Nilai Akhir Semester

Gading Aurizki
Karya Gading Aurizki Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 31 Juli 2016
Nilai Akhir Semester

Menjelang hari-hari penghabisan semester gasal, kampus-kampus mulai sepi. Seorang mahasiswa berjalan cepat melintasi lorong sebuah kampus kedokteran di Surabaya. Ia tampak terburu-buru, sampai bulir-bulir keringat membasahi dahi dan pelipisnya. Di tangannya terdapat selembar kertas berwarna putih yang bertuliskan nilai-nilai semester ini. Ia hendak mendatangi ruangan seorang profesor dan berniat mempertanyakan penilaiannya.

Ia mengetuk pintu ruangan profesor tersebut dengan suasana hati bergemuruh. Hal itu tergambar dari raut wajahnya yang tak bersahabat. Sekali.. dua kali.. Pintu tua setinggi hampir tiga meter itu tak jua terbuka. Apakah sang profesor tidak berada di tempat? Batinnya kesal. Tapi urusan ini harus diselesaikan. Ia tak mau menunggu barang semalam. Karenanya, ia pun memutuskan untuk tetap di sana sampai sang profesor datang.

* * *

Ia melihat sang profesor masuk ke dalam ruangannya. Di matanya sang profesor terlihat sangat arogan. Memandang wajahnya saja membuat ia semakin berhasrat untuk melakukan protes. Tanpa pikir panjang ia langsung membuntuti profesor ke dalam. Melihat ada seseorang yang masuk tanpa seizinnya, sang profesor yang sedang duduk di kursi pun terkejut.

“Apa maksud saudara masuk ke sini?” tanyanya keheranan.

Si mahasiswa langsung duduk di hadapannya.

“Saya lah yang harusnya bertanya, apa yang membuat profesor memberi saya nilai seperti ini?” balas si mahasiswa sembari menunjukkan transkrip nilainya.

Sang profesor memandang kertas itu dan mendapati deretan nilai A, kecuali satu,  yakni pada mata kuliah yang diampunya. Untuk mata kuliah Filsafat dan Etika Kedokteran sang profesor mengganjar mahasiswa tersebut dengan nilai B. Ia pun tersenyum kecut.

“Apa yang saudara permasalahkan dengan nilai ini? Bukankah mata kuliah saya tidak berpengaruh besar pada keseluruhan nilai saudara? Saya beri saudara nilai BC—atau bahkan C—pun saudara akan tetap menjadi yang terbaik di kelas.” Kata sang profesor.

“Ini tidak ada kaitannya dengan nilai mata kuliah yang lain. Saya hanya hendak memprotes nilai yang profesor berikan. Saya rasa itu tidak layak.” Si mahasiswa tidak mau kalah.

“Tidak layak bagaimana?”

“Profesor memberikan nilai B hanya kepada saya, sedangkan rekan-rekan saya yang lain mendapatkan nilai A untuk mata kuliah Filsafat dan Etika Kedokteran.”

“Lalu, apa permasalahannya? Tidakkah saudara melihat, banyak rekan-rekan saudara yang mendapatkan nilai B, BC, atau bahkan C di mata kuliah lain tidak melakukan protes ke dosen mereka. Padahal itu berpengaruh besar pada keseluruhan nilai mereka. Sedangkan saudara, yang diberi anugerah mendapatkan nilai hampir semuanya A, harus pusing dengan nilai B di mata kuliah saya yang kreditnya tak seberapa.”

Mahasiswa itu merasa sang profesor berusaha mengaburkan permasalahan.

“Profesor tidak perlu membanding-bandingkan dengan mata kuliah lain.” Kata si mahasiswa lugas. “Karena masalahnya ada pada cara profesor memberikan penilaian. Profesor memberikan penilaian atas dasar suka tidak suka, bukan kebenaran ilmiah.”

“Apakah saudara bisa menunjukkan dasar dari kalimat saudara itu?”

