Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 19 Juli 2016   16:32 WIB
Siang Hari di Tepian Seine

Di sebuah kafe yang menghadap langsung ke sungai Seine, dua orang duduk berhadapan. Di meja telah ada hidangan yang mereka pesan. Suasana tampak dingin. Tidak ada pembicaraan di antara mereka. Kontras dengan suasana jalanan Paris yang cukup ramai, meskipun tak seramai sepekan lalu ketika jutaan orang mendatangi Perancis.

“Makanlah. Keburu dingin.” Kata seorang pria berkacamata sembari menyendok sup.

“Aku tidak berselera makan.” Balas pemuda berkaus biru tak bersemangat.

“Karena final kemarin?” tanya pria berkacamata. Ia segera menyudahi makannya.

“Menurutmu apa hal yang lebih menyakitkan daripada kalah pada partai puncak dari tim yang lolos fase grup karena keberuntungan, padahal saat itu dirimu bertindak sebagai tuan rumah, terlebih lagi di laga sebelumnya engkau berhasil menumbangkan juara dunia dengan gagah perkasa?”

“Hahaha. Ya, itu memang menyakitkan. Aku juga sangat terpukul dengan kekalahan itu.”

“Tidak ada yang lebih terpukul daripada mereka yang berjuang langsung di lapangan.”

“Ya...ya, aku paham. Kalian sudah berjuang sangat keras.”

“Tidak hanya berjuang sangat keras, kami telah mengerahkan segalanya. Berusaha sekuat tenaga memenuhi segala ekspektasi. Namun sebiji gol si itik buruk rupa itu benar-benar membuat semuanya sia-sia. Benar kata pelatih, kami tidak akan mudah menerima kekalahan ini.” Pemuda berkaus biru mengeluh sejadi-jadinya.

Pria berkacamata hanya bisa tersenyum bersimpati. Ia memahami beban mental yang ditanggung sahabatnya itu.

“Aku punya kutipan yang sangat cocok untukmu. Ini dari penulis favoritku, Paulo Coelho. Mau mendengarnya?” kata pria berkacamata.

“Boleh.”

“Paulo Coelho ini berasal dari Brazil. Bahasa ibunya bahasa Portugis. Kuharap kau tidak alergi hanya karena itu.”

“Hahaha. Lanjutkan.” Pemuda berkaus biru tertawa kecil karena lelucon sahabatnya.

“Baiklah. Ini kuambil dari buku 'Manuskrip yang Ditemukan di Accra'. Coelho menulis: Apakah orang yang bertahun-tahun mempersiapkan diri untuk mendaki gunung tertinggi di dunia merasa terkalahkan apabila, setelah mencapai gunung itu, dia mendapati puncaknya terselubung awan-awan badai? Katanya kepada gunung itu, ‘Kau tidak menginginkan diriku kali ini, tapi cuaca ini pasti berlalu, dan suatu hari nanti aku akan sampai ke puncakmu. Untuk sementara, kau akan tetap di sini menungguku’. Bagaimana?”

“Ya, lumayan lah. Meskipun terlalu abstrak.”

“Maksud kalimat itu adalah agar kau tetap berjuang meski tak berhasil menggapai keinginanmu. Aku masih punya banyak kalau kau mau.”

“Kau menghapalnya?”

“Ya. Banyak isi buku itu yang kuhapal. Kau tahu sendiri kan, aku orang yang cerdas. Otakku cukup jenius untuk masuk sekolah kedokteran, tapi sayangnya aku lebih mencintai sastra. Hahaha...”

“Haha, benar. Padahal kalau kau menjadi dokter kau bisa saja menjadi dokter timnas Perancis dan menanganiku saat cedera. Dan...” Pemuda berkaus biru menghentikan kalimatnya.

“Dan....?”

Ia tersenyum kecut. “Dan bisa merasakan kekalahan itu seperti yang kurasakan.”

“Oh, ayolah! Dunia tidak kiamat hanya karena kekalahan itu.”

Pria berkacamata heran sahabatnya belum bisa menghapus kesedihannya. Di satu sisi ia bisa memahami kesedihannya, tapi di sisi lain ia merasa hal itu tidak boleh dibiarkan berlarut-larut.

“Ya, aku memang tidak seharusnya terlalu bersedih.” Kata pemuda berkaus biru lirih.

“Benar.” Pria berkacamata sedikit lega sahabatnya mengatakan itu.

“Aku bukanlah siapa-siapa di tim, jadi aku tidak boleh terlalu sedih. Tapi bagaimana dengan mereka yang lebih banyak berkontribusi? Aku masih tidak bisa percaya, Antoine harus kalah dua kali di finalnya tahun ini, padahal ia menjadi top scorer. Patrice bahkan harus mendapat julukan spesialis kalah di final, karena banyak final yang telah ia jalani dan hampir semuanya berujung kekalahan. Sedangkan Didi gagal mencatatkan sejarah sebagai salah satu orang yang sukses memenangkan piala eropa sebagai pemain dan pelatih. Kita belum membicarakan Hugo, Paul, Payet, dan yang lain. Aku bersedih untuk mereka.”

Pria berkacamata menarik nafas dalam-dalam. Ia pun menyeruput jus yang ada di hadapannya untuk menenangkan diri sembari memikirkan cara untuk menghapus kesedihan sahabatnya. Obrolan mereka pun terhenti selama beberapa menit.

“Hei, kau sudah mendengar Messi memutuskan mundur dari timnas setelah Argentina gagal mengalahkan Chile?” tanya pria berkacamata.

“Ah, iya. Kalau dipikir-pikir Messi jauh lebih tidak beruntung lagi. Tiga tahun berturut-turut ia kalah di final. Pertama di final piala dunia, lalu berikutnya di Copa America. Apalagi tahun ini ia harus back to back kalah dari Chile.”

