Sore di Mall De Barones Breda

Gading Aurizki
Karya Gading Aurizki Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 Juli 2016
Sore di Mall De Barones Breda

Sore itu kota Breda sedikit gerimis. Dua sahabat sepermainan, Ruud dan Max, mengayuh sepeda dengan cepat melewati Karnemelkstraat. Di perempatan besar mereka belok kanan menuju Walterstraat. Mereka kini memasuki wilayah centrum atau pusat kota dengan bangunan-bangunan tua dan jalan yang tersusun dari bebatuan berbentuk balok. Mereka berhenti di salah satu tempat parkir sepeda. Tujuan mereka adalah mall De Barones yang terletak tepat di seberang pertigaan antara Waterstraat dan Nieuwstraat.

“Tadi Mr. Westen memberi tugas akhir pekan apa?” tanya Ruud yang berjalan cepat menghindari hujan.

“Hanya membaca buku dan merangkum isinya. Dikumpulkan hari Senin.” Jelas Max. “Memang tadi kamu ke mana?” tanyanya sambil berusaha mengikuti kecepatan Ruud.

“Tiba-tiba perutku mulas. Aku harus pergi ke toilet.” Jawab Ruud.

“Oh. Tapi sekarang sudah baikan kan?”

“Sudah.”

Mereka berdua pun tiba di De Barones dengan kondisi baju sedikit basah. Mereka langsung masuk dan berjalan lebih santai karena sudah tidak terkena air hujan lagi.

De Barones merupakan sebuah mall yang terletak di pusat kota Breda. Mall yang selesai dibangun pada bulan Oktober 1997 tersebut memiliki dua lantai. Terdapat banyak toko di dalamnya, mulai dari toko pakaian, toko sepatu, toko buku, kafetaria, dan lain sebagainya. Ruud dan Max datang ke sini untuk pergi ke toko buku Polaris yang terletak di lantai dua.

“Rencananya kamu ingin membeli buku apa?” tanya Max.

“Malcolm Gladwell. Aku ingin melengkapi koleksiku.” Jawab Ruud.

“Aku juga.”

“Kamu juga?” Ruud berhenti. “Sebentar...”

Max pun ikut berhenti dengan perasaan heran.

“Buku apa saja yang sudah kamu miliki?” tanya Ruud penasaran.

“Hampir semuanya.” Jawab Max. Ia pun menjentikkan keempat jarinya untuk menghitung koleksi buku yang ia punya. “Blink, Outliers, Tipping Point, dan David and Goliath.

Ruud menatapnya dengan serius. Max pun bertambah heran dengan tingkah sahabatnya. “Ada apa?”

Tanpa menjawab pertanyaan Max, tiba-tiba Ruud berjalan cepat naik ke lantai dua. Bahkan ia langsung melangkah naik mendahului laju eskalator, tampak sangat terburu-buru.

Melihat tingkah aneh sahabatnya, Max semakin penasaran. Ia pun ikut mempercepat langkah hingga sebuah asumsi terlintas di benaknya. “Jangan-jangan...?!” batinnya. Asumsi itu membuatnya langsung berlari mengejar Ruud.

“Ruud, tunggu!” teriak Max.

Ruud tidak peduli. Begitu sampai di depan toko buku Polaris ia langsung masuk. Max mengejar beberapa langkah di belakangnya.

Ruud semakin mempercepat langkahnya hingga orang-orang di Polaris memperhatikannya sambil keheranan. Ia menuju rak buku paling belakang tempat buku-buku bekas. Di Polaris, pelanggan dapat membeli buku-buku bekas dengan kualitas bagus dengan harga sangat miring. Melihat Ruud menuju ke sana Max semakin yakin dengan asumsinya.

Rak buku-buku bekas atau used book tidak begitu tertata pengelompokannya, sehingga orang yang hendak membeli harus mencarinya satu persatu dari rak ke rak. Sekarang Ruud dan Max sama-sama mencari buku di rak buku bekas.

