Antara 1932-1933

Gading Aurizki
Karya Gading Aurizki Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 Juli 2016
Antara 1932-1933

Awal tahun 1930-an adalah masa-masa dinamis bagi dunia pergerakan di Indonesia. Ir. Sukarno dan beberapa orang kawannya dari Partai Nasional Indonesia (PNI) ditangkap oleh Pemerintah Hindia Belanda. Kemudian PNI dibubarkan oleh pengurus besarnya sendiri. Sebagai gantinya mereka mendirikan Partai Indonesia (Partindo). Banyak orang-orang PNI yang menolak usulan tersebut dan memutuskan untuk tidak bergabung dengan Partindo. Mereka pun menamakan diri sebagai “Golongan Merdeka”.

Bung Hatta yang menyayangkan pembubaran PNI mendukung orang-orang dari golongan tersebut. Saat itu ia masih di Belanda, menyiapkan ujian-ujian doktoralnya. Bung Hatta bersama beberapa kawannya di Indonesia mendirikan PNI Baru. Bukan Partai Nasional Indonesia, tetapi Pendidikan Nasional Indonesia dengan sayap media bernama Daulat Ra’jat yang dikepalai oleh Soedjadi, salah seorang dari golongan merdeka.

Pada tahun 1932, Bung Hatta kembali ke tanah air setelah mendapatkan gelar doktorandus yang ditempuhnya selama 11 tahun. Begitu sampai di Indonesia, Bung Hatta tidak butuh waktu lama untuk langsung bergabung dengan dunia pergerakan. Saat itu Ir. Sukarno sudah keluar dari penjara Sukamiskin di Bandung. Jadilah dunia pergerakan di Indonesia semakin semarak dengan adanya dua pegerakan besar, PNI Baru yang dipimpin Bung Hatta serta Partindo yang dikomandoi oleh Ir. Sukarno.

Bukannya saling mendukung, terkadang terjadi gesekan di antara keduanya. Partindo lewat sayap medianya, majalah Persatuan Indonesia, mempersoalkan dicalonkannya Bung Hatta menjadi salah satu anggota Tweede Kamer atau atau Parlemen Belanda. Itulah yang menyebabkan kader akar rumput kedua organisasi saling bersitegang, bahkan saling ejek seperti yang dialami oleh seorang anggota PNI Baru ini.

“Bagaimana ini, Yas? Apa benar Bung Hatta dicalonkan sebagai anggota Tweede Kamer? Karena tahu aku orang PNI Baru, kawan-kawanku yang ikut Partindo mengejekku sejadi-jadinya. Mereka bilang kita pengecut.“ Seorang pemuda usia awal dua puluhan mengeluh kepada kawannya satu organisasi bernama Ilyas.

“Itu sudah seminggu lalu, Mid. Janganlah kau mudah terprovokasi. Para pemimpin kita sudah menjawab hasutan itu. Tidakkah kau membaca Utusan Indonesia atau Sin Po tanggal 11 Desember?” Balas Ilyas kepada pemuda bernama Hamid tersebut.

“Ah, aku selalu pusing membaca koran-koran itu. Makanya aku tanya kau saja, Yas.” Tutur Hamid jujur.

“Kalau kau ingin paham, bacalah. Sebab itu satu-satunya cara agar kita bisa mengikuti perkembangan terbaru tanpa harus bertatap muka dengan para pemimpin kita.”

“Ya, akan kucoba. Tapi kalau ada yang tak kupahami, kutanyakan kepadamu ya?”

“Terserahmu saja lah, Mid.”

Setelah itu Hamid pun pergi.

* * *

Seminggu kemudian Hamid kembali mendatangi Ilyas yang sedang repot mengurus dagangannya. Ia datang dengan raut wajah khawatir, sepertinya ada lagi yang ingin dikeluhkan.

“Yas, bagaimana lagi ini?” tanya Hamid.

“Bagaimana apa?” Ilyas bertanya balik.

“Kawan-kawanku dari Partindo kembali mengejekku. Mereka bilang kalau politik non-cooperation yang kita jalankan tidak prinsipil lagi. Mereka masih mempersoalkan orang pergerakan yang duduk di Tweede Kamer.”

“Apakah kau akan terus mendengarkan perkataan orang lain, Mid? Mengapa kau tak membaca sendiri Daulat Ra’jat? Di sana Bung Hatta sudah menjawab tuduhan Ir. Sukarno tentang garis politik non-cooperation kita yang katanya tidak lagi prinsipil itu.”

“Tulisan Bung Hatta sangat sukar kupahami. Terangkan saja lah, biar aku memahaminya dengan mudah.”

