Tuhan itu Bernama Facebook

Tafrichul Fuady Absa
Karya Tafrichul Fuady Absa Kategori Agama
dipublikasikan 26 Maret 2016
Tuhan itu Bernama Facebook

Tuhan itu bernama Facebook
Tuhan merupakan sesuatu yang tak terindra, yang diyakini memiliki kekuatan yang luar biasa. Sehingga Tuhan mampu untuk mengendalikan alam semesta ini. Disisi lain, Tuhan dianggap sebagai sesuatu yang menjadi penyebab dari segala sesuatu. Oleh karenanya, adanya segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, khususnya manusia, tak lain dan tak bukan adalah ulah Tuhan. Maka dari itu Tuhan diyakini oleh manusia sebagai sesuatu yang sakral, sesuatu yang MAHA.
Untuk memahami Tuhan, perlu adanya suatu perantara atau semacam jembatan untuk mengetahui yang tak terindra ini, yaitu melalui agama. Agama dianggap sebagai jembatan penghubung antara manusia dengan ciptaanya. Agama juga yang mengatur manusia untuk memenuhi perintah dan larangan-Nya. Demi terwujudnya manusia yang selamat dunia akhirat.
Di dalam agama, manusia diajarkan bagaimana menyembah Tuhan, bagaimana memohon keselamatan kepada Tuhan, bagaimana melakukan hal yang baik dan menghindari hal yang buruk, itu semua diatur oleh agama. Karena pada dasarnya, Agamalah yang mengkonsepkan tentang keberadaan Tuhan.
Di abad modern sekarang ini, jembatan penghubung antara manusia dengan Tuhan, bukan hanya melalui agama. Tetapi juha melalui media sosial. Salah satunya adalah facebook.
Facebook adalah aplikasi yang menghubungkan antara individu dengan individu lain untuk menjalin komunikasi. Aplikasi ini, mampu menjangkau seluruh manusia yang ada di planet bumi ini. Caranya cukup mudah, tinggal tambahkan teman, tunggu sampai teman yang ditambahkan menerima pertemanan kita. Baru setelah itu kita bisa melakukan komunikasi dengan teman baru.
Sampai saat ini, pengguna facebook mencapai 1,55 milyar. Angka yang fantastis memang jikq dibandingkan dengan aplikasi lain semisal twitter, path, instagram.
Saat ini, facebook bisa menjadi jembatan penghubung antara manusia dengan Tuhan. Tuhan juga di Interpretasikan manusia melalui facebook. Artinya, manusia menganggap bahwa facebook adalah bentuk pengejewantahan dari Tuhan. Realita anak muda masa kini adalah bagaimana mereka meyakini bahwa facebook itu juga seperti Tuhan. Misalnya saja ketika membuat status dalam keadaan sedih. "Ya allah, kenapa ini terjadi padaku? Apa salahku ya Allah?". Kemudian, facebook juga menyediakan kolom komentar, dimana teman facebook kita bisa memberi komentar terkait status kita. Adanya kolom komentar, seakan-akan menjadi jawaban dari kegelisahan status kita. Artinya, ketika kita menulis status di dalam fcebook meminta pertolongan ari Tuhan, seketika itu pula Tuhan menjawab di dalam kolom komentar. Enak bukan?
Sampai saat ini, kejadian seperti itu semakin banyak di media sosial, baik itu facebook, twitter, path, dan sosial media lain. Siapa yang salah atas kejadian yang demikian? Yang salah teta facebooknya Bukan manusianya. Karena sedari awal, facebook sudah menanyakan kepada kita (pengguna facebok) "apa yang ada pikirkan?". Kalo kita memikirkan Tuhan, mau bagaimana lagi?.
Tetapi itu semua kita kembalikan pada individu masing. Bagaimana pengguna facebook menggunakan facebook sebaik mungkin. Karena harus diakui bahwa segala sesuatunya akan kembali kepada diri kita masing-masing.
Oleh Tafrichul Fuady Absa
*Penulis adalah Jamaah PIUSH (Pojok Inspirasi Ushuluddin) sekaligus kader HMI KOMFUF Cabang Ciputat

  • view 117