kita memang berteman, tapi ijinkan ku melamarmu tuk jadi teman hidupku selamanya

Fajar Priyambada
Karya Fajar Priyambada Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 10 Juni 2016
kita memang berteman, tapi ijinkan ku melamarmu tuk jadi teman hidupku selamanya

"Pernikahan, sebuah kata yang memiliki arti sakral dalam setiap hubungan. Tak hanya tentang cinta antar manusia yang berlawanan jenis, tapi juga tentang komitmen dan tanggung jawab antara kedua insan tersebut.''

Hari ini, kita bertemu lagi setelah kurang lebih 6 tahun kita terpisah. Suatu keadaan memang yang membuat kita harus terpisah, kondisi dimana aku harus merantau jauh di provinsi paling barat pulau jawa. Sedangkan kamu tetap disini, di provinsi paling timur di pulau yang sama. 

Kondisi terakhir ku meninggalkan kota ini, merupakan kondisi yang sebenarnya sangat tidak ingin aku ingat-ingat lagi, penuh dengan ''kejahiliyahan'' yang dulu ku lakukan. Namun itulah jalan hidup yang telah ku pilih dulu, aku pun sering menangis dan tertawa mengingat-ingat masa itu. Menangisi kesalahan dan menertawakan kebodohan atas jalan yang ku pilih.

Kini setelah 6 tahun, kita dipertemukan lagi, dalam sebuah acara kumpul berbalut reuni. Kondisi ku telah sedikit berubah, dari yang dulu kurus kering kerontang, lalu sekarang, perut buncitku seringkali jadi bahan bercandaan teman-teman. Ku perhatikan dirimu, tak beda jauh dengan yang dulu. Keimutanmu, manis parasmu, hingga renyahnya tawamu, membangkitkan kembali kenangan masa SMA dulu. Meski di dunia maya kita masih sering berkomunikasi, namun pertemuan ini sedikit mengganggu perasaanku.

Selepas acara itu, ku tingkatkan intensitas komunikasiku denganmu. Hingga pada saatnya, ku beranikan diri dengan kalimat basa-basi, yang tujuannya menanyakan status mu saat ini, masih ''single'' atau sudah ada yang melamar. Tentu aku sadar diri, aku tak boleh mendekati seorang gadis yang sudah dilamar laki-laki lain, haram bagiku. Tak dinyana, jawabanmu membuat hati berdansa dan bernyanyi suka cita, kau menjawab bahwa dirimu saat ini masih ''single'' .

Dengan keberanian dan sedikit kenekatan, ku sampaikan niatku untuk ingin menikah. Aku telah mengenalmu sejak lama, Baik burukmu aku sedikit tahu, begitupun baik burukku kamu juga tahu. Kenyamanan berteman denganmu, membuatku yakin kalau aku ingin mengabadikan ini dalam ikatan suci pernikahan, kita menjadi teman hidup selamanya.

Lalu, bolehkah aku melamarmu? 

 

  • view 115