“Ah, kau ini...” Ilyas sebenarnya enggan meladeni Hamid, tapi tetap diterangkannya juga hal-hal tadi sejauh yang ia pahami. “Kurang lebih begini, Mid: sikap organisasi kita seperti yang ditulis Bung Hatta jelas, bahwa non-cooperation bukan berarti menolak aksi-parlementer. Oleh sebab itu masuk ke dalam Tweede Kamer yang merupakan parlemen bangsa Belanda bukanlah perkara yang berlawanan dengan prinsip non-cooperation.”

“Lalu bagaimana dengan masuk Volksraad? Bukankah itu sama saja?”

“Itu beda soal. Kalau aku harus menjabarkannya dari awal bisa panjang. Selebihnya kau baca sendiri lah. Aku sedang repot. Tidak kah kau lihat aku sedang menghitung untung-rugi penjualan?”

“Ayo lah, Yas. Sudah kukatakan, aku banyak tidak paham dengan tulisan Bung Hatta. Lebih mudah membaca tulisan Ir. Sukarno yang ditulis seperti saat orangnya bicara.”

Seketika Ilyas menghentikan pekerjaannya. Ia langsung mengarahkan pandangan kepada sahabatnya itu.

“Tidak kah kau mendengar Bung Hatta pernah menerangkan kepada kita bahwa menurunkan kualitas tulisan hanya untuk mengikuti selera orang banyak akan merugikan pergerakan kita?”

“Iya..iya, aku pernah mendengarnya, tapi...” belum sempat Hamid menyelesaikan kalimatnya Ilyas memotong.

“Apakah kau benar anggota PNI, Mid?” tanya Ilyas serius.

Hamid terkejut dengan pertanyaan Ilyas. “Apa maksudmu bertanya seperti itu, Yas? Bukankah kita masuk organisasi ini bersama-sama? Lulus ujian masuk juga bersama? Dan kau tahu sendiri aku begitu mengagumi Bung Hatta.”

“Ya, aku tak meragukan loyalitasmu, Mid. Kau sangat sigap ketika harus disuruh kesana kemari. Aku hanya heran, kau bilang kagum pada Bung Hatta tapi sama sekali tak kau baca pemikirannya.”

“Bukannya aku tak mau mempelajari apa yang ditulis Bung Hatta, Yas. Hanya saja, seperti yang kukatakan tadi, kalimat-kalimatnya terlampau berat bagiku. Aku hanya berandai Bung Hatta seperti Ir. Sukarno yang menerangkan segala sesuatu dengan teramat sangat ringan. Ia berpidato seperti mengajak rakyat bicara, dan mereka semua memahaminya.” Hamid memberikan alasan.

“Perlu kau ingat kalimat ini, Mid,” Kata Ilyas serius, “Bung Hatta sangat menyadari betul tulisannya sukar dipahami orang, tapi beliau juga menyemangati apabila kita membacanya berulang-ulang nantinya akan paham juga. Justru dengan begitu kualitas pemikiran kita akan meningkat. Aku masih ingat betul Bung Hatta bilang, ‘Bukan majalah yang ditarik ke bawah, melainkan orang banyak dihela ke atas’. Beliau menghendaki kita belajar memahami, bukan sekedar bisa membaca agitasi.”

“Baiklah, aku paham.” Ucap Hamid sekedarnya.

“Sekarang kutanya: apa kepanjangan dari PNI?” tanya Ilyas.

Hamid tertawa, lalu bertanya balik, “Ini pertanyaan serius atau bercanda?”

“Lho, aku serius ini. Apa kepanjangan dari PNI?” Ilyas bertanya ulang.

“Kau ini aneh. Semua orang tahu kalau kepanjangan PNI adalah Pendidikan Nasional Indonesia.” Jawab Hamid. Ia masih heran Ilyas memberi pertanyaan semudah itu.

“Ya, semua orang memang tahu kepanjangan PNI, tapi tidak semuanya memahami hakikat nama itu. Ada unsur kata ‘pendidikan’ di dalamnya. Artinya, mendidik adalah tujuan kita, bukan sekedar agitasi yang bertahan sekejap lalu menghilang.”

“Tapi agitasi juga penting, Yas,” Sergah Hamid. “Kita perlu menunjukkan kepada orang-orang Belanda kalau kita kuat.” Lanjutnya.

“Sepertinya kau terlalu banyak bergaul dengan orang-orang Partindo, Mid.” Seloroh Ilyas tanpa pikir panjang.

“Hei! Kau jangan menuduhku seperti itu, Yas!” Hamid tersinggung.

“Jangan mudah tersulut emosi lah. Aku sama sekali tidak berniat menuduhmu,” Ilyas mencoba meredakan suasana, “Aku hanya ingin meluruskan. Itu pun jika kau berkenan.”

“Meluruskan bagaimana?” tanya Hamid dengan wajah tanpa senyum sesenti pun.

