Berani Bermimpi

Gading Aurizki
Karya Gading Aurizki Kategori Inspiratif
dipublikasikan 25 Juli 2016
Catatan Akhir Kuliah

Catatan Akhir Kuliah


Selama 6 tahun di kampus, telah banyak pengalaman yang saya dapatkan. Karena itu, saya akan membagikannya di sini setiap hari Senin dan Kamis pukul 18.00 WIB. Semoga menginspirasi!

Kategori Acak

2 K Hak Cipta Terlindungi
Berani Bermimpi

“I have a dream...” (Marthin Luther King, Jr.)

“Mimpi adalah kunci, untuk kita menaklukkan dunia...” (Nidji – OST. Laskar Pelangi)

“I dreamed a dream in time gone by, when hope was high and life worth living...” (OST. Les Miserables)

“Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.” (Ir. Sukarno)

* * *

Membicarakan impian berarti berbicara sesuatu yang indah didengar. Seperti kalau kita dibawa kembali ke imajinasi masa kecil tentang dunia putri dan pangeran, peri-peri, atau kemenangan tokoh utama pada fiksi kanak-kanak. Namun, setelah kita beranjak dewasa, masihkah kita mempercayai impian?

Saya berani bermimpi besar baru-baru saja, yakni saat saya masuk ke dunia kampus. Ya, saat masih menjadi mahasiswa baru ada sebuah video yang rasanya telah ditonton oleh semua mahasiswa baru generasi saya. Video yang saya maksud adalah video Mas Danang Ambar Prabowo, seorang mahasiswa Institut Pertanian Bogor yang menuliskan impiannya di selembar kertas lalu mencoretnya ketika impian tersebut terwujud.

Dalam video tersebut Mas Danang menyebut apa saja yang ditulisnya di kertas impian, lalu satu persatu beliau tunjukkan impian tersebut bisa terwujud, mulai dari menjadi Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) Utama Nasional, mengikuti PIMNAS, MTQ, hingga akhirnya sekolah ke luar negeri. Beliau sendiri sekarang sudah menggondol gelar doktor dari salah satu universitas di Jepang. Setelah menonton video tersebut saya pun bertekad, suatu saat saya harus mencatatkan prestasi serupa, kalau bisa lebih! Sejak saat itu, petualangan menggapai impian saya pun bermula.

Banyak capaian saya yang bermula dari impian. Ya, awalnya impian sekedarnya, hingga kemudian saya sendiri terkejut ketika itu terwujud menjadi nyata. Berikut ini adalah beberapa contoh impian yang semoga bisa menjadi inspirasi:

Pidato Penyambutan Mahasiswa Baru

Tanggal 18 Agustus 2010 adalah hari saya dikukuhkan menjadi mahasiswa baru Universitas Airlangga. Seperti layaknya pengukuhan, suasana berlangsung khidmat. Saya sudah lupa bagaimana suasana Auditorium UNAIR saat itu, yang saya ingat hanya satu: Mas Arif Fatchurrahman, Presiden BEM UNAIR 2010, memberikan pidatonya di hadapan sekitar 6.000 mahasiswa baru. Karena momen pidato mahasiswa itu sangat berkesan bagi saya, saya pun diam-diam menyimpan dalam hati ingin berdiri di podium dan memberikan pidato seperti itu. Soal kalau ingin berpidato berarti harus menjadi Presiden BEM, itu urusan lain.

Seiring berlalunya waktu saya sempat lupa dengan impian “iseng-iseng pengen” tersebut. Karena ada banyak hal yang perlu saya pikirkan ketimbang memimpikan hal-hal semacam itu. Dengan proses panjang, akhirnya pada tahun 2014 saya dipercaya untuk menjadi Wakil Ketua BEM UNAIR 2014 mendampingi sahabat saya sendiri, Bintang Gumilang. Secara teori saya semakin dekat dengan impian saya. Tapi saya jadi wakil lho, yang pidato kan ketua. Namun, suratan takdir memang tak dapat ditolak. Pada tanggal 19 Agustus 2014 atau ketika momen pengukuhan mahasiswa baru, Ketua BEM sebagai anggota MWA harus mengikuti rapat bersama rektor di Jakarta. Jadilah saya yang mewakili untuk memberikan pidato penyambutan kepada sekitar 7.000 mahasiswa baru angkatan 2014. Dan impian “iseng-iseng pengen” saya empat tahun sebelumnya pun terwujud.

Pertukaran Pelajar ke Belanda

Awalnya saya tidak memiliki keberanian untuk bisa pergi ke luar negeri. Uang siapa coba? Kalau harus mencari beasiswa, memang saya bisa memenuhi persyaratannya? Kan susah, pasti harus memiliki indeks prestasi tinggi, bahasa Inggris yang cas-cis-cus, track record yang bagus, belum lagi pasti harus diminta membuat esai atau makalah semacamnya lah. Pola pikir seperti itu masih saya pelihara sampai semester 4 atau 5. Hingga akhirnya ketika di Asrama PPSDMS (sekarang Rumah Kepemimpinan), bang Bachtiar setiap sesi Training Pengembangan Diri (TPD) bertanya, “Ente sudah punya passport? Gimana, katanya mau ke luar negeri tapi belum bikin passport?!”, kata-kata tadi kemudian bertransformasi menjadi lebih tegas, “Buktikan Cing!” Saya pun mau tak mau mencari-cari event internasional untuk saya ikuti, meskipun hingga semester 6 tidak juga saya bisa dapatkan.

