Love Forever or Love For Fever?

Fahri Rizki Cheko
Karya Fahri Rizki Cheko Kategori Puisi
dipublikasikan 05 Februari 2016
Love Forever or Love For Fever?

Jika memulai sebagai seorang hidung belang, Nyanyian bintang akan menjadi sponsor setangkai kembang untuk menggali celah berlubang.

Maka saya coba melayang sebagai pialang, kubuat gampang tanpa harus kuantar pulang sang kasih sayang. Mungkin terlalu lelah setelah selebrasi malam hari kasih keranjang.

Jika putar balik kebelakang, tentunya terlalu panjang dan usang.

Karena terlalu banyak hutang dan serasa menjadi umat yang hilang, kini tak ada yg halal selain sembahyang sehingga hari kasih sayang itu fatwa terlarang dan haram untuk direka ulang.

Sedikit mengenang saat volume bimbang kerongkongan yang sumbang. Didepan gerbang bersiap menyarang bak manusia yang lupa mana orang, mana barang, mana binatang. Lalu terbang sampai girang diujung tiang.

Hanya saja tembakau berbatang-batang yang kau buang hanya untuk mencari tulang pada lidah yang telanjang.

Hidup berlama-lama hanya untuk mengarang, sayang...sakitmu hanya demam, enggal damang, geura hudang.

Kita pernah menjadi kemarin, lalu menjadi saat ini untuk berubah wujud di esok hari dan masa yang akan datang. Semua dilalui dengan berbagai sudut pandang yang terasa pincang. Parang dan tulang belakang akan menjadi pertahanan terakhir yang cukup garang jika memang ideologi menjadi alat berperang bentrokan para "pedagang" untuk dipandang para cenayang.

Mungkin sang Pujangga mimisan menjadikan Cinta & Kasih Sayang sebagai perasaan paruh waktu tahunan dengan buku saku panduan petikan-petikan Kahlil Gibran.

  • view 243