“Meluruskan kalau kita adalah anggota PNI, Pendidikan Nasional Indonesia. Kita memiliki garis politik yang berbeda dengan Partindo, PSII, atau organisasi lain,” Terang Ilyas, “Aku yakin kau sangat paham hal ini. Kau dulu juga ikut ujian masuk PNI dan lulus bersamaku. Sejak saat itu kita memiliki hak menjadi anggota organisasi.”

“Ya, benar. Aku paham.”

“Namun, tentu kau juga paham kalau kita juga memiliki kewajiban-kewajiban, semisal kalau ingin naik tingkat kita harus tamat membaca buku Indonesia Vrij, Tujuan dan Politik Pergerakan Nasional di Indonesia—keduanya ditulis Bung Hatta—dan Indonesia Menggugat yang ditulis Ir. Sukarno. Tak ketinggalan harus mengikuti terbitan Daulat Ra’jat pada tanggal 10, 20, dan 30 setiap bulannya.”

Hamid mendengarkan ceramah singkat Ilyas dengan muka kurang antusias.

“Artinya, kita tidak boleh berpuas diri hanya menjadi anggota, Mid. Kita harus terus belajar, terus mendidik diri kita sendiri. Itulah yang dipesankan Bung Hatta tempo hari.”

“Ya, aku tahu. Jangan kau kira aku sudah lupa dengan perkara-perkara tadi.” Ucap Hamid.

“Bagus lah kalau begitu.”

“Emm...Sepertinya cukup, Yas. Aku undur diri dulu. Maafkan jika mengganggu.”

“Baik. Maafkan jika ada kata-kataku yang kurang berkenan. Hati-hati di jalan. Salam untuk Emak engkau.”

Hamid berpamit dengan suasana hati kurang lebih sama dengan saat datang tadi. Ilyas melepasnya dengan perasaan mengganjal. Setelah Hamid pergi, ia pun kembali meneruskan pekerjaannya.

* * *

Di rumah, Hamid kedatangan tamu. Ia tak lain adalah seorang kawannya yang merupakan anggota Partindo.

“Bagaimana, Mid? Apakah jawaban kawanmu itu memuaskan engkau?” tanya tamu tersebut.

Hamid terdiam. Ada pergolakan di dalam batinnya. Di satu sisi ia ingin menjaga marwah organisasinya, tapi di sisi lain memang bukan kepuasan hati yang ia dapat setelah bertamu ke rumah Ilyas.

“Sejujurnya hatiku belum jua puas mendengarkan penuturannya, Djar.” Kata Hamid jujur.

“Nah, mengapa tak kau tinggalkan saja organisasi yang tiada memberimu kepuasan seperti itu?” tamu bernama Gandjar itu membuka kedoknya terang-terang, ”Saban hari engkau diwajibkan membaca koran, meneliti pergolakan pemikiran antara orang yang tiada mengenal engkau, apa tidak bosan?”

Hamid terkejut dengan ucapan Gandjar. Ia langsung bertanya balik, “Apa maksudmu, Djar?”

“Ah, masak kau tak paham, Mid?” ucap Gandjar lantas terkekeh.

“Kau menawariku masuk Partindo?” Hamid ragu.

“Menurutmu?” Gandjar menatap Hamid lekat. Ia lantas meneruskan perkataannya, “Ya, meskipun aku tahu sebenarnya tak elok rebut-merebut kader antar organisasi pergerakan, tapi aku sebagai kawanmu sejak kecil merasa kasihan. Kau seperti tidak nyaman di PNI.”

Hamid terdiam.

“Ir. Sukarno memiliki prinsip yang teguh. Ia berjuang tak mengenal kompromi. Ia menjalani politik non-cooperation yang prinsipil. Dan apa yang ditulisnya sudah cukup, tak perlu membaca pemikiran-pemikiran orang lain, karena penjelasannya sangat mudah dipahami serta menggelorakan semangat perjuangan kami. Kau akan bangga di bawah pimpinan orang seperti beliau.”

Setelah mendengar pemaparan Gandjar, Hamid pun tersenyum.

“Aku memang mengagumi Ir. Sukarno lewat pidato-pidatonya. Tapi bukan berarti aku mau begitu saja masuk Partindo.”

“Haha... Ini sifatnya hanya tawaran. Jika kau tak berkenan, ya sudah. Habis perkara kalau begitu. Tapi jangan salahkan aku kalau esok hari masih ada kawan-kawanku yang mengejekmu soal tindakan Bung Hatta atau para pemimpin organisasimu yang menurut kami keliru. Sementara kawan-kawanmu, mana ada yang berani mengejek kami?”

Kini Hamid tersenyum kecut.

“Kurasa cukup. Aku undur diri dulu.” Gandjar pamit. “Pikirkanlah masak-masak, dan jangan terburu-buru.”