“Hei, Ruud.” Teriak Max kepada Ruud yang sedang fokus mencari mulai dari ujung yang berseberangan. “Buku pertamanya, kan?”

Ruud menjawabnya sambil tersenyum. “Aku akan mendapatkannya terlebih dahulu, Max.”

“Kau curang! Jika aku yang mendapatkannya jangan harap kau kupinjami.” Tukas Max.

“Haha.. Aku tak mengharap kamu meminjamiku karena buku itu akan segera menjadi milikku.” Balas Ruud.

Sebenarnya banyak buku-buku bekas di Polaris yang terdapat versi barunya. Namun harganya jauh lebih mahal, bisa sampai dua kali lipat. Max beruntung mendapatkan Blink di rak buku bekas dengan harga hanya 3 Euro, sedangkan Ruud harus membeli baru untuk buku yang sama dengan harga 9 Euro. Namun ada juga buku bekas yang tidak ada duanya, atau hanya tersedia versi bekas. Dan buku yang mereka cari adalah salah satunya.

Mereka bergerak ke tengah rak dan semakin mendekat. Begitu sampai di jarak tertentu, di rak buku atas mereka melihat sebuah buku putih tebal dengan gambar sepatu biru tepat di tengah punggungnya. Judulnya terlihat jelas: What the Dog Saw.

Ruud dan Max sama-sama bergerak cepat, hingga...

“Ah, aku yang dapat!” Pekik Max.

“Enak saja, aku juga memegangnya!” Ruud tak mau kalah.

“Coba cari di rak lain, barangkali masih ada What the Dog Saw lain yang tersisa.”

“Kenapa bukan kamu aja yang mencari? Aku tidak semudah itu dibodohi.”

“Relakan lah.”

“Kamu yang harus merelakan. Aku yang terlebih dahulu masuk tadi.”

“Itu karena kamu curang.”

“Hei kalian. Diamlah!” seorang pria tambun menegur mereka. Spontan mereka pun mengecilkan suara.

“Baiklah, bagaimana kalau kita bertanding. Yang menang mendapatkan buku ini.” Tawar Ruud.

“Bertanding apa?”

“Pertama kita bayar ini dulu di kasir, lalu kita bahas di kafe. Aku yang akan membayarnya. Nanti jika kamu yang menang, tinggal berikan uangnya kepadaku.”

“Tidak bisa.” Max menolak. “Kita bayar masing-masing setengah. Agar fair. Aku tidak mau barang itu menjadi milikmu sebelum resmi ditentukan pemenangnya.”

“Baiklah jika itu yang kau mau.”

Ruud dan Max bergegas menuju kasir. Mereka masing-masing mengeluarkan uang 2 Euro untuk buku seharga 4 Euro itu. Dari kasir mereka langsung turun ke lantai satu mencari kafe yang nyaman untuk membahas pertandingan mereka. Setelah memesan minuman, mereka berdua memulai pembicaraan.

“Akan kujelaskan aturan pertandingannya.” Ruud mengawali. “Kuharap kau adalah penghafal yang baik.”

“Nilaiku A di mata pelajaran Sejarah. Jangan khawatir.” Max tak mau kalah.

“Karena ini untuk memperebutkan buku Gladwell, maka kita bertanding untuk menunjukkan siapa paling memahami tulisan-tulisan Gladwell. Kamu tadi bilang memiliki keempat bukunya. Sudah dibaca kan?”

“Tentu saja! Membeli buku tanpa dibaca hanya menghabiskan uang.”

“Baguslah. Karena permainan ini akan menguji pengetahuanmu tentang keempat buku tersebut. Aku juga memiliki keempatnya. Dan untuk melengkapi koleksiku aku butuh buku ini.” Jelas Ruud sambil menunjuk bungkusan berisi buku What the Dog Saw.

“Aku juga sama. Tinggal buku ini yang belum kumiliki.” Kata Max. “Sekarang jelaskan teknisnya.”

