Merubah Pola Pikir Lulusan Sarjana

Tafrichul Fuady Absa
Karya Tafrichul Fuady Absa Kategori Motivasi
dipublikasikan 03 Agustus 2016
Merubah Pola Pikir Lulusan Sarjana

Dikutip dari Organization for Economic Co - Operation and Development (OECD), pada tahun 2020, Indonesia akan mempunyai lulusan sarjana terbanyak di posisi ke 5 dunia. Mengalahkan negara-negara besar Eropa semisal Jerman dan Spanyol.
Banggakah kita?
Ya dan tidak. Bangganya, dalam hal pendidikan, pemerintah Indonesia telah menitik beratkan bagaimana pentingnya menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Kalau dahulu, sekolah sampai tingkat SMA saja sudah memiliki kebanggan tersendiri bagi kita. Khususnya keluarga. Tapi dewasa ini, menempuh pendidikan hanya sampai tingkat SMA, itu sama halnya dengan menempuh pendidikan hanya sampai tingkat SMP pada masa dahulu. Oleh karenanya, pendidikan lanjutan yang umum saat ini adalah minimal Sarjana. Artinya, pentingnya pendidikan yang lebih tinggi sudah mulai meracuni mind set masyarakat kita. Disisi lain, ada yang mengganjal ketika di prediksi mempunyai lulusan sarjana terbanyak di dunia. Adalah bagaimana jika semua lulusan sarjana yang ada di negeri ini meminta lapangan pekerjaan yang memungkinkan dan sesuai dengan jurusan yang diambil? Lantas, siapa yang mempekerjakan mereka para lulusan sarjana? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan mendasarnya.
Ada beberapa hal yang perlu diubah terkait mind set masyarakat Indonesia Yaitu dalam hal mendapatkan pekerjaan. Perspektif masyarakat Indonesia yang melekat sampai saat ini  terkait pekerjaan adalah bekerja dengan pakaian yang rapi dan gaji yang memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Karena, bagi masyarakat Indonesia itu adalah pekerjaan yang mulia. Pekerjaan yang bisa diandalkan. Dan untuk mendapatkan pekerjaan yang demikian, umumnya yang diketahui khalayak awam hanya bermodalkan ijazah S1.Oleh sebabnya, mahasiswa berbondong-bondong untuk mendapatkan ijazah S1 agar secepat mungkin bisa di pekerjakan di perusahaan terkenal dengan gaji yang fantastis. Bekerja dengan pakaian rapi dan di gaji yang melebihi kebutuhan sehari-hari memang menjadi dambaan setiap individu.  Disisi lain apakah mereka memikirkan siapa yang bakal menampung pekerja-pekerja lulusan S1? Apakah semua perusahaan bakal menjamin lulusan S1? Jawabnya tidak. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus 2014, di Indonesia ada 9,5 persen (688.660 orang) dari total penganggur yang merupakan alumni perguruan tinggi. Mereka memiliki ijazah diploma tiga atau ijazah strata satu (S-1) . Dari jumlah itu, penganggur paling tinggi merupakan lulusan universitas bergelar S-1 sebanyak 495.143 orang. Angka pengangguran terdidik pada 2014 itu meningkat dibandingkan penganggur lulusan perguruan tinggi pada 2013 yang hanya 8,36 persen (619.288 orang) dan pada 2012 sebesar 8,79 persen (645.866 orang). Itu adalah data tahun 2014. Lantas, apa yang kita bayangkan di tahun 2020 nanti? Mulai saat ini, yang pertama kali harus diubah adalah perspektif masyarakat yang beranggapan bahwa kuliah untuk bekerja yang lebih baik harus diubah. Ini adalah pola pikir yang keliru. Orang yang berpendidikan tinggi seharusnya menampung orang yang berpendidikan rendah atau tidak berpendidikan sama sekali. Dalam hal ini, perspektif yang harus diubah adalah kuliah bukan hanya untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Tetapi bagaimana caranya dengan skill yang kita punya, kita bisa menciptakan lapangan pekerjaan untuk orang-orang yang tidak mendapatkan pendidikan. Atau orang-orang yang kurang beruntung. Jika pola pikir yang demikian kita bangun mulai saat ini, bahwa kuliah tidak untuk bekerja, tapi menciptakan lapangan pekerjaan. Niscaya di tahun 2020, dengan lulusan sarjana sebanyak itu kita dapat mengangkat jumlah pengangguran yang setiap tahun meningkat dan juga mensejahterakan rakyat Indonesia. Ini adalah tugas kita semua sebagai masyarakat Indonesia. Khususnya Mahasiswa.

  • view 309