“Ya, terima kasih atas kunjungannya. Akan coba kupikirkan dulu nanti.”

* * *

Sudah sebulan Hamid tak kelihatan di agenda PNI. Ilyas sebagai kawan karibnya mulai khawatir. Terakhir mereka bertemu adalah saat Hamid berkunjung ke rumahnya. Begitu mendengar kabar Hamid masuk ke Partindo, Ilyas sangat terkejut. Bagaimana bisa tanpa kabar ia sudah berpindah organisasi?

Di sela-sela kesibukannya Ilyas menyempatkan diri untuk bertamu ke rumah Hamid. Tapi seribu sayang, Hamid sering tidak ada di rumah. Emaknya hanya mengatakan kalau ia sering keluar bersama kawannya bernama Gandjar. “Akhir-akhir ini anaknya jarang pulang, Nak Ilyas.” Begitu kata Emaknya. Kalau sudah begitu Ilyas langsung pamit undur diri, agar tidak terlalu merepotkan Emak Hamid.

Bulan demi bulan berlalu. Antara bulan Juni hingga Juli tahun 1933 aparat yang terdiri dari bestuur (pamong praja) dan polisi semakin membatasi gerak aktivis pergerakan. Segala hal yang berbau agitasi dipotong, begitu ada demonstrasi dibubarkan. Puncaknya terjadi pada tanggal 31 Juli, Ir. Sukarno ditangkap dan seluruh partai berhaluan non-kooperasi, yaitu PNI, Partindo, PSII, dan Permi, dilarang mengadakan rapat dan sidang.

Akibat larangan itu banyak organisasi mengubah strategi. Bagi PNI ini bukanlah pekerjaan sulit, karena mereka terbiasa mengadakan kursus-kurus kader di balik layar. Sedangkan bagi Partindo, yang kadernya memang dididik dengan agitasi, pelarangan ini benar-benar merepotkan hingga kursus-kurus partai mereka terhenti sama sekali.

Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Ilyas teringat dengan Hamid. Bagaimana kabar kawannya itu setelah aktivitas Partindo lumpuh? Ia pun memutuskan untuk bertamu ke rumahnya. Tak seperti kunjungan sebelumnya, kali ini Hamid ada di rumah.

“Bagaimana kabarmu, Mid?” tanya Ilyas.

“Ya, begini lah, Yas. Pekerjaanku sekarang hanya berkisar antara rumah dan sawah.” Terang Hamid.

“Kenapa saat kau pindah ke Partindo sama sekali tak memberi kabar aku?”

Hamid tersenyum, “Karena aku tahu kau pasti menentangku.”

“Mengapa kau berpikir seperti itu? Jika kau memang mantap memilih pindah dengan rasionalitas yang jelas, tentu aku takkan melarangmu. Itu adalah pilihan pribadimu, mana mungkin aku ikut campur? Kita sudah sama-sama dewasa.” Jelas Ilyas bijak.

“Benarkah begitu?”

“Ya.” Jawab Ilyas singkat. “Lantas, sekarang bagaimana aktivitasmu di Partindo?” lanjut Ilyas bertanya.

“Sejak Ir. Sukarno ditangkap dan partai-partai dilarang mengagendakan rapat, aktivitas kami benar-benar lumpuh. Kawan-kawanku bingung harus berbuat apa.”

“Rencana kalian?” Ilyas mencoba menyelidiki.

“Entah kalau mereka. Kalau aku sendiri ingin berhenti.” Hamid menjawab tanpa semangat.

“Berhenti? Apa aku tidak salah dengar?” Ilyas terkejut mendengar pengakuan sahabatnya.

“Tidak, Yas.”

“Alasannya?”

“Aku hanya merasa tidak kuat menjadi aktivis pergerakan.”

“Tap...” Ilyas berniat menyanggah alasan Hamid, tapi ia mengurungkan niatnya.

“Kau tadi ingin mengatakan apa, Yas?” Hamid penasaran.

“Ah, tidak.” Ilyas tersenyum. Ia pun mencoba mengalihkan pembicaraan ke topik lain.

Setelah berbasa basi sejenak, Ilyas pamit undur diri.

Di jalan ia merenung bahwa pergerakan itu ibarat tanaman, harus senantiasa dipupuk agar senantiasa tumbuh berkembang. Jika tidak ia bisa saja layu, bahkan bukan tak mungkin mati. Ia pun mencoba mengingat nasihat Bung Hatta kepadanya, “Nak Ilyas, bekerjalah dengan gembira, mendidik diri kita sendiri, untuk paham dalam organisasi dan tahu bertanggung jawab. Ini adalah juga kemenangan bagi kita![1]” []

 

[1] Diambil dari Otobiografi Mohammad Hatta, Untuk Negeriku - Jilid 2 (Berjuang dan Dibuang), hal. 120 dengan sedikit perubahan