“Oke. Kita akan bergantian memberikan tiga kata kunci dalam sebuah buku. Setelah itu lawannya harus menebak di buku manakah artikel tersebut ada. Sebagai contoh, aku mengatakan: The Beatles, Hamburg, kaidah 10.000 jam. Bisa kah kau menjawabnya?”

Outliers.” Max menjawabnya dengan mudah.

“Tepat!” pekik Ruud agak keras. “Tapi itu terlalu mudah tentu saja.

“Tapi bagaimana jika kita berdua bisa menjawabnya, atau malah tidak bisa menjawab sama sekali?” tanya Max.

“Berarti permainan terus berlanjut. Bisa dipahami?”

“Ya. Aku paham.”

“Kalau begitu kita berpikir lima menit untuk mencari soal terbaik.”

Mereka berdua pun diam, memikirkan bab-bab yang sulit diduga oleh sahabatnya. Atau, yang lebih mematikan, bab yang mudah tapi mengecoh. Suasana De Barones yang cukup ramai tidak membuat mereka kehilangan konsentrasi. Tantangan dari pertandingan ini adalah, mereka harus memberikan pertanyaan yang sulit ketika mereka sendiri tidak menguasai seluruh isi buku. Ada bab-bab tertentu yang cukup terkenal, tetapi tentu saja mudah ditebak. Di sisi lain, mereka harus menebak pertanyaan dari lawan mereka yang entah apa. Dan tak terasa lima menit yang telah ditentukan pun habis.

“Waktu habis. Giliranmu terlebih dahulu.” Ucap Ruud dengan percaya diri.

“New York.” Max mengucapkannya perlahan. “Kriminalitas. Teori Broken Windows.”

“Tak bisakah kau memberi soal yang lebih sulit?” Ruud meremehkan.

“Sudahlah, jawab saja.”

Tipping Point.” Ruud menjawabnya sambil tersenyum.

“Kamu benar. 1-0. Sekarang giliranmu.” Wajah Max lebih serius.

“Oke.” Ruud siap melancarkan serangannya. “Pernikahan. Sandi Morse. Big Five Inventory.”

Max berpikir sejenak. “Blink.

“Ah, ternyata kamu tahu!” Ruud tampak kecewa. “Oke, 1-1. Giliranmu.”

“Caroline Sacks. Brown University. Relative Deprivation.”

“Ahaha.. David and Goliath.” Ruud langsung menjawab. “Pertanyaanmu terlalu mudah.”

“Diamlah. 2-1. Giliranmu lagi.” Ucap Max dingin.

“Imigran Eropa. Yahudi. Keluarga Miskin.”

Max tampak berpikir lagi. Ia seperti kesulitan menebak pertanyaan Ruud.

“Menyerah? Hehehe...” Ruud terkekeh.

“Tidak akan.” Jawab Max tegas. “Sepertinya itu latar belakang Joe Flom. Jawabannya Outliers.”

“Yes! 2-1.” Ruud berteriak kegirangan karena merasa memenangkan pertandingan.

“Hei, sebentar. Apakah jawabanku salah?” protes Max.

“Iya. Jawaban yang benar adalah David and Goliath. Hahaha...”

Tapi Max tidak menerima begitu saja. “Kok bisa? Bukankah itu adalah cerita tentang faktor-faktor kesuksesan Joe Flom? Dan cerita tentang kesuksesan ada di buku Outliers.”

“Tidak.” Ruud menyangkal. “Itu adalah cerita tentang ketidakberuntungan yang bisa membuat seseorang meraih puncak karir profesional. Orang-orang yang diremehkan tetapi akhirnya meraih keberhasilan. Dan itu ada di David and Goliath.”

“Kau salah.” Max tidak mau mengalah. “Joe Flom sukses bekerja di sebuah firma hukum. Nenek kakeknya merupakan imigran Yahudi miskin dari Eropa. Orang tuanya dididik menjadi pebisnis handal. Ia sukses karena sejak kecil telah diajari tentang kerja keras. Ya, ini cerita tentang kesuksesan. Aku yakin itu.”

