Sukses dan Kesempatan

Gading Aurizki
Karya Gading Aurizki Kategori Motivasi
dipublikasikan 21 Juli 2016
Catatan Akhir Kuliah

Catatan Akhir Kuliah


Selama 6 tahun di kampus, telah banyak pengalaman yang saya dapatkan. Karena itu, saya akan membagikannya di sini setiap hari Senin dan Kamis pukul 18.00 WIB. Semoga menginspirasi!

Kategori Acak

1.4 K Hak Cipta Terlindungi
Sukses dan Kesempatan

Kesuksesan yang kita dapatkan bukan sekedar perpaduan bakat dan kerja keras. Ada satu hal yang sering terlupa: kesempatan!

Tanpa kesempatan, bakat pun tidak akan bisa bekerja keras, sehingga mereka takkan mewujud menjadi kesuksesan. Bahkan, seringkali kesempatan memberimu jalan ketika bakat dan kerja kerasmu tak cukup menjanjikan.

Terima kasih kepada semua orang yang telah memberiku kesempatan untuk meraih segenap pencapaian. Karena aku menyadari betul bahwa bakat dan kerja kerasku sama sekali tak cukup untuk menggapai kesuksesan.

(Surabaya, 12 Agustus 2015)

* * *

Rangkaian kalimat di atas merupakan tulisan di halaman pembuka skripsi saya. Saat itu saya bingung hendak menulis apa di halaman yang sering diisi dengan kutipan favorit, ayat Al-Qur’an, hadits, atau kalimat tokoh tersebut. Karena skripsi hanya sekali seumur hidup, maka saya memutuskan untuk menulis sesuatu yang benar-benar merepresentasikan perjuangan saya untuk menyelesaikan karya tersebut. Atau yang lebih tepat, perjuangan semenjak dikukuhkan sebagai mahasiswa baru hingga mengikuti wisuda.

Kesempatan pertama adalah kuliah di salah satu universitas terbaik negeri ini, bertemu orang-orang besar dan para pemimpin masa depan. Lalu kesempatan masuk fakultas yang memberikan saya banyak kesempatan untuk mengembangkan diri. Saya juga sering mendapatkan kesempatan kedua setelah melakukan kesalahan. Hingga kesempatan untuk memegang amanah-amanah. Tanpa kesempatan tersebut apalah artinya seorang Gading?

Pernah suatu hari saya membuat janji dengan seorang dosen untuk mengikuti ujian susulan. Saya masih ingat betul saat itu ujian mata kuliah English in Nursing. Pada hari-H, saya tidak hadir karena kepincut seminar tentang pertukaran pelajar di Rektorat. Saya tidak konfirmasi ke dosen yang bersangkutan, dan itu saya akui sebagai kesalahan. Saat bertemu, beliau marah besar. Namun saya bersyukur, dengan murah hati beliau memberikan saya kesempatan untuk mengikuti ujian susulan dan mengatakan kepada saya, “Ding, saya tahu kamu itu pintar, tapi tolong perbaiki sikap kamu.” Sejak saat itu saya selalu berhati-hati dalam membuat janji. Mungkin dosen yang bersangkutan sudah lupa, tapi saya tidak akan pernah melupakan kejadian tersebut.

Contoh di atas mungkin lingkupnya sangat kecil, namun saya juga pernah mengalami contoh-contoh dalam skala lebih besar. Pada akhir tahun 2012, setelah saya tidak mampu membawa Dewan Legislatif Mahasiswa (DLM) menjadi lebih baik, ternyata kawan-kawan masih memberikan kesempatan saya untuk menjadi wakil ketua BEM satu tahun berselang. Dan kesempatan itu memulihkan kepercayaan diri saya setelah gagal pada kesempatan sebelumnya.

Terkait juara 1 Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) Fakultas pada tahun 2013, saya menyadari betul saya bisa menang karena sahabat saya yang biasa menjuarai lomba-lomba tidak mengikuti pemilihan. Entah, bisa jadi sahabat saya itu ingin memberikan kesempatan kepada saya karena dia pun ikut membantu saya menyiapkan persyaratannya.

Saya memperoleh beasiswa PPSDMS pun (sekarang Rumah Kepemimpinan) juga tidak luput dari anugerah kesempatan. Andai pemberi beasiswa mau tegas, secara administratif saya tidak masuk karena saat itu indeks prestasi saya tidak memenuhi. Kurang nol koma sekian dari batas minimal. Dan saya bersyukur kesempatan itu membawa saya untuk menjadi bagian dari keluarga besar Rumah Kepemimpinan yang luar biasa.

