cropan—juga sebagai bentuk visualisasi mimpi. Yang jelas, inti dari visualisasi mimpi ini adalah impian kita diwujudkan dalam bentuk visual, baik itu video maupun gambar. Sebelumnya saya juga pernah bercerita kalau saya mencoret-coret peta dunia, itu juga bentuk visualisasi mimpi. Jadi, tidak ada patokan bentuk visualisasi itu seperti apa, yang jelas adalah wujudkan ide kita sekreatif mungkin.

Ini adalah (replika) peta saat saya menorehkan coretan di Belanda dan terwujud menjadi Beasiswa ke Belanda pada tahun 2013.

Ketiga, Teman Sehidup Sevisi

Saya katakan ini adalah cara terbaik. Mengapa? Karena perjalanan menggapai impian itu tidak mudah. Terkadang kita lelah, lalu ingin berhenti. Nah, ketika kita memiliki teman yang juga hendak menggapai impian tersebut kita akan terpacu terus. Teman kita juga pasti akan mengingatkan jika kita sudah mulai keluar dari track.

Saya beruntung memiliki kawan-kawan yang mendukung saya menggapai impian. Sebut saja Arif Syaifurrisal, direktur Pustaka Saga. Ketika saya mulai tersibukkan dengan tugas-tugas profesi, dia tetap istiqomah mengawal Pustaka Saga sehingga saya mau tidak mau tetap juga ikut mengurusi, meskipun dengan intensitas tidak seberapa. Ia tetap menjaga impian saya membesarkan penerbitan ini di saat saya sudah mulai tersibukkan dengan hal-hal lain.

Selain itu, ada juga teman hidup. Iyaa... teman hidup. Sehidup sesurga. Aamiin.. (NB: hanya bagi yang sudah punya). Ketika kita memiliki impian besar, pastikan ia mendukungnya. Dengan begitu kita bisa bersama-sama berjuang untuk mewujudkan impian tersebut.

[NO PHOTO]

* * *

Sebenarnya masih banyak cara lain untuk menjaga impian-impian kita. Tapi, semoga ketiga hal tersebut cukup mewakili. Saya sangat berharap ada diskusi lebih panjang lagi mengenai hal ini. Barangkali jika ada yang ingin berbagai pengalamannya, yang mungkin berbeda dengan saya, saya akan menyambut gembira sekali. []

 =======

Bonus: berikut ini adalah bonus beberapa video tambahan tentang impian dan capaian saya. Kalau mau lihat syaratnya satu: jangan ditertawakan. Hehehe...

  • view 426