Di Tepi Kolam Ueno

Gading Aurizki
Karya Gading Aurizki Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 Juli 2016
Di Tepi Kolam Ueno

Angin musim gugur meniup dedaunan berwarna hijau dan kuning di pepohonan kompleks Taman Ueno. Mereka bergerak-gerak mengikuti ke mana arah angin pergi. Ada yang gugur, ada juga yang tetap berada di tempatnya sampai beberapa hari ke depan. Mereka seakan ingin unjuk kebolehan, siapa yang paling kuat untuk bertahan.

Banyak orang mengunjungi taman pagi itu. Mereka datang bersama keluarga, sahabat, atau pacar. Ada pula yang hanya berteman kamera untuk sekedar mengabadikan momen-momen indah di sepanjang perjalanan. Semuanya tampak menikmati suasana, seolah lupa dengan segala kesibukan hari kerja yang cukup melelahkan. Itu karena mereka sangat memahami apa makna datangnya akhir pekan.

Seorang perempuan berparas Indonesia duduk di dekat kolam taman memakai jaket biru tebal. Ia tampak membaca buku bersampul hijau. Di sebelahnya tergeletak sebuah tas punggung berwarna merah muda. Saking asiknya membaca, ia sampai tak menyadari ada seorang laki-laki yang mengamatinya dari jauh dan mendekatinya.

“Lagi baca apa, Neng?” Tegur laki-laki berjaket coklat yang langsung duduk di sebelahnya.

Si perempuan langsung menoleh ke sumber suara. “Kok lama banget sih?” keluhnya.

“Ya kamu sih pesannya macam-macam. Makanya nyarinya agak jauh.” Jawab laki-laki tersebut berargumen.

“Oke. Bisa dimaafkan. Mana takoyaki dan es krimku?”

“Sabar dikit kenapa sih. Jawab dulu pertanyaanku. Lagi baca apaan?”

Perempuan tadi menunjukkan kover depan bukunya yang berwarna hijau ke laki-laki di sebelahnya. Terdapat gambar wanita berkulit putih, berambut cokelat dan bergaun bunga-bunga berjongkok dan melihat pantulan dirinya di sungai.

“Oh. Di Tepi Sungai Piedra toh.” Maksudnya adalah buku berjudul Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis karya penulis asal Brazil, Paulo Coelho.

“Iya. Sebelum berangkat ke Jepang kuambil beberapa buku Coelho dari rakmu.”

“Ciyee yang sekarang suka baca buku-buku Paulo Coelho...”

“Iiih, kamu nih. Siapa coba yang mengenalkanku pada penulis yang satu ini?”

“Hahahaha...” si laki-laki hanya bisa tertawa.

“Sudah, mana takoyaki dan es krimnya?”

Si laki-laki menyerahkan kantong plastik yang dibawanya. Mereka pun bersama-sama membuka es krim dan menyantap takoyakinya satu persatu.

“Sudah sampai mana bacanya?” tanya laki-laki berambut belah pinggir tersebut.

“Hampir selesai kok. Tinggal beberapa halaman.” Jawab si perempuan sembari memasukkan takoyaki ke dalam mulut.

“Bagus?”

Si perempuan mengangguk. “Oh ya, ada bagian yang aku suka. Setelah ini kutunjukin.”

“Ceritakan saja. Kan aku sudah selesai membaca.”

“Ah, iya sih.”

Si laki-laki tersenyum melihat raut wajah pasangannya tersebut.

Si perempuan pun menceritakan sebuah kisah yang baru saja ia dapatkan di buku yang dibacanya.

“Aku sangat terkesan dengan cerita tentang laki-laki dan perempuan yang jatuh cinta setengah mati dan memutuskan untuk bertunangan. Ceritanya sangat menarik. Adegannya sangat jelas dan gamblang, tapi aku kesulitan menarik kesimpulan dari cerita tersebut.”

“Coba ceritakan kembali. Ketika kamu mampu menceritakan kepadaku dengan cukup jelas, artinya kamu benar-benar memahami ceritanya. Kalau belum, kamu perlu membacanya sekali lagi. Baru setelah itu kita diskusikan.”

“Baiklah. Akan kucoba.” Si perempuan menurut.

Si laki-laki mendengarkan sembari menghabiskan es krimnya.

“Jadi, saat momen pertunangan keduanya akan saling bertukar hadiah. Karena si laki-laki sangat miskin, ia memutuskan untuk menjual harta satu-satunya yang ia miliki, yakni arloji warisan dari kakeknya, untuk membelikan kekasihnya semacam penjepit rambut perak. Ia berharap kekasihnya semakin cantik dengan penjepit rambut tersebut. Si perempuan juga tidak memiliki banyak uang. Entah apa yang dipikirkannya, tapi diceritakan kalau perempuan itu sampai menjual rambutnya. Dari hasil menjual rambut ia membelikan kekasihnya rantai jam yang terbuat dari emas. Nah, ketika keduanya bertemu di pesta pertunangan si perempuan menghadiahkan rantai jam untuk arloji yang telah dijual, dan si laki-laki memberikan penjepit untuk rambut yang sudah tak dimiliki kekasihnya.”