Apakah saya ke luar negeri juga hasil perjuangan sendiri? Ternyata tidak. Seharusnya yang pergi ke China pada Juli 2014 adalah Bintang Gumilang sebagai ketua BEM. Tapi beliau mendelegasikan kepada saya sebagai wakil karena banyak urusan yang harus diselesaikan. Sepulang dari China saya juga berhasil menulis di salah satu majalah Islam terkemuka negeri ini, Suara Hidayatullah. Apakah itu semata karena keahlian saya? Tidak. Saya diberi kesempatan oleh redakturnya untuk menulis setelah bersilaturahim kepada beliau.

Kesempatan paling besar diberikan oleh orang tua saya. Bapak dan ibu saya sama sekali tidak membatasi saya untuk mengembangkan diri. Mereka berdua juga memberi kesempatan saya untuk molor satu tahun demi berkarya sebagai wakil ketua BEM. Saya beruntung memiliki orang tua seperti mereka, karena tidak semua orang tua membolehkan anaknya untuk melakukan ini itu. Dan karena izin mereka lah banyak kesempatan lain datang.

Dari semua kesempatan itu, yang mengilhami saya untuk menulis kutipan tentang kesempatan di atas adalah kedua dosen pembimbing saya yang terus memotivasi saya untuk terus lanjut meskipun draft skripsi saya masih banyak kekurangan. Beliau berdua memaklumi aktivitas saya sehingga akhirnya saya bisa lulus. Saya tidak bisa membayangkan jika mendapatkan dosen pembimbing yang terlampau strict. Sangat mungkin saya lulus lebih molor lagi. Itulah mengapa saya mengatakan, “seringkali kesempatan memberimu jalan ketika bakat dan kerja kerasmu tak cukup menjanjikan.”

Malcolm Gladwell dalam buku Outliers mengatakan, “sepuluh ribu jam adalah angka ajaib untuk mencapai kesuksesan.” Artinya, untuk menjadi seorang ahli yang lebih unggul daripada orang lain di bidangnya, seseorang harus berlatih selama sepuluh ribu jam tersebut. Dan apa kiranya yang membuat seseorang bisa mencapai sepuluh ribu jamnya? Kesempatan! Gladwell mengatakan: “kebanyakan orang bisa meraih jumlah tersebut hanya saat mereka masuk ke program istimewa atau mendapatkan kesempatan  luar biasa yang membuat mereka bisa menjalani latihan sekian ribu jam tersebut.”

Kesempatan terbesar band legendaris The Beatles adalah ketika mereka dapat tampil di Hamburg selama 270 malam dalam kurun waktu satu setengah tahun dengan rata-rata penampilan minimal lima jam. Itu adalah saat mereka masih muda dan belum pindah ke Amerika. Sedangkan kesempatan bos Microsoft, Bill Gates, adalah ketika ia sudah bisa mengakses komputer di sekolah saat sekolah lainnya belum bisa membeli komputer. Setelah itu berturut-turut Gates berkesempatan bermain-main dengan komputer di C-Cubed, di University of Washington, serta kelompok Information Science Inc (ISI). Bisa dikatakan baik The Beatles maupun Bill Gates mendapatkan kesempatan untuk berlatih di saat yang lain tidak mendapatkan kesempatan untuk mengakses hal tersebut.

Oleh karena itu, jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan. Kita harus bisa memanfaatkan setiap kesempatan yang datang kepada kita. Jika kesempatan belum juga datang, kita lah yang harus berinisiatif mencari kesempatan tersebut, atau minimal mempersiapkan diri untuknya. Karena momentum kesuksesan akan datang ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan. Namun, jangan menjadi orang yang oportunis, alias aji mumpung, dengan mengambil setiap kesempatan tanpa memikirkannya matang-matang. Kesempatan yang baik harus disertai dengan kesiapan yang baik pula. Jika merasa belum siap, minimal yakin dengan mengambil kesempatan tersebut kesiapan itu akan datang seiring berjalannya waktu.

Jadi, sudah siapkah untuk mengambil kesempatanmu? []

Dilihat 462

  • Muziburrahman Irul Mbozo
    Muziburrahman Irul Mbozo
    11 bulan yang lalu.
    Bapak dan ibu saya sama sekali membatasi saya untuk mengembangkan diri.

    Untuk paragraf 8, itu ada kata tidak atau bagaimana.

    Tulisannya sangat inspiratif, kami tunggu tulisan-tulisan yang lainnya... Selamat berkarya...