“Ya, jika itu yang profesor minta.” Si mahasiswa berbicara dengan penuh keyakinan. “Jika profesor bertanya kepada rekan saya satu kelas, siapa yang paling cakap dalam mata kuliah filsafat dan etika, mereka pasti akan menunjuk saya. Profesor juga bisa menilai sendiri dari performa diskusi saya. Tetapi, mengapa saya yang diakui memiliki kecakapan lebih justru mendapatkan nilai lebih rendah dari mereka yang hanya bisa mengangguk-angguk saat menerima pelajaran dari profesor?”

“Saudara sombong sekali berkata seperti itu!” nada bicara sang profesor meninggi. “Apa perlu saya sampaikan juga bahwa jawaban ujian saudara sama sekali salah? Saat sesi diskusi pendirian saudara juga salah! Saya masih bermurah hati memberi saudara nilai B. Harusnya saudara mencontoh rekan-rekan saudara yang mengikuti pelajaran saya dengan baik jika ingin memperoleh nilai A.”

“Tidak. Saya yakin jawaban saya tidak salah. Kalimat terakhir tadi menunjukkan kalau profesor memberi mereka nilai A bukan semata karena kecakapan mereka, melainkan karena mereka menuruti begitu saja jawaban profesor. Sebaliknya, profesor menilai saya salah karena saya sering berbeda pendapat dengan profesor.”

Sang profesor tersenyum kecut. “Bagaimana saudara ini? Bukankah jika saudara tidak mengikuti jawaban saya sebagai pembuat soal berarti saudara salah?”

“Mengapa jika jawaban berbeda dengan profesor berarti salah? Apakah profesor hendak mendaku diri sebagai standar kebenaran?” tandas si mahasiswa.

Sang profesor terdiam sejenak, lalu berkata, “Tidak, saya sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Tapi dalam kasus ini, saya bisa menunjukkan kesalahan jawaban saudara.”

Setelah menyelesaikan kalimatnya, sang profesor berjalan menuju sebuah almari dan mengambil map berwarna biru. Ia membolak-balik isi map tersebut sampai menemukan apa yang ia cari.

“Coba lihat, saudara mengatakan bahwa transplantasi organ dari pasien anencephaly[1] kepada pasien lain atas permintaan orang tuanya tidaklah etis. Ini sudah jelas salah. Jawaban yang benar adalah etis.” Kata sang profesor.

“Ada yang berpendapat itu tidak etis, dan saya telah menjabarkan argumentasinya. Jika mengacu pada pendapat Immanuel Kant, kita tidak dibenarkan menjadikan seseorang sebagai ‘sarana’ bagi kehidupan orang lain. Memang, harapan hidup pasien anencephaly adalah 0%, tapi itu tidak dapat menjadi justifikasi kalau ia boleh dipergunakan sebagai supplier organ bagi pasien lain.”

“Apakah itu berarti saudara mengatakan donor organ tidak etis?” sang profesor berusaha melebarkan pembahasan.

“Saya tidak mengatakan seperti itu.” Sanggah si mahasiswa. “Pertanyaan profesor kurang tepat karena kasus donor organ bisa jadi sangat umum, sedangkan yang menjadi soal adalah kasus anencephaly yang khusus.”

“Coba saudara terangkan, apa dasar Kant mengatakan itu tidak boleh?”

“Karena manusia memiliki martabat.” Jawab si mahasiswa. “Manusia adalah makhluk rasional. Mereka memiliki kebebasan mengambil keputusan sendiri, menempatkan tujuan-tujuan mereka sendiri, dan menuntun perilaku mereka dengan akal budi. Itulah mengapa donor organ etis jika yang bersangkutan merelakan diri menjadi pendonor. Keputusan itu tidak dapat diambil alih oleh orang lain seperti yang tercantum pada soal.”

“Argumen saudara itu sekaligus menunjukkan kelemahan saudara dalam menilai kasus tersebut.” Kata sang profesor. “Apakah saudara pernah menjumpai pasien anencephaly? Apakah saudara memahami posisi dokter yang menangani pasien seperti itu? Saya yakin saudara sama sekali tidak tahu, karena kelainan ini sangat jarang ditemukan.”

