CERPEN LAGENDA LAUT KOLBANO

franssiskus nikan
Karya franssiskus nikan Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 Januari 2018
CERPEN LAGENDA LAUT KOLBANO

 

                                    CERPEN LEGENDA LAUT KOLBANO

                                                            OLEH

                                         FRANSISKUS SALES NIKAN

                                 MAHASISWA PBSI SEMESTER VII

 

Desa Kolbano memiliki sebuah 'Mite' (cerita rakyat yang dianggap benar-benar terjadi dan dianggap suci oleh yang empunya cerita) yang cukup terkenal di bumi TTS dan Timor umumnya. Mite (mitos) yang sudah ada sejak berabad lalu yaitu kisah "Bi Kabin." Cerita tentang seorang gadis anak manusia bernama Bi Kabin yang menikah dengan Raja Laut (Na' Besimnasi = Buaya). Konon pada jaman dahulu, untuk menjaga kelestarian alam dan hubungan kekerabatan dengan Na' Besimnasi, keluarga Bi Kabin bersama warga desa selalu melakukan ritual tahunan tertentu di pantai ini. Sebagai ucapan terimakasih dari sang Raja Laut, pantai Kolbano selalu dilimpahi kekayaan ikan dan mudah ditangkap tanpa merusak pantai. Hubungan manusia dan alam sangat harmonis.

Konon  pada zaman dahulu, disuatu tempat bernama Balka ma Laepun1) (Balka dan Laepun), tinggallah seorang Kepala Suku dari marga Sole yang juga diakui sebagai raja  di kerajaan “Pene mFaifnome2)” yang wilayah kekuasaanya meliputi “Humoen, Pah Nai Lamu3),  termasuk  “Balka dan Laepun”.  Pada suatu saat, raja Sole, memerintahkan pada rakyatnya untuk membuat etu4) baginya di sebuah tempat yang bernama “Noe Sop5” . Etu tersebut  diolah dan ditanami dengan sain6), yang semakin hari semakin bertambah subur dan lebat, hingga berbulir dan matang.   Bulir yang dipenuhi biji sain terlihat kuning keemasan di timpa sinar matahari. Selama menunggu masa penuaianya, etu tersebut ditunggui  oleh  para abe’at7) dan abhaet8) raja. Tetapi sayang seribu sayang, rupanya para abe’at dan abha’et lengah dan tidak menjaga etu dengan baik sehingga bulir sain sebagianya dimakan habis oleh kol sain)

 

Sudah empat hari nelayan nelayan tak bisa turun ke laut. Pada malam hari hujan lebat turun. Gemuruh gelombang, tiupan angin kencang di kegelapan malam seolah-olah memberi tanda bahwa alam sedang murka, laut sedang marah. Bahkan bintang-bintang pun seolah tak berani menampakkan diri.

Nelayan-nelayan miskin yang menggantungkan rezekinya pada laut setiap hari bersusah hati. Ibu-ibu nelayan terpaksa merelakan menjuai emas simpanannya yang hanya satu dua gram untuk pembeli kebutuhan sehari-hari. Mereka yang tak punya benda berharga terpaksa meminjam pada lintah darat.

Selama hari-hari sulit itu, ada pesta di rumah Pak Yus. Tak ada yang menikah, tak ada yang ulang tahun, dan Pak Yus juga bukan orang kaya, nelayan biasa, seperti para tetangganya. Namun, pada hari-hari sulit itu Pak Yus menyuruh istrinya memasak nasi dan beberapa macam lauk-pauk banyak-banyak. Lalu ia mengundang anak-anak tetangga yang berkekurangan untuk makan di rumahnya. Dengan demikian rengek tangis anak yang lapar tak terdengar lagi, diganti dengan perut kenyang dan wajah berseri-seri. Kini tibalah hari kelima.

Pagi-pagi Ibu Yus memberi laporan, "Pak, uang kita tinggal Rp 20.000,- Kalau hari ini kita menyediakan makanan lagi untuk anak-anak tetangga, besok kita sudah tak punya uang. Belum tentu nanti sore Bapak bisa meiaut!"