Momen itu muncul ketika tahu fakultas saya berencana membuka pertukaran pelajar ke Belanda. Saat itu saya masih pesimistis, apakah saya bisa? Mengingat mahasiswa yang dikirim ke Belanda adalah mereka yang ngehits. Tapi saya mencoba berpositif thinking. Di asrama adalah peta dunia besar, iseng-iseng saya tulis impian saya tersebut dengan melingkari peta Belanda lalu menulis “HB14 | Sept 2013”. HB14 adalah inisial saya di asrama, Heroboy 14. Setelah itu, saya berdoa agar impian tersebut bisa terwujud.

Ketika pendaftaran dibuka, saya kembali pesimistis karena syarat TOEFL-nya adalah 500, meskipun sebenarnya ini wajar sih. Emang segitu standarnya. Semua persyaratan sudah lengkap, tinggal TOEFL. Nah, saya pun baru mengambil tes TOEFL beberapa hari sebelum deadline berkas. Saya cukup ketar-ketir, bagaimana jika nilai TOEFL saya jeblok? Tentu saya tidak bisa melakukan tes ulang karena deadline lewat. Tapi setelah melihat hasil tesnya, saya begitu lega sekaligus miris, karena nilai TOEFL saya saat itu adalah 500 pas! Kalo ada 1-2 soal saja yang salah, tentu nilai tersebut tidak akan tercapai. Nyaris! Begitu TOEFL saya memenuhi syarat, saya dengan penuh percaya diri mengikuti tahap demi tahap tes dan alhamdulillah benar-benar bisa berangkat ke Belanda bulan September 2013.

Foto 1: Bersama rombongan Fakultas Keperawatan di Centrum, Breda.

Masuk The University of Tokyo (Tokyo Daigaku)

The University of Tokyo atau lebih terkenal dengan nama Todai (singkatan dari Tokyo Daigaku) merupakan universitas terbaik di Asia. Karena itulah di sudut hati kecil saya terbersit keinginan untuk melanjutkan kuliah ke kampus dengan ikon daun Ginkgo tersebut. Saya pun mulai sekitar tahun 2012 mulai rajin mengumpulkan foto-foto Todai, khususnya gedung yang sangat iconic, Yasuda Hall. Foto-foto tersebut secara berganti-gantian saya jadikan profile picture atau cover Facebook, tak ketinggalan wallpaper laptop. Saat PPSDMS menugaskan saya membuat Visualisasi Mimpi (tentang ini akan dijelaskan di tulisan lain), saya memasukkan Todai sebagai tempat untuk menimba ilmu S3, dan Tokyo sebagai kota yang saat ingin saya kunjungi. Padahal saat membuat visualisasi tersebut saya benar-benar ngawang, tidak punya bayangan bagaimana bisa mewujudkannya. Dan kehidupan pun berlanjut seperti biasa.

Saat saya masih di Belanda, masuk email dari Jepang yang memberitahukan kalau saya diundang menjadi salah satu pembicara di 8th Japan-ASEAN Conference on Men’s Health and Aging. Memang kebetulan—dan iseng-iseng—saya dan dua orang teman saya, Martha dan Eny, pada bulan Agustus mengirimkan abstrak ke event tersebut. Kami pun setengah percaya tidak percaya bisa berangkat ke Jepang pada tanggal 6-12 November 2013. Satu visualisasi mimpi terwujud, yakni berkunjung ke Tokyo. Lalu bagaimana dengan Todai? Meskipun belum “masuk” dalam arti terdaftar sebagai mahasiswa, minimal saya bisa “masuk” ke area kampusnya untuk melihat-lihat. Dan akhirnya kesampaian juga berfoto di depan Yasuda Hall yang terkenal itu. Sayang, pas ke sana Yasuda Hall-nya ditutup karena ada perbaikan.

Foto 2: Sudah merencanakan foto pose seperti ini sejak dari Indonesia. Yasuda Hall, Todai.

* * *

Sebenarnya masih banyak contoh impian-impian saya yang dimudahkan oleh Allah untuk terwujud, seperti dalam dunia kepenulisan, buku, bisnis, dan pendidikan. Namun saya rasa tiga itu cukup untuk menjadi gambaran, betapa kita jangan pernah takut untuk bermimpi.

Ir. Sukarno pernah berkata—seperti yang saya kutip di awal tulisan—, “Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.” Saya memiliki keyakinan, ketika kita berani bermimpi, lalu impian itu tidak tercapai, minimal kita telah berusaha mendekatinya. Saat berjuang mendekati itulah kualitas diri kita akan meningkat dari sebelumnya, dan siapa tahu di lain kesempatan impian itu akan benar-benar kita taklukkan.

Sampai saat ini, saya pun belum berhenti untuk mengejar mimpi-mimpi saya. Keberanian bermimpi itu masih terus saya jaga, meskipun kehidupan pasca kampus membuat siapapun bersikap realistis. Tetapi, di situ lah letak perjuangannya. Dalam meraih impian, kita tidak sedang berkompetisi dengan siapapun, melainkan dengan diri kita sendiri. []

  • view 528