“Ya. Sayang sekali. Aku ingat Paulo Coelho menulis sesuatu yang cocok untuk menggambarkannya, ‘Hanya yang kalah, yang menyerah. Orang-orang lainnya adalah pemenang.’ Kurasa jika benar-benar mundur, ia telah kalah dari kekalahannya. Seharusnya kau bisa mengambil pelajaran dari sana.”

“Kalah dari kekalahannya?”

“Ya, alias gagal. Kita kalah ketika tidak mendapatkan apa yang kita inginkan. Tapi, kita akan gagal ketika tidak meneruskan perjuangan. Tahukah kau siapa orang yang tidak pernah kalah?”

“Mmm...siapa?”

“Mereka yang tidak pernah bertanding. Memang, mereka tidak pernah kalah, tapi juga tidak akan pernah menjadi pemenang.”

“Apakah itu kalimat Paulo Coelho juga?”

“Mmm, kurang lebih iya, tapi kusampaikan dengan bahasaku sendiri. Kenapa? Mau membaca bukunya? Hahaha...”

“Boleh. Setelah dari sini aku mampir ke apartemenmu.”

“Baiklah. Dengan senang hati, brother.”

“Sekarang ceritakan apapun untuk membuatku tenang.”

“Baiklah. Aku akan mengutip lagi. ‘Kalah dalam pertempuran, atau kehilangan semua yang kita anggap milik kita, akan membawa kita pada saat-saat penuh kesedihan; namun setelah semua itu berlalu, akan kita temukan kekuatan tersembunyi dalam diri kita masing-masing; ketangguhan yang mengejutkan dan membuat kita lebih menghargai diri sendiri’.”

“Bisa kau berikan contoh?”

“Maaf, tapi kali ini aku harus membahas Portugal. Kau tahu sendiri tim seperti apa mereka? Ketika mereka menjadi tuan rumah, mereka kalah oleh Yunani. Sangat menyakitkan. Apalagi saat itu adalah generasi emas mereka. Ada Luis Figo, Rui Costa, dan Nuno Gomez. Pasca kekalahan di final itu mereka tidak pernah sekalipun menembus partai final di ajang apapun. Mereka dituding terlalu Ronaldo-sentris. Tapi kau lihat apa yang mereka dapatkan sekarang? Ada kekuatan yang terhimpun di balik kritikan pedas selama bertahun-tahun. Kekuatan untuk membuktikan bahwa mereka tidak seperti yang orang-orang tuduhkan.”

“Tapi apakah aku harus menunggu selama itu?”

“Tidak. Kau hanya perlu meyakini bahwa siklus alam tidak mengenal kemenangan atau kekalahan. Yang ada hanyalah pergerakan. Kau tentu ingat bagaimana kita setelah kita merengkuh gelar ganda piala dunia dan piala eropa berturut-turut? Piala dunia berikutnya kita jatuh. Italia yang mengalahkan kita di final piala dunia Jerman tidak lolos fase grup pada piala dunia berikutnya. Spanyol peraih gelar tiga ajang berturut-turut tampil memalukan di Brazil. Kita juga sudah membicarakan Argentina tadi. Kita perlu menyadari bahwa kekalahan bisa menimpa siapa saja. Sekarang kita juga bisa belajar pada momen kebangkitan. Brazil setelah kita kalahkan di final Perancis, menjuarai piala dunia berikutnya. Spanyol yang belum meraih gelar piala dunia sama sekali, bisa mencatatkannya pertama kali di Afrika Selatan. Jerman yang di Korea-Jepang hanya menjadi runner up, harus menjadi peringkat tiga di gelaran piala dunia berikutnya. Tapi pada akhirnya mereka meraih gelar keempat mereka di Brazil dengan mengalahkan Argentina. Kemenangan hanya soal waktu, tapi perjuangan harus dilakukan terus menerus.”

Pemuda berkaus biru tersenyum. “Terima kasih.”

“Haha... begitu dong.” Pria berkacamata tampak bersemangat.

“Ternyata jalan hidup memang tepat. Jika kau menjadi dokter timnas, hari ini kau akan ikut bersedih sepertiku. Untungnya kau bukan, sehingga kau justru bisa menghiburku.”

“Meskipun aku jauh lebih tua, aku mengenalmu sejak kecil. Kau masih muda, masih memiliki banyak kesempatan. Meskipun Perancis tidak juara, lihatlah, betapa banyak pemain kita yang mulai dilirik klub-klub besar. Aku yakin giliranmu juga akan tiba.”

“Ya. La vie doit continuer. Life must go on.

“Bagus! Aku ada satu kutipan lagi yang perlu kau resapi. Coelho menulis: ‘Dulu mereka kalah; berarti kali ini mereka harus menang, sebab mereka tak ingin mengalami penderitaan itu lagi. Namun apabila kemenangan itu bukan milik mereka kali ini, maka masih ada lain kali. Dan kalau bukan lain kali, maka masih ada lain kali berikutnya. Yang penting adalah bangkit kembali’. Tetaplah berjuang untuk meraih gelar juaramu, kawan.”

Merci. Terima kasih, brother.” Kata pemuda berkaus biru. “Aku punya saran untukmu.” Lanjutnya.

“Apa?”

“Jadilah pandit. Kurasa pengetahuan bolamu sangat bagus.”

“Hahaha. Akan kupikirkan.” Jawab pria berkacamata. “Aku juga punya saran untukmu.”

“Ya?”

“Segera habiskan supnya.”

Dan mereka pun tertawa bersama. []

Karya : Gading Aurizki