Pak Yus terdiam sejenak. Sosok tubuhnya yang hitam kukuh melangkah ke luar rumah, memandang ke arah pantai dan memandang ke langit. Nun jauh di sana segumpal awan hitam menjanjikan cuaca buruk nanti petang. Kemudian ia masuk ke rumah dan berkata mantap, "Ibu pergi saja ke pasar dan berbelanja. Seperti kemarin ajak anak-anak tetangga makan. Urusan besok jangan dirisaukan." Ibu Yus pergi ke dapur dan mengambil keranjang pasar. Seperti biasa ia patuh pada perintah suaminya. Selama ini Pak Yus sanggup mengatasi kesulitan apa pun. Sementara itu Pak Yus masuk ke kamar dan berdoa. la mohon agar Tuhan memberikan cuaca yang baik nanti petang dan malam. Dengan demikian para nelayan bisa pergi ke laut menangkap ikan. Dan besok ada cukup makanan untuk seisi desa. Siang harinya anak-anak makan di rumah Pak Yus. Mereka bergembira, Setelah selesai mereka menyalami Pak dan Bu Yus dan mengucapkan terima kasih.

"Pak Yus, apakah besok kami boleh makan di sini lagi?" tanya seorang gadis kecil yang menggendong adiknya bertanya. Matanya yang besar hitam memandang penuh harap.

Ibu Yus tersenyum sedih. la tak tahu harus menjawab apa. Tapi dengan mantap, dengan suaranya yang besar dan berat Pak Yus berkata, “Tidak Titi, besok kamu makan di rumahmu. Dan semua anak ini akan makan enak di rumahnya masing-masing."

Abe’at dan adiknya tersenyum. Mereka percaya pada perkataan Pak Yus. Pak Yus nelayan berpengalaman. Mungkin ia tahu bahwa nanti malam cuaca akan cerah dan para nelayan akan panen ikan. Kira-kira jam empat petang Pak Yus ke luar rumah dan memandang ke pantai. Laut tenang, angin bertiup sepoi-sepoi dan daun pohon kelapa gemerisik ringan. Segumpal awan hitam yang menjanjikan cuaca buruk sirna entah ke mana. la pergi tanpa pamit. Malam itu Pak Yus dan para tetangganya pergi melaut. Perahu meluncur tenang. Malam itu para nelayan berhasil menangkap banyak ikan. Ketika fajar merekah perahu-perahu mereka menuju pantai, disambut oleh para anggota keluarga dengan gembira. Pak Yus teringat pada anak-anak tetangga. Tuhan telah menjawab doanya. Semua nelayan itu mendapat rezeki. Hari itu tak ada pesta di rumah Pak Yus. Semua anak makan di rumah ibunya masin g-masing. Sekali lagi di atas perahunya Pak Yus memanjatkan doa syukur.

Pada suatu petang, raja Sole rindu untuk melepas kejenuhannya. Sang raja keluar dari sonaf9)-nya dan menuju ke etu di Noe Sop dengan harapan dapat menikmati keindahan etu yang penuh dengan sain menguning keemasan tertimpa cahaya matahari. Tetapi alangkah terkejut dan sedihnya raja, ketika didapati bahhwa sain sain itu telah rusak dan habis sebagianya. Dengan sedikit marah dipangilnya para abe’at dan abha’et-nya seraya bertanya : “ Apa gerangankah yang membuat sais-sain ini rusak ?” dengan takut para abhe’at dan abha’et menjawab : “ Usi… le kol an-ana lulu mtasa le kalu nkaet hanan on bano es na leu sin”  (artinya :  Ya raja…itu burung kecil, yang paruhnya merah, yang kalau berkicau seperti bunyi giring-giring yang merusakanya)…

Raja yang bijaksana ini, sedikit merenung lalu berkata pada para abe’at dan abha’et-nya : “ Oh….tidak apa-apa… sebab hari ini barulah saya menemukan nama yang baru bagi negeri ku  yaitu “ KOL HAN BANO10)” (burung yang bersuara seperti bunyi giring-giring).

