Mentor, Spesialis, dan Perawat Strategis

Gading Aurizki
Karya Gading Aurizki Kategori Renungan
dipublikasikan 28 Juli 2016
Catatan Akhir Kuliah

Catatan Akhir Kuliah


Selama 6 tahun di kampus, telah banyak pengalaman yang saya dapatkan. Karena itu, saya akan membagikannya di sini setiap hari Senin dan Kamis pukul 18.00 WIB. Semoga menginspirasi!

Kategori Acak

1.7 K Hak Cipta Terlindungi
Mentor, Spesialis, dan Perawat Strategis

Sebagai alumnus Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis (PPSDMS), saya menyimpulkan ada tiga hal yang bisa ditempuh untuk menjadi manusia strategis: pertama, menjadi penguasa; kedua, menjadi figur publik; dan ketiga, menjadi ahli atau spesialis.

Penguasa strategis karena kekuasaannya. Mereka bisa membuat kebijakan dengan cakupan pengaruh yang sangat luas. Jika ia membuat kebijakan, banyak orang akan terkena dampaknya. Figur publik strategis karena banyak yang mengenal mereka. Mereka menjadi panutan banyak orang baik dalam hal pemikiran, perilaku, maupun gaya hidup. Sekali mereka menampilkan sesuatu, banyak orang akan mengikuti. Sedangkan ahli atau spesialis memiliki posisi strategis karena mereka menjadi rujukan banyak orang atas suatu perkara. Semisal di dunia hanya satu orang yang sangat ahli di bidang A, dapat dipastikan seluruh dunia akan merujuk kepadanya dalam bidang yang menjadi spesialisasinya tersebut.

* * *

Berasal dari keluarga dengan latar belakang sederhana dan tinggal di daerah yang cukup jauh dari hiruk pikuk perkotaan, saya menyadari pilihan saya untuk menjadi seseorang yang strategis sangatlah terbatas. Memang, ada beberapa tokoh yang diberi anugerah kesuksesan dengan mendobrak mitos latar belakang tersebut, dulu apa sekarang jadi apa. Namun, tidak semua orang bisa seperti itu. Ada faktor-x yang mungkin tidak kita miliki mengiringi kesuksesan mereka. Karenanya, sudah saatnya realistis dengan keadaan.

Sebagai seorang ners muda, saya telah mengeliminasi cara menjadi strategis pertama dan kedua dari rencana hidup saya. Menjadi penguasa butuh modal, dan para penguasa biasanya juga memiliki keluarga yang juga penguasa, sedangkan saya tidak punya modal apa-apa dan keluarga saya bukan siapa-siapa. Selain itu saya juga tidak terlalu lihai dalam urusan politik, dan sejujurnya tidak betah berada di dalamnya. Bagaimana dengan menjadi figur publik? Kurang lebih sama. Saya bukan tipe orang yang mudah dikenal orang, bahkan secara pribadi saya cenderung tertutup. Oleh karena itu, satu-satunya jalan bagi saya agar memiliki peran strategis adalah cara terakhir: saya harus menjadi seorang ahli atau spesialis!

Saat mengambil keputusan tersebut, saya sangat sadar bahwa jalan menuju ke sana sama sekali tidak mudah, bahkan teramat sangat sulit! Setidaknya ada dua alasan mengapa menjadi seorang ahli atau spesialis bukan pekerjaan gampang:

Pertama, perlu waktu yang panjang untuk menempuhnya. Malcolm Gladwell dalam bukunya Outliers menulis untuk menjadi seorang ahli di bidang tertentu seseorang harus berlatih dan menjalani hidup di bidangnya tersebut selama sepuluh ribu jam! Artinya, keahlian atau spesialisasi tersebut tidak bisa kita raih dalam waktu singkat. Butuh kesabaran dan kerja keras yang seringkali tersembunyi dari pantauan publik.