Si mahasiswa terdiam, menanti apa yang akan dikatakan profesor selanjutnya.

“Saudara berpendapat hanya berdasarkan teori, sedangkan saya membuat soal ini berdasarkan pengalaman saya sebagai dokter bedah anak. Saya pertama kali menjumpainya ketika menempuh studi doktoral di Florida tahun 1992. Saat itu kasus Bayi Theresa yang mengalami anencephaly menuai perdebatan panjang di Amerika.”

Sang mahasiswa keberatan dengan argumen profesornya. “Pengalaman tidak otomatis menjadi justifikasi sebuah kebenaran, prof.”

“Ya, saya sangat paham. Tapi saudara perlu tahu bahwa mereka yang lebih berpengalaman lebih mendekati kebenaran.” Kata sang profesor yakin.

Sebelum mahasiswanya menyahut sang profesor melanjutkan kalimatnya. “Pasien anencephaly atau rumpang otak lahir tanpa cerebrum[2] dan cerebellum[3], sehingga bisa dikatakan bayi ini tidak memiliki otak. Ia bisa hidup karena masih memiliki batang otak, sehingga organ-organ yang berjalan otonom seperti jantung dan paru-paru tetap berfungsi. Dengan kata lain, meskipun terlahir sebagai manusia, sejatinya ia bukan makhluk rasional. Ia tidak akan memiliki kehidupan seperti manusia pada umumnya. Itulah mengapa saya mengatakan argumentasi saudara melemahkan jawaban saudara sendiri.”

“Tapi kita bisa mengasumsikan bahwa meskipun bayi itu tidak memiliki otak, ia tetaplah manusia yang tidak pantas diperlakukan sewenang-wenang.” Kata si mahasiswa. “Jika profesor menyatakan bahwa pendapat ‘tidak etis’ adalah salah, coba terangkan kepada saya mengapa jawaban ‘etis’ itu benar?” lanjutnya menantang.

Sang profesor tertawa. “Saudara hendak menguji saya ya? Hahaha... Baru pertama kali ini saya menjumpai mahasiswa yang benar-benar keras kepala seperti saudara.”

“Saya hanya mempertahankan sesuatu yang saya yakini kebenarannya.” Kata si mahasiswa.

“Baiklah jika itu yang saudara minta,” Ucap sang profesor. “Apa yang menjadi  dasar saya adalah manfaat yang sebesar-besarnya. Setiap tahun banyak anak-anak yang meninggal dunia karena tidak mendapatkan donor organ tepat pada waktunya. Ketika ada orangtua yang meminta dokter mendonorkan organ-organ anaknya yang anencephaly, tentu jauh lebih bermanfaat daripada membiarkannya meninggal dunia begitu saja, bukan? Toh, orang tuanya sama sekali tidak keberatan melepas bayinya seperti itu, justru mereka bangga. Lagipula, jika bayi tersebut hidup ia tidak akan menjadi manusia yang utuh.”

Sang profesor lalu tersenyum, “Apakah ada sanggahan terhadap pernyataan saya?”

“Lantas bagaimana dengan hak bayi tersebut untuk hidup?” tanya si mahasiswa. “Sekali lagi, meskipun ia memang tidak memiliki harapan hidup lama, tetapi hak-hak itu tetap melekat pada dirinya sebagai manusia yang lahir merdeka. Kita tidak bisa serta merta mengambil nyawanya, pun sudah mendapatkan persetujuan dari orang tuanya.”

“Ah...” sang profesor mendesah. “Begini, saudara... terkadang berpegang pada hal-hal semacam itu justru merepotkan. Apakah saudara pernah mendengar kasus Bayi Theresa yang saya ceritakan tadi? Saat itu hukum di Florida melarang transplantasi sebelum pendonor meninggal dunia, kecuali transplantasi ginjal dan hati. Namun, apa yang terjadi setelah Bayi Theresa meninggal dunia dalam usia sembilan hari? Transplantasi gagal! Organ-organnya sudah rusak dan tidak bisa didonorkan lagi. Hal itu merupakan kerugian besar bagi anak-anak lain yang membutuhkannya.”