Si perempuan berhenti sejenak, lalu berkomentar singkat. “Ironis ya?”

“Iya.” Si laki-laki telah menghabiskan es krimnya.

“Menurutmu apa kesimpulan dari cerita tersebut?” si perempuan ganti bertanya.

“Mmmm....” si laki-laki tampak berpikir. “Menurutku ini tentang dua orang yang sama-sama saling mencintai dan mengorbankan segalanya untuk pasangan mereka, namun cinta dan pengorbanan mereka sia-sia.”

“Kenapa sia-sia?”

“Karena cinta dan pengorbanan yang mereka berikan justru merugikan diri mereka sendiri. Penyebabnya karena mereka tidak saling memahami. Bisa membayangkan tidak, kamu mati-matian memasak untukku menggunakan bahan-bahan super mahal, tapi aku tidak bisa memakannya karena ada campuran bahan yang membuatku alergi? Bagaimana perasaanmu?”

“Mmm...antara sebal dan merasa bersalah? Mungkin...”

“Tepat! Kombinasi dua perasaan itu sangatlah menyiksa dan membuat frustasi daripada jika hanya ada salah satunya. Engkau sangat sebal karena usahamu tidak dihargai, tapi di saat bersamaan engkau merasa bersalah karena rasa sebalmu itu disebabkan oleh kelalaianmu sendiri.”

“Tapi bagaimana caranya saling memahami, sedangkan mereka baru saja bertunangan?”

“Mmm...bagaimana ya?” si laki-laki mencoba berpikir.

“Ayoo..” desak si perempuan.

“Sebentar, lagi berpikir nih.”

“Cepetan. Keburu siang.”

“Iya..iya. Begini...” Si laki-laki telah menemukan jawabannya. “Aku percaya ada orang-orang yang bisa saling memahami tanpa perlu berkomunikasi. Mereka mampu menangkap tanda-tanda dari penampilan, perilaku, gestur, atau tatapan pasangan mereka. Bahkan, aku masih percaya ada orang-orang yang bisa saling memahami tanpa itu semua. Itulah jodoh.”

“Jadi menurutmu mereka tidak berjodoh?” tanya si perempuan menyela.

“Mmm...aku tidak menyimpulkan seperti itu. Karena yang kita lihat hanyalah secuil dari kisah hidup mereka. Kita tidak tahu bagaimana kelanjutan kisahnya. Bisa jadi kegagalan di awal hubungan itu kemudian memberi mereka pelajaran tentang banyak hal dan justru menguatkan hubungan mereka. Dan kesepahaman pun juga dapat dicapai setelah mereka hidup bersama. Yang penting mereka harus terus menerus belajar. Bagaimana?”

“Hmm...cukup masuk akal sih. Tapi berdasarkan kesalahpahaman seperti itu, apakah salah ingin memberikan yang terbaik untuk calon pasangan kita?”

“Tidak. Tidak ada yang salah dengan usaha memberikan yang terbaik. Justru itu merupakan sesuatu yang wajib. Tapi berusaha yang terbaik saja tidak cukup.”

“Tidak cukup? Apakah ada yang lebih baik daripada usaha terbaik?”

“Ada.”

“Apaan?”

Si laki-laki terdiam sejenak, kemudian menjawab dengan tegas. “Tawakal.”

“Aiiiih....”

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa. Cukup terkejut kamu tadi menyebut kata ‘tawakal’. Kupikir dirimu adalah orang yang hanya menggantungkan diri pada usaha.”

“Setelah merenungkan kembali kisah itu aku akhirnya sadar bahwa hubungan dua orang manusia tidak dapat sepenuhnya diletakkan begitu saja pada usaha keduanya.”

“Maksudnya?”

“Maksudnya, kita tidak bisa menjangkau usaha-usaha orang lain di luar batas kemampuan kita. Usaha terbaik kita dan usaha terbaik orang lain bisa jadi saling menegasikan. Coba renungkan, saat kita mengusahakan yang terbaik saja bisa gagal, lantas siapa lagi yang bisa menjamin diri kita akan memperoleh keberhasilan?”

“Mmm...Tuhan?” Jawab si perempuan ragu.

Laki-laki di sebelahnya tersenyum.

“Kita berdiskusi cukup serius pagi ini. Pulang yuk.”

“Lho, jawabannya apa? Bener jawabanku kan?”

“Pikirkan sendiri. Masak begitu saja tidak bisa menjawab. Hahaha....” Si laki-laki berdiri dan berjalan ke arah pintu keluar meninggalkan si perempuan yang masih duduk.

“Iiiihhh, Kak Pandu jahat. Katanya disuruh saling memahami, tapi kok istrinya ditinggal sendiri!”

Laki-laki bernama Pandu itu berhenti. “Kalau Neng Putri ingin belajar saling memahami, yuk pulang. Kita belajar saling memahami di penginapan. Hihihi...” Ucapnya sambil tersenyum.

Putri pun ikut tersenyum. Ia segera membereskan barang bawaan, lalu bergegas menyusul suaminya. “Tungguuu!!!” []

  • view 260