Demikianlah kemudian dalam waktu-waktu seterusnya sebutan KOL HAN BANO berubah menjadi KOLBANO11).

Keterangan :

1). Balka ma Laepun (Balka dan Laepun)  adalah : Nama Kolbano pada masa lampau, menurut Frederik Pit’ay, 1969, dalam Skripsinya yang berjudul “ Perlawanan Rakjat Kolbano terhadap Pendjadjahan Belanda” menyebutkan bahwa Balka dan Laepun adalah nama pada masa lampau dari Kolbano, dimana Balka dan Laepun adalah tempat kediaman pertama dari bangsawan Sole.

2). Pene mfaifnome  / Pene ma Faifnome adalah :  Nama tempat dimana Suku Sole, menjadikan “ Faifnome” (Bintang Timur / Bintang Fajar) sebagai lambang Suku-nya. Pene = Memandang,   Faifnome = Bintang fajar / Bintang Timur. Wilayah ini menjadi bagian kerajaan Bangsawan Sole, bahkan masih meninggalkan bekas istana kerajaan. Pene = kemudian pernah disebut sebagai Pene Selatan menjadi  berdekatan dengan Sei dan Pana. Kesemuanya ini adalah satu kesatuan ceritra terkait “ Pene mfaifnome” (akan di ceritrakan tersendiri)

3). Humoen, Pah Nai Lamu, adalah suatu wilayah luar yang masih kosong yang ditumbuhi oleh padang rumput dan merupakan negeri tanah hutan. Menurut tuturan para tetua, Suku Sole pendatang pertama  dan merupakan yang sulung,  ketika datang  hendak menetap di Lunu, tetapi karena Lunu hanyalah tempat yang terdiri dari padang rumput belaka, maka Suku ini meneruskan perjalanan ke Nakfunu melalui pinggir pantai laut selatan dan menetap di suatu tempat yang kemudian mereka namakan “ Pene”  karena mereka memandang bintang timur (terkait dengan ceritra tentang Pene mfaifnome), Lalu Negeri Selatan ini di kenal sebagai Pah Nai Lamu.

4). Etu = Kebun milik raja, yang dipersembahkan dan dikerjakan oleh Rakyatnya (terutama dari keluarga Permaisuri )

5). Noe Sop  terdiri dari  kata  Noe artinya: Kali / sungai dan Sop (dari kata : namsop) yang berarti : Selesai /Penghabisan. Jadi Noe Sop artinya Penghabisan Sungai, atau Sungai / Kali selesia  atau Ujung Kali / Sungai  (muara). Untuk mengingat sejarah tentang penyebutan nama baru KOLBANO bagi BALKA ini maka tuturan (natoni) selalu diasimilasikan  nama tempat ini sebagaimana layaknya sastra timor barat dimana selalu dibuatkan empat seuntai  yakni : Balka mLaepun, Kolbano mNoesop ( Balka dan Laepun, Kolbano dan Noesop).

6). Sain = tumbuhan jewawut (bijinya halus bulat dan kecil dalam jumlah sangat banyak pada satu bulir, bentuk daunya seperti padi, tumbuh berumpun seperti padi dari jenis rumput-rumputan dan merupakan bahan makanan raja “pah meto” pada zaman dahulu.

7). Abe’at = selalu melek matanya / tidak mengantuk  julukan bagi PENJAGA / PENUNGGU

8). Abha’et = Hamba sahaya / Abdi

9). Sonaf  = Istana Raja , Singgasana

10). KOL HAN BANO = KOL (dari KOLO = Burung), HAN (dari HANAN = Suara / bunyi), BANO = Giring – Giring. Jadi KOL HAN BANO artinya : Burung yang suaranya seperti bunyi giring-giring

11). KOL BANO = Kol (dari Kolo = Burung), Bano = Giring-giring. Jadi Kol Bano = Burung Giring-Giring (suaranya)

 

 

 

                                  

  • view 51