“Mengapa profesor selalu melihat anak-anak lain, tanpa memikirkan bayinya sendiri?”

“Karena sebagai dokter kita harus melihat manfaat yang lebih besar.”

Si mahasiswa terdiam. Ia sedang memikirkan sesuatu.

“Bagaimana kalau saya menyimpulkan begini?” ujarnya. “Pada akhirnya saya harus mengakui bahwa jawaban profesor benar, karena profesor memang memegang prinsip Utilitarianisme ala David Hume yang dipopulerkan Jeremy Bentham dan John Stuart Mill. Bagaimana pun saya berargumen, profesor akan melihat pendapat saya salah karena pertimbangan profesor hanya berkutat pada masalah manfaat, kebahagiaan, serta akibat-akibat dari sebuah tindakan sebagaimana para utilitarianis berpikir. Sedangkan saya, yang mengambil sudut pandang Kant, menilai bahwa hak, keadilan, dan martabat manusia jauh lebih penting daripada hitungan untung-rugi atau manfaat. Saya rasa perdebatan ini tidak akan menemui ujungnya, karena kita menggunakan sudut pandang yang berbeda.”

Sang profesor terkejut dengan pernyataan mahasiswa yang masih duduk di hadapannya.

“Jadi, saya rasa kita tidak perlu memperpanjangnya.” Ucap si mahasiswa. “Karena jika pandangan profesor seperti itu saya tidak akan pernah mendapatkan nilai A.”

Mahasiswa tersebut meminta diri. Ia bangkit dari kursinya hendak keluar ruangan.

“Sebentar!” Sang profesor mencegahnya. “Bagaimana saudara tahu hal-hal semacam itu?”

Si mahasiswa tersenyum. “Bukankah profesor sendiri yang meminta saya membaca beberapa buku tentang filsafat dan etika? Itu adalah kesimpulan saya setelah membaca buku-buku tersebut. Terima kasih atas bimbingannya.”

Setelah itu mahasiswa tersebut langsung bergegas meninggalkan ruangan. Sedangkan sang profesor masih terduduk di kursinya mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.

* * *

“Mas...mas, bangun, mas.”

Ia mendengar seseorang memanggil. Ketika membuka mata ia terkejut karena seorang pegawai fakultas berjongkok di sebelahnya. “Astaga!”

“Sudah maghrib, mas. Masnya tidak berniat tidur di sini, kan?” tanya pegawai itu.

Si mahasiswa masih kebingungan. Ia pun bertanya, “Prof. Suryo sudah pulang, pak?”

“Sudah. Sekitar setengah jam yang lalu. Masnya nunggu beliau?”

“Iya.” Jawabnya sambil melirik transkrip yang di dalamnya masih tercantum nilai “B”.

“Besok saja kalau mau bertemu. Beliau biasanya datang pagi-pagi sekali.”

“Iya, pak. Terima kasih. Tapi sepertinya saya tidak jadi menemui beliau.”

“Ya, itu terserah masnya. Yang terpenting ayo segera shalat Maghrib. Saya juga mau ke masjid ini.”

“Baik, pak. Terima kasih sudah dibangunkan.”

“Iya, sama-sama mas.” []

 

Keterangan:
[1] Terlahir tanpa otak
[2] Otak besar
[3] Otak kecil

  • view 404

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    kalo menurut kajian Fiqih, hukum donor dari anencephaly ini gimana, Mas?

    • Lihat 3 Respon

  • DEBORA KAREN
    DEBORA KAREN
    1 tahun yang lalu.
    Aku belum baca udah mikir

  • Eny Wulandari
    Eny Wulandari
    1 tahun yang lalu.
    Wow! Bacanya sambil mikir sebab banyak istilah kedokteran dan filsafatnya, hehe..

    • Lihat 4 Respon