Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 27 Juni 2016   11:28 WIB
Bertemu Ayahmu, bukti keseriusanku

16-06-16, Sebuah tanggal yang indah untuk memulai rencana indah ini. Ketika aku dan kamu, memulai sebuah hubungan yang baru dan kelak insya Allah dua kata tersebut akan berganti dengan kata "kita". Aku sendiri menyebutnya ini adalah tonggak awal sebelum hubungan aku dan kamu menjadi kita.

Semalam sebelumnya, engkau memberi tahuku bahwa orang tuamu telah memberikan sebuah sinyal positif bahwa mereka mau menerimaku sebagai calon imammu, pendamping hidup di dunia dan di akhirat. Akan tetapi sebelum itu semua terjadi, orang tuamu ingin mengenalku terlebih dahulu.

Pagi ini, ditanggal yang juga cantik ini, ku beranikan diri datang ke rumahmu. Sebenarnya aku agak lupa dimana rumahmu. Terakhir kali aku kesana, sekitar 6-7 tahun yang lalu, saat kita mendapat kesempatan satu kelompok ketika masih duduk di bangku SMA dulu. Ku usap keringatku, sepertinya cuacany tak sepanas biasanya, tapi entah kenapa keringatku cukup banyak kali ini. Mungkin ini yang disebut grogi , atau bahasa di kampungku  "nervous". 

Yang berubah dari rumahmu, hanya sekarang ada pagarny, selain itu semuanya masih sama seperti yang melekat di ingatanku. Ku ketuk pintu rumah berwarna putih itu, 

"Assalammu'alaikum" , ucapku

Ku ulangi salam terbaik yang diajarkan para penghuni surga itu, hingga tampak gadis kecil mengintip dari balik jendela. 

"Ahh.. ini pasti yang namanya Aira", ucapku dalam hati. Gadis kecil yang sering kamu ceritakan padaku, tentang kelucuannya, aktifnya, mirip dengan ''onty''-nya , ya itu kamu. ????

Tak berselang lama, seorang wanita membukakan pintu sembari menjawab,

"Iyaa.. wa'alaikumsalam", 

"Riridnya ada mbak?", tanyaku. Aduuh, aku baru nyadar itu adikmu sesaat setelah ku nyeplos manggul mbak. ????

"Oh .. lgi ke sekolah, ada ap ya mas?" Dia balik bertanya.

"Mau balikin buku ini, kalau Ayahnya ada?" Kembali ku bertanya seraya menyerahkan buku yang aku pinjam.

"Ayahnya lagi kerja", jawabnya

"Oh gitu ya, ya sudah, saya langsung pulang saja kalau begitu", 

"Iya", jawabnya.

Aku kembali ke motor ku dengan cukup kecewa, sambil bicara dalam hati, "ya sudah mungkin belum jodohku untuk bertemu ayahmu saat ini".

Baru saja masang kunci motor, tiba-tiba adikmu memanggil, 

"Mas mas, ayah lagi di Langgar, tunggu sebentar saya panggil, duduk dulu mas" 

"Eh, iya, terimakasih", hatiku bersorak, tapi disisi lain semakin grogi.

Tak sampai 5 menit, ayahmu sudah tiba dirumah, langsung aku dipersilahkan masuk sama ayahmu. 

Setelah dipersilahkan duduk, aku langsung saja mengutarakan niatku,

"Jadi begini pak, saya temannya ririd, niat saya kesini, saya mau menyampaikan niat saya untuk serius sama putri bapak, ririd"

"Oh iyaa, temennya ririd ya, namanya siapa?" Beliau bertanya.

Jeddeerrr.. layaknya petir di siang bolong, kebodohan keduaku hari ini.. setelah memanggil adikmu dengan mbak, kini aku belum memperkenalkan diri sudah berbicara panjang lebar. Gagal lah memperkenalkan diri sebagai laki-laki calon imam mu yang mempunyai citra terbaik. ????

"Eh eh, iya pak, nama saya Fajar" jawabku dengan terbata-bata

"Asalnya darimana ?" Beliau bertanya lagi.

"Saya dari Candi pak, tepatnya dari desa Tenggulunan", jawabku sudah mulai bisa menguasai diri.

"Ohh gtu, iya jadi gini, kalau saya setuju-setuju saja, pesan saya buat ririd dari dulu ya, yang penting bisa gantiin ayah jadi imam dilanggar ini", tanggapan beliau atas pernyataanku tadi.

"Nggih pak, Insya Allah saya siap", dengan cukup yakin aku mengiyakan, karena sebelumnya kamu sudah mengatakannya.

Pembicaran-pembicaraan ringan mulai dapat ku ikuti dengan cukup terkendali. Ayahmu pun menceritakan tentang kebiasaan-kebiasaanmu di rumah, kegiatan-kegiatan sejak kecil yang kamu ikuti. Tak lupa beliau juga memberikan pesan-pesannya untuk ku, untuk memahamimu, gadis kecilnya yang kini sudah beranjak dewasa.

Semua berjalan lancar, seandainya saja kondisinya memungkinkan, mungkin saat itu aku langsung sujud syukur ketika ayahmu menyetujui niatku. Hampir satu jam, kami larut dalam pembicaraan ringan ini. Ku simpan semua nasihat-nasihat dari ayahmu di dalam memoriku. Ku yakin ini akan sangat berguna untuk hubungan kita kedepannya. 

Tak terasa hampir satu jam, kami larut dalam pembicaraan ringan ini. Akhirnya aku harus pamit.

Hari ini memang kita tidak saling berjumpa, namun ku yakin kali ini ku sudah melangkah satu langkah kedepan menuju hubungan yang diridhoi oleh Allah. Tak banyak yang bisa ku janjikan untukmu, hanya jika engkau memberi kepercayaanmu untukku, ku akan berusaha jadi yang terbaik untukmu. Terimakasih atas kepercayaanmu selama ini.

Love you

Karya : Fajar Priyambada