“Aahh, bagaimana caraku meyakinkanmu agar kau mengakui kalau cerita itu ada di David and Goliath?” Ruud kesal.

“Lantas bagaimana cara kita membuktikannya?” tanya Max.

“Hai, Max! Hai, Ruud!” Tiba-tiba seorang gadis menyapa mereka.

Ruud dan Max langsung menoleh ke sumber suara.

“Hai, Anne.” Sapa Ruud dan Max serempak setelah melihat teman sekolah mereka itu.

“Sepertinya kalian membicarakan hal yang serius.” Anne penasaran.

“Ah tidak. Hanya obrolan biasa.” Kata Ruud mengelak.

“Aha!” tiba-tiba Max mendapatkan ide.

“Ada apa, Max?” tanya Ruud. Anne juga memandang Max dengan wajah penasaran.

“Aku punya ide untuk menyelesaikan sengketa kita.” Jawab Max senang.

“Sengketa?” Anne terkejut.

“Caranya?” Ruud penasaran.

Max mempersilahkan Anne duduk sebentar. Ia pun menjelaskan. “Bukankah Anne juga penggemar Malcolm Gladwell? Terakhir aku melihatnya membaca Blink di sekolah. Kenapa tidak kita tanya saja dirinya mana yang lebih benar dari jawaban kita?”

“Ada apa memangnya? Aku memang suka membaca buku-buku Gladwell. Termasuk artikel-artikel di websitenya.”

“Okelah.” Ucap Ruud. “Begini Anne, kalau aku menyebutkan tiga kata petunjuk, ‘Imigran Eropa’, ‘Yahudi’, lalu ‘Keluarga Miskin’, menurutmu cerita itu ada di buku David and Goliath atau—yang ini jawaban Max, jadi jangan ditertawakan ya—Outliers?”

Anne pun sedikit kebingungan ditodong seperti itu. “Eeerrr... apa ya? Sebentar, biarkan aku mengingat-ingat.” Ia menggaruk-garuk rambutnya sambil menggumam pelan tiga kata kunci yang disebutkan Ruud.

Berselang dua menit Anne langsung menatap mereka berdua. “Aku ingat!”

David and Goliath, kan?” Ruud tidak sabar.

“Kalau tidak salah itu cerita tentang Joe Flom ya? Ia keturunan imigran Yahudi dari Eropa. Keluarganya sangat miskin sehingga harus membangun usaha dari nol.”

“Persis!” pekik Max senang.

“Sepertinya ini cerita dari Outliers.” Pungkas Anne.

“Benarkah?” Ruud tak percaya.

“Ya. Kalau belum yakin, kita bisa melihatnya di internet. Aku membawa iPhone-ku.” Anne menawarkan. Ruud dan Max setuju.

Begitu kata kunci ‘Joe Flom’ dan ‘Malcolm Gladwell’ dimasukkan ke mesin pencarian, muncullah buku Outliers seperti yang diduga Max. Ruud pun kecewa. Ia memang bisa menjawab dua pertanyaan Max, tapi justru ia yang salah memberikan soal. Terpaksa ia merelakan What the Dog Saw jatuh ke tangan Max dan mendapatkan bayaran 2 Euro sisanya.

“Eh, ternyata What the Dog Saw satunya kalian yang membeli?” tanya Anne.

“Satunya?” Sekarang Ruud dan Max yang terkejut.

“Iya. Kemarin kakakku bilang kalau buku ini tinggal dua. Sebelum bertemu kalian aku ke Polaris untuk membelinya. Eh, ternyata tinggal satu. Itu pun aku mendapatkannya di rak paling atas. Nih...” Anne menunjukkan What the Dog Saw di kantung plastik yang ia bawa.

Melihat buku bersampul putih itu, Ruud dan Max hanya bisa saling memandang. []

  • view 238