UIN : Kampus Islam Berbahasa Ambigu

Tafrichul Fuady Absa
Karya Tafrichul Fuady Absa Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 02 April 2016
UIN : Kampus Islam Berbahasa Ambigu

?

Namanya UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Letaknya di Ciputat, Banten. Kita sebut saja kampusku ini UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan/atau Ciputat. Ya, terdengar sedikit aneh, serba ambigu. Beginilah kondisi kampus Islam, yang katanya, mampu mencetak banyak (sekali) intelektual muslim.

Sebagai kampus Islam terkeren, perlu kawan-kawan ketahui bahwa UIN Jakarta (dan/atau Ciputat) tidak se-Islam yang kawan-kawan pikirkan. Yang setiap hari memakai peci ketika ke kampus, yang perempuanya menutupi aurat sampai muka-mukanya, hanya tersisa matanya saja. Bukan, bukan begitu UIN Jakarta (dan/atau Ciputat). Itu hanya cerita-cerita orang yang tidak pernah ke kampus UIN Jakarta. Mungkin kawan-kawan akan mengetahui UIN Jakarta (dan/atau Ciputat) jika kawan-kawan menengok sendiri kampus UIN Jakarta (dan/atau Ciputat). Insyaallah kawan-kawan akan menemukan tidak hanya pakaian ambigu, melainkan juga beberapa kalimat ambigu di sana.

Sebagai mahasiswa UIN Jakarta (dan/atau Ciputat), saya menemukan beberapa kalimat larangan yang menurut saya ganjil. Ya, pasalnya ketika saya membaca kalimat larangan itu, saya menjadi linglung. Dalam hati yang paling dalam??Itu kalimat perintah atau kalimat larangan??. Ya, jika kalian mengetahui kalimat itu, mungkin kawan-kawan juga akan berpikiran seperti saya.

Pertama, kalimat yang berbunyi??KAWASAN BEBAS ROKOK?.?Yang ngakunya anak UIN Jakarta (dan/atau Ciputat) pasti tahu kalimat ini. Ya, kalimat inilah yang terpampang di baliho sudut-sudut fakultas. Perlu kawan-kawan ketahui, jika ada mahasiswa yang ketahuan merokok, uang lima puluh ribu dijadikan taruhanya. Sayang sekali, mending buat beli buku,bukan?. Tapi apa yang terlintas di benak kawan-kawan? Jika kawan-kawan sepemikiran dengan saya, mungkin kalimat itu akan menjadi memiliki dua arti. Arti?larangan?dan artiperintah.

Arti?larangan.?Maksud Pak Rektor mengeluarkan keputusan tersebut karena Pak Rektor tidak mau mahasiswanya merokok di kampus, kurang etis mungkin anggapnya. Dan mungkin juga Pak Rektor peduli akan kesehatan mahasiswanya. Karena merokok membunuhmu. Kata iklan begitu.?Betul nggak, Pak?

Arti?perintah.?Entah saya yang salah paham dalam mengartikan, atau memang demikian maksud dari baliho itu, tetapi saya selalu mengartikan jika ?kawasan bebas rokok? itu ya memang kita diberi kawasan untuk merokok. Hampir mirip kayak preman pasarlah, yang mempunyai kawasan sendiri. Begitulah kiranya maksud dari baliho tersebut. kita (perokok) diberi kawasan untuk bebas merokok di kampus.

Kedua, kalimat yang berbunyi??STOP PEMERIKSAAN STNK?.?Kawan-kawan bisa melihat kalimat ini ketika kawan-kawan akan keluar dari kampus, tepatnya ketika kawan-kawan bertemu dengan tukang parkir beserta satpamnya. Itu?loh?yang mintain duit recehan kita dengan cara alus ketika mau hengkang dari kampus. Pasti kalian tau lah sebagai mahasiswa UIN Jakarta. Kalimat tersebut juga memiliki arti yang ambigu.

Arti?perintah. Maksud pak satpam (yang ngamanin kampus UIN) menulis kalimat perintah itu demi keamanan kampus, agar tidak terjadi pencurian, makanya setiap motor atau mobil yang mau keluar harus berhenti (stop) untuk diperiksa kelengkapan surat-suratnya.

Entah salah entah bukan, inilah arti?laranganya.??STOP PEMERIKSAAN STNK??(berhenti pemeriksaan STNK).?Pasalnya dengan pemeriksaan STNK akan terjadi kemacetan yang panjang dan berkepanjangan. Oleh karenanya??STOP PEMERIKSAAN STNK??diartikan sebagai ?jangan adalagi pemeriksaan STNK?.

Ambigu bukan? Satu kalimat yang mempunyai dua makna. Terserah kawan-kawanlah mau mengartikan bagaimana. Tapi ingat, perbedaan adalah rahmat.

?

  • view 236