Kedua, seorang ahli harus memiliki daya cipta. Artinya, tidak cukup dengan belajar menyerap semua pengetahuan dan keterampilan, namun juga harus memiliki sesuatu yang baru dan orisinil sebagai sumbangsih bagi pengembangan bidang tersebut. Saya sangat terinspirasi oleh kisah ahli matematika peraih Hadiah Nobel bidang ekonomi, John Nash. Dalam film biografinya, A Beautiful Mind, John Nash yang diperankan oleh Russell Crowe berkata, “Find a truly original idea. It is the only way I will ever distinguish myself. It is the only way I will ever matter.

Lantas, bagaimana caranya menjadi seorang ahli? Pertanyaan tersebut menggelayuti pikiran saya setelah saya mengambil keputusan itu. Saya pun mencoba untuk belajar secara otodidak dengan melahap banyak buku di bidang yang ingin saya tekuni. Namun, pada satu titik, saya merasa hal tersebut kurang efektif. Mengapa? “Hidup itu pendek,” tulis Robert Greene dalam buku Mastery, “dan waktu Anda untuk belajar dan kreativitas begitu terbatas. Tanpa sebuah panduan, Anda dapat membuang tahun-tahun berharga dengan mencoba untuk mendapatkan pengetahuan dan praktik dari beragam sumber.”

Dari situ saya menyadari, kita tidak bisa menjadi seorang ahli hanya dengan belajar sendiri tanpa memiliki panduan yang jelas. “Sebagai gantinya,” lanjut Greene, “Anda harus mengikuti seperangkat contoh dari para Master sepanjang zaman dan menemukan mentor yang sesuai.” Artinya, untuk menjadi ahli, kita harus belajar langsung dari ahlinya!

* * *

Robert Greene menyebut hubungan mentor-anak didik merupakan bentuk paling efisien dan produktif dalam pembelajaran. Mentor yang tepat dapat mengarahkan fokus kita pada bidang yang ingin kita kuasai dan juga memberikan umpan balik (feedback) terhadap capaian kita. Hal inilah yang kemudian akan membuat kita berkembang cepat.

Sebagai calon perawat yang ingin menjadi ahli, saya pun mencoba menelusuri jejak perawat yang telah diakui keahliannya oleh dunia. Dan ditinjau dari berbagai sisi, saya menganggap Florence Nightingale adalah perawat teragung dalam sejarah dan dapat dijadikan teladan bagi perawat lain dari berbagai generasi. Karya, pemikiran, kontribusi, dan pengakuan orang-orang terhadapnya telah membuktikan hal tersebut. Lantas, apakah Nightingale mendapatkan kemampuan tersebut secara tiba-tiba? Tentu saja tidak. Nightingale pun juga memiliki mentor yang mempengaruhi pemikiran dan metodenya.

Adalah L.A.J Quetelet (1796-1874), seorang ahli astronomi dan statistik dari Belgia yang membentuk metodologi berpikir Nightingale dalam melahirkan berbagai karya luar biasa. Nightingale membaca karya-karya Quetelet seperti Physique sociale (1835), Système social (1848), dan Anthropométrie (1870), yang metodologinya ia gunakan untuk menulis buku Notes on Lying-in Institutions (1872). Pemikiran Nightingale pun banyak yang mirip dengan Quetelet karena interaksi yang intensif, seperti pandangan bahwa administrasi rumah sakit yang baik menyelamatkan lebih banyak nyawa pasien daripada skill dokter paling ahli sekalipun, dan tindakan medis berpengaruh kecil terhadap angka kematian di rumah sakit. Terlepas dari adanya satu-dua perbedaan pandangan di antara mereka berdua, Quetelet tetaplah mentor yang memberikan pengaruh besar terhadap karir cemerlang Nightingale.

Lantas, jika Nightingale yang begitu cemerlang saja juga memiliki mentor, mengapa kita yang bukan siapa-siapa tidak menempuh jalan serupa? []

  • view 261